
Misteri tentang menghilangnya anak-anak remaja yang diculik oleh Sorenos masih belum terpecahkan. Saat Joanne memeriksa ke rumah anak-anak tersebut, ternyata tak satupun dari mereka yang sudah pulang.
Awalnya, beberapa orang mengira bahwa ini hanya bentuk dari kenakalan remaja yang emosinya masih labil. Karena itu, tidak banyak yang merasa khawatir.
Fenomena ini sudah berlangsung lebih dari seminggu dan semakin banyak anak yang hilang. Berita-berita di televisi pun semakin digencarkan agar tidak ada anak-anak lain yang menjadi korban penculikan ini.
Para orang tua yang kehilangan anaknya semakin panik dan mulai ragu dengan kemampuan polisi dan detektif sewaan mereka untuk mencari. Adapun orang tua yang anaknya masih selamat juga ikut khawatir, takut jika setelah ini anak-anak mereka lah yang akan menjadi korban.
“Laporan remaja yang hilang semakin banyak. Aku yakin sekali bahwa ini adalah ulah Radolard.” Brian menduga.
Joanne yang sudah tahu sedari awal tidak menanggapi apa-apa. Begitu pula Laura yang sampai sekarang masih menghindar dari Sador.
“Dari bukti sisik yang Joanne bawa, aku yakin sekali bahwa itu adalah sisik bangsa siren dari Radolard. Green Turtle juga mengatakan hal yang sama.” Sean berkata.
“Siren adalah ras planet Porcar yang sangat berbahaya. Kalau mereka sudah kemari berarti…” Alicia melirik pada Laura.
“Yah… siapa lagi kalau bukan nenek tiriku,” Laura membenarkan.
Terngiang di ingatan Sean dan Alicia tentang Oktasia beserta para prajurit lautnya yang menenggelamkan kampung halamannya hingga tak bersisa. Seandainya bisa, ingin rasanya membalaskan dendam orang tua, saudara, dan teman-teman di kampung mereka sekarang juga. Tetapi, dengan kekuatan Super Rangers sekalipun, mereka berdua sadar belum memiliki kekuatan yang cukup walau hanya untuk menorehkan satu goresan di tubuh wanita jahat itu.
‘Ping! Ping! Ping! Ping!’
Mendengar nada dering panggilan dari ponselnya, Joanne mengambil kemudian mengangkat telefon tersebut.
“Ada apa?” tanya Joanne.
__ADS_1
Seorang pria menjawab dari seberang telfon. Suaranya tidak terlalu jelas, tetapi dari nada bicaranya agaknya ada hal melegakan yang terjadi.
“Kau tidak bercanda?”
Joanne nampak terkejut. Namun, tidak seperti pria yang diajaknya berbicara, Joanne justru nampak kebingungan.
Laura yang begitu penasaran dengan pembicaraan mereka pun memperjelas pendengarannya dengan sihir.
“Ini sungguhan! Baru saja aku mendapatkan laporan bahwa remaja-remaja itu telah kembali!” pria dalam telfon meyakinkan.
Sekarang Laura paham apa yang membuat Joanne begitu heran. Alur ini jelas tidak terjadi di cerita asli.
Dalam drama televisi, seharusnya anak-anak remaja itu baru bisa pulang setelah diselamatkan oleh Super Rangers dan Tiger Warrior. Tapi, yang mereka alami justru anak-anak remaja itu pulang terlebih dahulu.
“Aku akan menyelidiki Sarenos.” kata Laura.
“Please. Aku cuma lihat, kok. Gak bakal ngelakuin hal lain. Janji, deh!” Laura bersungguh-sungguh.
Joanne berpikir sejenak, lalu berkata, “Ingat, jangan gegabah!”
Laura mengangguk.
Setelah mendengar cerita dari Joanne, sudah hampir tidak ada lagi niatan dalam kepalanya untuk mengubah alur. Dia benar-benar tidak ingin menyesali sesuatu lebih dari ini.
“Thanks.” ucap Laura yang kemudian bergegas pergi.
__ADS_1
Setelah itu, Joanne menutup telfonnya dan berkata pada rekan-rekannya yang lain.
“Aku akan kembali bertugas. Lalu, aku ingin kalian memeriksa rumah-rumah para remaja itu. Bisa saja ada hal yang tidak beres.”
Tiga rekannya mengangguk setuju.
Mereka pun mulai berpencar melaksanakan tugas masing-masing.
.
.
.
Laura telah mendapatkan lokasi Sarenos. Rupanya lokasi persembunyiannya sama sekali tidak berubah. Karena itu, Laura dapat menemukannya dengan mudah.
Saat menginjakkan kakinya lagi di sana, yang pertama kali menyambut Laura adalah sebuah sentakan yang begitu keras. Bukan untuk Laura untungnya, melainkan untuk Sarenos. Dan yang memarahinya tidak lain adalah Sador dan Oktasia.
“Dasar tidak becus! Harusnya kau tahu betapa berharganya remaja-remaja itu bagi kulitku!” sentak Oktasia hingga membuat jantung Laura hampir keluar dari wadahnya.
“Apa kau tidak bisa bekerja dengan lebih baik lagi? Bagaimana bisa kau membiarkan mereka lolos begitu saja?!” Sador ikut membentak.
Dari celah pintu Laura mendapati Sarenos yang tengah menunduk penuh penyesalan.
“Sa… saya benar-benar tidak tahu. Mohon maafkan saya, Yang Mulia Permaisuri ke-2 dan Pangeran.” ujar Sarenos lirih.
__ADS_1
Ada satu kesimpulan yang dapat Laura pastikan dari pembicaraan mereka, yaitu bahwa bukan Sarenos sendiri yang melepaskan anak-anak remaja itu. Lalu, siapa?