
Thunder Blue bisa dikatakan sebagai ranger terkuat kedua setelah Thunder Red. Beberapa orang penggemar, termasuk diriku juga sempat menganggap bahwa Thunder Blue adalah yang paling kuat.
Kemampuan yang dia dapat dari Blue Griffin dan yang dia latih sendiri juga cukup banyak. Tidak hanya bergerak cepat bagaikan singa yang mengincar mangsanya, matanya juga tajam bagaikan elang dan mampu menyadari keberadaan orang lain dari jarak tertentu. Selain itu Joanne masih memiliki kemampuan yang belum dia keluarkan hingga episode-episode akhir.
Dari seluruh kemampuan itu, aku baru tahu bahwa Joanne bisa melihat makhluk astral. Hal ini tidak dijelaskan di episode manapun. Informasi di profil Thunder Blue yang terpasang di internet pun tidak menuliskan apapun tentang kemampuan ini.
Berhubung Joanne yang ada di hadapanku bukan Joanne asli, harusnya aku tidak heran. Tetapi, kok aku tidak mau terima kalau orang ini se-over power ini ya?
“Wah… mukamu kelihatan bodoh sekali.” ucap Joanne sambil memandangku dengan tatapan mengejeknya.
Dia beruntung, karena punya wajah Joanne yang ku sukai. Rasa tegaku untuk membalasnya dengan kata-kata yang lebih kejam jadi terkikis setiap kali melihatnya.
“Kamu beneran bisa lihat aku?” tanyaku memastikan.
“Begitulah.” jawab Joanne singkat.
“Kok?”
Joanne mengangkat kedua bahunya, mengisyaratkan bahwa dia sendiri tidak tahu alasannya.
“Ini juga pertama kalinya aku melihat hantu. Oh!”
__ADS_1
Joanne membelalak.
“Apa kau jadi begini, karena kualat tidak mendengar kata-kataku? Ckckck… nista sekali nasibmu. Setelah lahir kembali menjadi seorang penjahat, bukannya mengubah nasib malah mati sial.”
Tidak pernah ada dalam benakku akan mendengar dan melihat sendiri seorang Joanne yang berbicara sepanjang itu. Bahkan aktor asli dari Joanne juga bukan orang yang banyak bicara berdasarkan apa yang sering kulihat di internet dan televisi. Mana omongannya mengesalkan sekali.
"Apa? Ingin mengelak, tapi tidak bisa?"
Wajah sinis Joanne semakin membuatku ingin menjambak rambut gondrongnya. Kalau saja aku tidak astral, mungkin Joanne sudah tidak berbentuk saat ini. Dengan seluruh wajahnya yang sudah rusak itu, mungkin nantinya aku akan lebih mudah untuk menghantamnya lebih jauh.
Namun, aku akui bahwa ledekan Joanne tadi benar. Aku tidak bisa mengelak dan memang cukup menyesal dengan keputusan yang sudah kuambil.
"Habisnya kan kamu bilang bakal loop ke awal habis mati."
"Tapi, memangnya aku menyuruhmu mati? Aku malah tidak setuju dengan rencanamu waktu itu."
Lanjutnya, "Sudahlah. Sekarang, apa rencanamu selanjutnya?”
Pertanyaan itu semakin membuatku diam, karena aku sama sekali tidak memiliki rencana apapun. Kejadian ini terlalu di luar kendali. Aku sama sekali tidak menyangka akan bergentayangan tidak jelas seperti ini. Jadi, bukankah wajar jika aku tidak memiliki rencana? Lagipula aku bukan tokoh utama cerita detektif yang selalu punya ide cemerlang dalam memecahkan kasus, maupun karakter mary sue yang punya banyak pria yang akan membantuku untuk keluar dari masalah.
“Haaah…”
__ADS_1
Dengusan Joanne terdengar lebih keras dari sebelumnya. Secara terang-terangan dia memperlihatkan kekecewaannya padaku. Pasti di kepalanya dia berpikir bahwa aku adalah gadis bodoh tidak berguna. Namun, kali ini setuju dengannya. Aku memang sebodoh itu.
“Pertanyaanku selanjutnya, apa kau yang meminta Tiger Warrior untuk membunuhmu?”
Untung saja, pertanyaan kali ini bisa ku jawab. Aku menggelengkan kepalaku dengan penuh semangat sambil berkata, “Nggak. Aku aja kaget dia yang membunuhku. Kan dia udah janji sama ayahnya Luca kalau bakal ngelindungin Luca.”
“Gasp!”
Mendadak aku tersadar akan sesuatu.
“Apa jangan-jangan, karena aku bukan Luca beneran, jadinya dia pikir janji itu udah gak berlaku? Kalau gitu, aku yang salah lagi dong, asal ngasih tahu yang sebenernya?”
Joanne menepuk jidatnya sendiri. Sayup-sayup terdengar dia bergumam, “Otak perempuan ini benar-benar tumpul.”
“Senggaknya aku sadar kan?”
Pria berambut panjang itu melotot ke arahku.
“Kamu pikir sadar saja sudah cukup?!” gertaknya.
“Haaah… kau benar-benar merepotkan. Sudahlah. Sementara waktu sebaiknya kau diam saja. Toh kau hanya akan memperburuk masalah.”
__ADS_1
Tak lama setelah mengatakan itu, Joanne pergi dari ruang tempat jenasahku berada. Aku bisa saja mengikutinya, tapi ku putuskan untuk diam sejenak di ruangan bersuhu di bawah 0℃ itu.