Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Keadaan Terupdate


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu seperti biasanya. Maksudku, Radolard masih mengirimkan alien-alien jahat untuk menginvasi bumi dan Super Rangers dengan kekuatan tempurnya juga terus berusaha menghalau usaha Radolard itu. Adapun yang berbeda adalah keadaanku yang sekarang semakin tidak jelas dan beberapa perubahan yang bisa dihitung dengan jari.


“Thunder Beast!” Thunder Red dengan lantang memanggil pasukan binatang buas raksasa yang akan membantu mereka dalam berperang.


Satu persatu para binatang berukuran raksasa itu datang ke hadapan para rangers. Setelah semuanya datang, mereka pun bergabung menjadi robot raksasa.


“Thunder Beast Emperor, datang!”


Salah satu dari beberapa perbedaan yang ku sebutkan tadi adalah Thunder Beast Emperor. Setelah berbagai macam halangan, Super Rangers akhirnya berhasil mempertemukan seluruh Thunder Beasts yang ada di Planet Bumi.


selain empat Thunder Beasts yang menjadi partner Super Rangers, yaitu Red Dragon, Blue Griffin, Green Turtle, dan Yellow Girrafe, kemudian Thunder Fox dan Thunder Phoenix. Tiger Warrior juga memiliki Thunder Tiger, Thunder Dolphin, Thunder Kangaroo, dan Thunder Gorilla. Beberapa episode setelahnya, Super Rangers juga bertemu dengan Thunder T-rex, Thunder Ptera, dan Thunder Ankylo. Semua Thunder Beasts itulah yang kemudian membentuk Thunder Beasts Emperor, gabungan dari para Thunder Beasts yang terbesar dan terkuat.


Dengan kemunculan Thunder Beasts Emperor ini, bisa dikatakan bahwa cerita utama dari Super Rangers Thunder Saber sudah mendekati final. Kador yang hingga pertengahan episode masih di planet Porcar juga sudah sering muncul di hadapan para rangers. Dan kemunculannya begitu membuat mereka ketakutan.


Sejujurnya, aku pun ikut takut saat pertama kali melihat sosok Kador. Padahal wujudnya kurang lebih sama seperti yang sering kulihat di televisi, manusia berkulit merah dengan setengah wajah dan badannya yang berwujud babi hutan.


Mungkin alasannya adalah karena bagian tubuhnya tidak lagi terbuat dari CGI dan efek make up khusus yang terlihat palsu. Kador yang terlihat di depan mataku saat itu sungguh berkali-kali lipat jauh lebih menyeramkan.


Aura kejahatan yang begitu kuat selalu terasa setiap kali alien berusia ratusan tahun itu muncul. Rador yang dulu sempat aku takuti bahkan tidak sebanding dengannya.


“Nyonya Oktasia! Serahkan semua padaku!” seru alien yang sudah berwujud raksasa itu.


Karena aku sudah mati, dengan terpaksa Oktasia mengisi kekosongan posisiku di Bumi. Dia dan puteranya, Sador akhirnya harus menetap di markas Bumi walaupun sebetulnya mereka sudah ada planet-planet lain yang harus diurus.

__ADS_1


Tentunya aku tidak merasa kasihan pada mereka. Kan kematian ini bukan salahku. (Kebiasaan manusia. Lebih suka menyalahkan orang lain atas kepuntungannya sendiri.)


Deru peperangan bergema begitu keras. Dentuman demi dentuman saling bertaut. Langit yang biru kini berhiaskan warna merah dan abu-abu dari letupan bom dan laser yang dua kubu itu sebabkan.


Hingga kemudian, pihak Radolard akhirnya terpuruk. Super Rangers menganggapnya sebagai kesempatan emas dan memanfaatkannya untuk meluncurkan serangan pamungkasnya.


"Thunder Beast Emperor, JUDGEMENT!" seru lima pahlawan itu bersamaan sambil menebaskan pedang milik Thunder Beasts Emperor.


Seketika setelahnya, alien dengan tubuh penuh bulu berwarna kuning itu pun tumbang.


"Maafkan aku, Nyonya Oktasiaaaaa!!" pekiknya yang disusul dengan suara ledakan terbesar yang terdengar hari itu. Tubuh alien itupun menjadi debu, menandakan pertarungan telah berakhir.


Setelah kekalahan yang terus berulang, pihak Radolard jelas tidak akan senang dengan hasil ini. Aku bisa memastikan bahwa Kador akan semakin mengamuk dan akan segera menyusun rencana baru untuk membalas kekalahan ini.


...


“Belakangan mereka semakin intens mengirimkan pasukan untuk menyerang. Aku benar-benar kelelahan.” ujar Alicia dengan napas yang agak tersengal-sengal.


“Bisa jadi itu adalah tujuan mereka. Mereka ingin agar kita lelah dan lengah.” balas Sean.


“Kita harus tetap waspada. Jangan sampai lengah.” ujar Brian yang diamini oleh anggota yang lain.


Mereka berlima terus mengobrol membicarakan langkah mereka selanjutnya tanpa melibatkanku. Rasanya tidak enak diacuhkan. Tapi, memangnya aku yang sudah berwujud astral ini bisa apa?

__ADS_1


Di antara para rangers hanya Joanne saja yang bisa melihatku. Biar begitu pun dia sama sekali tidak ikut mengajakku berbicara saat berada di hadapan orang lain. Dia seakan ingin menyembunyikan keberadaan arwahku yang bergentayangan di sekitar mereka.


Pernah satu kali aku bertanya tentang hal ini, lalu jawabannya adalah, “Kalaupun aku cerita pun tidak akan ada yang percaya. Hantu itu hanya tahyul.”


Yah… seharusnya aku terbiasa dengan sifat Joanne yang blak-blakan dan logis itu. Tapi, entah kenapa semakin dipikirkan rasanya aku jadi semakin sebal padanya.


Selain Joanne, tadinya ku pikir para Thunder Beasts juga akan bisa melihatku, karena mereka memiliki kemampuan mistik dan indera yang lebih tajam dibandingkan manusia. Namun, ternyata mereka tidak bisa.


Entah sengaja atau tidak, para Thunder Beasts itu selalu acuh saat aku sekedar lewat di hadapan mereka. Bahkan Thunder Fox yang sudah kuanggap sebagai sahabat pun tidak bisa mendengar telepatiku.


Hal ini juga berlaku pada Kador dan komplotannya. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat mengetahui keberadaanku.


Untung saja tidak ada yang sadar. Tetapi, kalau tidak bisa melakukan apapun lama-lama bosan juga. Aku juga ingin melakukan hal yang berguna, setidaknya untuk diri sendiri.


Meski demikian, aku masih mengingat pesan Joanne yang menyuruhku agar tidak melakukan apapun. Sekarang aku sadar bahwa apapun yang aku lakukan kebanyakan beresiko tinggi. Lagi pula semuanya masih belum pasti.


‘Tap’


Sementara rangers yang lain melanjutkan langkah mereka, Joanne berhenti dan melirik ke arahku. Setelah mereka semua cukup jauh, barulah Joanne membuka mulutnya.


“Aku ingin kau melakukan sesuatu.”


!?

__ADS_1


Aku tercengang. Ada apa nih?


Padahal baru saja aku menjelaskan pada para pembaca bahwa Joanne menyuruhku untuk diam saja. Kok sekarang malah menyuruhku melakukan sesuatu?


__ADS_2