
Kemampuan Luca Kasha dalam menyembunyikan hawa kehadiran agaknya lebih tinggi dari yang Thunder Fox kira. Padahal daya penciumannya sangat tajam, tetapi dia sama sekali tidak bisa mendeteksi kemunculan Luca.
“Apa maksudmu sudah menduganya?” tanya Thunder Fox melalui telepati.
“Tidak usah dipikirkan. Yang jelas aku sudah tahu.” Laura berdalih.
Dikatakan menduga pun, sebetulnya dia baru menduganya tadi saat melihat langsung bagaimana interaksi Joanne dan Thunder Fox untuk pertama kalinya. Dari jauh dia melihat bahwa Joanne nampak tidak suka waktu sendiriannya diganggu, tapi Thunder Fox tidak memberikan Joanne privasi sama sekali. Akibatnya, ya seperti yang baru saja terjadi.
“Harusnya kamu gak usah dekat-dekat njagainnya. Kan jadinya kayak begini.” Laura menghardik.
Thunder Fox menggeram. Ujarnya, “Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk terus bersamanya? Sekarang malah protes.”
Dicubitnya kedua pipi rubah ungu itu dengan gemas, lalu Laura berkata, “Aku memintamu untuk melindunginya, bukan menempel padanya seperti perangko!!”
“Waaauuung!!”
Thunder Fox mengaum dengan sangat keras. Laura yang belum ingin ketahuan pun segera melepaskannya. Setelah itu, barulah Thunder Fox berhenti mengaum.
“Kamu contoh Blue Griffin, dong! Dia dari jauh, tapi bisa tetep ngelindungin partnernya.” omel Laura.
Thunder Fox membalas, “Aku tidak punya mata elang! Lagipula, sudah ada pelindungnya sendiri, untuk apa memintaku jadi body guard? Dan bukannya kau juga bisa melindunginya sendiri?”
Sejenak Laura berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat agar si rubah ungu ini tidak menjadi besar kepala setelah mengetahui alasan yang sebenarnya. Thunder Fox memang bukan Thunder Beast yang ditakdirkan untuk menjadi rekan atau partner dari anggota Super Rangers Thunder Saber, karena itu dia tidak diberi julukan dengan urutan warna+jenis binatang. Tetapi, sebetulnya dia memiliki kekuatan tempur tertinggi di antara para Thunder Beast.
Dengan elemen cahaya yang dia miliki, Thunder Fox dapat berpindah ke manapun selama ada media yang dapat mengeluarkan ataupun memantulkan cahaya. Artinya, dia juga bisa menggunakan api sebagai senjata dan tameng. Selama tidak terlalu dalam, dia juga bisa bergerak di air.
Satu hal yang paling disayangkan yaitu sifat narsisnya yang membuatnya selalu memamerkan kehebatannya. Jadi, setelah pertarungan besar perdananya, banyak dari pasukan Radolard yang tahu serangan apa saja yang akan dipergunakannya. Jika sudah begitu, bukankah Super Ranger yang akan dirugikan?
__ADS_1
“Ya jelas, karena Blue Griffin tidak punya hutang budi, lah! Memangnya apa lagi? Dan aku… aku ada urusan penting!” Laura menaikkan nada bicaranya begitu menemukan alasan yang tepat.
Thunder Fox tidak bisa menampik, karena dia memang memiliki hutang budi pada Laura yang telah membebaskannya. Hanya saja, dia tidak puas dengan jawaban Laura.
“Udahlah! Yang penting kamu lakuin aja yang aku minta! Kan udah janji. Toh tinggal satu hari lagi.” tambah Laura.
Sebetulnya ini telah menjadi pertanyaan di kepala Thunder Fox beberapa hari ini. Mengapa waktu yang ditentukan harus tujuh hari dan tidak lebih maupun kurang? Apa ada arti tertentu? Atau Laura sebenarnya merencanakan hal buruk dan tanpa sadar Thunder Fox telah melancarkan rencana jahat itu?
“Kau tidak macam-macam kan?” tanya Thunder Fox dengan posisi siaga.
