Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Cinta dan Dusta Si Penyihir


__ADS_3

Menghilangnya Luca Kasha selama satu hari lebih membuat Rador bertanya-tanya. Alien yang seluruh tubuhnya dipenuhi sisik berwarna biru itu biasanya malas berurusan dengan keponakan perempuannya. Tetapi, karena sikap gadis itu agak berbeda belakangan, Rador jadi agak tidak tenang.


Luca Kasha, tidak seperti yang dikatakan orang lain, mendapatkan posisinya di Radolard karena kekuatannya sendiri. Gadis itu adalah salah satu atau bahkan penyihir terkuat di planet Porcar. Hanya saja, dia terlalu malas dan cuma ingin melakukan hal yang mudah saja. Dibandingkan bekerja, dia lebih senang menghabiskan waktu untuk tidur dan belanja benda-benda mewah. Dia melakukannya secara selang-seling setiap hari. Jadi, cukup mudah mencari keberadaannya.


Tetapi belakangan, Rador dan lainnya harus memutar otak dan membuang tenaga terlebih dahulu untuk mencarinya. Sikapnya yang sok manja mungkin masih sama, tetapi dibanding sebelumnya Luca terdengar lebih sopan. Pada makhluk Piri-piri yang dianggap sebagai kasta terendah pun dia sering melempar sapaan.


Menurut penjelasan Gondazel, gadis itu juga pernah menawarkan bantuan. Namun, karena Gondazel mengira akan menang dengan mudah, tawaran Luca itu tidak langsung diterima. Luca yang biasanya, tidak mungkin melakukan itu. Jangankan menawarkan bantuan, menggerakkan tongkat sihirnya saja dia malas.


“Dia tidak di kamar, dan tidak juga sedang berbelanja di shopping mall manapun. Lalu, ke mana dia?” batin Rador.


Hari itu rencananya Rador ingin mengecek kondisi tongkat sihir milik Luca, karena belakangan dia merasa tongkat sihir itu tidak menyerap mana dengan baik. Gara-gara itu, Rador menduga monster raksasa yang seharusnya bertambah kuat justru jadi mudah kalah.


Fungsi dari tongkat sihir adalah untuk menambahkan energi pada sihir agar hasilnya lebih maksimum. Jadi, sebenarnya tanpa tongkat itu pun Laura masih bisa menggunakan sihirnya. Namun, seperti yang sudah dijelaskan, Luca Kasha terlalu malas sehingga membutuhkan tongkat sihir.


Pikir Rador, jika tongkat itu rusak, lebih baik segera diganti. Toh ada banyak tongkat sihir cadangan yang dia simpan.


“Yang Mulia! Kami sudah mencari Nona Luca di seluruh kapal, tapi tidak bisa ditemukan.” ujar salah satu pimpinan regu Piri-piri yang datang melapor.


Satu orang pimpinan regu lagi datang menghampiri Rador. Dia kemudian melapor, “Pasukan kami di Bumi juga tidak bisa menemukan keberadaan Nona Luca. Sepertinya beliau menutupi hawa keberadaannya lagi.”


“Ck!” Rador berdecak sambil berkacak pinggang. Dengan kesal, kemudian dia menendang salah satu dari pimpinan regu Piri-piri hingga terpental jauh.


“Keponakan sialan! Kalau saja bukan Ayahanda yang meminta, sudah pasti aku akan memulangkan dia!” geramnya.


Dihentakkan kakinya hingga kapal besar itu bergetar cukup kencang. Karenanya, seluruh awak kapal menjadi panik. Begitu pula dua pemimpin regu Piri-piri yang ada di dekat Rador. Dengan segera mereka berdiri, lalu berlari untuk menghindari amukan pimpinan mereka.


.


.


.


Sementara itu, Laura yang masih berada di markas Super Rangers harus bersabar untuk sementara waktu. Di hari kedua pun dia masih harus bertahan di dalam kurungannya. Untungnya Laura tidak dibuat bosan. Karena, saat ini di sekitarnya tidak hanya ada Sean dan Thunder Fox. Alicia, Brian, beserta Thunder Beast partner mereka juga ada di sana. Sean juga sudah membawa Green Turtle, partnernya sendiri. Mereka datang untuk menginterogasi Luca Kasha setelah sore lalu tertangkap basah mengikuti Joanne.


Tadinya, mereka ingin langsung menginterogasinya. Tetapi, karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, hanya Sean lah yang datang terlebih dahulu. Joanne juga masih belum bisa lepas dari pekerjaannya yang mendadak menumpuk, karena kasus-kasus pencurian itu.

__ADS_1


“Katamu dia bisa bahasa Thunder Beast? Apa itu benar?” tanya Alicia pada Sean.


“Aku melihatnya sendiri saat dia mengobrol dengan Thunder Fox.” jawab Sean.


Baik Alicia dan Brian menatap Laura dengan penuh curiga. Mengingat Luca Kasha berada di pihak Radolard, kemampuan miliknya akan sangat berbahaya bagi Super Rangers.


