Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Penghinaan


__ADS_3

Laura pulang dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Wajahnya penuh lekukan-lekukan menunjukkan amarahnya akan sesuatu. Dia juga menyembunyikan separuh pipinya dengan tangan. Siapapun yang melihatnya mungkin akan beranggapan bahwa dia baru saja terkena sial.


“Dari mana kau? Aku mencarimu sedari tadi.” tanya Rador saat Laura tanpa sengaja bertemu dengannya.


Padahal Laura berniat baru akan nanti menemui Rador, tapi tidak masalah. Kapanpun bertemunya toh sama saja.


“Luca memberi salam kepada Paman. Saya baru dari Bumi.” jawab Laura sopan.


“Sepertinya kau cukup marah. Ada apa dengan pipimu?”


Laura mendengus, kemudian sambil melipat lengannya dia menjawab, “Kan tadi ketemu Alicia, maksudku Thunder Yellow. Terus, aku gak sengaja bilang kalau dia agak gendutan. Eeeh… aku langsung dibogem, dong. Lihat nih, pipiku!”


“Maafkan aku Paman, kalau setelah ini rencanaku jadi gagal. Hmp…” lanjutnya terisak.


 Rador memijat-mijat dahinya, karena keponakannya yang tidak bisa menjaga mulutnya dengan baik. Padahal belakangan ini dia terus memuji si keponakan setelah memberikan kinerja yang bagus. Tapi agaknya, pujiannya terlalu cepat diberikan kepada Luca.


“Sudahlah! Yang penting nanti kau tidak lupa untuk meminta maaf. Aku tidak mau rencana kita gagal, hanya karena hal yang sepele seperti ini.” ujar Rador menyerah.


“Baik, Paman.” jawab Laura.


Setelah itu, Rador melanjutkan perjalanannya ke tempat lain. Begitu sudah ditinggal sendirian, Laura melirik ke belakangnya. Nampak beberapa bayangan individu yang bersembunyi di balik dinding. Dari bentuk bayangan-bayangan tersebut, Laura yakin betul bahwa itu adalah Gondazel, Dabakiras, dan Sazaare.


“Padahal kalau kepo tinggal terang-terangan aja gak, sih? Gak perlu sembunyi juga.” pikir Laura.


Well, setidaknya Laura sudah memancing rasa penasaran mereka bertiga. Jika umpan selanjutnya mereka makan, maka rencana Laura yang akan menjebak balik tiga alien dari Planet Porcar itu akan sepenuhnya berhasil. Kalau perlu, dia akan mengambil ikan-ikan itu langsung dengan jaring dan tombak.


.


.


.


“Kau dengar perkataannya tadi? Lucu sekali, badan Thunder Yellow yang seperti lidi dikatai gendutan, terus Luca langsung dipukul. Hahahahaha!” gelak Dabakiras.


Si tupai dan si kucing mendengus bersamaan, karena Dabakiras tidak sepaham dengan mereka.


“Tuan Gondazel, saya pikir ini adalah kesempatan kita untuk memecah belah Super Rangers.” ujar Sazaare.


Dengan tangan yang terlipat di dada, Gondazel menanggapi, “Memang benar, tapi sebaiknya kita tidak terburu-buru. Kita fokuskan saja rencana pertama kita.”


Sebetulnya jawaban Gondazel cukup mengecewakan bagi Sazaare. Padahal menurutnya ini adalah kesempatan emas untuk memecah belah Super Rangers. Telah terbayang di otaknya apa yang akan terjadi pada Super Rangers bila dia berhasil menembakkan lasernya pada Super Rangers. Empat pahlawan itu pasti akan mengatakan hal yang sebetulnya terus mereka simpan, karena takut menyakiti hati satu sama lain. Kemudian, karena perkataan itu, kerja sama di antara Super Rangers akan kacau dan serangan mereka pasti akan lebih mudah dipatahkan.


Sayangnya, keteguhan Gondazel sulit untuk digoyahkan. Sekali dia berkata A, maka dia tidak akan melakukan B.

__ADS_1


Selain itu, Sazaare bukan lagi prajurit yang bertugas di bawah perintah Gondazel. Dia telah dibuang ke tempat Dabakiras. Jadi, Gondazel pasti tidak akan mendengarkan perkataannya maupun pendapatnya lagi.


“Kalau begitu…” Sazaare bergumam.


Tiba-tiba di kepala Sazaare terlintas sebuah ide. Pikirnya, dia akan menyampaikan ide ini kepada Dabakiras saat Gondazel tidak bersama mereka.


.


.


.


Pada akhirnya, Sazaare mengungkapkan ide tersebut kepada Dabakiras. Si tupai berkata bahwa idenya ini akan membuat Dabakiras semakin dipandang terhormat di mata rakyat Radolard. Image-nya sebagai pria yang tidak pernah menggunakan otaknya juga akan tergeser.


Kemudian, dilancarkanlah rencana mereka itu tanpa mengatakannya kepada Gondazel. Mereka kembali turun ke Bumi dan menembakkan laser-laser itu lagi kepada para makhluk Bumi yang memiliki hubungan baik. Dan karena laser tersebut, lagi-lagi keributan pun terjadi.


“Aku sudah muak denganmu!”


