
Tidak ada orang di dunia ini yang senang ditinggal lama sendirian di tempat yang tidak dikenal. Terlebih jika dikurung di tempat yang sempit.
“Mana makanan udah pada habis. Ini orang lama amat, sih?” keluh Laura sambil memegangi perutnya yang sedari tadi keroncongan.
Sebelum pergi, Sean sudah memberikannya dua dus makanan instan dan dua galon air beserta dispenser pemanasnya. Tetapi, di hari ke empat setelah empat orang Super Rangers itu pergi, stok yang tersisa hanya bisa digunakan untuk satu hari kedepan.
“Mana si rubah kampret itu juga udah ikutan pergi. Huuu… ugh…”
Laura tiba-tiba merasa mulas, tandanya dia harus pergi untuk melaksanakan hajat nomor dua. Tetapi, melihat toilet yang begitu sempit di belakangnya, ia jadi enggan untuk ke sana.
“Adanya cuma ini. Udah untung dipindah ke kurungan yang lebih besar dan ada toiletnya. C’mon, Laura! Let’s go to toilet!” batinnya menyemangati diri.
Pada akhirnya Laura masuk ke dalam toilet. Di sana, dia meratapi nasib buruknya yang tak kunjung berhenti semenjak masuk ke dunia aneh ini. Mulai dari cara matinya yang tidak elite, transmigrasi menjadi Luca Kasha, pertemuannya dengan Joanne yang tidak romantis, sampai keadaannya sekarang yang semakin tidak jelas.
“Aku dosa apa sih, ya? Hiks…” ratapnya.
Hajatnya sudah selesai, celana juga sudah dia pakai, tapi Laura masih ingin melamun. Mungkin dengan begitu, dia bisa mendapatkan solusi dari masalahnya. Toh, di luar pun tidak akan ada yang mencarinya. Para Super Rangers dan Thunder Beasts pasti sedang sibuk menjaga anggota baru mereka.
“Coba bisa pake sihir buat keluar, pasti nanti bisa nonton. Kan lumayan…” ujarnya sambil mengayunkan tangannya, berpura-pura melakukan sihir.
“Daripada bosen, nyoba keluarin sihir boleh juga. Paling-paling gak keluar, sih.” putusnya.
__ADS_1
Kemudian, dia berkonsentrasi membayangkan sihir yang ingin dia gunakan. Dia rasakan energi yang ada dalam tubuhnya, lalu dia pusatkan di ujung jarinya. Setelah itu dia berseru, “Fire ball!”
Tiba-tiba, dari ujung jarinya keluarlah sebuah bola api berdiameter 15 cm yang menyalakan api merahnya.
‘ZHWAABB!’
“EH, BUSET!” pekik Laura kaget.
Tidak dia sangka sihirnya bisa berfungsi. Padahal di ruangan sebelumnya, dia tidak bisa mengeluarkan sihir.
“Jangan-jangan ini yang Sean janjiin. Waktu itu kan dia bilang mau bantuin aku keluar dari sini.” batin Laura.
Setelah berada di toilet selama satu jam lebih, Laura pun keluar. Diambilnya tongkat sihir miliknya, kemudian mulai mengaktifkan sihir teleportasinya. Namun, tak lama kemudian Laura mengurungkannya, karena di kepalanya muncul sebuah ide yang menurutnya sangat luar biasa.
“Anggap aja ini balas dendam. Kekekekek…” gelaknya.
Laura dengan sihirnya kemudian menembus kaca ajaib yang mengurungnya. Dia berjalan-jalan di markas itu dengan mengendap-endap. Bisa saja pemilik markas itu ada yang kebetulan pulang untuk mengambil barang ketinggalan, jadi Laura tidak bisa lengah. Dalam petualangan kecilnya, Laura menaruh sihirnya di berbagai tempat di markas itu.
“Sip. Sekarang waktunya kabur!” ujar gadis itu sebelum berteleportasi.
.
__ADS_1
.
.
Tujuan Laura adalah gunung Lacos. Dia ingin menyusul para Super Rangers di sana atau setidaknya sekedar mengamati keadaan di sana. Kalau bisa, dia juga ingin membantu Joanne melawan para warga Radolard. Dengan begitu, mungkin Joanne akan berubah pendapat tentangnya.
Dan tibalah Laura di pintu hutan. Namun, bukannya Super Rangers yang menyapanya, malah satu makhluk lain yang sama sekali tidak dia harapkan.
“Luca!” panggil alien itu.
Terlihat begitu jelas di mata Laura kemarahan Dabakiras yang kini tengah menghampirinya dengan begitu tergesa-gesa.
“Kemana saja kau?” tanya Dabakiras geram.
Laura memikirkan alasan apa yang cocok, dan menjawab, “Kau tahu lah… aku semalas apa. Aku hanya sedang berlibur.”
“Semua orang sedang bekerja, kenapa kau malah bersantai sendiri!” hardik Dabakiras. Lanjutnya, “Sudahlah. Kau ikutlah denganku mencari Super Rangers. Aku harus segera memberi mereka pelajaran, karena sudah berani menghancurkan telur finiks.”
Mata Laura langsung melotot mendengarnya. Dia tahu bahwa itu tidak mungkin terjadi, karena telur finiks tidak akan pernah bisa dihancurkan. Tapi, jika memang Thunder Phoenix masih berwujud telur, ini jelas hal yang sangat berbahaya bagi seluruh pihak. Pasalnya, setahu Laura menetasnya telur finiks adalah peristiwa besar yang tidak boleh sama sekali dilihat orang lain.
“Ini episode 20 saja belum, tahu-tahu mau ketemu kejadian episode 42. Super Rangers harus segera diingatkan.” batinnya.
__ADS_1