
Efisiensi, bukan nama jasa transportasi, belakangan ini menjadi moto utama Laura. Lebih tepatnya, Laura tidak mau repot dengan hal yang sebetulnya bisa disederhanakan, alias malas.
“Kayaknya aku ketularan Luca Kasha yang suka malas-malasan, deh.” alasannya demikian, padahal dia saja yang ingin malas-malasan. Nyatanya, sebelum mati pun dia malas-malasan sambil menonton drama selama lima hari sampai lupa makan segala.
Oleh sebab itu, semenjak ditinggal Dabakiras dan Rador tadi Laura terus berada di kamarnya. Namun, bukan berarti Laura tidak melakukan apapun. Seperti saat kasus Thunder Phoenix yang lalu, kali inipun Laura akan menggunakan skill satpam cctv kantornya.
‘Ctak! Tring!’
Dalam sekali jentikan jari sebuah layar telah muncul di hadapan Laura. Tetapi, baru beberapa saat dinyalakan, Laura sudah menghilangkannya lagi, karena gambar yang terlihat di sana.
“Anjay! Mereka kok ada di sini?” Laura berbicara dengan dirinya sendiri.
Yang dilihatnya di layar tersebut adalah gambar yang dihasilkan dari sihir penyadap yang dia pasang di depan kamarnya. Di sana terlihat seorang piripiri yang membawa nampan berisi makanan, lalu di belakangnya ada Gondazel.
Sesaat setelahnya, sebuah ketukan pintu terdengar diikuti dengan suara si piripiri.
“Nona, saya datang membawa makan malam.” kata piripiri itu.
“Oke! Bentar, ya!” jawab Laura.
Dibukanya pintu kamarnya, namun yang berdiri di sana hanya seorang piripiri, sedangkan Gondazel entah pergi ke mana.
“Mencurigakan…” batin Laura.
“N-Nona, saya ak-akan menaruh nnn nampan ini di meja.” kata piripiri itu lagi.
__ADS_1
Cara bicara piripiri yang terdengar kikuk itu semakin membuat Laura merasa curiga. Dia yakin ada sebuah rencana di balik semua itu.
“Jangan-jangan di makanan ini racunnya, terus ini piripiri takut ketahuan. Makanya dia nervous gini.” duga Laura dalam hati.
Si piripiri masih berdiri di hadapannya menunggu untuk diizinkan masuk dan menaruh nampan itu di atas meja. Keringat yang mengucur semakin nampak di bajunya, menunjukkan betapa takutnya dia bila ketahuan.
“Aku sendiri saja yang bawa.” ujar Laura kemudian.
Diambilnya nampan tersebut dari tangan piripiri, sehingga membuat si piripiri terkejut.
“Biar saya saja, Nona.”
“Terlanjur. Sudah, kau pergi saja sana!” usir Laura yang langsung menutup pintu kamarnya.
Perempuan berambut biru itu mengunci rapat pintu tersebut, baru kemudian menaruh nampan berisi makanan tadi di atas meja. Dia buka tudung sajinya dan nampaklah satu set makanan full course yang cukup menggiurkan bila dipandang.
Di saat begini, untung saja ada perpustakaan kecil di kamar Luca Kasha. Mungkin kalau dicari, Laura akan mendapatkan buku yang diinginkannya.
“Bagian makanan… oh! Ada! Cara Mengetahui Resep Makanan dengan Ilmu Sihir!”
Beruntungnya lagi, Luca Kasha mengatur perpustakaannya dengan cukup rapi, sehingga Laura bisa dengan mudah mendapatkan buku yang diinginkannya. Diambilnya buku tersebut, kemudian dibacanya dengan teliti. Rupanya caranya tidak terlalu sulit, apalagi bagi orang yang memiliki banyak kekuatan sihir sepertinya. Laura hanya perlu berkonsentrasi, lalu merapal mantra untuk membaca status.
“Oke… mulai nih, konsentrasi… ‘Food appraisal!’” rapalnya.
‘Cring!’
__ADS_1
Tiba-tiba di atas makanan tersebut muncul masing-masing sebuah kotak berisi keterangan.
“Kenapa jadi kayak di game gini?”
Laura baca satu persatu keterangan tersebut dan akhirnya menemukan sesuatu di kotak status yang muncul di atas makanan utamanya yang berupa steak daging.
“Bunga Anrelia? Warna tulisannya merah sendiri. Kalau kata buku tadi sih, berarti naruhnya kebanyakan.”
Dia coba meng-klik tulisan bunga anrelia itu, kemudian kotak dialog lain pun keluar. Kali ini adalah keterangan tentang bunga antralia tersebut.
“Bunga Anrelia adalah bunga dari planet Porcar yang dapat dijadikan bumbu penyedap. Semua makanan akan menjadi lebih sedap bila dicampur dengan bunga anrelia. Tetapi, bila digunakan terlalu banyak, akan membuat orang yang mengkonsumsinya tidak sadarkan diri selama 24 jam. Sangat cocok digunakan untuk penderita insomnia.” bacanya.
“Ebuset! Ini sih, micin plus obat tidur. Praktis amat. Tapi, buat apa aku dikasih beginian? Kerjaannya si Gondazel ini pasti…”
Kembali Laura membuka layar cctvnya. Dia cari lokasi Gondazel melalui sihir penyadapnya itu. Butuh waktu yang cukup lama, karena Laura memasangnya di begitu banyak tempat. Selain itu, karena Gondazel tidak ditemukan di ruangannya juga.
“Ealah, di dapur!” seru Laura begitu melihat bagian dapur.
Di sana terlihat Gondazel yang tengah memberikan sebuah koper kepada piripiri yang mengantarkan makanan untuk Laura tadi. Sambil tersenyum puas, Gondazel juga menepuk-nepuk pundak piripiri tersebut.
“Kerjamu bagus. Dengan begini, kita bisa menjebak si Nona sialan itu! Aku tidak bisa membiarkannya terus berada di atas awan…” kata Gondazel.
“T tapi, bagaimana kalau saya ketahuan?” tanya piripiri itu.
“Ketahuan apa? Kau hanya kebetulan memberikan bunga anrelia terlalu banyak. Itu bukan hal yang berbahaya dan pasti tidak akan ada masalah dengan itu. Lagipula, si Nona itu juga sering mengurung di kamar. Aku yakin tidak akan ada yang curiga.” Gondazel berusaha meyakinkan, namun piripiri itu masih nampak panik.
__ADS_1
“Kau tidak perlu takut. Aku dan Tuan Dabakiras ada di belakangmu. Hehehehe!” tawanya.
Masih belum Laura ketahui jebakan macam apa yang Gondazel rencanakan. Laura menduga ini masih ada hubungannya dengan kemampuan Sazaare yang tiba-tiba menghilang. Sudah jelas ini hal yang tidak baik.