Laura melirik rubah ungu itu sejenak, lalu menjawab, “Kalau yang kamu maksud macam-macam adalah ‘berkhianat dari Radolard’, kamu bener.”
Thunder Fox tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Seorang petinggi Radolard sekelas Luca Kasha ingin berkhianat, tentu akan sangat menghebohkan jagat raya.
“Tapi, jangan bilang siapa-siapa dulu, ya! Kalau ketahuan sama Rador, bisa mampus aku tuh.” lanjut Laura.
“Hehehe…” Laura meringis.
Ucapan Thunder Fox tidak salah. Penghianatannya pada Radolard bukan hal yang biasa, terutama bagi para penduduk Planet Porcar, khususnya Kekaisaran Radolard. Karena, itu sama artinya dengan membuang nyawa. Di Planet Porcar dan seluruh planet jajahan Radolard saja tidak ada yang berani melawan, lah ini ada satu perempuan muda yang berniat berkhianat.
“Woong!” Thunder Fox menggonggong sambil menegakkan kedua telinganya. Postur siaganya semakin tegap menghadap ke arah yang berlawanan dari Laura.
“Apa ada bahaya?”
Laura ikut memposisikan diri walau dia tidak tahu apa alasan Thunder Fox bersikap seperti itu. Rubah ungu itu juga tidak menjawab dan hanya menggeram.
Tidak lama kemudian, Brian, Joanne, dan Alicia keluar dengan tergesa-gesa dari markas mereka. Mereka berlari menuju arah yang sama dengan arah geraman Thunder Fox. Di belakang mereka, Laura juga mengikuti sambil terus menyembunyikan hawa kehadirannya.
__ADS_1
Thunder Fox juga ikut berlari di sampingnya dengan kecepatan penuh. Dengan tubuh kecilnya, kemampuan lari dari jelmaan rubah raksasa itu sama sekali tidak menurun. Dia menembus kaca rumah, lalu keluar dari kaca lainnya. Lompatannya juga sangat lebar. Setiap pijakannya, Thunder Fox dapat melewati tiga rumah sekaligus.
Sekarang, sampailah mereka di tujuan. Sean yang tidak berada di markas juga sudah datang menyusul.
“Kayaknya mereka beraksi sekarang.” gumam Laura sambil memperhatikan medan perang tempat mereka berada.
Pilihan lokasi Gondazel dan Nyanterisu sama persis dengan lima hari yang lalu, padang rumput dengan banyak bukit di sisi-sisinya dan berdekatan dengan hutan tropis. Ini membuat Laura berpikir kalau duo kucing itu tidak kreatif, karena tidak memilih lokasi yang berbeda. Namun, perlu dia ingat bahwa ini adalah dunia Super Rangers yang latarnya itu itu saja. Kalau tidak di tengah kota, ya di pantai atau daerah pegunungan.
“Radolard! Cukup di sini kau berbuat seenaknya!” seru Brian.
Mendengar dialog ini, Laura seketika memukul jidatnya sendiri.
“Eww… Masa dialognya juga gak berubah?” ucapnya kecewa.
Yang membuatnya semakin kecewa adalah dialog Nyanterius selanjutnya.
“Super Rangers. Akhirnya kalian datang juga… untuk mati di tanganku. Nyaahahahaha!!”
Lagi-lagi Laura menepuk jidatnya. Dia tahu bahwa adegannya akan sangat berbeda setelah ini. Tapi, dia sungguh tidak tahan dengan dialog super klise dari pahlawan dan musuhnya ini. Padahal seharusnya Gondazel adalah seorang pemikir.
“Thunder Fox, cepetan maju, gih!” perintah Laura.
“Kau tidak perlu memintaku!!” seru Thunder Fox sebelum maju dan mengubah tubuhnya ke ukuran asli.
Seperti waktu itu, Thunder Fox muncul dengan begitu heboh. Debu-debu berterbangan karena hempasan kakinya. Angin juga berhembus begitu kencang bersamaan dengan gerak tubuhnya yang kelewat lincah. Dan karenanya, para anggota Super Rangers yang belum berubah wujud pun hampir kelilipan.
“GAK GITU JUGA RUBAH GUOBLOOKKK!!” umpat Laura dalam hati.
__ADS_1