
Burung yang mereka duga sebagai Thunder Phoenix itu mengeluarkan api dari sebagian besar tubuhnya, namun sama sekali tidak melukai Dabakiras. Artinya, Thunder Phoenix percaya pada Dabakiras. Jelas ini aneh bagi Laura dan yang lainnya. Bagaimana bisa seekor Thunder Beast tunduk pada Dabakiras yang notabene adalah bagian dari musuh yang telah menghancurkan kampung halamannya?
“Grrrr…” Thunder Fox menggeram kesal pada Thunder Phoenix. Namun, berkat sihir Laura, Thunder Phoenix tidak menyadarinya.
Thunder Fox yang ingin segera mengetahui kebenarannya bersiap untuk maju. Tetapi, Laura segera mengirimkan telepati.
“Jangan! Sebaiknya kita lihat dulu apa yang sebenarnya terjadi.”
Sang rubah masih menggeram.
“Thunder Fox, kita belum tahu sekuat apa Thunder Phoenix sekarang. Kita harus menyusun strategi lebih dulu.” kali ini Joanne lah yang berbisik menasehati.
Setelah itu, barulah Thunder Fox menahan diri.
__ADS_1
“Kita ikuti mereka. Kau… mm… Luca, apa bisa kau membuat kita berempat semakin tidak terlihat?”
Jarang-jarang Joanne mau berbicara terlebih dahulu padanya. Gara-gara itu, hampir saja Laura keceplosan berteriak.
“Ok.” bisiknya.
Kemudian, Laura semakin memperkuat sihirnya, sehingga Joanne, Alicia, Thunder Fox, dan dirinya sendiri menjadi transparan. Meski demikian, mereka harus tetap berhati-hati. Karena, bisa saja kemampuan Thunder Phoenix lebih tinggi dari yang mereka duga. Jadi, untuk sementara waktu mereka berempat hanya bisa memperhatikan gerak-gerik rombongan Dabakiras dari jauh.
“Sudahlah! Kita cari markas mereka lagi, lalu kita hancurkan semuanya!” Dabakiras kemudian melangkah ke depan diikuti oleh segerombolan piripiri.
“Aku pikir kita akan keluar dari hutan dan berisitirahat setelah berhari-hari tersesat dan jatuh.” ujar seorang piripiri pada beberapa rekannya dengan suara lirih.
“Kau pikir cuma kau yang ingin pulang?” tanggap salah seorang piripiri yang diajak bicara.
__ADS_1
“Ya… mau bagaimana lagi? Tuan Dabakiras saja semakin semangat setelah mendapatkan kekuatan dari Thunder Phoenix.”
Pembicaraan mereka sampai di telinga Joanne. Pria itupun sedikit mendekat pada piripiri tadi agar dapat mendengarkan pembicaraan mereka dengan lebih jelas.
“Kalian itu seharusnya berpikir kalau ini adalah kesempatan emas untuk meningkatkan derajat kita di mata Yang Mulia Rador. Jangan kebanyakan mengeluh!” hardik piripiri lain yang nampak lebih bertenaga dibandingkan tiga piripiri sebelumnya.
Mereka bertiga yang sulit menampik hal itu hanya dapat merenung. Pasalnya memang mereka adalah pasukan rendahan yang berada di bawah naungan panglima yang sering dianggap bodoh. Sehebat apapun kekuatan Dabakiras dalam menyerang musuh, Dabakiras dan pasukannya tetaplah dianggap sebagai alat atau senjata, bukan rekan kerja yang dapat memberikan saran atau strategi dalam berperang.
“Tapi, kami berbeda denganmu. Kau juga memasuki black hole itu, jadi kau juga mendapatkan kekuatan finiks meskipun sedikit.” keluh piripiri muda yang baru mengikuti pembicaraan.
“Kalau begitu, seharusnya waktu itu kalian ikut masuk saja ke dalam black hole yang tiba-tiba muncul! Aku dan yang lainnya hanya kebetulan saja masuk. Dan asal kalian tahu saja, kami sempat menghadapi neraka di sana.” piripiri yang bersemangat itu menjelaskan.
Pembicaraan ini semakin menarik bagi Joanne. Hanya saja terlalu banyak hal yang membuatnya bingung. Kekuatan finiks? Black hole?
__ADS_1
Dia pernah mendengar dan melihat kejadian itu di suatu tempat.
“Ceritanya sudah benar-benar berubah. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” batinnya.