
Dabakiras yang kelelahan seketika lega, setelah akhirnya dapat menyusul Super Rangers. Sialnya terpaksa dia harus bersabar lagi, karena empat super hero itu masih membawanya berkeliling hutan.
Dari apa yang Dabakiras lihat, nampaknya Super Rangers pun belum menemukan Thunder Phoenix. Pencarian itu terus mereka lakukan hari demi hari hingga hari ke-9 pun tiba dan mereka pun berpencar ke dua arah. Terbagilah pasukan Dabakiras mengikuti ke mana masing-masing Super Rangers pergi.
“Sial! Kita kehilangan mereka!” sentak Dabakiras yang lagi-lagi kehilangan jejak Super Rangers.
Sedari tadi dia mengikuti Thunder Blue dan Thunder Green. Namun, tiba-tiba dua pria itu hilang di balik pohon besar.
Wajar saja alien berambut gimbal itu geram. Padahal sudah susah payah Dabakiras mendapatkan keberadaan mereka, tapi malah harus mencari lagi sekarang.
“Cari mereka sampai dapat!” perintahnya pada pasukan piripiri-nya.
Pasukan piripiri yang sudah dipencar menjadi dua lalu dipencar lagi. Dabakiras tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting bisa menemukan kembali para Super Rangers. Karena, hanya mereka lah yang bisa mengembalikan kehormatannya sebagai panglima Kerajaan Radolard.
Sudah lima jam berlalu sejak dua targetnya menghilang. Langit yang gelap telah berubah terang. Dan Dabakiras tak kunjung mendapatkan jejak mereka. Yang ada, rasanya dia terus berputar-putar di tempat yang sama.
“Berani sekali mereka menguji kesabaranku!! Gaaaaaarrrhhkh!”
Amukan Dabakiras menggaung di seluruh hutan. Suara dentuman dari ledakan demi ledakan yang dia sebabkan terdengar saling bersahutan. Akibat perbuatan nekatnya, seperempat hutan di area Gunung Lacos pun hangus. Merasa akan adanya bahaya yang menghadang, para binatang di gunung juga turun.
“Tuan, kami mendapatkan jejak mereka.” ujar seorang komandan pasukan piripiri pada Dabakiras.
Alien bergigi tajam itu pun menghentikan amukannya.
“Tunjukkan padaku jalannya!” perintahnya.
Menuruti perintah Dabakiras, piripiri itu pun mengantarkan Dabakiras ke mana Super Rangers pergi. Segerombol pasukan piripiri juga ikut di belakang mereka.
Rupanya perkataan anak buah Dabakiras itu benar adanya. Super Rangers berada tidak jauh dari tempat mereka tadi. Namun, ada yang berbeda dari mereka dibandingkan dengan saat terakhir kali Dabakiras melihat. Ada satu buntalan hitam berbentuk bulat di tangan salah satu dari mereka.
“Kita harus segera membawa telur finiks ini ke markas.”
“Ya. Aku akan pastikan tidak ada orang-orang Radolard yang mengikuti kita.”
Itulah yang Dabakiras dengar sebelum Super Rangers pergi. Dari sana dia tahu bahwa yang ada di tangan Super Rangers adalah telur finiks.
Cukup mengejutkan baginya, karena dia pikir Thunder Phoenix yang dicarinya sudah dewasa. Tidak tahunya masih berbentuk telur.
Thunder Phoenix tidak seperti burung lain yang berkembang biak dengan bertelur. Keberadaannya yang merupakan makhluk nirwana dipercaya tidak memiliki pasangan apalagi anak. Dengan demikian, jumlahnya hanya ada satu di dunia ini.
Hal tersebut juga berlaku untuk Thunder Beasts yang lain. Hanya saja, ada satu keistimewaan untuk Thunder Phoenix, yaitu keabadian. Thunder Beasts yang lain akan hilang selamanya setelah mati, namun Thunder Phoenix yang telah mati akan berubah menjadi telur, kemudian akan lahir kembali setelah energinya cukup untuk menetas.
“Tuan, saya kira ini saat yang sangat tepat. Thunder Phoenix masih dalam wujud telur, jadi kekuatannya pasti belum terkumpul. Kita harus merebutnya sekarang.” ujar piripiri yang tadi menunjukkan jalan.
