
Blue yang melihat kekacauan itu menghela nafasnya panjang untuk menahan emosinya. Sebagai orang yang mengenal tiga rekannya, Blue tentu tahu bahwa mereka hanya sedang bersandiwara.
Sebetulnya Blue juga bagian dari rencana ini. Tapi, karena tidak terlalu suka berakting, dia hanya melakukan sekenanya saja.
“Ck! Fokuslah ke depan…, Kampret!” terdapat jeda dalam kalimatnya, karena Blue tidak terbiasa mengatakan hal seperti itu selama 25 tahun hidupnya di dunia ini.
“Sialan! Pff… Apa kau tak bisa memilih kata yang lebih halus dari kampret?” Green hampir saja terbahak, karena ulah Blue. Pasalnya, baru kali ini dia mendengar Blue mengatakan ‘kampret’, dan itu terdengar lucu di telinganya.
Sekarang Red, Green, dan Yellow sudah saling berhadapan. Berarti, tinggal Blue saja yang perlu maju untuk ikut memeriahkan sandiwara mereka.
“Terserah!” gumam Blue yang kemudian ikut bergabung bersama yang lain.
Dengan cukup serius, para Super Rangers mengayunkan pedang mereka masing-masig ke satu sama lain. Lalu, seperti yang mereka inginkan, Sazaare dan Dabakiras tertawa melihat tingkah musuh mereka.
Baik Sazaare, Dabakiras, maupun pasukan piripiri tak satupun yang menghalangi perkelahian mereka berempat. Ini adalah kesempatan yang mereka tunggu-tunggu.
Dengan cekatan, mereka beralih target sambil mengubah pedang mereka menjadi senapan. Kemudian, mereka arahkan senapan tersebut menuju Sazaare. Sasaran mereka bukan lagi mata si alien tupai itu, melainkan mulutnya. Berdasarkan informasi dari Laura, itu adalah titik kelemahan Sazaare yang sebenarnya.
‘Dhuarr!!’
Ledakan yang begitu dahsyat pun terjadi. Tidak seperti sebelumnya, kali ini mereka tak lagi menunggu asap-asap yang mengelilingi Sazaare untuk lenyap. Keempatnya langsung menerjang asap tersebut sambil terus menembakkan senapan mereka. Mereka tidak akan membiarkan kejadian sebelumnya terulang kembali.
“Habislah riwayatmu, Tupai!” teriak Yellow.
Tembakan yang bertubi-tubi menyerbu tubuh Sazaare yang sudah tidak berdaya. Meskipun dia adalah bagian dari pasukan Dabakiras, dia tidak memiliki pertahanan dan kekuatan tubuh setangguh mereka. Karena itu, tubuhnya tak bisa bertahan lama setelah dihantam peluru berkali-kali. Apa lagi titik kelemahannya telah musnah.
“Dari mana mereka tahu letak batu sihirku? Tanpa batu itu, sihirku tidak bisa keluar sebesar yang ku inginkan!” batinnya. Dia tidak bisa mengungkapkan kegelisahannya secara langsung, karena kesulitan berbicara.
__ADS_1
Dabakiras, meskipun dia bodoh, dia menyadari bahwa ini adalah situasi yang sangat tidak menguntungkan baginya. Dia tidak berharap banyak, tapi harapan satu-satunya untuk menang hanyalah sihir Luca Kasha yang dapat memperbesar tubuh prajuritnya menjadi raksasa.
“Luca!!” panggil Dabakiras.
Seakan telah menunggu-nunggu waktu tampilnya, Laura pun muncul dari belakang Dabakiras.
“Yuhuww! Gimana?” tanya Laura pura-pura tidak tahu permasalahan yang tengah terjadi, padahal sedari tadi dia melihat mereka.
“Apa lagi? Cepat bangkitkan prajuritku!” sentak Dabakiras yang panik.
Laura menunjukkan ketidaksukaannya pada Dabakiras, karena seenaknya menyuruhnya.
“Padahal kamu yang butuh, tapi malah sok merintah. Mana sebelumnya kamu fitnah-fitnah aku segala. Ngeselin banget punya temen kayak kamu yang cuma manggil pas butuh!” Laura menggerutu.
