Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Masa Depan Alternatif Part 1


__ADS_3

Bersama Thunder Beasts yang lain, Thunder Fox juga ditinggal di rumah, menunggu dipanggil saat mereka dibutuhkan. Karena belum terlalu akrab dengan Thunder Beasts lainnya, dia hanya diam saja saat bertemu mereka. Akhirnya, si rubah berbulu ungu itu memutuskan untuk pergi menemui Laura.


“Padahal sebenernya kamu kangen aku kan? Dasar rubah tsundere!”


Thunder Fox memutar bola matanya. Padahal dia baru datang, tapi sudah diajak bertengkar.


“Entah apapun artinya tsundere, aku tidak merasa seperti itu. Aku juga tidak kangen padamu.” sahut Thunder Fox.


Mata Laura menyipit, ragu dengan jawaban rubah itu.


“Masaaa…” ledek Laura.


“Haaa… terserah lah. Aku cuma bosan saja.”


Untuk hal ini, Laura juga sama seperti Thunder Fox. Betapa bosannya dia selama di kurung, dia tidak bisa melakukan apapun. Kaca silinder yang mengurungnya hanya memiliki diameter selebar 2m. Sihirnya pun tidak bisa dia gunakan. Padahal, jika dia bisa pakai sihir pun Laura tidak akan pergi dari markas Super Rangers. Berhubung terlanjur masuk, sekalian saja tinggal di sana, jadi dia bisa bertemu Joanne setiap hari.


“Kau pasti sedang memikirkan hal aneh-aneh.” Thunder Fox mendengus melihat Laura yang tiba-tiba melamun sambil terkekeh tidak jelas.


Agaknya pilihan Thunder Fox untuk ke ruangan ini pun tidak tepat, karena di sini sama saja membosankannya. Jika terlalu lama tinggal, pikirnya dia akan ikut ketularan gadis tidak waras itu.


“Sudahlah, aku pergi saja.” batin Thunder Fox.


Rubah ungu itu pun berbalik untuk keluar. Tiba-tiba, datanglah pria berbaju hijau dengan lengan yang terluka.


“Hah… di sini kau rupanya.” ujarnya saat melihat Thunder Fox.


.


.


.

__ADS_1


Rupanya Sean telah mencari si rubah sedari tadi. Pria itu berkata akan menanamkan sistem Thunder Beasts Robo pada Thunder Fox agar bisa digunakan segera. Lalu, karena bekerja dengan satu tangan tidak akan efektif, Sean meminta Laura untuk menyembuhkan tangannya walau hanya sementara.


“Kamu yakin gak mau disembuhin total? Aku bisa, loh.” tanya Laura pada Sean yang bersikukuh.


“Tidak usah. Kalau tiba-tiba aku sudah sembuh, bukankah akan mencurigakan di mata musuh? Aku harus segera turun berperang. Kalau Dabakiras tahu bahwa ada sihir yang menyembuhkanku secara total, kau pasti akan langsung dicurigai. Selain dirimu, tidak ada penyihir lain di Bumi kan?” tolak Sean.


Laura membalas, “Ih, ngapain dipikirin? Dabakiras doang. Dia tuh yang paling bodoh di antara orang-orang Radolard. Paling dia tidak akan sadar.”


Sean menurunkan scalpel dan pinset di tangannya ke atas meja, lalu mengambil jarum dan benang jahit. Kemudian, dia berkata, “Bukan Dabakiras, tapi Gondazel. Aku melihat dia di sekitar hutan. Jadi, dia pasti tahu pertarungan kami dan Dabakiras. Lalu, aku juga bisa melihat di masa depan dia akan menghalangi kami untuk mendapatkan Thunder Phoenix.”


Mulut Laura membulat. Dia paham, berurusan dengan Gondazel sangatlah merepotkan. Dia licik dan mau melakukan apapun untuk tujuannya.


“Sudah selesai. Tapi, sayangnya obat anestesinya baru hilang reaksinya besok.”


Sean melepas sarung tangan dan maskernya. Kemudian, dia bereskan sendiri alat-alat operasi yang telah dia gunakan untuk operasi penanaman sistem pada Thunder Fox. Darah yang berceceran pun dia bersihkan sendiri. Laura yang ingin membantu hanya bisa melihat saja dari kurungan.


