Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Kaum Mendang-Mending


__ADS_3

Joanne tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu. Laura juga tidak berani untuk menyusulnya. Dia membiarkan semua itu begitu saja dan memutuskan untuk kembali ke kapal Radolard.


Setelah perjalanan teleportasi yang hanya membutuhkan beberapa menit, Laura langsung masuk ke kamarnya. Dia kunci rapat kamar itu dari dalam, lalu berbaring di atas kasur.


“Over thinking, tapi gak mau ambil pusing. Karena, aku bukan kaum mendang-mendiiiing…”


Untuk mengurangi kegundahannya, Laura menyanyikan lagu yang sempat didengarnya sebelum mati di dunia sebelumnya. Namun sayangnya, Laura tetap over thinking. Karena, informasi baru yang didapatnya benar-benar membuatnya mejadi kaum mendang-mending.


Mendingan gak usah sok mau ngubah nasib dari awaL.


Mending beneran jadi Luca aja, terus gabut terus di kamar.


Mending minta balik aja ke Radolard, jadi gak usah ikutan perang.


Dan mending-mending lainnya.


Sekarang Laura berusaha memejamkan matanya. Mungkin dengan tidur, dia akan mendapatkan wangsit lewat mimpi, jadi dia tahu apa yang sebaiknya dia lakukan setelah ini. Tetapi, suara kasak-kusuk di luar membuatnya gagal untuk terlelap.


Terdengar suara seorang pria yang cukup familiar baginya, tapi Laura tidak begitu ingat siapa pemiliknya. Karena penasaran, Laura intip depan pintu kamarnya dengan sihir penyadap.

__ADS_1


Begitu layar sihir menyala, barulah Laura ingat.


“Anjirr! Ada si Sador! Kok bisa dia di sini sekarang?” geram Laura.


Nampak di layar tersebut, seorang alien berjenis kelamin laki-laki yang berparas mirip dengan Rador. Dialah adik Rador, pangeran ke-3 dari Kekaisaran Radolard, Sador yang juga merupakan calon tunangan Luca Kasha. Perbedaan di antara keduanya yang paling mencolok ada pada rambut dan cara mereka berjalan. Jika Rador berambut hitam memanjang hingga ke tanah, Sador memiliki model rambut poni lempar ala tahun 2010-an. Kador selalu berjalan dengan tenang dan berwibawa, sedangkan Sador berjalan dengan lebar-lebar dan cepat.


“Duh… mana itu orang ribet banget. Ngapain ke sini, coba?” tanya Laura tanpa ada yang bisa menjawabnya.


“Tunggu. Kalau si Sador ada di sini, berarti mamih-nya mungkin juga di sini. Itu alien gurita serem banget pula. Kalau langsung ketemu, kudu gimana coba?”


Di saat isi kepalanya yang kacau mejadi semakin kacau, suara ketukan yang cukup agresif mengagetkannya.


‘DOK! DOK! DOK!’


Dari layar sihirnya, bisa Laura lihat betapa tipisnya kesabaran Sador. Dua orang piripiri yang bertugas menjaga kamar Laura saja sudah dibantai habis. Kalau sudah begini, Laura tidak memiliki pilihan selain keluar dari kamarnya. Dia tidak mau urusannya dengan pria itu semakin runyam.


“Paman Sador. Maaf saya baru dari kamar kecil, karena itu baru bisa membukakan pintu untuk Paman.” Laura beralasan.


Sador yang dipanggilnya dengan sebutan Paman mendengus kasar. Dengan tangan dilipat, dia membentak, “Luca! Sudah berkali-kali aku katakan padamu bukan? Kau adalah tunanganku, jadi panggil aku seperti aku memaggilmu!”

__ADS_1


Panggilan-panggilan mesra seperti ‘sayang’ dan ‘Kang Mas’ jelas bukan hal yang sulit Laura ucapkan. Tapi, itu hanya berlaku untuk Joanne, bukan yang lain apalagi adik tiri Ayahnya yang mengaku-ngaku sebagai tunangannya.


“Orang kita belum resmi tunangan!” Laura hanya sanggup mengatakannya dalam hati.


“Bagaimana? Cepat panggil aku ‘sayang’, atau kau mau mendapatkan hukuman dariku?” Sador mengancam.


Sekarang Laura sadar sememuakkan apa tingkahnya pada Joanne. Dia berjanji akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.


“Cepat katakan…” Sador mendesak.


Tatapan Sador terlihat begitu mengerikan di mata Laura. Meskipun tidak Sador katakan apa hukumannya, Laura yakin bahwa itu bukan hal yang baik.


“Jangan-jangan ini yang membuat Luca setuju untuk ikut ke Bumi…” pikir Laura.


Dengan sangat terpaksa, Laura akan menuruti permintaan Sador untuk menyebutnya dengan panggilan sayang. Mungkin dengan begitu, pria berponi lempar itu akan lebih cepat pergi dari hadapannya.


“Sa…”


“Wow! Sekarang kau semakin cantik, ya!”

__ADS_1


Belum juga Laura melaksanakan keinginan Sador, seorang wanita berpakaian bangsawan datang menghampirinya.


“Sa… saya memberi salam kepada Ratu Kedua Radolard, Yang Mulia Ratu Oktasia.” ucap Laura segera sambil menundukkan badannya dengan sopan.


__ADS_2