Merasa tersindir, Dabakiras memalingkan wajahnya.
“Tapi, yaaah… aku gak mau bikin Pamanku kecewa. Jadi, aku kasih kamu kesempatan lagi. Huh!”
“Hiyatt!!” serunya sambil mengarahkan tongkat sihirnya pada Sazaare.
Tak butuh waktu lama, Sazaare pun bisa bangkit kembali. Lama kelamaan, tubuhnya juga membesar menjadi berkali-kali lipat. Tidak hanya itu, Sazaare merasakan kekuatan yang begitu besar masuk ke dalam tubuhnya. Karena itu, dia merasa bisa kembali menggunakan sihirnya.
“Hahahaha! Akan ku balas perlakuan kalian padaku!” kata Sazaare.
Tidak banyak waktu yang Super Rangers miliki, mereka harus segera mengalahkan Sazaare sebelum kota hancur karenanya. Red, sebagai pemimpin pun maju dan berteriak, “Thunder Beasts! Datanglah!”
Seketika itu pula para Thunder Beast datang dengan wujud raksasa. Segera Super Rangers masuk ke dalam kokpit dan menggabungkan Thunder Beasts mereka.
__ADS_1
“Thunder Beasts, bergabung!” seru Red lagi.
Penggabungan itu mereka lakukan dengan begitu cepat, dan kini berdiri di hadapan Sazaare, Sang Thunder Beasts Robo.
“Thunder Beasts Robo selesai bergabung!” para Super Rangers berseru bersama-sama.
Pertarungan para raksasa pun terjadi. Mereka dengan kekuatannya masing-masing saling menyerang tanpa ada yang mau mengala. Karenanya, beberapa gedung pun menjadi korban. Untungnya tidak ada siapapun di gedung-gedung itu, karena orang-orang suruhan Brian telah mengungsikan orang-orang itu sebelumnya. Sehingga para Super Rangers dapat bertarung dengan sepenuh hati di tengah kota.
‘Duakh! BHAM!’
Karena tendangan maut Thunder Beasts Robo, Sazaare pun terjatuh. Tubuhnya yang besar itu kesulitan untuk bangkit kembali.
“Padahal kekuatan fisik Sazaare jelas-jelas bertambah banyak. Tapi, kenapa Sazaare masih selemah itu? Kau pasti…” tuduh Dabakiras.
“Enak aja! Kamu tuh harusnya mikir. Sazaare itu bukan tipe petarung, jadi wajar saja kalau dia kesulitan. Mau ku kasih kekuatan sebanyak apapun, aku yakin Sazaare tidak akan bisa menggunakannya dengan baik.” Laura menyangkal.
Kenyataannya dia memang tidak menurunkan porsi tenaga untuk diberikan pada Sazaare. Jadi, salah besar kalau orang menuduhnya sembarangan.
‘Dhuarr!’
‘Pertarungan selesai! Super Rangers tak akan kalah!” Red menyerukan jargon yang selalu disebutkan oleh Super Rangers Thunder Saber saat telah menyelesaikan misi mereka.
Melihat pertarungan telah berakhir, Dabakiras pun sangat geram. Ingin rasanya Dabakiras segera membalas perbuatan Super Rangers. Tapi, tiba-tiba sebuah suara yang cukup keras terdengar dari langit.
“Dabakiras, kembali kau!”
Bulu kuduk Dabakiras seketika merinding mendengar suara Rador itu. Dari nada bicara Rador, terasa betul amarah yang ingin segera terluapkan. Lalu, karena telah menyia-nyiakan nyawa satu prajurit lagi, Dabakiras yakin bahwa dia akan segera menjadi target amarah dari sang pangeran dari Kekaisaran Radolard itu.
__ADS_1
“Grrr…” gerutu Dabakiras sambil menghentak-hentakkan kakinya saat pergi.
Terpaksa dia harus segera kembali. Jika dia sanggup, Dabakiras mungkin akan kabur untuk menghindari amarah Rador. Tetapi, itu tidak mungkin bisa dia lakukan. Rador pasti akan segera menemukannya dan mencincangnya.