
Pertarungan berakhir sesuai dengan dugaan. Super Rangers kembali menang tanpa harus ada yang terluka. Kerugian tentu masih dirasakan oleh warga sekitar pegunungan yang mau tidak mau harus merasakan guncangan bagai gempa yang disebabkan oleh pertarungan dua raksasa.
Beruntung, tidak ada korban jiwa di sana. Kalaupun ada, apalah daya mereka. Tidak ada yang bisa mereka salahkan selain para alien Radolard, karena Thunder Beast Robo mereka yakini berada di pihak makhluk Bumi. Padahal ada juga kerusakan yang dibuat oleh robot raksasa itu.
Bukan berarti para anggota Super Rangers diam saja dan pura-pura tidak tahu akan kesalahan mereka. Justru mereka harus merogoh kocek sendiri untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan itu. Karena itu, mereka membutuhkan sponsor. Inilah yang membuat Brian akhirnya diterima sebagai anggota terakhir Super Rangers.
Brian yang juga satu-satunya anggota berdarah Bumi adalah yang paling berjasa dalam hal ini. Ibunya yang berasal dari Planet Kaminaria datang ke Bumi, lalu menikah dengan seorang pria dari keluarga konglomerat. Dari sana, lahirlah satu-satunya manusia berdarah Bumi dan Kaminaria. Artinya, Brian lah yang kemudian mewarisi seluruh kekayaan keluarganya setelah Sang Ayah meninggal.
“Semua ini adalah bencana yang tidak bisa kita prediksi. Saya harap Anda sekeluarga dapat bersabar.” ucap Brian saat mengunjungi salah satu korban yang rumahnya rubuh setelah pertempuran melawan Nyanterius tempo hari. Di sampingnya, seorang asistennya juga berdiri membawa sebuah map berisi poin-poin ganti rugi yang akan diberikan.
“Rumah ini adalah tempat yang penuh kenangan bagi kami. Tetapi, dengan kondisi Bumi saat ini, terpaksa kami harus merelakannya.” kata sang pemilik rumah, seorang wanita berusia empat puluhan yang tinggal hanya berdua dengan puterinya yang masih remaja.
Sebagian besar isi rumah tidak bisa mereka selamatkan. Untungnya saat pertarungan itu berlangsung, mereka sedang tidak ada di rumah. Jadi, mereka selamat dari bencana tersebut.
“Kami turut berduka atas hal ini. Terimalah bantuan dari kami ini. Kami juga dapat mempermudah relokasi rumah, jika Anda berkenan untuk pindah ke sana.” kata Brian dengan ekspresi penuh simpati. Dia lalu mengambil map dari tangan asistennya, lalu menyerahkan map tersebut pada wanita paruh baya itu.
Wanita itu meneteskan air matanya. Harapan yang tadinya pupus seakan kembali, setelah membaca apa yang akan dia dapat setelah penderitaan yang baru saja menimpanya. Dia lalu memeluk Brian dengan erat sembari berkata, “Terima kasih…”
Dia tidak tahu bahwa pria muda yang dipeluknya adalah salah satu orang yang menyebabkan amblesnya harta benda yang dia miliki. Dia hanya tahu bahwa pria itu adalah Brian Davis, pria muda yang kaya dan baik hati.
Melihat pemandangan mengharukan itu, siapapun juga tidak akan mengiranya. Kecuali Laura yang sudah tahu sebagian besar rahasia Super Rangers. Tidak dia sangka, hari ini dia akan mendapatkan rahasia baru lagi. Padahal niatnya hanya menilik bekas pertarungan kemarin. Pikirnya, mungkin sihirnya akan berguna untuk memperbaiki rumah atau infrastruktur yang rusak di sana. Tidak tahunya, semua itu sudah ditangani sendiri oleh Brian.
“Hm... kalau kayak gini, semuanya jadi masuk akal, sih. Pantesan di filmnya gak ada adegan penduduk Bumi yang protes, karena rumahnya diinjak-injak.” gumam gadis berambut hijau itu.
__ADS_1
Mendapati banyaknya kamera dari stasiun televisi yang ada di sekitar Brian, Laura juga menyadari bahwa Super Rangers di dunia ini tidak se-heroik yang ada di televisi. Entah sengaja atau tidak, dengan ditayangkannya kegiatan Brian dan perusahaannya ini di televisi telah menaikkan citra berbagai perusahaan yang ada di bawah Davis Corporation.
“Hal-hal begini mana pantas diangkat di acara untuk anak-anak.” pikir Laura.
Anak kecil yang belum banyak wawasan tidak akan memikirkan hal ini. Tapi, begitu dewasa Laura menyadari bahwa terlalu banyak plot hole dalam cerita Super Rangers. Lalu begitu mengetahui dengan mata kepala sendiri, rasa-rasanya dia juga tidak ingin tahu tentang apa yang terjadi dalam plot hole itu.
