
Nasib Gondazel sudah cukup buruk setelah kehilangan kepercayaan Rador saat ini. Tidak jauh berbeda dengan Gondazel, Dabakiras yang sudah tersesat di dalam hutan selama berhari-hari pun bernasib cukup sial.
Sempat dia ingin menyerah, namun dia urungkan karena hal yang sebetulnya juga tidak dia inginkan. Berkali-kali dia dan pasukannya berusaha keluar dari hutan, tapi selalu gagal. Padahal tidak ada satu orang pun dari pasukannya yang buta arah seperti Dabakiras.
Saat terjadi pertarungan antara Thunder Fox dan Chujelaking, mereka mengira dapat menjadikannya sebagai patokan. Namun, walau pasukan Dabakiras merasakan seluruh getaran dan reruntuhan yang diakibatkan dua raksasa tersebut, mereka tetap gagal untuk keluar dari hutan seakan-akan hutan tersebut tidak rela melepaskan mereka.
Selain secara manual, mereka semua juga beberapa kali mengirimkan sinyal kepada kalap pusat. Dan sayangnya, tidak ada satupun yang diterima.
Hingga saat mereka sudah kelelahan, akhirnya sebuah pencerahan mereka dapatkan.
“Tuan, bukankah itu tempat latihan kita?” Seorang piripiri menunjuk ke sebuah arah yang nampaknya dia kenal.
Dabakiras yang sedang ngos-ngosan tak langsung menjawab. Dia hanya melambai-lambaikan tangannya seperti memberi kode agar si piripiri tadi memeriksanya sendiri.
__ADS_1
“Kalau begitu, saya dan satu teman saya minta izin untuk pergi mengeceknya. Permisi, Tuan.” ujar piripiri tadi meminta izin, kemudian pergi bersama satu piripiri lain.
Selang tak lama kemudian, keduanya kembali lagi dan melapor pada Dabakiras.
“Benar, Tuan. Itu adalah tanah lapang yang dekat dengan jurang tempat kita selalu berlatih.” lapornya.
Piripiri yang lain menambahkan, “Berarti mungkin kita bisa mencari jalan keluar dari sana. Kalau sudah sampai, pasti akan lebih mudah mengingat lagi jalan keluar dari hutan ini.”
Mendengar ini, semangat Dabakiras pun kembali. Dia berdiri dari duduknya, lalu melangkah mendahului pasukannya menuju tempat yang ditunjuk tadi. Di belakangnya, pasukan piripiri mengikutinya dengan tak kalah semangat. Mereka benar-benar sudah tidak sabar lagi untuk kembali.
“Benar, Tuan! Tuan memang pintar! Paling cerdas di Radolard.” jilat seorang piripiri.
Dabakiras begitu senang mendengar pujian itu. Tentu dia tidak benar-benar jujur mengatakannya. Semua piripiri di bawah naungan Dabakiras tahu seburuk apa Dabakiras membuat strategi dan keputusan. Terkadang mereka malah harus bergerak sendiri sebelum Dabakiras memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk kemajuan mereka. Yang membuat mereka bertahan menjadi bawahan Dabakiras hanyalah besarnya gaji yang mereka terima setiap tahunnya.
__ADS_1
“Hahahaha! Tentu saja! Aku akan maju lebih dulu. Kalian ikutlah di belakangku!” ajak Dabakiras.
Dengan lompatan yang begitu hati-hati, Dabakiras menuruni jurang. Dengan bantuan ranting-ranting dan bebatuan di turunan jurang tersebut, dalam waktu sekejap dia dan pasukannya berhasil melewati setengah dari rintangan di jurang tersebut. Kemudian, saat Dabakiras tengah melompati sebuah batu besar, entah karena apa tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Sebagai seorang prajurit yang terlatih keras, ini adalah hal yang sangat jarang terjadi pada Dabakiras. Dia dan pasukan yang turun setelahnya begitu panik, karena tidak sempat menyelamatkan diri.
Dabakiras yang tengah terguling kemudian mencari-cari ranting atau bebatuan yang dapat membantunya bergelayutan maupun menapakkan kaki. Namun anehnya, saat dia menemukannya, Dabakiras kesulitan untuk menggapai batu-batu dan ranting-ranting itu, sehingga Dabakiras terus jatuh terpelarak dan terguling.
“Tuan!!” teriak para piripiri yang kemudian mempercepat lompatan mereka.
Sayangnya, piripiri itu tak sempat menyelamatkan Dabakiras maupun meraih tangannya.
“Tunggu!! Jangan ke sini! Ada black hole di sini!!” seru seorang piripiri yang berada paling bawah dari yang lainnya.
__ADS_1
Karena teriakan tersebut, sebagian besar piripiri berhenti. Tetapi, ada pula di antara mereka yang terlanjur tersedot ke dalam black hole tersebut. Termasuk di antaranya adalah Dabakiras.