Sebetulnya operasi tadi adalah hal yang tidak pernah Laura bayangkan sebelumnya. Laura tahu bahwa Sean, selain ahli di bidang robotic juga ahli di bidang pengobatan, bahkan saat masih di Kaminaria pekerjaannya adalah dokter bedah. Hanya saja saat menonton di televisi, operasi ini tidak pernah ditunjukkan. Thunder Beasts yang sudah ditanami sistem tahu-tahu sudah bisa berubah wujud menjadi robot dan senjata tanpa memperlihatkan proses yang Sean kerjakan dengan jelas di belakangnya.


“Hey, kalau kau mau aku bisa mempercepat pemulihan Thunder Fox.” Laura menawarkan.


Sambil terus mengepel lantai, Sean menjawab, “Tidak perlu. Kan sudah ku bilang akan membuat Radolard curiga. Aku itu sedang membantumu, kenapa malah ingin kau gagalkan?”


Dari perkataan Sean, dapat Laura sadari bahwa ranger hijau itu telah percaya padanya. Buktinya, dia bersedia menyembunyikan keberadaannya di markas ini.


“Tidak apa-apa. Toh, kalian baru akan bertemu lagi dengan Radolard sekitar dua hari lagi. Atau mungkin satu minggu. Jadi, tidak akan ada yang mengira bahwa akulah yang menyembuhkan Thunder Fox.”


Sean menghentikan pekerjaannya sejenak. Dia bertanya, “Kau tahu sampai sedetil itu. Bagaimana bisa?”


“Bisa lah, pokoknya! Aku tuh serba tahu yang ada di dunia ini.”


Alasan Laura yang tidak jelas itu membuat Sean sangat penasaran. Dia yang mendapat kekuatan dari Thunder Turtle saja belum tentu bisa tahu sedetil itu. Dari bayangan yang dia lihat, Sean hanya tahu kejadian apa yang akan terjadi di masa depan tanpa tahu kapan peristiwa itu terjadi.

__ADS_1


“Baiklah.” ujar Sean setuju.


“Yess!” seru Laura penuh semangat. Dia lanjut berkata, “Kalau gini, Thunder Fox kan jadi hutang budi lagi. Jadinya, dia gak macam-macam, deh. Uhuyyyy!”


“Kkk. Seperti biasa, kalian seru sekali ya.” kekeh Sean menanggapi.


“Iya, kah?” Laura menggaruk-garuk lehernya untuk menyembunyikan rasa malu, karena ketahuan menyukai teman debatnya itu.


Sean tidak tahu apa yang diperdebatkan Thunder Fox dan Luca Kasha setiap hari. Tapi, dengan melihat saja dia tahu bahwa mereka berdua sangat akrab. Bahkan lebih akrab dibandingkan Super Rangers dan partner Thunder Beastsnya.


.


.


.


Prediksi Laura ternyata tepat. Super Rangers akhirnya dapat menemukan Thunder Phoenix di hari ke tujuh pencarian mereka di Hutan Lacos. Padahal Laura sendiri tidak terlalu yakin bahwa itu akan terjadi, karena pencarian Thunder Phoenix seharusnya baru dilakukan di sekitar episode dua belas. Dari episode itu pula Laura mendapatkan prediksi itu. Peperangan sebelumnya merupakan bagian dari episode tujuh, jadi bisa dikatakan peristiwa ini terjadi terlalu cepat.


Dia cukup khawatir, Thunder Phoenix tidak bisa ditemukan. Padahal itu satu-satunya jalan agar Joanne percaya padanya. Beruntung Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Dan sekarang Thunder Phoenix sudah berada di hadapan empat anggota Super Rangers.


“Pantas saja aku tidak bisa mendengar suaranya.” kata Alicia saat melihat apa yang ada di hadapannya.


“Keberadaannya juga tidak bisa ku deteksi.” Joanne menambahkan.


Hanya Sean yang tidak terkejut, karena dia sudah tahu makhluk seperti apa yang akan menyambut mereka di sana. Burung yang melambangkan keabadian itu masih dalam wujud telur.


“Telur finiks belum menetas. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa sebaiknya kita langsung membawanya ke markas?” Brian meminta pendapat.


Sebagai keturunan Kaminaria yang telah lama tinggal di Bumi, dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan.


“Finiks paling tidak suka jika diganggu sebelum menetas. Kita tidak bisa membawanya sekarang.” jawab Alicia.

__ADS_1


“Sebaiknya kita berjaga di tempat ini sampai finiks lahir. Panggil seluruh Thunder Beast untuk melindungi area ini. Lalu, kita buat jebakan untuk musuh yang akan menghadang kita. Kita harus membuat seolah-oleh Thunder Phoenix belum kita temukan.” tutur Joanne.


__ADS_2