
Demi kemaslahatan bersama, atau setidaknya kemaslahatan Laura, dibutuhkan lebih dari satu rencana untuk mengantisipasi akibat terburuk dari serangan Nyanterius. Laura tidak bisa sepenuhnya mengandalkan si tawanan. Karena, belum tentu juga tawanan itu benar-benar paham dengan apa yang Laura maksudkan dan mau melaksanakannya.
Jadi, itulah alasan Laura sekarang jalan-jalan di tengah hutan begini. Agar tidak dikenali, dia mengubah warna rambutnya yang gonjreng itu menjadi gelap. Tanduk di kepalanya juga dia hilangkan.
Setelah mengubah wujudnya menjadi sedikit normal, secara diam-diam Laura pergi dari markas Radolard. Dengan sihir yang dia pinjam dari Luca, Laura juga menghalangi radar mereka sehingga tidak ada yang mengikutinya. Dan kalaupun mereka mencarinya nanti, keberadaan Luca di hutan ini tidak akan terdeteksi.
Tujuannya kali ini adalah mencari salah satu kawan dari tawanan yang disimpan oleh Nyanterius. Berdasarkan ingatannya akan cerita Super Rangers Thunder Saber, makhluk itu ada di sini. Dia bersembunyi dari manusia maupun makhluk lainnya yang ingin memanfaatkan kekuatannya dengan tidak benar.
Tapi,…
“Kayaknya aku nyasar, deh.”
Saking kesepiannya, Laura sampai berbicara sendiri. Dan saking kesepiannya pula, Laura jadi merasa takut. Gara-gara itu Laura jadi tidak fokus dan sekarang dia tersesat di tengah hutan.
Yang lebih mengerikannya lagi, hari sudah cukup gelap. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 20.00 waktu lokal.
Hutan tropis itu mulai memperdengarkan alunan malamnya. Angin berdesir beriringan dengan suara lolongan anjing hutan dari kejauhan. Samar-samar samar juga mendengar suara desisan yang dicurigai adalah desisan ular berbisa.
“Ya gusti, tolonglah hambamu ini. Jauhkanlah hamba dari serangan binatang hutan manapun. Aamiin…” doanya.
Semakin masuk ke dalam hutan, semakin mencekam pula keadaannya. Kalau tidak ada mata sihir milik Luca, mungkin Laura tidak akan tahu ada jalan atau tidak. Bahkan mungkin dia sudah tidak akan bisa berjalan saking takutnya.
Jujur saja, sekarang Laura sangat ingin menyerah. Tapi sayangnya, dia tidak punya banyak waktu. Lalu, jika dia melakukan pencarian ini saat Rador terbangun, dia tidak yakin akan berjalan semulus ini.
‘Dhuak!’
“Ya, Gusti! Itu apaan?!”
Suara pukulan itu cukup keras hingga lumayan mengagetkannya. Ditengokkan kepala Laura ke kanan dan kek kiri, mencari sumber suara. Tetapi, tidak terlihat apapun. Mungkin sebetulnya sumber suara itu agak jauh. Artinya, pukulan itu seharusnya lebih keras dari pada apa yang Laura dengar.
‘Dhuak! Dhak! Dhak! Dhuagh!!’
Terdengar lagi suara pukulan itu. Kali ini lebih keras dan beruntun.
Laura ikuti arah dari mana suara itu berasal. Saat semakin dekat, suara itu juga semakin keras. Hingga akhirnya dia tahu apa yang menyebabkannya.
__ADS_1
“Hiyat! Ha!! Hiiiyat!!”
Seorang pria bertelanjang dada mengayunkan sebilah pedang kayu di tangannya. Pedang itu, yang walaupun seharusnya tidak tajam, secara ajaib terus memotong sasaran latihan yang berupa batu-batu raksasa. Melihat pemandangan itu, Laura seketika terpana. Terlebih, karena pria itu tidak lain adalah ‘Mas Zhou’ yang Laura cintai.
Selama beberapa saat Laura terus memandangi pria tampan berambut sepinggang itu. Saking senangnya, Laura sampai tanpa sadar tersenyum begitu lebar.
Bagaimana tidak? Saat Laura dilempar ke dunia ini, yang dia temui pertama kali adalah Dabakiras yang berwujud monster yang ‘terlalu realistis’. Rador dan yang lainnya juga begitu. Bahkan makhluk piri-piri juga lumayan berbeda dengan yang ada di tv. Jadi, Laura pikir Joanne juga akan sedikit berbeda.