“Sudahlah. Yang penting tidak ada masalah yang berarti.” ucap Laura. Dia memutuskan untuk hengkang dari tempat mengintipnya.
Namun, sebelum pergi terlalu jauh, sesosok pria berseragam kepolisian menarik perhatiannya. Laura pun mengubah keputusannya dan justru berpindah untuk mengintip apa yang dilakukan pria itu.
“OMG! Mas Zhou ganteng banget pake seragam polisi!!” pekiknya dalam hati.
Hari itu beberapa bawahan Joanne yang seharusnya berada di bawah satuan reserse kriminal ikut membantu dalam menjaga area bekas pertarungan. Karena, baru saja ada orang-orang tidak bertanggung jawab yang mencuri barang milik warga sekitar yang belum sempat diamankan. Joanne saat ini hanya mengecek lokasi dan menerima laporan saja.
“Berikut daftar barang-barang yang dicuri. Kami juga sudah mendapatkan laporan dugaan pelaku dari beberapa korban.”
Sambil membaca laporan dari bawahannya, Joanne berdehem. Setelah selesai membaca, dia berkata, “Brang-barang yang diambil kebanyakan berukuran besar. Akan sulit kalau membawanya sendirian. Sudah pasti ini bukan hanya perbuatan satu orang. Sebaiknya, kita segera interogasi satu calon tersangka tadi.”
Pria lain yang merupakan bawahan Joanne pun memberi hormat dan menjawab dengan tegas, “Siap! Akan segera saya proses.”
Kemudian, dengan badan tegap, Joanne membalas hormat tersebut. Baru setelah tangan Joanne turun dari pelipisnya, pria yang satunya lagi ikut menurunkan tangannya, lalu balik kanan dan pergi.
Mata Laura berbinar-binar melihat Joanne yang tengah bekerja. Dia begitu kagum, karena ternyata idolanya memang sesuai dengan kriteria pria kesukaannya. Tampan, pekerja keras, dan dapat diandalkan.
__ADS_1
Gadis itu lalu diam-diam ikut berjalan di belakang Joanne. Dia begitu penasaran dengan apa yang akan dilakukan Joanne setelah ini. Tidak lupa, dia merapalkan sihir tembus pandang agar keberadaannya tidak diketahui siapapun.
Joanne yang telah selesai dengan tugasnya di lokasi bekas pertarungan berencana untuk kembali ke kantornya. Masih ada beberapa hal yang perlu dia urus dan laporkan pada atasannya. Dia pun bermaksud berangkat dengan mengendarai mobil dinasnya. Namun, selama berjalan dia merasa ada langkah yang mengikutinya.
Langkah tersebut hampir saja tidak bersuara, tapi kecepatannya sama dengan langkahnya. Joanne pun sedikit melirik ke belakangnya, tetapi tidak dia temukan siapapun di sana.
“Apa ini?” batinnya gusar.
Instingnya berkata bahwa yang mengikutinya adalah orang yang sama dengan yang mengintipnya beberapa hari lalu. Entah apapun tujuannya, Joanne tidak senang dengan ini. Dia harus segera menghentikannya.
Kini dia sudah berada di sebelah mobil dinasnya. Rencananya, dia akan memancing penguntit itu untuk masuk ke dalam mobil itu bersamanya.
‘Grebb!’
Pintu mobil sudah dia tutup rapat. Namun, dia tidak langsung menyalakan mesin mobil. Sambil berpura-pura mengutak-utik ponselnya, dia meningkatkan fokusnya untuk mendeteksi keberadaan si penguntit. Tak lama kemudian, hawa kehadiran makhluk lain pun terasa di dekatnya.
Dia lirikkan matanya ke cermin spion, karena yakin penguntit itu ada di tempat duduk belakang. Dan lagi-lagi Joanne tidak menemukan siapapun.
Penguntit itu tidak terlihat dan bisa menembus pintu mobil yang tertutup. Joanne yang tidak percaya dengan adanya hantu meyakini bahwa penguntit itu memiliki ilmu sihir.
Tanpa ambil pusing, Joanne pun memulai perjalannya. Jika sudah begini, dia tidak bisa langsung pergi ke kantornya terlebih dahulu. Ini bukan ranah yang bisa dijangkau polisi, karena Joanne curiga bahwa ini ada sangkut pautnya dengan Radolard.
Sementara itu, Laura yang begitu yakin dengan ilmu sihir Luca masih tetap tenang. Dia tahu bahwa menguntit adalah hal yang salah. Tapi pikirnya, itu hanya berlaku jika dia ketahuan. Saat ini saja tidak ada yang melihat tubuhnya, jadi pasti perbuatan kotornya ini akan aman.
__ADS_1
Tapi, yang namanya kelengahan hanya muncul jika seseorang sedang tidak berhati-hati. Misalnya seperti Laura saat ini. Padahal posisinya sama sekali tidak aman, tapi dia sama sekali tidak sadar.