“Hey, Hijau! Kau salah informasi. Aku hanya melakukan telepati dengan Thunder Fox, bukan berbicara dengannya langsung. Jadi, sistemnya seperti ini… Thunder Beasts bisa memahami bahasa manusia, tapi manusia tidak paham bahasa mereka bukan?”


Tiga orang itu mengangguk bersamaan, lalu Laura lanjut menjelaskan, “Nah, aku bisa telepati. Jadi, saat mereka ingin menyampaikan sesuatu padaku, bisa pakai telepati itu. Sedangkan, aku bebas pakai telepati dan bahasa manusia pada mereka.”


Mendengar penjelasan itu, lagi-lagi Brian, Sean dan Alicia mengangguk. mereka tidak terpikirkan cara seperti itu.


“Jadi, kau tidak bisa bahasa Thunder Beasts?” tanya Alicia lagi.


“Inginnya sih, bisa. Sayangnya, aku bukan orang pilihan Yellow Griffin sepertimu.” jawab Laura.


“Lalu, apa benar cerita Sean kalau kau telah menyelamatkan Thunder Fox? Apa tujuanmu sebenarnya?” kali ini Brian yang bertanya.


“Apa kalian akan percaya kalau aku bilang ingin pindah kubu?” Laura balik bertanya.


“Benarkah? Bisa kau buktikan?” pinta Alicia.


“Kan sudah. Satu, aku membebaskan Thunder Fox. Dua, ini rahasia, tapi aku diam-diam menurunkan kekuatan Kajelaking dan Nyanterius saat mereka menjadi raksasa.”


Gasp!


“Makanya waktu itu aku pikir mereka terlalu mudah dikalahkan! Ternyata itu perbuatanmu!” seru Brian.


Dua jari Laura membentuk huruf V dan berkata, “Begitulah. Lalu, ada satu lagi alasan.”


Brian dan Alicia yang makin penasaran mendengarkan dengan penuh seksama.


“Aku naksir sama Joanne. Kyaaa!!” pekik Laura sambil menutup wajahnya.


Dua orang itu terpaku. Mereka tidak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar. Begitu pula Thunder Beasts mereka. Sementara itu, Sean dan Thunder Beast yang sebelumnya sudah mendengar pengakuan itu berkali-kali hanya menepuk jidat mereka.

__ADS_1


“Naksir? Itu alasanmu mengikutiku terus?”


Laura menengok ke arah pintu, sumber suara pria itu berasal. Melihat siapa yang datang, seketika jantungnya berdetak begitu kencang. Pipinya yang merona ia tutupi saking malunya. Bibirnya yang sedari tadi berbicara dengan lancar pun mendadak kaku.


“Joanne! Kau sudah datang?” sapa Brian.


Pria berambut panjang itu tidak menjawab dan terus melangkah mendekati Laura.


“Kau pikir aku akan percaya alasan seperti itu? Penyihir kotor sepertimu hanya bisa berbohong. Jangan harap kau bisa menipuku.”


Siapapun yang mendengarnya akan sakit hati dikatai seperti itu. Terlebih yang mengatakannya adalah orang yang dicintai.


Laura yang tahu ada apa dengan Joanne dan penyihir hanya bisa bertahan menerima penghinaan itu. Pikirnya, Joanne hanya sedang salah paham terhadapnya. Dia tidak perlu memasukkan kata-kata itu ke hati.


“Hey! Kau terlalu keras padanya!” hardik Alicia yang tidak tega.


Joanne melirik tajam Alicia, kemudian berkata, “Sebaiknya kau beri nasihat itu pada orang-orang Radolard yang telah menindas kaum kita.”


Pria itu lalu berbalik badan seakan enggan berlama-lama di tempat itu.


“Aku serahkan interogasi pada kalian. Masih ada urusan yang harus ku selesaikan.” ujar Joanne kemudian.


Pria itu pun berjalan ke pintu, bermaksud keluar dari sana. Namun, sebelum dia benar-benar keluar, Laura berseru, “Thunder Phoenix! Aku tahu di mana dia. Apa kau tidak mau mendengarnya?”


Bibir Laura yang begitu kaku tidak tahu harus bagaimana membujuk Joanne agar percaya padanya. Hanya itulah yang bisa keluar dari mulutnya. Padahal sebetulnya Laura juga tidak tahu betul lokasi makhluk legenda itu tepatnya. Karena, yang dia tahu hanya serpihan memori tentang lokasi adegan ditemukannya Thunder Phoenix dalam drama.


“Huh! Omong kosong.”


Joanne kali ini benar-benar pergi dari sana, meninggalkan Laura dan rangers yang lain.


“Apa itu benar?” tanya Brian begitu Joanne pergi.


Laura meringis garing sambil memalingkan matanya dari tatapan para rangers yang mendadak fokus padanya.


“Antara benar dan salah.” jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2