
Setelah mengatakannya, dalam kepala Laura terlintas sesuatu.
“Bentar. Kayaknya aku salah diksi, deh. Secara gak langsung, harusnya Tiger Warrior kan udah bekerja sama bareng Super Ranger. Tapi, masalahnya ini orang aslinya ngerepotin banget.” batinnya.
“Aku tidak pantas.” ujar Tigress kemudian.
Jawaban ini sudah Laura duga. Memang begitulah Tigress yang dia tahu dari cerita aslinya. Harimau itu terlalu memikirkan kegagalannya. Rasa malu dan penyesalannya terlalu besar, sehingga tidak pernah mau bekerja sama dengan orang lain, terutama yang gagal dia lindungi. Padahal tidak ada yang menyimpan dendam pada Tigress.
“Ck! Kalau begitu, kembalikan Thunder Beasts yang ada bersamamu.”
Mendengar perkataan Joanne, seketika Tigress memasang kuda-kudanya.
“Jadi, itu tujuan kalian. Huh…” gumamnya.
Nampak sebuah kekecewaan dari tatapan Tigress terhadap Joanne. Karena Joanne adalah orang dari Planet Kaminaria, dia sempat berpikir bahwa Joanne tulus mengajaknya. Tapi, ternyata Joanne hanya ingin memanfaatkannya. Begitu dugaannya.
“Untuk kali ini saja. Setelah itu, akan kukembalikan lagi padamu. Mereka telah memilihmu sebagai partner. Mana bisa aku mengambil seenaknya.” jelas Joanne untuk mengurangi kecurigaan Tigress padanya.
Tigress masih belum paham. Kalau Thunder Beasts, bukankah Super Rangers sudah memiliki satu masing-masing ditambah dua ekor sebagai support? Pikirnya, untuk apa mereka harus meminjam Thunder Beastsnya?
“Aku tahu kau masih bingung, tapi aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Jadi, sebaiknya kau lihat sendiri saja.” kata Joanne lagi.
Pria berambut panjang itu kemudian memencet sebuah tombol SOS di alat komunikasi yang terpasang di pergelangan tangannya. Dengan sekali tekan, para rangers akan segera mengetahui lokasi keberadaanya dan datang.
Joanne juga menembakkan lagi senapan ke udara untuk melepaskan barrier yang sedari tadi melindungi mereka. Lalu, dia beranjak menuju rumah pantai tempat persembunyian Sarenos.
Setelah jaraknya tinggal beberapa langkah dari rumah tersebut, tiba-tiba muncul segerombolan piripiri di hadapannya. Rupanya Sarenos telah memperkuat kembali penjagaan di rumah tersebut.
Tetapi, inilah yang Joanne harapkan. Dia akan bertarung dengan pasukan piripiri, dengan begitu Sarenos yang sedang pergi entah kemana tidak lama lagi pasti akan datang.
“Thunder Change! Ha!” seru Joanne.
Baju zirah kini telah dia kenakan. Pedang di pinggangnya dia keluarkan dan pertarungan pun dimulai.
__ADS_1
Ayunan demi ayunan pedangnya terus membuat sayatan di tubuh lawannya. Meskipun kalah jumlah, sebagai prajurit yang paling berpengalaman di antara anggota Super Rangers, Thunder Blue jelas lebih unggul dalam pertarungan ini. Satu per satu pasukan piripiri pun tumbang, menyisakan pimpinan piripiri sejumlah tujuh orang yang kemampuan bertarungnya lebih tinggi dibandingkan bawahan mereka.
Cukup lama mereka bertahan dari serangan Joanne. Pergerakannya yang begitu cepat, membuat mereka kesulitan dalam menghalaunya.
‘BRUAGH!’
“Ada apa ini!?” teriak Sarenos yang tiba-tiba jatuh dari angkasa.
Cipratan air memuncar dari arah kedatangan alien bersisik itu. Seluruh halaman rumah pun menjadi basah karenanya. Tidak hanya itu, air yang Sarenos bawa memiliki sifat seperti air keras. Jadi, tidak hanya basah, air-air itu telah melelehkan apapun yang terkena cipratan, termasuk tubuh Thunder Blue dan pasukan piripirinya sendiri.
