Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Sejarah Rahasia


__ADS_3

Untuk mewujudkan kata-katanya, Laura harus bekerja keras membuat buku yang tadi dia sebutkan secara mendadak. Meski dia memiliki sihir dan pengetahuan tentang cerita asli yang dapat membantunya, bukan berarti membuat buku berisi sejarah sebuah planet adalah hal yang mudah.


Laura perlu memikirkan pilihan kata-kata yang terdengar ilmiah dan logis. Selain itu, waktunya sangat mepet. Rador dan yang lainnya kini tengah mencari keberadaan buku tersebut. Jika dalam hitungan jam mereka tidak menemukannya, maka bisa-bisa Laura ketahuan berbohong dan tamatlah riwayatnya.


“Yang Mulia, percayalah bahwa tidak ada buku seperti itu yang saya simpan! Saya mohon, Yang Mulia!” seru Gondazel memohon.


Meskipun Laura tengah berada di ruangan lain untuk diam-diam menulis, suara itu terdengar begitu keras, menunjukkan betapa kerasnya Gondazel memohon. Sayangnya, permohonan tersebut seakan tidak Rador dengar. Pangeran mahkota dari Kerajaan Radolard itu tak juga menghentikan penggeledahannya.


Hal ini juga semakin membuat Laura panik, karena sejak penggeledahan dimulai dua jam yang lalu dia baru menyelesaikan seperempat dari buku karangannya. Mulai di saat inilah Laura merasa menyesal telah menjebak Gondazel. Tahu begitu, dia tidak mengatakan ‘buku’, tapi cukup ‘lembaran’ saja. Jadi, dia tidak perlu menulis sebanyak ini.


“Yang Mulia! Kami menemukan buku itu!”


Kali ini yang berseru bukanlah Gondazel, melainkan seorang piripiri yang ikut menggeledah ruang kerja Gondazel.


Mendengar teriakan tersebut, Laura menghentikan tangannya yang menulis. Dua alisnya bertaut saking tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Jelas-jelas bukunya masih dia tulis, bagaimana bisa sudah ditemukan? Kecuali jika buku yang sedang dia karang itu memang benar-benar ada.


“Uwaaah! Lucky! Anak sholeh memang dicintai Tuhan. Terima kasih, Ya Tuhan…” syukurnya dalam hati.


Seketika dia hentikan tangan dan seluruh bolpoin yang dia gerakkan dengan sihirnya. Dengan sekali hembusan napas, dia sandarkan bahunya di sandaran kursi, lalu melemaskan kedua tangannya.


“Tapi, kok bisa beneran ada, ya?” pikir Laura.


Di cerita aslinya, buku sejarah rahasia itu sama sekali tidak pernah diperlihatkan. Disebut juga tidak. Karena itu, Laura ikut-ikutan bingung saat ini.

__ADS_1


Karena penasaran, dia pun mengintip ke ruangan Gondazel. Dia harus melihat sendiri seperti apa buku itu.


“Nona, mengapa mengendap-endap seperti itu?” seorang piripiri bertingkat tinggi tiba-tiba menyapa Laura dari belakang.


Seketika Laura yang terperanjat pun menengok.


“Aku mendengar ada suara ribut-ribut, makanya ngintip. Kalau langsung ke sana, takutnya ganggu. Hehehehe…” jawabnya.


Piripiri itu menganggukkan kepalanya beberapa kali.


“Jelaskan padaku tentang semua ini! Kenapa kau menyembunyikannya?” sentak Rador pada Gondazel.


Padahal amukan Rador tidak ditujukan pada mereka, tetapi Laura dan piripiri tadi ikut menciut mendengarnya.


Wajah Gondazel yang memucat menarik perhatian Laura. Entah mengapa, Laura merasa bahwa Gondazel berkata jujur.


“Kalau bukan punya dia, terus punya siapa, dong?” gumam Laura bertanya.


Gondazel yang tidak terima pun bersimpuh di kaki Rador. Mungkin dengan begitu, Rador bersedia mendengarkan cerita dari sudut pandangnya.


Gondazel benar-benar tidak tahu menahu tentang buku yang baru saja ditemukan itu, apa lagi isinya. Namun, melihat amarah Rador kepadanya, dia tahu bahwa buku itu adalah sebuah buku yang sangat berharga. Buku yang seharusnya tidak disimpan olehnya saja.


“Yang Mulia, jika saya tahu tentang buku tersebut, tentu sudah akan saya berikan pada Yang Mulia. Percayalah!”

__ADS_1


Tentu saja. Gondazel bisa dikatakan penjilat yang setia. Dia akan melakukan apapun demi kepercayaan Rador. Karena itu, Rador ragu-ragu. Dia tidak tahu mana yang harus dia percaya, anak buah yang paling setia atau keponakannya sendiri.


“Prajurit, kurung Gondazel! Jangan biarkan dia keluar!” putus Rador kemudian.


Bagi Rador, itu adalah keputusan terbaik saat ini. Toh dia juga belum tahu sepenting apa buku itu. Bisa saja hanya covernya saja, sedangkan isinya sama sekali tidak ada hubungannya dengan sejarah manapun.


“Yaaah…” desah Laura kecewa, karena tontonannya sudah selesai.


Gondazel pergi dengan dipapah oleh beberapa piripiri. Hampir saja dia lupa kalau Gondazel masih terluka. Hidupnya saat ini jelas sangat sengsara.


“Jadi kasihan.” batin Laura.


Kemudian, dia perhatikan buku di tangan seorang piripiri yang dia yakini sebagai buku sejarah rahasia. Covernya begitu tua dan sudah ringkih. Salah pegang sedikit saja, pasti akan langsung hancur. Keadaan buku yang seperti itu semakin meyakinkan bahwa itu adalah buku sejarah kuno yang asli. Tetapi, bagaimana bisa buku itu ada di kamar ini?


“Hm? Eh?”


Perhatian Laura berpindah ke cermin besar yang ada di pintu lemari.


“Tadi kayaknya di cermin ada empat orang… kok jadi tiga? Apa perasaanku aja, ya?”


Karena Gondazel dan Rador sudah tidak ada di sana, Laura secara terang-terangan masuk ke dalam. Dia teliti lagi berapa jumlah orang yang ada di depan pintu.


“Satu… dua… tiga… bener. Apa tadi ikut pergi sama yang lain?” gumam Laura sambil menggaruk-garuk lehernya.

__ADS_1


“Ah! Sebodo lah! Pikir keri!” putusnya, lalu pergi. Dia harus membereskan kertas-kertas yang tadinya akan dijadikan buku tadi sebelum ketahuan. Baginya, yang penting sekarang masih selamat.


__ADS_2