Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Arti Kejujuran Part 2


__ADS_3

Super Rangers telah datang lengkap dengan kostum dan senjata mereka. Seperti biasanya, mereka memperkenalkan diri satu persatu.


“Thunder Red!”


“Thunder Blue!”


“Thunder Green!”


“Thunder Yellow!”


Red pun maju sambil berseru, “Kami Super Rangers,”


“Thunder Saber!” seru mereka bersamaan.


‘DHUARRRR!’


Petasan warna-warni meledak di belakang empat pahlawan itu. Tiga orang di antara mereka, Red, Yellow, dan Green pun melakukan pose mereka masing-masing. Cuma satu orang yang enggan melakukannya dan hanya berdiri dengan memegang Thunder Swordnya di tangan.


Super Rangers yang lain tidak begitu mempedulikannya, karena sudah terbiasa. Thunder Blue memang tidak terlalu suka berpose dengan berbagai alasannya. Dan saat Brian berseru, “Serang!”, Blue lah yang paling duluan maju dan lari paling cepat.


“Uwaaaah… perangnya udah mulai, nih.” Laura bergumam sambil duduk bersila di atas atap sebuah gedung setinggi lima lantai.


Laura baru sampai di TKP saat Brian dan yang lain berusaha menghentikan usaha Sazaare. Dia tidak berniat untuk ikut dalam peperangan tersebut, karena statusnya yang belum sepenuhnya keluar dari Radolard. Jadi, dia hanya menonton sambil mengatur strategi apa yang akan dia lakukan.


“Sazaare tuh yang bikin Super Rangers berantem kan ya? Episode 13 kalau gak salah.” Laura mengingat-ingat.


Untungnya, kali inipun Laura tahu alien seperti apa yang diturunkan Radolard. Hanya saja, kedatangan Sazaare bersama Dabakiras cukup membuatnya bingung. Pasalnya, yang dia tahu, Sazaare adalah bawahan Gondazel. Dalam cerita aslinya pun Sazaare datang bersama Gondazel.


“Pasti ada apa-apanya, nih.”


Ada satu hal yang harus Laura lakukan saat ini. Segera dia berkonsentrasi penuh, memusatkan pikirannya untuk melakukan telepati kepada Alicia.


“Bestie! Bestie!” panggil Laura.


“Bagaimana, Bestie?”

__ADS_1


Telepati Laura langsung tersambung ke tujuannya.


“Bilang ke yang lain, jangan sampai laser dari matanya kena ke jantung! Itu yang bikin orang-orang berantem.”


“Baiklah, Luca. Aku akan katakan pada yang lain.”


“Syipp! Cemungud eah, Bestie~!”


“Tentu, Bestie!”


Semenjak masalah dengan Thunder Phoenix selesai, mereka berdua telah menjadi sahabat baik. Kini mereka bahkan memanggil satu sama lain dengan ‘bestie’.


“Teman-teman!” Alicia berseru memanggil tiga rekannya untuk menyampaikan pesan dari Laura. Namun, Thunder Blue tiba-tiba mendahuluinya.


“Hindari sorot mata Sazaare! Jangan sampai kalian terkena laser matanya!” Thunder Blue berteriak.


Alicia tidak ada waktu untuk terkejut. Yang penting teman-temannya tahu apa yang akan dia sampaikan.


‘Syats!’


Laser dari mata Sazaare hampir saja mengena ke bahu Alicia. Beruntung, Alicia sempat menghindar.


Dengan sigap dia mengubah Thunder Swordnya menjadi riffle dan mengarahkannya menuju Sazaare. Sasarannya adalah mata alien berwujud tupai itu. Pikirnya, jika mata itu adalah sumber kekuatannya, maka bisa jadi di sana pula kelemahannya.


‘Psyuuung!’


‘Duarrr!’


Tembakan Alicia mengena ke mata Sazaare dan menyebabkan asap yang begitu tebal. Laura yang melihat peperangan itu dari atas tahu bahwa Sazaare belum mati.


“Kau tidak memberitahunya?” tanya Thunder Fox yang baru datang.


Rubah ungu itu duduk di sebelah Laura dan ikut menonton peperangan itu bersama.


“Sesekali pengin lihat yang klise. Misalnya dialog…”

__ADS_1


“Apa kita berhasil?” Laura menirukan gerak bibir Alicia.


“Terus habis itu, asap tebalnya lenyap dan Sazaare nongol. Kan kayak adegan di anime-anime shounen gitu.” lanjutnya.


Thunder Fox mendengus, karena mendapati adegan yang Laura sebutkan tadi benar-benar terjadi di bawah sana.


“Kau benar-benar tidak setia kawan, ya.” sindir si rubah.


Laura lirik rubah itu dengan sinis sambil menyahut, “Situ sendiri gimana? Lihat tuh! Yang lain juga ikutan berantem jadi senjata!”


Ditunjuknya satu persatu senjata Super Rangers yang tidak lain adalah jelmaan dari Thunder Beasts. Red dengan cambuknya, Blue dengan tombak, serta Green dengan tameng yang hampir sama besar dengan tubuhnya.


“Kau pikir menjadi senjata itu tidak sakit?”


Dengan satu ujung bibir yang terangkat, Laura berkata, “Emang gue pikirin?”


.


.


.


“Dia masih hidup…”


Para Super Rangers nampak terkejut dengan hal itu. Padahal asap yang muncul cukup banyak. Karena itu, mereka pikir setidaknya Sazaare sudah terluka parah.


“Tembakanku hanya menggores dahinya. Apa yang harus kita lakukan?”


Blue kemudian melangkah ke depan. Dia simpan kembali senjata-senjatanya dan berkata, “Tembakkanmu sudah tepat. Lihat ke depan!”


Di hadapan mereka Sazaare mencoba mengeluarkan sihirnya kembali. Namun, nampak jelas dari ekspresi wajahnya yang panik, tupai itu tidak bisa melakukannya.


“Tuan Dabakiras! Kita harus mundur sekarang!” seru Sazaare.


Dabakiras yang tadinya senang dengan keberhasilannya mendadak menjadi sebal setelah mendengar permintaan Sazaare. Tetapi, melihat apa yang sedang terjadi pada prajuritnya itu, dengan terpaksa dia menuruti permintaan tersebut.

__ADS_1


“Yang benar saja…” gerutunya sambil memencet sebuah alat komunikasi untuk mengontrol alat teleportasi Radolard. Dan dalam waktu beberapa detik, tubuh mereka berdua dan sejumlah pasukan piripiri pun menghilang.


__ADS_2