
Kecurigaan Joanne semakin bertambah, karena Thunder Fox selalu mengikutinya ke mana-mana. Saat dia berolahraga, berlatih bela diri, berbelanja, tidur, dan bahkan saat ke toilet pun Thunder Fox tidak mau pergi darinya. Saat Joanne mencoba melepaskan diri dari Thunder Fox, selang beberapa lama tahu-tahu rubah ungu itu sudah ada di sebelahnya lagi.
Hal itu sudah berlangsung selama lima hari lamanya. Saking seringnya kedapatan bersama, Alicia yang biasanya paling dekat dengan Thunder Beast menjadi iri.
“Kau pasti sudah melakukan sesuatu di belakangku.” tuduh Alicia saat Joanne baru pulang dari latihan malamnya. Saking curiga dan tidak sabarnya, gadis itu tidak menunggu Joanne untuk duduk melepas lelahnya terlebih dahulu.
“Kau tanyakan saja pada Thunder Fox.” Joanne berusaha cuek. Dia terlalu lelah untuk berdebat.
Joanne bukannya tidak senang dengan Thunder Fox. Mana mungkin seorang Super Rangers Thunder Saber merasa seperti itu pada binatang legenda yang akan membantu mereka dalam membasmi Radolard. Pria berambut panjang itu hanya merasa risih selalu diikuti. Bukan hanya oleh Thunder Fox, tapi juga oleh satu makhluk lagi yang belum dia ketahui.
Joanne sangat menyukai kesendirian dan kurang suka tempat ramai. Karena itu, dia melatih dirinya agar lebih cepat sadar jika ada orang atau makhluk lain di sekitarnya saat dia mencoba untuk sendiri.
Itu pulalah yang membuatnya sangat yakin bahwa tidak hanya Thunder Fox yang mengikutinya. Sayangnya orang itu dengan cepat menghilangkan hawa kehadirannya saat hampir ketahuan.
“Guk!”
Perhatian Alicia pun teralihkan pada rubah kecil berbulu ungu itu.
“Hm? Katanya dia penasaran dengan rambut gondrongmu, Jo.” Alicia menerjemahkan.
“Padahal rambutku juga tidak terlalu pendek. Kenapa Thunder Fox tidak penasaran dengan rambutku saja?” lanjutnya kesal.
Rambut Joanne memang lebih panjang dibandingkan rambut Alicia. Joanne memiliki rambut lurus sepinggang dan diikat dengan rapi. Sedangkan rambut Alicia hanya sampai bahu dan ikal. Tetapi, alasan rambut itu hanya akal-akalan Thunder Fox. Pikirnya, lama-lama Alicia pasti akan menanyakannya, jadi dia harus mencari alasan sebelum itu terjadi. Dan ternyata itu terjadi.
“Mungkin seharusnya aku memotong rambutku.” ujar Joanne.
Mendengar itu, Alicia langsung mengacungkan jempolnya pada Joanne.
“Nice! Kau memang sahabat terbaikku, di kala diet dan di kala apapun!” seru Alicia. Dengan riang, gadis itu melangkah menuju nakas dan membuka salah satu lacinya.
“Kalau begitu, biarkan aku membantumu memotongnya. Jadi, setelah ini Thunder Fox pasti akan lebih tertarik padaku.” lanjutnya sambil mengambil sebuah gunting dari sana.
__ADS_1
Kaget dengan apa yang Alicia bawa, Joanne langsung memposisikan diri untuk waspada. Sementara itu, Thunder Fox melompat ke hadapan Alicia untuk merebut gunting di tangan gadis itu. Saat gunting sudah berada di mulutnya, Thunder Fox mengeluarkan bola api kecil dari mulutnya dan membakar gunting tadi.
“Guk! Gukguk! GUK!”
Gonggongan Thunder Fox terdengar marah. Dia terus menggonggong pada Alicia, seakan dia benar-benar kesal dengan apa yang akan Alicia lakukan.
“Maafkan aku ya, Foxy. Aku tidak bermaksud seperti itu. Tadi aku cuma mau mengerjai Joanne.” ucap Alicia yang mencoba mendekati Thunder Fox.
“Aung!”
Thunder Fox yang enggan didekati, secara mendadak melompat. Tanpa sengaja dia melukai tangan Alicia hingga sedikit berdarah.
“Aduh!” pekik Alicia yang kaget.
