
Obsesi Sador pada Luca Kasha rupanya tidak bisa dianggap remeh. Adik dari Rador itu selalu mengikuti ke manapun dan kapanpun Laura pergi. Karenanya, Laura jadi semakin sulit begerak. Padahal dia ingin mengunjungi Alicia di Bumi.
“Paman pengangguran sekali, sih! Paman Rador saja sibuk setiap saat.”
Tidak seharusnya Laura berkata demikian pada superiornya. Tetapi, karena sudah terlalu lama ditahan, akhirnya Laura memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya yang begitu kesal dengan perlakuan Sador padanya.
“Kau tidak lihat kalau aku sedang sibuk mengejarmu?”
Sekuat tenaga Laura berjalan mendahului Sador. Jika berlama-lama bersebelahan dengan mahluk itu lebih dari ini, jangankan pakai kata-kata, mungkin dia akan melemparkan bogemannya.
“luca, tunggu!” panggil Sador sambil berlari mengejar Laura.
Semua itu berlangsung selama dua hari lebih hingga Laura ingat bahwa dia memiliki sihir untuk menghilangkan hawakeberadaannya. Memang kalau sedang kesal, pikiran pun jadi tidak jernih. Jalan semudah itupun tidak bisa Laura lihat.
Kemudian kini, setelah adegan kejar-kejaran berhasil Laura akhiri, dia sudah berada di markas Super Rangers. Orang pertama yang ingin dia temui tentu saja adalah Joanne.
__ADS_1
“Mohon maafkan kelakuan saya selama ini ya, Mas.” ujar Laura yang duduk bersimpuh sambil menyerahkan sebuah bingkisan berupa coklat seharga 5 juta Rupiah yang dia beli dengan uang saku milik Luca.
Laura pikir, mungkin kesukaan Joanne di dunia ini masih sama dengan yang ada di televisi. Karena itu, Laura memilih coklat sebagai sogokan agar Joanne memaafkannya.
“Kau tidak berniat meracuniku kan?” tanya Joanne curiga.
Dengan brutal Laura menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Saya berani sumpah! Ga mungkin saya berani meracuni Mas Joanne!”
“Jadi, apa tujuanmu memberikanku cokelat?” tanya Joanne lagi.
“Saya mau minta maaf, karena sudah sering keterlaluan. Sekarang saya sudah sadar kalau mengejar berlebihan itu tidak baik. Saya berjanji tidak akan mengejar-ngejar Mas Joanne lagi!” jawab Laura mantap.
Dia pikir, mungkin itu pula yang Joanne rasakan tentangnya. Apa lagi Joanne yang ada di hadapannya ini bukanlah Joanne yang ada di televisi. Mungkin saja Joanne di dunia sebelumnya adalah seorang perempuan, atau mungkin pria penyuka pria. Kalau orang seperti itu mendapatkan pernyataan dari Laura, tentu rasanya akan semakin sebal dan jijik.
“Yosh!” seru Laura.
__ADS_1
Merasa tak kunjung mendapatkan jawaban dari Joanne, Laura pun berdiri membetulkan postur tubuhnya. Dia tidak mau berlama-lama dalam suasana canggung itu.
“Terserah kamu mau maafin atau nggak, yang penting aku udah minta maf. See you!”
Laura lalu berjalan menjauh dari Joanne. Keputusannya untuk menghindar dari Joanne sudah bulat. Dia tidak mau membebani pria itu lebih dari sekarang.
“Kau yakin tidak mau mengejarnya?” Sean tiba-tiba muncul dari belakang. Agakny dia sudah mendengar cukup banyak pembicaraan mereka.
“Untuk apa dikejar? Belum tentu juga omongannya benar.”
Ya. Joanne tidak begitu yakin dengan keputusan Laura itu. Sulit untuknya percaya, setelah apa yang terjadi selama ini.
“Tidak menyesal?”
Sean berniat menggoda, tapi mungkin Joanne terlalu kaku untuk mengerti itu.
__ADS_1
“Menyesal tentang apa?”
Menanggapi pertanyaan Joanne, Sean hanya mengangkat bahunya. Sean sendiri tidak yakin bahwa cinta Laura terbalas. Tapi, kalau memang ada tanda-tanda dari Joanne, pikirnya ini adalah kesempatan emas untuk menjahili pria yang hatinya sekeras gunung es itu.