“Argh!” rintih Joanne.
Sarenos menengok ke sekelilingnya, mencari barang kali ada rangers yang lain di sana. Namun, Thunder Blue hanya sendiri. Sementara itu, Tigress dan Laura tengah bersembunyi.
“Berani sekali kau ke sini sendirian.” ujar Sarenos.
Ditendangnya perut Thunder Blue hingga kemudian terpental dan menabrak sebuah pohon palm yang cukup besar.
Pyash!
Untung saja kali ini Thunder Blue berhasil menghindar. Jika tidak, mungkin nasibnya akan sama seperti batang pohon palm tadi, melepuh dan tumbang.
Melihat adegan di hadapannya, Laura sebetulnya tidak ingin tinggal diam. Namun, daripada dirinya, Laura yakin bahwa Tiger Warrior lah yang sebetulnya Joanne harapkan untuk maju.
Dan lagi, agaknya pria berseragam biru itu sudah tidak perlu lagi bantuan tambahan, karena akhirnya tiga orang rekannya sudah datang.
“Blue, apa kau tidak apa-apa?” tanya Red yang terdengar begitu khawatir.
Blue mengangguk.
“Hoo… akhirnya kalian semua datang. Tugasku jadi selesai lebih cepat.”
Sarenos, seperti sebelumnya, dia kembali mengeluarkan bola air. Kali ini ukurannya jauh lebih besar. Dia pun menembakkan bola air itu kepada Super Rangers.
__ADS_1
Sean yang memiliki tameng kura-kura maju ke depan dan menghalau serangan tersebut dengan senjatanya. Beruntung tameng di tangannya memiliki ketebalan yang cukup kuat untuk bertahan dari air keras itu. Namun, tekanan yang cukup kuat dari tembakannya membuat Sean dan yang lainnya mundur beberapa langkah.
Tidak puas dengan serangan tersebut, Sarenos kemudian membuka mulutnya. Dari sanalah jurus utama Sarenos berasal.
“Laaaaaa laa laaa laaaaa~ LAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”
Setiap nada yang keluar dari mulutnya terdengar begitu indah. Namun, di dalamnya terdapat sihir yang membuat siapapun yang mendengar akan terhipnotis.
Tidak siap dengan serangan tersebut, Super Rangers pun mulai terpengaruh dengan nyanyian Sarenos. Tubuh mereka mendadak lemas dan tidak berdaya. Sejengkal pun mereka tidak dapat bergerak.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Sarenos. Dia kemudian semakin meninggikan suaranya.
“LAAAAAAAAAA Laaaalalala LAAAAAAAAAAAAA!”
Suara Sarenos semakin memekik telinga. Rintihan para Super Rangers pun semakin terdengar jelas.
“Hentikaaan!” teriak Yellow yang memiliki pendengaran paling jeli di antara para rangers.
“Aaaaarrghh! Kepalaku!” rintih Brian sambil memegangi kepalanya.
Dilihat bagaimanapun Super Rangers sangat kesulitan menghadapi Sarenos. Padahal mereka sudah berempat. Namun, Sarenos yang sendirian sudah dapat mengungguli.
“Ayolah Tiger Warrior, bantuin mereka, ya…” Laura memelas.
Sang harimau lama-lama luluh. Dia pun berkata, “Hanya satu kali ini.”
Mendengar itu, Laura mengangguk berkali-kali.
Pria harimau itu kemudian menghilang dari hadapan Laura dan muncul secara tiba-tiba di tengah pertarungan. Bersamaan dengan itu, seekor lumba-lumba raksasa muncul dari lautan dan dengan siripnya dia terbang di atas mereka semua.
“Akhirnya mereka datang…” ujar Blue lega.
Berbeda dengan Blue dan Green yang tahu siapa identitas pria berkepala harimau itu, Red dan Yellow masih merasa takjub dan penasaran.
__ADS_1