Harapannya meninggi saat mendengar langsung suara Joanne. Tapi, waktu itu dia mengenakan seragam spandex lengkap dengan helm-nya. Jadi, Laura tidak bisa melihat wajah tampan pria pujaannya itu.
Sekarang sudah Laura pastikan bahwa sosok di balik helm pahlawan kebajikan itu memang sama persis dengan aktor yang memerankannya. Tentu saja Laura menjadi sangat senang.
Agar dapat melihatnya dengan lebih jelas, Laura pun berjalan mendekat ke arah Joanne. Tetapi, yang namanya keserakahan memang bukanlah hal yang baik. Karena mata Laura selalu tertuju pada pria itu, dia jadi tidak melihat ada ranting di bawah kakinya.
Laura menginjak ranting itu, hingga patah dan berbunyi.
‘Krak!’
“Siapa itu!?”
“Apa, sih?” gumam Joanne.
Setelah itu, terdengar suara langkah kakinya yang menjauh dari tempat Laura.
“Astagaaa ngagetin banget.” gumam Laura lirih.
Pikirnya, dia sudah bersuara selirih mungkin. Hanya sayangnya, tiba-tiba…
“Apanya yang mengagetkan?”
‘Deg!’
Jantung Laura kembali berderap karena pertanyaan yang tiba-tiba itu. Pemilik suara itu berdiri tepat di sampingnya sambil menodongkan pedang kayunya di leher Laura.
“Siapa kamu?” Joanne kembali bertanya.
__ADS_1
Joanne semakin mendekat pada Laura. Mata sipitnya yang tajam terus menatap gadis itu penuh kecurigaan.
Sebagai orang yang masih berada di pihak musuh, jelas ini adalah hal yang sangat berbahaya. Sekarang Laura bukan Laura, melainkan Luca Kasha, sang keponakan dari pimpinan musuh yang sedang Super Rangers hadapi.
Beruntung saat ini dia mengenakan hoodie yang cukup tebal dan besar, sehingga orang yang tahu tidak bisa langsung mengenalinya. Tapi, bagaimana dengan Joanne? Dia dikenal sebagai orang yang sangat teliti. Di beberapa episode, Joanne bahkan diceritakan memiliki OCD parah sampai-sampai dia pernah bertengkar dengan Thunder Red hanya karena menggeser vas bunga di nakas.
“Kenapa kamu diam saja? Aku jadi curiga padamu.” ujar Joanne lagi.
Laura yang ketakutan pun semakin menundukkan kepala. Meskipun sedari tadi Laura tidak berkedip melihatnya dari jauh, tapi sekarang dia tak berani menatapnya.
“A.. aku bukan orang yang mencurigakan, kok! Serius, deh!” seru Laura sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan, membentuk huruf ‘v’.
Joanne mendengus kasar.
“Tidak ada orang mencurigakan yang mengaku mencurigakan.”
Laura pukul mulut bodohnya sebanyak tiga kali. Padahal akan lebih baik kalau Laura tidak bicara sekalian. Ah… benar-benar kebodohan yang tidak tertolong.
“Kau tidak mau mengaku?”
Sudah dia bulatkan tekad untuk tidak menjawab pertanyaan apapun lagi dari Joanne. Laura juga harus segera mencari jalan untuk keluar dari masalah ini.
Tanpa mempedulikan Joanne lagi, Laura yang menundukkan kepalaku pun melirik ke segala arah diam-diam. Barang kali ada celah agar dia bisa kabur.
Namun, mungkin memang sudah nasibku untuk sial hari ini.
“Hey, jawab pertanyaanku!” Joanne semakin memaksa.
“Woah!” pekik Laura yang kaget saat tahu bahwa jarak mereka sudah begitu dekat.
Dibandingkan keteguhan hatinya, keteguhan jiwanya sebagai seorang penggemar sepertinya lebih kuat. Karena, hanya seperti itu saja sudah membuat tubuh Laura enggan bergerak.
Tiba-tiba Joanne menarik hoodie-nya ke belakang, hingga jelaslah wajah Laura di hadapannya. Lebih sialnya lagi, ternyata dia benar-benar mengenali Laura.
“Luca Kasha?!”
__ADS_1