
“Wah… lihat! Telurnya sudah mulai retak!” seru Alicia memanggil teman-temannya.
Begitu teman-temannya datang, dia menunjuk ke arah monitor yang menunjukkan salah satu angle dari telur finiks yang tengah mereka intai dengan drone. Seperti yang Alicia katakan, sudah ada beberapa garis retakan pada telur besar berwarna merah kekuningan itu.
“Sebentar lagi kita pasti bisa melihat kelahirannya.”
Alicia yang beberapa hari sebelumnya sedikit muram kini kembali terdengar bersemangat. Terlebih setelah semua teman-temannya dapat berkumpul lagi.
“Aku sudah tidak sabar lagi ingin melihat teman baru kita,” tanggap Brian sambil mendekat pada monitor yang Alicia tunjuk.
Brian sudah hampir sepenuhnya pulih dari luka yang dia dapat empat hari lalu. Beruntung nyawanya masih dapat terselamatkan dengan berbagai pengobatan dan teknologi modern yang mereka miliki. Jika tidak, hingga saat ini dia tidak akan bisa bangun dari komanya.
“Untungnya Thunder Phoenix tidak membutuhkan inkubasi dan makanan setelah telurnya pecah. Dia akan menyerap seluruh energi di sekitarnya hingga dewasa. Jadi, kita tidak perlu khawatir dengan pertumbuhannya nanti.” jelas Sean.
“Aaah… aku benar-benar ingin segera bertemu Thunder Phoenix. Versi mininya pasti juga sangat lucu!” ujar Alicia girang.
“Iya, dong! Aku bisa jamin Thunder Phoenix versi mini bakal imuuuut banget!” seorang gadis lain ikut menanggapi.
Alicia menengok ke arah gadis itu. Dibandingkan sebelumnya, sikap Alicia pada si penyihir bisa dikatakan telah melunak. Karena itu, Alicia mau tersenyum padanya dan mengakui bahwa anggapannya selama ini adalah salah.
“Semua ini berkat kamu, Luca. Kalau kamu tidak memberi tahu tentang kemungkinan lokasi Thunder Phoenix pada kami, mungkin kita tidak akan menemukannya sama sekali.”
Pujian Alicia membuat Laura ikut tersenyum. Dia merasa tersanjung, walau sebetulnya tanpa bantuannya pun Super Rangers tetap akan menemukan Thunder Phoenix.
“Tidak perlu memujiku berlebihan, Alice. Gimanapun aku masih bikin banyak masalah di sini.”
__ADS_1
Pundak Laura dan Alicia turun secara hampir bersamaan, mengingat pertarungan sengit sebelumnya.
“Sekarang kalian bisa menerimaku di sini saja sudah membuatku sangat senang.” tambah Laura.
Setelah pertarungan itu, Super Rangers mulai yakin bahwa Luca Kasha telah berpindah kubu. Apa yang dia katakan selalu terbukti benar. Meskipun ada beberapa keteledoran, dengan bantuan Thunder Fox dan Sean yang ikut membujuk, kepercayaan mereka hampir seluruhnya telah Laura dapatkan.
Akan tetapi, untuk berjaga-jaga, Super Rangers masih memasang beberapa pengaman jika sewaktu-waktu dugaan mereka salah lagi. Salah satunya adalah dengan memperkuat barrier di camping area mereka. Tidak hanya untuk menyesatkan, sekarang mereka benar-benar tidak bisa lagi terlihat oleh orang lain. Sihir juga tidak bisa digunakan di sana. Radar dari satelit Radolard pun tidak bisa menjangkau barrier tersebut.
“Waung!”
Kaingan Thunder Fox membuat semuanya kembali fokus ke layar.
“Sepertinya cangkang telurnya sudah terbuka!” Alicia ikut berseru.
Nampak di layar tersebut sebuah lubang berukuran seperempat dari telur tersebut. Retakan-retakan juga semakin banyak dan telur sudah bergoyang-goyang, menandakan makhluk kecil yang ada di dalamnya tengah berusaha untuk keluar mencari kehidupan yang baru.
“Ayo semangat! Kau pasti bisa keluar!” Sean sampai menyemangati.
“Ayo! Ayo! Ayo!” begitu pula Alicia.
Telur itu kemudian sedikit miring, memudahkan Thunder Phoenix untuk melangkahkan kaki kecilnya untuk keluar. Satu persatu sayap dan kaki Thunder Phoenix mulai terlihat, hingga akhirnya makhluk legenda itu pun lahir seutuhnya.
“Akhirnyaaa!!”
“Yay!!”
__ADS_1
“Syukurlah!”
“Wah! Terharu banget aku tuh… uwaaaa!”
Tanggap mereka, sementara Joanne hanya bernapas lega tanpa berkomentar. Tidak seperti yang lainnya, Joanne memang lebih irit berbicara. Namun, dalam hati dia tetap senang dan lega melihat kelahiran Thunder Phoenix.
Sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka tunda sementara waktu.
“Eh? Kok layarnya banyak semut?” tanya Laura.
Semua yang ada di sana juga ikut terheran-heran dan panik. Pasalnya, bukan hanya satu layar yang rusak, melainkan seluruh layar yang ada di hadapan mereka semua menjadi buram. Karenanya, mereka begitu khawatir jika ada sesuatu yang terjadi pada Thunder Phoenix selama mereka tidak bisa melihat layar.
‘Bak! Bak! Bak!’
Alicia menaboki salah satu layar dengan harapan bisa menyala kembali.
“Hey! Jangan dibegitukan! Kalau rusak bagaimana?” hardik Sean selaku orang yang memelihara alat-alat itu.
Alicia pun berhenti memukuli layar tersebut. Namun, entah karena pukulan Alicia tadi atau hanya kebetulan, layar pun telah kembali menyala.
“Syukurlah… nyala lagi.” ujar Sean sambil mengelus dadanya lega.
“Tunggu!” Joanne yang melihat ada ketidakberesan pun maju.
“Di mana Thunder Phoenix?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
Begitu monitor menyala, Thunder Phoenix sudah tak lagi di tempatnya. Kemana kah dia?