Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Ahli Kuntit Menguntit


__ADS_3

Sebagai anak rumahan yang suka goleran sambil nonton drama, saat ini adalah masa-masa paling menyulitkan bagi Laura. Saat sedang santai di kamarnya sendiri, dia malah jadi tidak nyaman karena ada Sador Si Anak Mami. Di luar pun belum tentu Laura bisa lepas dari jeratan Sador.


‘Kruuuukk~’


“Duh… mana tadi belom makan. Dasar Sador sialan!” keluh Laura sambil mengelus perutnya.


Laura lalu merogoh saku bajunya untuk mencari uang. Sayangnya, Laura hanya membawa beberapa lembar uang kecil.


“Cukup buat beli nasi bungkus pinggir jalan gak ya? Tapi, ini aku turun di mana coba?”


Dia pun menengok ke kanan kirinya. Bila dilihat lagi, jelas tidak ada penjual nasi apalagi nasi bungkusan yang biasa Laura beli di kehidupan sebelumnya. Selain itu, dari ciri wajah orang-orang di sekitarnya juga tidak seperti orang-orang Asia. Artinya, nasi yang dibungkus kertas dengan berbagai macam lauk tidak akan pernah dia temukan di sini.


“Oke… ayo pergi ke hutan dulu buat cari jajan.” putusnya.


Begitulah nasib seseorang yang kabur tanpa persiapan.


Sebetulnya bisa saja Laura bolos sarapan satu kali. Tetapi, semenjak mati kelaparan, Laura bertekad tidak akan bolos makan lagi. Biarlah harus berburu binatang liar dan memasak terlebih dahulu, yang penting bisa makan.


“Kalau lapar, ayam hutan yang dibakar tanpa bumbu juga lumayan.” begitu ucapnya seusai menyantap ayam hutan yang dia dapatkan pagi itu.


Beruntung Laura yang sekarang memiliki sihir yang serbaguna. Bayangkan saja kalau tidak ada. Jangankan ayam hutan, seekor ayam broiler juga tidak akan bisa dia pegang.


Sekarang, tujuan Laura berikutnya adalah Joanne. Dia harus menanyakan langsung perihal sistem di dunia yang tidak wajar ini.

__ADS_1


Dan sampailah dia di depan pintu lobi kantor polisi tempat Joanne bekerja. Seperti biasa, Laura juga mengubah penampilannya agar tidak dicurigai. Rambut birunya dia ubah menjadi hitam tergerai tanpa hiasan apapun. Make up-nya yang mengerikan juga sudah dia buat polos. Lalu, untuk menambak kesan polos itu, Laura juga mengenakan gaun tunik selutut berwarna biru muda.


Dengan dandanan seperti itu, Laura yakin tidak akan ada yang mengira bahwa dia adalah Luca Kasha. Tinggal keberaniannya saja yang perlu ditingkatkan agar dia siap untuk masuk ke sana dan menemui Joanne.


Namun seakan ada yang menahannya, kaki Laura tidak bisa bergerak. Padahal tinggal maju satu langkah saja, seseorang pasti akan mempersilakannya masuk.


“Ditunggu di luar aja kali ya…” pikir Laura yang sudah mulai menyerah.


Gadis itupun mundur sambil mencari tempat yang cocok untuk mengintip dari jauh. Entah ke mana keberaniannya dulu saat masih mengejar Joanne. Masuk ke sarang musuh saja bisa sesuka hati. Sekarang dia malah takut walau tujuannya cuma untuk bertanya.


“Hey!”


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Laura hingga membuatnya terperanjat. Orang itu memakai baju yang sangat rapat dengan hoodie hitam dan masker untuk menutupi kepalanya. Namun, hanya dengan melihat telapak tangannya saja Laura bisa tahu bahwa itu adalah Tiger Warrior.


“Kenapa masih di sini? Kau sudah bertanya pada Joanne? Apa katanya?” tanya Tiger Warrior.


Dari caranya bicara, agaknya dia tidak peduli sama sekali dengan pukulan-pukulan yang dia terima maupun perasaan Laura yang dia kagetkan.


“Belum. Ini aku lagi nungguin dia buat keluar dari kantor.” Laura menjawab setelah puas memukuli Tiger Warrior.


“Om Tigress ngapain sih di sini? Kan waktu itu aku udah bilang bye-bye.”


Laura melipat lengannya di depan dada. Terlihat sekali betapa tidak sukanya dia diikuti terus menerus dan diawasi seperti anak kecil. Menurutnya, Tiger Warrior sudah sangat keterlaluan. Padahal Ayahnya meminta tolong untuk menjaga, bukan menguntit.

__ADS_1


“Jangan panggil aku Tigress!” bukannya menjawab, Tiger Warrior malah mengalihkan pembicaraan.


“Hah?”


Sambil merapatkan maskernya, Tiger Warrior melanjutkan kata-katanya, “Aku baru tahu kalau di planet ini nama itu artinya harimau betina.”


“Pfftt…” Laura menahan tawanya.


Ini juga yang menjadi pertanyaannya setelah dewasa. Padahal Tiger Warrior itu gagah perkasa, tapi nama aslinya malah Tigress.


Ada isu yang mengatakan bahwa penulis ceritanya salah ketik. Karena itu, nama Tigress sangat jarang muncul di naskah dialog, sampai-sampai nama aslinya terlupakan. Laura sendiri sempat lupa nama Tiger Warrior dan baru mengingatnya belakangan ini.


“Gimana ya… Tiger Warrior tuh kepanjangan soalnya. Om penginnya dipanggil apa, sih?”


“Apapun asalkan bukan Tigress.”


Sejenak Laura berpikir untuk mencari ide, lalu dia mengusulkan, “Gimana kalau aku manggilnya Om Tigor aja? Kayak pelawak yang bodinya kekar itu.”


Dibilang mirip pelawak memang lebih baik daripada dikatai sebagai perempuan. Tapi, sejujurnya Tiger Warrior masih merasa aneh.


“Terus gini loh, Tiger Warrior, er sama warri-nya diilangin. Jadilah Tigor. Pas! Oke? Oke, ya! Sipp! Sekarang nama kamu Om Tigor!”


“Apa tidak ada nama lain?”

__ADS_1


Dengan mantap, Laura menggelengkan kepalanya. Laura sudah tidak mau ditolak. Pokoknya dia tidak mau repot-repot memanggil seseorang dengan nama yang terdiri dari lima suku kata.


__ADS_2