
“Dia sudah menjadi raksasa. Kita pasti akan menang.”
Keoptimisan Brian bukannya tanpa dasar. Dia dan anggota Super Rangers yang lain sudah tahu rencana Laura yang ingin melemahkan pasukan musuh. Karena itu, dia yang mengira bahwa Sarenos menjadi raksasa dengan sihir Laura begitu yakin dengan kemenangan mereka.
Berbeda dengan Brian, Tiger Warrior merasa ada yang berbeda dengan raksasa tersebut. Dia pun segera menghalau Brian dan yang lainnya sebelum memanggil Thunder Beasts mereka.
“Tunggu! Ada yang tidak beres di sini. Biarkan aku yang maju.” tegasnya.
Joanne pun merasakan hal yang sama. Berdasarkan pengalamannya, dia tahu betul bahwa itu bukan sihir milik Luca Kasha.
Luca Kasha, memiliki kemampuan untuk mengubah ukuran dan menambah kekuatan siapapun tanpa mengubah wujudnya. Tetapi, Sarenos raksasa ini memiliki bentuk yang cukup berbeda dengan yang seharusnya. Terutama pada bagian kepala. Sarenos yang seharusnya memiliki kulit putih dan mulus di wajahnya kini justru dipenuhi dengan sisik. Giginya yang semakin bergerigi juga membuatnya hampir tidak bisa menutup mulutnya.
“Ini sudah pasti perbuatan Oktasia.” pikir Thunder Blue.
Selain Luca Kasha, hanya Oktasia lah yang paling mungkin melakukan sihir ini. Karena, untuk saat ini tidak ada penyihir selain mereka berdua yang ada di Bumi.
“HRRR!!”
“Groaarrrr!!”
“GRAOORRR!!”
Dari langit, gemuruh suara hewan buas terdengar saling bersahutan. Petir pun ikut meramaikan kedatangan ketiganya. Lalu, Tiger Warrior pun melompat ke punggung Thunder Dolphin dan mereka terbang menjemput ketiga rekannya yang lain.
“Kita juga tidak boleh diam saja. Kita harus segera membantu Tiger Warrior!” seru Thunder Red pada tiga rekannya.
Thunder Yellow dan Green menganggukkan kepalanya hampir bersamaan, lalu mengikuti Thunder Red menyerukan nama Thunder Beasts mereka.
__ADS_1
“Red Dragon!”
“Green Turtle!”
“Yellow Giraffe!”
Karena enggan melakukan hal yang sama, Thunder Blue pun mendapatkan tatapan dingin dari ketiganya. Dan dengan terpaksa, Thunder Blue pun memanggil Thunder Beast-nya.
“Blue Griffin!”
Padahal Tiger Warrior sudah mewanti-wanti untuk tidak ikut campur. Tapi, tiga rekannya sepertinya tidak paham dengan peringatan itu.
“Thunder Beast, bergabung!” Thunder Red sebagai pemimpin memberi perintah.
Dalam waktu singkat, Thunder Beasts Robo pun selesai digabungkan. Super Rangers juga sudah masuk ke dalam kokpit mereka masing-masing.
Tiger warrior tahu betul bahwa Sarenos raksasa tidak akan bisa dikalahkan Super Rangers. Yang ada justru mereka akan merepotkannya. Dan lagi, Tiger Warrior yakin bahwa Sador dan Oktasia tidak merasa cukup dengan hanya mengeluarkan satu raksasa.
‘DHUARR!’
Saat Thunder Beasts Robo sudah cukup dekat dengan Sarenos, tiba-tiba dari bawah muncullah tiga alien raksasa lain yang menghalangi mereka. Inilah yang Tiger Warrior dan Thunder Blue khawatirkan.
Dengan adanya raksasa tambahan, maka kerusakan juga akan semakin bertambah. Karena hentakan kaki raksasa-raksasa itu, gempa yang begitu dahsyat pun terjadi. Ombak yang berdeburan pun semakin tinggi dan menyebabkan banjir di wilayah pantai.
Dikhawatirkan air laut akan semakin naik. Karena itu, Laura dengan tanggap segera menyelamatkan para tawanan yang masih ada di dalam rumah pantai dan memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman menggunakan sihirnya. Sebuah rumah di atas bukit dia pilih untuk menempatkan para remaja itu.
“Duh… makin gawat aja jadinya. Bikin repot aja! Joanne palsu juga sama aja. Katanya gak mau ngubah cerita! Pake marah ke aku segala! Tapi, kok malah jadi begini? Hipokrit sialan!” omel Laura sambil melepaskan ikatan para tawanan satu per satu.
__ADS_1
Para remaja itu, meskipun sudah tidak lagi berada dalam pengawasan Sarenos, masih merasa ketakutan. Ditambah lagi dengan kejadian yang tengah menimpa mereka ini. Keberadaan Luca Kasha di hadapan mereka juga membuat mereka berprasangka bahwa akan ada hal lebih buruk yang akan menimpa.
Beberapa dari mereka sudah menangis sesenggukan. Sementara itu, ada pula yang berusaha menenangkannya walau dia sendiri pun merasa takut.
“Ck! Pada nangis pula…”
Seketika bahu Laura turun saat melihat para remaja bernasib sial itu. Menghibur orang yang sedang menangis sama sekali bukan keahliannya. Penampilannya juga tidak mendukung sama sekali untuk peran berhati mulia itu.
“Kalian belum sepenuhnya aman. Segera pergi dari sini kalau di luar sudah tenang!” ucapnya.
Laura kemudian memutuskan untuk kabur saja dari tempat itu. Biarlah dikatakan tidak bertanggung jawab, toh remaja-remaja itu memang bukan tanggung jawabnya. Tapi, untuk berjaga-jaga, dia memasang sihir pelindung di sekitar mereka.
“Aku gak mau ngerasa bersalah kalau tiba-tiba mereka mati.” pikirnya.
.
.
.
Saat Laura kembali ke medan perang, suasananya sudah semakin gawat. Thunder Beasts Robo dapat mengalahkan raksasa yang menghalangi mereka untuk menyerang Sarenos. Tetapi, lagi-lagi dua alien itu muncul dengan wujud yang sama.
Tiger Warrior dan empat partnernya juga masih kerepotan menghadapi Sarenos yang masuk ke dalam laut.
Di antara rekannya, hanya Thunder Dolphin lah yang dapat membawanya ke dasar laut. Tiger Warrior pun masuk ke dalam kokpit sang lumba-lumba putih dan menyelam mengejar Sarenos.
“Sial! Apa ‘itu’ bakal muncul sekarang?”
__ADS_1