Melihat darah di tangan gadis itu, Thunder Fox jadi menyesal. Sebagai makhluk legenda yang bertugas untuk membantu Super Rangers, tidak semestinya dia seteledor itu. Karena itu, dia bermaksud untuk segera meminta maaf pada Alicia. Namun, tiba-tiba…
“Hiihiiinn!”
Sebuah ringkikan kuda terdengar. Dan saat itu pula Thunder Fox terpental sejauh tiga meter dari tempat sebelumnya, hingga mengakibatkan satu kursi kayu rusak.
Seperti halnya Thunder Fox, ukuran badan Yellow giraffe juga lebih kecil dari seharusnya. Namun, sesuai dengan perbandingan ukuran asli mereka yang sangat berbeda, badan Yellow Giraffe yang telah mengecil seukuran dengan anak keledai. Thunder Fox yang hanya sebesar cihua-hua dewasa jelas kalah besar.
“Kuda sialaan!” rutuk Thunder Fox dalam hati.
Dia mengibaskan seluruh tubuhnya agar debu-debu dan serat kayu yang menempel di tubuhnya terlepas. Kemudian, dia kembali ke tempatnya semula. Dia terjang kepala Yellow Giraffe sekencang-kencangnya.
“Woong!!” Thunder Fox melolong.
Sialnya, targetnya berhasil menghindar.
“Hiiin!”
__ADS_1
Yellow Giraffe menyombongkan diri sambil mengangkat dua kaki depannya.
Tanpa membuang waktu, kuda bersayap itu maju menerjang Thunder Fox. Dan untuk menangkisnya, Thunder Fox membuat tameng yang terbuat dari api.
Pertarungan mereka mungkin hanya berskala kecil. Tetapi, cukup untuk menghancurkan berbagai perabotan di dalam ruangan. Alicia dan Joanne saja sampai kewalahan.
“Hey! Berhentilah, kalian berdua!” seru Alicia sambil menarik badan Yellow Giraffe.
Joanne juga berusaha mengambil Thunder Fox untuk membawanya keluar. Dengan susah payah, akhirnya Joanne berhasil membawa rubah ungu itu keluar. Walau sayangnya dia terkena sulutan api dari tameng api milik Thunder Fox.
“Jika kau masih ingin bersama kami, jaga sikapmu!”
Joanne tidak nampak marah. Tetapi, Thunder Fox tahu bahwa Joanne sedang naik pitam dari nada bicaranya yang terdengan lebih dingin dari biasanya.
Rubah itu ingin segera memberi penjelasan, walau dia tahu Joanne tidak mengerti bahasanya, “Woo… woo… wooo.”
Rubah itu berhenti mengaing saat mendapati kepulan asap di bahu Joanne. Dia baru menyadari bahwa sedari tadi pria itu tengah menahan sakit dari luka bakar yang diakibatkannya. Dari lubang kaus yang terbakar Thunder Fox terlihatlah kulit Joanne yang melepuh kemerahan.
Thunder Fox pun tertunduk menyesal. Dia telah mencelakai Super Rangers. Ini jelas sebuah kesalahan besar baginya.
“Pergilah. Datang lagi jika kepalamu sudah dingin.” ujar Joanne sebelum pergi meninggalkan Thunder Fox.
Jika sudah begini, memaksakan kehendak adalah pilihan yang buruk bagi Thunder Fox. Yang ada nantinya suasana akan memburuk. Jadi, dia memutuskan untuk pergi sementara dari sana. Toh, kalau mereka butuh, pasti akan dipanggil.
Dengan langkah pelan, Thunder Fox menjauh dari markas Super Rangers. Dia tidak akan pergi terlalu jauh, karena masih memiliki janji pada Luca Kasha untuk mengawasi dan menjaga Joanne.
Thunder Fox putuskan untuk naik ke atas pohon besar yang terletak tidak jauh dari rumah yang terletak di pinggiran kota itu. Dengan begitu, dia akan lebih mudah jika sesuatu terjadi.
‘Tap!’
Hanya dalam satu lompatan, Thunder Fox sudah sampai di dahan tertinggi. Rubah ungu itu kemudian memposisikan diri agar lebih nyaman bertenger di sana. Dan pada saat yang sama, dahan yang didudukinya tiba-tiba bergetar. Beruntung Thunder Fox tidak terjatuh dari sana.
__ADS_1
“Guk!” pekiknya begitu tahu apa penyebab goyahnya dahan itu.
“Sudah ku duga bakal jadi begini.” ujar perempuan berambut biru yang tengah mengapung di atas tongkat sihirnya. Matanya menatap Thunder Fox dengan tatapan kecewa, karena tahu apa yang baru saja terjadi.