
Pilihan Laura untuk pulang ke kapal Radolard rupanya salah. Tidak seharusnya dia ke sana, karena Dabakiras langsung mencecarnya begitu Laura menapakkan kakinya di kapal.
“Kau pelakunya, bukan? Tidak cukup mengambil kekuatan finiks dariku, sekarang kau mengambil kekuatan anak buahku juga. Setelah ini apa lagi? Kau juga mau mengambil kekuasaan Yang Mulia, hah?” sentak si kepala gimbal itu.
Laura memundurkan kepalanya, bukan karena takut, melainkan karena bau mulut Dabakiras yang membuatnya jijik. Oleh sebab itu pula Laura tidak fokus dengan apa yang Dabakiras tuduhkan padanya.
“Hoekk! Kamu gak sikat gigi berapa tahun, sih? Anjhay banget baunya!” seru Laura menutup hidungnya.
Merasa tidak dihiraukan, amarah Dabakiras semakin menjadi-jadi.
“Sialan, kau… berani-beraninya… akan ku lenyapkan kau sekarang juga! Gaaaaarrhhh!”
Dabakiras yang mengamuk mengayunkan pedangnya ke arah Laura. Karena tidak punya reflek yang baik, Laura yang hampir terkena pedang itupun berteriak, “Waaaaaaaaa!!!”
“Apa yang kalian lakukan?”
Suara berat itulah yang berhasil mengalihkan perhatian Dabakiras dari Laura. Dia menengok, kemudian segera berlutut di hadapan pemilik suara tersebut, begitu pula Laura.
“Kami memberi salam kepada Yang Mulia Pangeran Rador.” ujar keduanya bersamaan.
Rador melangkahkan kakinya mendekati Dabakiras dan Laura, lalu sekali lagi bertanya, “Kalian belum menjawab pertanyaanku. Katakan, apa yang sedang kalian lakukan di kapalku? Tidak tahukah kalian telah mengganggu istirahatku?”
Keduanya semakin menundukkan kepala. Laura berkata, “Mohon maafkan aku, Paman. Aku terpaksa berteriak, karena tiba-tiba Dabakiras menyerangku.”
Pengakuan Laura membuat Dabakiras tergagap.
__ADS_1
“A… sa-saya ppunya alasan mela-kukannya. Anak buah saya tiba-tiba menjadi lemah, itu pasti perbuatan Luca.”
“Tapi, bukan berarti kau bisa melakukan seenaknya karena alasan itu. Kau tidak punya bukti.” Laura sedikit mengangkat kepalanya dan lanjut berkata, “Paman, aku meminta keadilan dari Paman.”
“Hm… baiklah. Dabakiras, apa kau bisa memberikanku bukti?”
Lagi-lagi Dabakiras kehilangan kata-kata. Dia tidak menyiapkan bukti apa-apa untuk mendukung tuduhannya.
Berbeda darinya, Laura justru menganggap ini sebagai kesempatan agar Rador lebih yakin lagi pada sandiwaranya.
“Paman, aku yakin sinyal satelit telah menangkap gerak-gerikku. Periksa saja apa yang sudah kulakukan dari sana. Jika terbukti aku melakukan sesuatu pada anak buah Dabakiras, aku tidak masalah mendapatkan hukuman.” ujarnya yakin.
“Benar juga. Ikuti aku!” perintah Rador.
.
.
.
Dabakiras terpaksa menelan pil pahit, karena tuduhannya tidak terbukti. Di gambar yang terpampang di layar, Laura hanya memperhatikan pertarungan mereka dari jauh tanpa melakukan apapun. Mulutnya bahkan hampir tidak bergerak.
“Lihat! Ada Thunder Fox di sana! Kau pasti merencanakan sesuatu dengannya untuk menghianati kita semua!” Dabakiras masih berusaha mencoba memojokkan Laura.
Rador mendengus kasar mendengar tuduhan itu. Rasa-rasanya dia sudah pernah menjelaskan rencana ini kepada Dabakiras, tapi rupaya sudah dilupakan.
__ADS_1
“Hah? Kau lupa kalau Thunder Fox adalah mata-mata kita?” Laura menyangkal.
Dabakiras tak lagi berkata-kata. Di saat seperti ini, daripada kesal pada Luca Kasha dia lebih kesal pada dirinya sendiri yang begitu bodoh. Dia sungguh kesal, karena setiap kata-kata pembelaan yang keluar dari mulutnya justru semakin merugikan dirinya sendiri.
Berkali-kali disindir oleh orang lain, tentu saja Dabakiras sadar bahwa dirinya tidak sepandai orang lain dalam berpikir. Berusaha sekuat tenaga pun dia tak bisa mendapatkan hasil yang dia inginkan. Karena itu, menurutnya belajar adalah hal yang percuma, lebih baik dia alihkan tenaganya untuk berlatih bela diri.
Namun, justru sikapnya itulah yang belakangan membuatnya banyak merugi. Terlebih setelah Gondazel naik pangkat. Jika dirinya bukan dari keluarga bangsawan tingkat tinggi, kedudukannya sebagai panglima perang yang terhormat mungkin benar-benar terancam.
“Tidak seharusnya kau menuduh tanpa bukti. Sekarang, sebaiknya kau urus anak buahmu yang katanya kehilangan ilmu sihirnya itu.”
“Ta… tapi, Yang Mulia…” Dabakiras masih ingin beralasan walaupun di kepala maupun di ujung lidahnya sama sekali tidak ada alasan yang dia siapkan.
Rador yang tidak suka dibantah melirik tajam Dabakiras. Dan hanya dengan begitu saja, Dabakiras mengunci rapat mulutnya.
.
.
.
Setelah berpisah dari Rador dan Dabakiras, barulah Laura bisa bernapas lega. Dia benar-benar bersyukur tidak lengah saat di Bumi tadi. Untungnya dia tidak mengucapkan apa-apa pada Thunder Fox melalui mulut. Jika tidak, gerak mulutnya bisa diartikan lain.
Sekarang fokusnya adalah anak buah Dabakiras yang bernama Sazaare. Seingatnya, Dabakiras dan Gondazel tidak terlalu akur. Karena itu, Laura merasa heran mengapa Sazaare yang seharusnya adalah anak buah Gondazel tiba-tiba bersama Dabakiras.
“Kalau ngomongin si kucing, pasti ada udang di balik bakwan... kayaknya perlu ditelisik lebih lanjut menggunakan metode kualitatif lapangan, nih…”
__ADS_1