Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Jebakan Gondazel Part 2


__ADS_3

Kurang lebih dua jam setelah makanan Laura diantar, piripiri yang sama kembali untuk mengambil piring yang Laura pakai. Seperti saat dia mengantarnya, Gondazel juga ikut di belakang mengawasinya.


“Nona, saya datang untuk mengambil piring!” seru si piripiri, namun tak ada jawaban dari dalam.


Sekali lagi piripiri itu memanggil, “Nona Luca, apa Anda mendengar saya?”


Lagi-lagi tak ada jawaban.


Si piripiri lalu menengok ke arah Gondazel, memberi kode bahwa ini saatnya dia untuk keluar. Setelah itu, dua orang alien lain juga ikut keluar dari persembunyian Gondazel.


“Kelihatannya rencana kita berhasil, Tuan Gondazel.” ujar Sazaare.


Gondazel memiringkan senyumnya dan menyahut, “Tentu saja. Gadis itu mungkin pintar, tapi paling-paling dia masih semalas sebelumnya. Aku yakin dia tidak akan mengecek terlebih dahulu makanan yang dia makan.”


“Setelah ini, aku tinggal memberikan kekuatanku pada Nona Luca, supaya Yang Mulia Rador mengira bahwa Nona Luca lah yang mengambil kekuatanku. Hahahaha!”


Benar. Kejadian yang menimpa Sazaare hanyalah sandiwara belaka yang dilakukan oleh Sazaare dan Dabakiras. Semua itu dilakukan agar seolah-olah Luca telah berhasil mendapatkan kekuatan finiks, lalu dengan kekuatan itu Luca juga menguras kekuatan Sazaare seperti finiks yang menguras kekuatan Dabakiras. Dengan begitu, Rador pun akan mengira bahwa selama ini Luca telah berbohong tentang rencananya.


“Kekekekek… kalau begitu, cepat buka pintu ini. Aku ingin segera membuat si nona manja itu menyesal telah membodohi kita.” ujar Dabakiras.


“Baiklah, Sazaare. Majulah!” perintah Gondazel.


Segera Sazaare mengambil sebuah kunci dari celananya, lalu memasukkan kunci tersebut ke lubang kunci di pintu kamar Luca. Kunci itu adalah kunci duplikat yang Sazaare curi dari kepala pelayan di kapal itu.


‘Cklek! Klek!’


Kunci telah diputar dua kali. Kemudian, Sazaare putar kenopnya dan dia dorong pintu tersebut hingga terbuka lebar.

__ADS_1


“Huh? Di mana Nona Luca? Kenapa dia tidak ada di kamarnya?” tanya Sazaare panik, karena tidak menemukan Luca di kamar itu.


Tiga alien itupun mendekat ke troli untuk mengecek makanan tadi.


“Sialan! Makanan ini juga tidak dia sentuh!” Gondazel menggeram begitu melihat makanan itu masih utuh.


“Kita harus bagaimana selanjutnya, Tuan?”tanya Sazaare.


“Terpaksa kita harus melakukan cara yang lebih kotor…” jawab Gondazel.


.


.


.


Sementara itu, Laura saat ini tengah berada di Bumi. Tadinya, dia akan berpura-pura tidur untuk mendengarkan rencana para alien itu. Tetapi, kemudian dia merasa bahwa itu akan terlalu membuang-buang waktu. Jadi, menurutnya akan lebih baik kalau dia melakukan rencananya sendiri.


Laura pun bangun dari duduknya dan melambaikan tangannya pada gadis itu.


“Bestie akuw Alicia~” Laura menyapa balik.


Alicia kemudian duduk di sebelah Laura. Lalu, dia keluarkan sebuah box yang terbuat dari kardus berukuran 10 cm x 7 cm dari dalam tas ranselnya. Dia berikan box tersebut pada Laura sambil berkata, “Nih, pesenan kamu. Aku ngambilnya hati-hati sekali, jadi harus kamu jaga baik-baik, ya.”


“Siap, bestie~ Foto Kang Mas ini bakal aku jaga baik-baik. Makasih banget ya, Bestie.” balas Laura.


“Sama-sama.”

__ADS_1


Laura yang telah menerima kotak tersebutpun menyimpannya ke dalam item box yang mirip kantong ajaib D*raem*n.


“Betewe nih, aku tuh tadi hampir aja diracunin sama Dabakiras, loh.” Laura bercerita.


“Ya, ampun. Lalu, apa kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka kan?” Alicia terdengar khawatir.


Laura menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Untungnya nggak, kok. Tapi, aku perlu kasih tahu ke kamu kalau kayaknya Dabakiras CS curiga sama sandiwara kita. Jadi, mulai sekarang kita harus lebih meyakinkan lagi aktingnya.”


Alicia mendengus lega.


“Huft… baguslah kalau kau tidak apa-apa. Lalu, bagaimana? Apa kau ada rencana untuk menutupi sandiwara kita?”


“Hmm… ada, sih. Tapi, aku pengin kamu agak sabar ngadepinnya.”


Dua alis Alicia bertaut. Dia bertanya, “Maksudnya?”


“Sini deh, dengerin!” ujar Laura sembari mendekatkan mulutnya ke telinga Alicia. Dia bisikkan rencana lanjutannya pada sahabat barunya itu.


“Eh? Kamu kok tega banget!” tanggap Alicia tentang bisikan Laura tadi.


‘Plok!’


Laura berkata sambil menangkupkan kedua telapak tangannya, “Please! Kamu cuma perlu sabar dikit, kok. Yaaa”


Pipi Alicia menggembung memperlihatkan kekesalannya.


“Kamu, ih! Aku pikir kita bersahabat, tapi kamu malah mau bikin aku terhina begitu!”

__ADS_1


“Ayolaaah. Ya, boleh, ya!” Laura terus memohon.


Setelah ini, akankah Laura berhasil membujuk Alicia untuk mengikuti rencananya? Lalu, kira-kira sebenarnya apa ya rencana Laura?


__ADS_2