Dabakiras kurang paham dengan legenda itu. Tapi, dia setuju bahwa Thunder Phoenix harus segera mereka dapatkan.
“Kita ikuti mereka.” perintahnya yang dijawab dengan anggukan oleh para pasukannya.
__ADS_1
Sehati-hati mungkin mereka mengikuti Super Rangers. Namun, gerakan Super Rangers yang begitu lincah membuat para warga Radolard itu kewalahan, terutama Dabakiras yang berbadan besar.
Sesekali dia harus menerjang pepohonan dan batu agar langkahnya tidak jauh tertinggal. Dan itu dilakukan selama berjam-jam hingga akhirnya Dabakiras kehilangan kesabarannya. Dia memutuskan untuk memperlihatkan diri di depan empat musuhnya itu.
“Kalian tidak bisa lari lagi, Super Rangers! Serahkan Thunder Phoenix sekarang atau nyawa kalian menjadi taruhannya!” ancam Dabakiras.
Super Rangers tidak gentar dengan ancaman itu. Jika dihitung, mungkin sudah lebih dari seratus kali mereka mendapatkan ancaman serupa dan hasilnya tetap mereka lah yang menang.
“Ide yang bagus. Langkahi saja mayat kami, jika ingin merebut Thunder Phoenix.” tantang Brian.
“Graaahhh!!” geram Dabakiras yang merasa diremehkan.
“Akan kubuat kalian menyesal telah menantangku.”
Dabakiras pun berlari, bermaksud menerjang Super Rangers. Di saat itu, Super Rangers segera mengubah wujudnya.
“Thunder Change! Ha!” seru keempatnya bersamaan.
Thunder Yellow yang sedari tadi membawa telur finiks menyerahkannya kepada Thunder Blue, karena dia adalah anggota dengan kaki tercepat. Begitu Thunder Blue membawa pergi telur tersebut, Thunder Yellow segera menghadang Dabakiras yang nampaknya akan mengejar Thunder Blue.
“Rasakan senjataku! Hiya!” seru gadis itu sambil menembakkan senapan modifikasi dari Thunder Sword itu.
Dalam sekali tembak, pelurunya langsung mengena ke perut Dabakiras membuat suara ledakan yang begitu keras. Namun, Thunder Yellow yakin bahwa Dabakiras belum tumbang. Dan benar saja, tembakannya hanya sedikit melukai Dabakiras.
“Akan ku balas kau, wanita!” sentak Dabakiras sembari mengambil pedang yang ada di punggungnya.
“Aaaagh!” pekik Thunder Yellow yang harus menahan sengatan listrik yang mengalir dari baju zirahnya.
Sengatan listrik itu menandakan bahwa serangan Dabakiras memang sangat kuat dan jika dia tidak mengenakan baju zirahnya, dipastikan dia akan mati saat menerima serangan itu.
“Kau memang pantas mendapatkan julukan ‘yang terkuat’ di Radolard. Tapi, kami tidak akan menyerah.” ujar Thunder Yellow sambil membetulkan posturnya.
“Yellow, kau tidak apa-apa?” tanya Thunder Green.
Thunder Red yang sedari tadi mengurus para keroco juga ikut mendekat pada Yellow.
“Kalian bertiga akan kuhabisi sekalian!”
Dabakiras yang kesabarannya semakin tipis berlari menerjang tiga Super Rangers. Dengan sigap, Thunder Red maju ke hadapan Alicia bersiap untuk menahan serangan Dabakiras.
‘Trang!’
Suara dentingan dari dua pedang mereka yang bertemu menandakan pertarungan sengit di antara keduanya dimulai. Red memusatkan seluruh tenaga ke tangan dan kakinya agar dapat bertahan dari panglima perang terkuat dari Radolard itu. Kemudian, dengan satu hentakkan, dia pun berhasil mendorong Dabakiras untuk mundur.
“Sialan! Hiyaat!”
‘Trang!’
__ADS_1
‘Tring!’
‘Trang!’
‘Trang!’