“Kau itu cuma menjadi beban dalam hidupku!”


“Lihat di kaca! Seberapa jeleknya tampangmu sekarang dibandingkan saat kita belum menikah!”


“Pria tidak berguna sepertimu tidak bisa diandalkan!”


Dan berbagai perkataan menyakitkan lain terus mengalir dari mulut orang-orang itu. Padahal mereka tidak benar-benar bermaksud untuk mengatakannya. Tidak ada yang menyadari bahwa itu adalah pengaruh dari sihir belaka. Semua orang itu hanya merasa bahwa mereka harus mengeluarkan semua unek-unek yang ada di hati mereka.


Melihat semua itu, Dabakiras dan Sazaare tertawa begitu keras. Dua alien itu begitu senang melihat para manusia yang mereka anggap lemah itu saling adu mulut.


“Hahahaha! Lucu sekali. Nanti kalau Super Rangers yang kena, pasti akan lebih lucu. Hahahaha! Kau memang anak buah yang hebat, Sazaare!” tawa Dabakiras.


“Hehehe… memang hanya Tuan Dabakiras lah yang memahami perasaan saya. Jika bukan karena Tuan Dabakiras, saya pasti tidak akan bisa melakukan ini semua.” Sazaare balas memuji. Sebanyak mungkin, Sazaare akan menjilat kaki tuannya yang baru itu. Karena, sekarang hanya Dabakiras lah yang mau mendengarkan aspirasinya.


“Ow! Lihat! Yang kita tunggu-tunggu akhirnya datang juga!” seru Dabakiras sambil menunjuk ke arah empat Super Rangers yang baru datang.


“Dabakiras! Hentikan semua kekacauan ini!” seru Brian.


“Hey, bukankah si tupai itu sudah kehilangan sihirnya? Kenapa sudah kembali lagi?” tanya Alicia.


Berpura-pura tidak tahu, Sean hanya mengangkat kedua bahunya.


“Yang terpenting, kita jalankan sesuai rencana saja.” saran Joanne.


Tiga anggota yang lainnya mengangguk setuju. Kemudian, keempatnya pun berubah wujud.

__ADS_1


“Thunder Change, HA!” seru mereka bersamaan.


Setelah itu mereka memperkenalkan diri mereka seperti biasanya, tapi karena penulisnya takut mendapatkan cringe attack, perkenalan mereka tidak akan di tulis di episode ini. Yang jelas, lagi-lagi Joanne tidak mau ikut berpose seperti yang lainnya dan langsung menerjang para piripiri yang Dabakiras bawa.


“Serang mereka!” Dabakiras berteriak.


Bersamaan dengan pasukan piripiri, Sazaare juga ikut turun bertarung. Kemudian, saat Thunder Green maju menghadangnya, Sazaare memanfaatkan kesempatan itu untuk menembakkan lasernya kepada si hijau.


“Terima seranganku! Ha!”


Thunder Green yang berhadapan langsung dengan Sazaare pun terkena laser kejujuran itu. Dan mendadak dia yang tadinya bermaksud menyerang pun berhenti.


Di saat itu, Sazaare berlari menuju ranger yang lain untuk melakukan serangan yang sama. Thunder Red dan Thunder Blue satu persatu terkena laser tersebut. Kemudian yang terakhir adalah Thunder Yellow pun terkena.


“Huh, sudah aku duga. Kalian bertiga itu sama sekali tidak ada gunanya.” kata Thunder Green tiba-tiba.


“Apa kau mengatakan itu untuk dirimu sendiri?” tanya Thunder Red pada Green.


“Diamlah! Kau juga sama saja.”


“Apa katamu!?” Red terdengar sangat tersulut, karena ucapan Thunder Blue.


Sementara mereka bertengkar, tubuh mereka juga tidak berhenti melakukan pertahanan pada setiap serangan piripiri yang datang bertubi-tubi.


“Hey! Kalian itu, sebaiknya lihat ke depan! Jangan sampai lengah! Dasar pria-pria bodoh!” seru Yellow.


“Apa katamu? Dasar gendut!” balas Green, si jenius yang tidakmau dianggap bodoh.


Akibatnya, Yellow juga ikut terpancing emosi. Gendut adalah kata yang sangat tabu baginya. Dia sangat tidak terima jika seseorang mengatakan kata itu di depannya.


“Kurang ajar!!” pekik Yellow sambil mengeluarkan Thunder Sabernya dan menodongkan pedang itu kepada Green.


Beruntung Green dapat menahan serangan pedang tersebut.


“Hey, kalian berdua! Bantu aku!” Green meminta bantuan pada Blue dan Red.


Tetapi, dua rekannya itu tetap bergeming. Tak ada satupun dari mereka berdua yang bersedia menolong Green.


“Itu salahmu sendiri, karena mengatakan yang tidak seharusnya. Dasar otak udang!” kata Red.


Green semakin merasa terhina. Dia pun mendorong Yellow, dan berlari ke arah Red sambil mengayunkan pedangnya.


Hanya karena Sazaare, benarkah persahabat Super Rangers akan benar-benar pecah?

__ADS_1


Notes: Kalau ngerasa cerita kali ini childish banget, kalian mesti ingat kalau renjer-renjeran itu kebanyakan buat tontonan anak SD.


__ADS_2