Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Pesan Terakhir Chujelaking


__ADS_3

Kapal angkasa Radolard telah menerima berita tentang tewasnya Chujelaking. Betapa marahnya Rador saat mendengar hal itu, karena untuk ke sekian kalinya mereka lagi-lagi kalah dari Super Rangers. Terlebih dia mendengar bahwa Chujelaking dikalahkan oleh seekor Thunder Beast saja. Itupun masih dalam wujud asli tanpa tambahan mekanisme apapun.


“Yang Mulia, jasad Tuan Chujelaking telah kami kembalikan ke Planet Porcar.” seorang komandan pasukan piripiri melaporkan sambil bersimpuh di hadapan Rador.


Tidak ada jawaban apa-apa dari Rador. Dia masih begitu kesal dengan kekalahan anak buahnya itu.


“Lalu, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan mengenai pesan terakhir dari Tuan Chujelaking. Sebelum beliau meninggal, berliau berpesan untuk menyampaikan ini pada Yang Mulia.” piripiri itu melanjutkan.


Rador masih tak menjawab, hanya saja dia mulai tertarik dengan pembicaraan ini dan mendengarkan apa yang ingin piripiri itu katakan dengan seksama. Bagaimanapun Chujelaking adalah prajuritnya yang cukup senior. Meskipun bukan yang terhebat, Chujelaking telah bergabung dengannya dan ikut menjajah berbagai planet bersamanya. Tidak ada salahnya untuk mendengarkannya sedikit.


“Beliau berpesan agar Yang Mulia berhati-hati pada Nona Luca Kasha. Tuan Chujelaking curiga bahwa Nona tidak melakukan tugasnya dengan baik dan sengaja menurunkan kualitas sihirnya.”


Rador memicingkan matanya menatap piripiri itu. Karena tatapan itu, piripiri dengan tingkat yang lebih tinggi itu seketika bergetar ketakutan. Dia khawatir jika dia telah mengatakan hal yang salah, padahal dia hanya menyampaikan pesan dari Chujelaking.


“Berani-beraninya kau menfitnah keluarga raja. Apa kau sudah tidak takut mati?” ancam Rador.


Suaranya yang begitu dalam semakin membuat piripiri itu bergidig ketakutan.

__ADS_1


“Bukan, Yang Mulia. Hamba hanya menyampaikan pesan dari Tuan Chujelaking! Tolong ampuni hamba!” piripiri itu memohon sambil bersujud berkali-kali.


Beruntung nasibnya sedang bagus. Rador tidak menghabisinya saat itu juga, walau pada akhirnya piripiri itu harus dipenjara atas perintah Rador.


“Yang Mulia! Ampuni hamba! Tolong, Yang Muliaaa!!” teriak piripiri itu seraya diseret oleh dua piripiri lain yang sebelumnya berjaga di pintu masuk ruangan Rador.


Kini hanya ada Rador sendirian di ruangannya. Ditutupnya pintu ruangannya, lalu dikunci dari dalam agar tidak ada satu orang pun yang mengganggunya. Dia harus berkonsentrasi untuk menjernihkan pikirannya yang kacau balau, karena kekalahan beruntun yang dia terima.


“Apa mungkin ucapan prajurit itu benar? Tapi, apa tujuan Luca melakukannya?”


Bukan berarti Rador tak memikirkan pesan terakhir dari Chujelaking itu. Ini bukan kali pertama Chujelaking menjadi raksasa dengan bantuan Luca. Jadi, bawahannya itu pasti tahu jika ada perbedaan yang terjadi. Selain itu, Rador juga sempat mengira ada yang bermasalah dengan sihir Luca, karena itu dia memberikan tongkat sihir baru untuk membantu prajurit-prajuritnya.


Dia ingat-ingat kembali, Luca memang menggunakan tongkat baru yang diberikan olehnya. Jadi, tidak mungkin jika tongkatnya lah yang bermasalah. Jika demikian, tidak ada kemungkinan lain lagi selain bahwa Luca memang sengaja menurunkan kualitas sihirnya.


Hutan Lacos


Selain Brian yang tengah dirawat di rumah sakit, tiga anggota Super Rangers telah kembali ke hutan untuk berjaga. Karena tempat pengawasan sebelumnya telah dirusak, terpaksa mereka harus mencari tempat baru. Dengan bantuan teknologi buatan Sean, mereka juga menyamarkan keberadaan mereka kembali seperti sebelumnya.

__ADS_1


“Haaa… sekarang udah gak bisa deket-deket…” keluh Laura sambil memandangi tiga orang yang tengah sibuk memasang berbagai alat tempur di sekitar tenda.


“Makanya, kalau menyukai seseorang itu harus dipikir dulu!” hardik Thunder Fox yang tengah duduk di sebelah Laura. Kini mereka berada di atas ranting pohon yang cukup besar, bersembunyi di balik malam semakin memburamkan bayangan tubuh mereka.


“Haaa…” Laura kembali mendengus.


“Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir…” lanjutnya, melantunkan puisi karangan seekor babi dari sebuah serial klasik negeri tirai bambu.


“Lalu, apa rencanamu setelah ini? Apa kamu akan kembali ke Radolard, atau melanjutkan misi gilamu?” tanya Thunder Fox mencoba mengalihkan pembicaraan.


Lalu, melalui telepati Laura menjawab, “Sementara aku akan berada di Radolard terlebih dahulu. Coba lihat saja di belakangku!”


Thunder Fox melirik ke arah yang Laura maksud dan melihat hal yang cukup merepotkan di sana.


“Hey! Apa kau sengaja menjebakku? Bukankah itu pasukan musuh?”


Sang rubah ungu menggeram. Tubuh kecilnya itu memposisikan diri untuk waspada akan serangan yang mungkin datang sewaktu-waktu dari gadis itu.

__ADS_1


Masih dengan telepati, Laura menjelaskan pada Thunder Fox, “Belakangan mereka mengikutiku diam-diam. Sepertinya Rador mulai curiga padaku. Jadi, kalau bersedia, aku ingin meminta kerja samamu lagi.”


__ADS_2