Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Kembali ke Radolard


__ADS_3

Kalau yang mengatakannya adalah Joanne yang asli, Laura bisa saja memaklumi tuduhan tadi. Dan melihat bagaimana sikap tiga anggota yang lain padanya, jelas ini cukup mencurigakan. Untuk memastikan apa yang sedang terjadi, Laura berusaha mengirim telepati pada Alicia. Sayangnya, gadis itu sama sekali membalas telepati tersebut.


“Sebenarnya ada apa?”


Laura berharap ada salah satu dari mereka yang dapat menjawab pertanyaannya.


“Ada apa? Harusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri. Penghianat!”


Bahkan Sean yang selalu ramah padanya juga ikut ketus.


“Kalau kau memang hanya ingin melukai para Thunder Beasts, sebaiknya kau kembali pada Radolard.” ujar Brian.


.


.


Jadilah kini Laura terpaksa pulang ke kapal Radolard. Dengan sangat hati-hati dia masuk ke dalam kapal agar tidak bertemu dengan Sador maupun Oktasia. Tapi, agaknya pasangan Ibu dan anak itu sedang tidak ada di kapal.


“Haaah… untung aja.” batin Laura lega.


Tantangan setelah ini adalah tentang bagaimana caranya untuk memberi tahu Rador bahwa rencananya untuk menjadi mata-mata telah gagal. Untuk ini sebetulnya Laura tidak yakin bahwa Rador akan memaafkannya, karena bisa dikatakan Laura sendiri lah yang telah memaksa untuk menjalankan rencana di luar script ini. Yang sesuai script seperti Dabakiras dan Gondazel saja bisa dimarahi habis-habisan dan mendapatkan hukuman. Apalagi Laura yang rencananya ngasal.


“Kau pulang?”

__ADS_1


Baru juga dipikirkan, Rador tahu-tahu sudah berdiri tak jauh dari Laura.


“Em…” Karena terlalu tiba-tiba, Laura belum mempersiapkan kata-kata yang akan dia ucapkan pada Rador.


“Tidak memberi salam padaku?”


Gasp!


Segera Laura menundukkan kepalanya sambil memberi salam, “Saya memberi salam kepada Paman Pangeran.”


“Bangunlah! Bukankah ada yang ingin kau bicarakan denganku?”


“Baik, Paman.”


Tanpa diberi kode, Laura mengikuti Rador yang telah berjalan terlebih dahulu. Sesampainya di ruangan Rador, Laura langsung meminta maaf.


Rador duduk di kursi kerjanya, kemudian menjawab, “Aku sudah tahu.”


Laura menegakkan badannya untuk menatap Rador. Yang Laura herankan, tidak ada ekspresi kemarahan di sana. Tepatnya, saat ini ekspresi Rador cukup sulit dibaca.


“Apa Paman gak marah?” tanya Laura.


“Dari awal aku memang tidak terlalu berharap. Kau bisa bertahan sampai sekarang saja sudah cukup bagus. Apa ada lagi yang ingin kau katakan?”

__ADS_1


“Saya cuma ingin mengingatkan Paman tentang Tiger Warrior. Pria itu cukup berbahaya. Saya yakin sekarang dia tengah merencanakan sesuatu untuk menghalau rencana kita untuk menguasai Bumi.”


“Lalu, apa rencanamu setelah ini?”


“Mohon maaf, saya belum memiliki rencana apa-apa.” kata Laura sambil menundukkan kembali kepalanya.


“Kalau begitu, kembali lah ke kamarmu. Datang lagi kalau kau sudah mendapatkan rencana baru.”


Di luar dugaan, ternyata Rador tidak terlalu menghiraukan kegagalan Laura. Tentu ini membuat Laura heran, karena sikap Rador tidak seperti biasanya. Tetapi, menurutnya akan lebih baik kalau tidak ditanyakan lagi. Karena, masih ada kemungkinan Radaor akan berubah pikiran.


“Baik, Paman.” sahut Laura.


Gadis berambut biru itu kemudian menundukkan kepalanya untuk memberi salam dan keluar dari ruangan tersebut.


Lalu, begitu pintu ruangan itu tertutup, keluarlah sesosok wanita bersisik dari balik pintu ruangan yang lain.


“Kau sudah lihat sendiri, Anakku. Gadis itu bahkan berani menyembunyikan sesuatu darimu. Padahal kau sudah melihat sendiri kedekatannya dengan Tiger Warrior.” ucap Oktasia sembari duduk di salah satu sofa yang tersedia di ruangan itu.


Meskipun sudah menggunakan sihir untuk menyembunyikan dirinya, saat itu Laura berada di wilayah pengawasan Oktasia. Maka tidak heran jika istri kedua dari kaisar Radolard itu melihat saat dua makhluk berbeda wujud itu tengah bersama. Dari gambar yang Oktasia berikan pada Rador juga menunjukkan bahwa Laura ikut membujuk Tiger Warrior untuk maju menunjukkan kekuatannya dalam mengalahkan Sarenos.


“Tapi, belum tentu itu yang dimaksudkan oleh Ayahanda.”


“Pfftt.” Oktasia terkekeh kecil.

__ADS_1


“Ibunda tidak tahu bahwa Ananda begitu naif.”


Oktasia membuka kipasnya, kemudian lanjut berkata, “Terserah kau mau percaya pada siapa. Yang terpenting kau tetap melaksanakan perintah Baginda Kaisar untuk mengawasi anak itu.”


__ADS_2