Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Yang Thunder Fox Percaya


__ADS_3

“Di mana si gadis gila itu?” tanya Thunder Fox melalui telepati.


“Dia dibawa pulang ke kapal. Ternyata dia hanya menjebak kita semua.” balas Alicia.


“Tidak mungkin! Dia bukan orang yang seperti itu…” sangkal Thunder Fox.


Meskipun sering berdebat dengan berbagai alasan, Thunder Fox sama sekali tidak menganggap Laura sebagai musuh. Bukan karena tidak sanggup, tapi karena Thunder Fox tahu alasan Luca Kasha mendekati Super Rangers. Jika memang alasan itu hanya dusta, bukankah seharusnya Luca sudah menjebak mereka dari dulu? Sebelum ditangkap saja Luca sudah berkali-kali berkunjung ke markas Super Rangers secara diam-diam.


“Bukankah kau bisa membaca isi pikirannya? Aku yakin dia cuma gadis gila yang bodoh dan tidak memikirkan apapun selain kisah cinta khayalannya.” Thunder Fox berusaha meyakinkan.


“Tapi…, bisa saja itu bagian dari permainannya? Kami tidak boleh langsung percaya padanya.”


Bagaimanapun sejarah perjuangan Super Rangers dan seluruh makhluk Planet Kaminaria untuk membasmi Radolard telah berjalan sangat panjang. Berbagai macam lawan telah mereka hadapi, termasuk di dalamnya adalah para penyihir yang bekerja di bawah Luca Kasha.


“Seandainya saja kemarin kami tidak lengah, semua ini pasti tidak akan terjadi.”


Apalah daya. Nasi telah menjadi bubur. Apa yang sudah terjadi, tidak bisa dihapus. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana caranya agar mereka semua bisa keluar dari sekapan Radolard. Tapi, jika berbuat macan-macam, kalung di leher mereka pasti akan bereaksi dan menyiksa mereka. Selain itu, barrier di tempat mereka berada terlalu canggih untuk ditembus.

__ADS_1


‘Syats!’


Tiba-tiba Thunder Stone di pergelangan tangan Alicia bersinar.


“Ada apa ini?” tanya Brian yang terkejut.


Dari cahaya itu, muncullah Thunder Fox berukuran kecil yang kemudian melompat ke hadapan Alicia. Dengan sigap Alicia dan tiga rekannya menutupi kehadiran Thunder Fox dengan badan mereka agar tidak terlihat oleh pasukan piripiri.


“Kenapa kau kemari?” hardik Alicia.


Thunder Fox tidak gentar, justru dengan sombong dia menyahut, “Karena, hanya Thunder Beast yang hebat seperti aku yang bisa mengeluarkan kalian dari sini tanpa harus membuat keributan.”


Seusai menyelesaikan tugasnya di kapal, Chujelaking beserta pasukan piripiri tambahan pun kembali ke tempatnya menyekap para Super Rangers. Berdasarkan laporan piripiri yang berjaga di sana, Super Rangers masih berada di dalam dan belum ada tanda-tanda akan melawan lagi seperti beberapa saat sebelumnya. Namun, Chujelaking justru merasa curiga dengan diamnya para pahlawan bertopeng itu. Lalu, dengan kode khusus yang dimilikinya, Chujelaking masuk ke dalam barrier.


Yang menjadi fokusnya tentu saja adalah satu-satunya tenda yang masih berdiri di sana. Karena, tidak ada tempat selain tenda itu yang bisa menyembunyikan mereka berempat. Dan begitu tenda tersebut dibuka, kecurigaan Chujelaking pun terbukti. Empat anggota Super Rangers sama sekali tidak ada di sana.


“Cari mereka semuanya!” teriaknya memerintah pasukan piripiri.

__ADS_1


Dihancurkannya tenda tersebut, kemudian dia mengobrak-abrik seluruh semak dan pohon yang mungkin bisa menyembunyikan mereka, namun hasilnya tetap nihil.


“Tuan! Saya menemukan ini!” seru seorang piripiri sambil berlari menghampiri Chujelaking. Di tangannya terdapat empat kalung yang seharusnya membelenggu Super Rangers.


Chujelaking rebut empat kalung itu dari piripiri tadi untuk memastikan keaslian kalung tersebut.


“Ini benar-benar kalung mereka. Tapi, bagaimana bisa?” tanyanya.


Setelah diperhatikan dengan lebih seksama, ada sehelai bulu berwarna ungu yang terselip di salah satu kalung tersebut. Dari bulu itu, Chujelaking langsung paham siapa pelaku di balik semua ini.


“Thunder Fox… si rubah sialan itu pasti pelakunya…” geram Chujelaking.


Di saat yang bersamaan, rubah yang dimaksud pun tiba-tiba muncul dengan ukuran yang begitu besar. Dengan cakarnya yang tajam dan keras, dia memecahkan barrier hingga dari luar.


“Awoooooong!!” Thunder Fox melolong keras. Setelah lolongannya itu, petir muncul saling bersahutan seakan lolongan tadi adalah mantera untuk memanggilnya.


“Ternyata kau mau menjemput ajalmu sendiri. Matilah kau di tanganku, Rubah!” seru Chujelaking yang langsung masuk ke dalam tanah, bersiap untuk melawan dari sudut yang sulit dijangkau.

__ADS_1


__ADS_2