Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Tentang Tiger Warrior


__ADS_3

Tiger Warrior, seperti julukannya, dia adalah prajurit berwujud harimau. Dia bertubuh sangat besar dan berbulu emas dengan stripe hitam.


Dalam cerita aslinya, Tiger Warrior diceritakan sebagai pangeran dari Kerajaan Panthelia  yang telah dihancurkan oleh Radolard enam puluh tahun yang lalu. Phantelia dulunya adalah salah satu negara di Planet Porcar yang cukup mahsyur, karena sumber daya alamnya yang melimpah. Tetapi, tiba-tiba Gondazel dan para anak buahnya yang seharusnya adalah warga Phantelia berkhianat dan melakukan kudeta.


Rupanya Gondazel bergerak dengan dukungan Kekaisaran Radolard yang ingin menguasai seluruh Planet. Berkat keberhasilannya, Gondazel pun diangkat menjadi salah satu jenderal tertinggi di Radolard.


Dengan latar tersebut, Tiger Warrior memiliki misi untuk menghancurkan Radolard sampai sehancur-hancurnya. Beberapa kali dia berhasil menggagalkan Radolard untuk menguasai planet lain. Kalaupun gagal, setidaknya dia telah menyelamatkan warga dari negara yang dijajah dan membantu memindahkannya ke daerah yang lebih aman.


Salah satu yang gagal dia selamatkan adalah Planet Kaminaria. Itu adalah kegagalan terbesar baginya. Karena itu, dia mencari orang-orang Kaminaria terakhir yang masih hidup dan datanglah dia ke Planet Bumi. Dia ingin meminta maaf atas kegagalannya dalam mempertahankan Kaminaria dan membantu mereka untuk bertahan di planet mereka yang baru.


“Apa jangan-jangan dia yang menyelamatkan para remaja itu?” Laura menduga.


Sambil memberikan sebotol air mineral pada Laura, Joanne ikut memberi pendapatnya, “Kita belum bisa memastikannya, karena…”


Laura menundukkan kepalanya dan berkata, “Iya… iya… Ini gara-gara aku yang sok ngubah-ngubah cerita.”


Dibukannya botol air mineral itu dan dia tegak dengan cepat untuk menahan kekesalannya. Walaupun Laura sadar atas kesalahannya, dia tidak suka disindir. Apalagi yang menyindir wajahnya mirip dengan idolanya.


“Seharusnya Tiger Warrior muncul pertama kali di scene terakhir episode yang menceritakan tentang Thunder Phoenix. Lalu, ada juga scene Tiger Warrior yang mengobrak-abrik kapal angkasa Radolard.”


Laura mengangguk-anggukan kepalanya.


“Scene itu kece banget luar biasa. Tapi, selama aku di kapal, gak ada kejadian kayak gitu.” kata Laura.

__ADS_1


“Apa benar-benar tidak ada kekacauan di sana?” tanya Joanne.


Laura memutar otaknya untuk mengingat-ingat kejadian belakangan ini. Beberapa menit kemudian, dia mengingat sesuatu yang sempat membuatnya merasa ganjil.


“Gak sampe ngobrak-abrik sih, tapi pokoknya kacau.”


Melihat wajah penasaran Joanne, mulailah Laura bercerita.


“Aku kan ngarang bebas di depan Rador. Aku bilang kalau ada buku tentang Thunder Beasts yang disembunyiin Gondazel. Padahal aslinya gak ada kan? Gondazel juga ngaku gak tahu menahu. Nah, rencananya aku mau ngarang bukunya dadakan, biar Rador percaya kalau Gondazel pengin nguasain Thunder Beasts sendirian. Aku udah capek banget pengin nyerah. Tapi, tiba-tiba buku yang aku bilang beneran nongol di kamarnya Gondazel.”


“Ckckck…” Joanne berdecak.


“Sepertinya kau memang cocok menjadi Luca Kasha. Kau benar-benar jahat, sampai melakukan hal yang lebih kejam dari pembunuhan.” ujar pria itu dengan tatapan tak percaya.


Bukan ini reaksi yang Laura inginkan. Dia ingin fokus pada pertanyaan Joanne tentang kekacauan yang ada di Radolard, tetapi orang yang sama malah out of topic.


“Yayaya… lalu, apa ada lagi?”


Sekali lagi Laura memutar otaknya. Namun, tak ada lagi yang bisa dia ingat.


“Kayaknya cuma itu. Sorry.” ucapnya.


Joanne memijat kepalanya. Kasus ini benar-benar membuatnya pusing.

__ADS_1


“Kalau saja bisa melihat masa depan seperti Sean…” gumam Joanne.


Sayup-sayup Laura mendengar gumaman itu dan terlintaslah sebuah ide di kepalanya.


“Aku tanyain ke Sean langsung bisa kok.” katanya.


“Hah?”


.


.


“Harimau? Ada. Sebentar lagi kalian akan bertemu.”


Satu fakta lagi yang mengejutkan untuk Joanne tentang Luca Kasha. Dia benar-benar tidak menduga bahwa Sean sudah memberi tahu Luca tentang kemampuan rahasianya. Tetapi, karena seharusnya Joanne yang asli tidak tahu, Joanne pun hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari luar laboratorium milik Sean.


“Beneran? Ciyus? Kapan? Di mana? Gimana caranya?”


Pertanyaan Laura yang bertubi-tubi membuat Sean memutar bola matanya.


“Tanyalah satu per satu!” sentaknya.


Laura hanya meringis.

__ADS_1


“Haah… Mau bagaimana lagi? Aku jawab saja.”


Pria berjas putih itu memegang bahu Laura, lalu berkata, “Sering-seringlah lihat ke belakang! Okay?”


__ADS_2