Frekuensi dentingan semakin besar. Kecepatannya ayunan pedang mereka pun semakin bertambah. Belum ada di antara mereka yang terpojok, namun bisa dilihat Dabakiras lah yang paling kuat di antara keduanya. Hanya kegigihan yang membuat Thunder Red dapat bertahan walaupun dia sudah sangat kelelahan.
.
.
.
Sementara itu di tempat yang berbeda, sebuah pertarungan lain akan segera terjadi. Thunder Blue yang sudah cukup jauh dari medan perang dihadang oleh Gondazel dan pasukannya. Dengan sigap pria itu mengikat buntelan berisi telur dan mengikatkannya ke punggung agar tidak mengganggu pertarungan.
“Ini sama sekali tidak seru. Kau hanya sendirian, padahal aku ingin melenyapkan kalian sekaligus.” kata Gondazel.
“Percaya diri sekali. Kita lihat siapa yang akan lenyap lebih dulu.” balas Thunder Blue sambil mengeluarkan Thunder Sword-nya.
Semua piripiri yang mengikuti Gondazel membentuk lingkaran besar untuk menghalau Thunder Blue supaya tidak kabur. Mereka yang tidak sanggup menyerang hanyak akan menghalangi jalan, jadi yang mereka bisa lakukan hanyalah membuat barricade.
Di tengah barricade itu, keduanya saling bertatapan. Kemudian, dalam hitungan detik keduanya maju. Gondazel dengan senjata laras panjangnya menembak tanpa henti ke arah Thunder Blue. Namun dengan kemampuan yang dia dapatkan dari Blue Griffin, Thunder Blue dapat melihat dan merasakan seluruh pergerakan peluru itu dengan sangat mudah, sehingga semua bisa dia hindari dan tangkis dengan Thunder Sword di tangannya.
Kemudian, saat jarak keduanya semakin mendekat, Thunder Blue mengayunkan langsung pedang di tangannya ke tubuh Gondazel. Karenanya, alien berwujud kucing itu terjatuh dan Thunder Blue pun berhasil mendapatkan kesempatan untuk mengakhiri pertarungan mereka.
Dia melompat tinggi sambil bersiap untuk menghunuskan pedangnya kepada Gondazel. Kemudian, Gondazel yang masih dapat bertahan pun segera menghindar pergi. Namun, sebuah kejutan yang tak Gondazel sangka terjadi.
Tiba-tiba Thunder Blue yang dia kira akan mengerahkan serangan pamungkasnya berputar sambil meleparkan buntalan hitam kepada Gondazel. Karena tidak menyangkanya, hampir saja Gondazel menjatuhkan buntalan tersebut.
“Kau sudah tidak waras…” gumam Gondazel.
Dia telah mendapatkan informasi bahwa isi dari buntalan itu adalah telur finiks. Tetapi, perasaan curiganya muncul karena perbuatan Thunder Blue ini. Mana mungkin Super Rangers dengan suka rela memberikan telur itu padanya.
Dan benar saja kecurigaan Gondazel, karena tak lama setelahnya Thunder Blue mengubah Thunder Swordnya menjadi senapan dan mengincar buntalan di tangan Gondazel. Ditembakkannya senapan itu. Lalu, karena alien berwujud kucing itu belum sepenuhnya siap, dia pun terkena ledakan yang diakibatkan senapan itu.
‘BHAMM!’
Darah segar mengalir dari tangan Gondazel yang terluka. Dia beruntung, karena bulunya yang lebat bisa mengurangi akibat dari ledakan itu di bagian tubuhnya yang lain.
“Kurang ajar! Kau membodohiku!?” teriak Gondazel.
Dia tidak terima diperlakukan seperti itu. Baginya, kecerdikan adalah harga dirinya dan dia tidak mau ada orang lain yang bisa menipunya.
“Bagaimana rasanya diserang dengan kelebihanmu sendiri?” tanya Thunder Blue.
Gondazel membalas, “Kau akan ku balas berkali-kali lipat! Katakan padaku, di mana kau sembunyikan Thunder Phoenix?!”
__ADS_1
Thunder Blue melipat tangannya, lalu berkata, “Entah. Kalau tahu pun, kami tidak akan mengatakannya padamu.”