
Masih ada beberapa hal yang sebetulnya ingin Laura tanyakan pada Joanne. Misalnya saja, seperti identitasnya yang sebenarnya, lalu bagaimana dia ke dunia ini, dan sejauh apa Joanne mengetahui tentang dunia ini. Sayangnya, ada Sean yang sedang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Bukan berarti Laura tidak percaya pada Sean, tapi menurutnya sebaiknya dia menyembunyikan identitas aslinya sebagai orang yang bukan dari dunia ini. Toh lama-kelamaan Sean juga akan tahu sendiri dengan kemampuannya untuk melihat masa depan.
Tujuan Laura berikutnya, tentu adalah temannya, Alicia. Walau tidak lagi mengejar-ngejar Joanne, setidaknya ada gadis itu yang cukup nyambung dengannya. Jadi, selama di dunia ini Laura tidak akan bosan.
Dicarinya gadis itu di sudut-sudut markas, tapi tidak secuilpun batang hidungnya yang terlihat. Begitu pula di luar area markas.
“Itu anak ke mana, sih? Perasaan jam segini harusnya anak SMA udah pada pulang.”
Alicia adalah seorang guru di SMA yang mengajar Bahasa dan Sastra Inggris. Jam kerjanya hanya sedikit lebih panjang dari jam belajar anak SMA. Ini adalah hari Jumat dan seharusnya anak sekolah pulang lebih awal, jadi seharusnya juga Alicia sudah pulang.
“Kau tidak punya nomor ponselnya?”
Yang bertanya itu adalah Thunder Fox, si rubah ungu berekor sembilan yang Laura seret di saat sedang mencari Alicia. Thunder Fox sendiri tengah merasa bosan, karena lagi-lagi gagal mengobrol dengan para Thunder Beasts yang lain. Jadi, meskipun di luar nampak enggan, Thunder Fox sebetulnya cukup senang diajak Laura.
“Eh, iya ya!?”
Laura menepuk jidatnya. Sepertinya karena terlalu sering berada di kapal Radolard, dia jadi lupa kalau dunia ini tidak berlatar di masa kuno. Jadi, pasti ada alat yang namanya ponsel, walaupun teknologinya tidak semodern di dunia aslinya.
“Tunggu! Tapi, aku juga gak punya ponsel.”
Kalau dipikir-pikir selama ini komunikasi jarak jauh yang mereka lakukan juga hanya lewat telepati. Tapi, semua itu baru bisa Laura lakukan kalau mereka berada di jarak yang tidak terlalu jauh. Sementara itu, jarak dari markas ke sekolah tempat Alicia mengajar bisa dikatakan di luar jangkauan.
“Aaah… aku jadi temen kok gini banget, ya?”
__ADS_1
Thunder Fox menanggapi sambil menggeleng-geleng kepalanya heran, “Seharusnya aku yang bertanya padamu.”
“Hm?” hidung si rubah mengendus-endus.
Lanjutnya, “Sepertinya orang yang kita cari sudah datang.”
“Benarkah?”
Laura segera berlari ke halaman depan. Dengan langkah riang dia menyambut temannya yang mungkin sedang lelah sepulang bekerja.
“Lho, mukamu kok kusut gitu?”
Orang yang Laura tunggu-tunggu nampaknya sudah lebih dari lelah. Rambutnya acak-acakan, bajunya kusut, napasnya tersengal-sengal, dan bau keringatnya cukup kecut.
Langkahnya yang terseret-seret pelan sangat menunjukkan betapa berat harinya tadi. Laura tidak mau menambah masalah, jadi dia biarkan saja sikap cuek Alicia tadi.
Setengah jam kemudian, Alicia yang sudah segar kembali pun menemui Laura di ruang tengah. Dia duduk di sebelah Laura yang sedang menonton televisi.
“Capek banget kayaknya, Bestie,” sapa Laura.
Alicia mendengus, lalu menjawab, “Yaaa begitu lah. Namanya juga mengurus anak-anak remaja yang sedang puber.”
“Mereka rebutan pacar? Berantem sama sekolah sebelah? Atau… Pecandu obat-obatan terlarang?” Laura menebak dengan menyebutkan kasus-kasus yang sering terjadi di kalangan remaja. Atau setidaknya yang pernah terjadi di sekolahnya dulu.
Alicia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Tidak separah itu,” katanya.
“Terus?”
“Apa aku pernah cerita kalau aku adalah guru pembimbing klub drama sekolah?”
Tanpa diceritakan pun sebetulnya Laura sudah tahu akan hal itu dari cerita aslinya. Tapi, dia ragu apakah Alicia pernah cerita atau tidak. Karena itu, Laura menjawab, “Hm… maaf, aku lupa.”
“Ya, pokoknya begitu lah!” Alicia tidak mau ambil pusing, karena dia juga lupa pernah cerita atau tidak.
“Apa ada yang terjadi di klub drama sampai membuatmu stres begitu?” tanya Laura lagi.
Alicia bercerita, “Tidak terlalu serius sebetulnya. Ada salah satu anggota di klub itu, namanya Wendy. Dia sudah berhari-hari tidak latihan, padahal sebentar lagi ada pentas di sekolah.”
“Wendy?”
Samar-samar Laura mengingat namanya, tetapi dia tahu cerita tentang anggota klub drama yang tidak latihan berhari-hari itu. Ibu dari Wendy tidak mengizinkan Wendy untuk ikut di klub drama, karena dianggap tidak berguna untuk pendidikannya. Karena itu, Ibu Wendy selalu menjemput gadis malang itu seusai sekolah dan memaksanya untuk pulang.
“Dia itu pemeran utamanya, makanya kami kerepotan. Latihan juga jadi tidak lancar. Mau mengganti pemeran pun tanggung. Karena, pentasnya tiga hari lagi.” Alicia bercerita.
Pada episode yang mana Wendy muncul diceritakan bahwa nantinya Wendy akan bertemu dengan seorang alien berwujud mirip duyung. Di luar dugaan, bukannya duyung, alien itu lebih tepat disebut siren. Karena, dia memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dengan suara emasnya.
Siren itu kemudian mempengaruhi Wendy untuk memberontak pada Ibunya. Tidak hanya Wendy, banyak anak remaja di kota ini yang terpengaruh dengan nyanyian siren itu. Dan lagi-lagi keselamatan kota pun terancam. Super Rangers juga mengalami kesulitan, karena pasukan siren itu bukanlah piripiri seperti biasanya, melainkan pasukan remaja yang terhipnotis.
Lalu, satu-satunya yang dapat membantu mereka adalah Thunder Dolphin yang sayangnya sangat sulit dicari. Dan ini semua adalah salah Laura yang telah mengubah cerita. Karena, Thunder Dolphin sedang bersama Tiger Warrior saat ini.
__ADS_1