Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Hasutan Kucing Hitam


__ADS_3

Rador adalah pemimpin yang sangat dipercaya dan dihormati di Radolard. Mendengar betapa bangganya pemimpin mereka dengan keberhasilan Luca Kasha, semua orang yang ada di ruangan itu pun ikut senang. Pikir mereka, ini pasti sungguhan dan artinya kemenangan Radolard atas Bumi akan segera datang.


Namun, tidak semua berpikir demikian. Gondazel tak yakin bahwa ini benar-benar terjadi. Seorang Luca Kasha yang tidak pernah mau mengerjakan apapun tiba-tiba telah berhasil mendapatkan dua Thunder Beast sekaligus. Dia ingat betul bagaimana kesulitannya dia dan orang-orang bawahannya dalam menjinakkan Thunder Fox, tapi rubah itu dengan mudahnya dapat Luca pengaruhi dan menjadi mata-matanya. Sekarang, Thunder Phoenix juga telah berada di tangan perempuan penyihir itu.


“Cara licik apa yang dia gunakan?” tanya Gondazel.


Seandainya tubuhnya tidak sedang terluka, mungkin ruangan yang ditempatinya sudah berantakan saat ini.


“Tuan, apa sebaiknya kita ikuti lagi Nona Luca?”


Gondazel menengok ke arah bawahannya yang mengatakan hal tersebut. Alien berbentuk kucing itu menjawab, “Kau berani bergerak sembunyi-sembunyi dari Yang Mulia Rador? Meski nyawaku lebih dari sembilan pun aku tidak akan melakukannya.”


Prajurit berkepala kucing hitam itu menunduk. Tentu dia ingat apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Tapi, akan sangat disayangkan kalau mereka tidak bisa melakukan sesuatu.


“Tunggu. Aku rasa ada satu orang yang bisa kita manfaatkan. Kkkk…”


.


.


.


Selain Gondazel, ada pula Dabakiras yang merasa tidak senang dengan keberhasilan Luca Kasha. Walau tidak tahu bagaimana menjelaskannya, dia merasa semua ini begitu tidak adil.


Memikirkan hal itu, alien berambut gimbal itu terus mengurung diri di ruangannya. Dari suara berisik yang terdengar dari luar, pria itu jelas tengah melampiaskan seluruh amarahnya di sana. Jadi, tidak ada yang berani masuk bersamanya, karena tahu bagaimana akibatnya nanti.


“Ah… padahal aku habis merapikannya tadi.” kata seorang piripiri dengan nada kecewa.

__ADS_1


Satu piripiri di sebelahnya hanya bisa menghibur rekannya itu dengan menepuk-nepuk pelan pundaknya. Bekerja di bawah Dabakiras memang tidak mudah, termasuk bagi pekerja non-militer. Walaupun mereka tidak ikut turun ke medan perang, justru mereka lah yang sering dijadikan pelampiasan.


“Permisi, apa Tuan Dabakiras ada di dalam?”


Dua piripiri itu menengok ke sumber suara. Rupanya itu adalah Mataral, di kucing hitam sekretaris Gondazel.


“Ya. Tapi, kami sarankan untuk tidak masuk ke dalam. Kami saja tidak berani.” saran salah satu piripiri.


“Kalau begitu, bukan berarti aku tidak boleh masuk kan?” tanya Mataral lagi.


Dua piripiri itu diam sejenak berpikir. Namun, karena dianggap terlalu lama, Mataral langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Hey, tunggu!” seru seorang piripiri mencegah.


Sayangnya, Mataral tak mendengarkan mereka.


‘Crang!’


Satu tombak menabrak lemari kaca di ruangan itu.


“Gondazel… apa kalian datang untuk meledekku?” tanya Dabakiras setelah melempar tombak tersebut.


Setelahnya, dia mengambil satu tombak lagi yang terpajang di sebelahnya. Dia lemparkan lagi tombak itu pada Mataral dan kali ini berhasil mengena ke pipi si kucing hitam itu.


“Tenang saja, Tuan. Saya datang untuk menawarkan kerja sama kepada Tuan Dabakiras.” Mataral berusaha berbicara dengan tenang.


Dabakiras memiringkan senyumnya.

__ADS_1


“Aku dengarkan dulu apa maumu.”


Mataral mengusap pipinya yang berdarah, lalu kembali berkata, “Tidakkah Tuan merasa tidak adil dengan perlakuan Tuan Rador? Padahal seharusnya Tuanlah yang mendapatkan pujian-pujian itu.”


Mendengarkan hasutan itu, Dabakiras menyipitkan matanya. Dia memang merasa seperti itu.


“Seandainya waktu itu Nona Luca tidak melepaskan kekuatan finiks yang Tuan terima, saya yakin Tuanlah yang akan dipuja-puja oleh rakyat Radolard.” lanjut si kucing hitam.


“Kau katakan saja ke intinya! Aku malas mendengarkanmu!” sentak Dabakiras.


Mataral dengan sabar tersenyum sambil menjawab, “Kami ingin agar Tuan mau bekerja sama dengan kami.”


“Hah! Paling-paling kalian ingin memanfaatkanku!”


Tidak salah memang. Mataral tidak membantahnya. Daripada berusaha menjelaskan niat aslinya dan Gondazel, dia lebih baik berkata, “Kami akan memberikan sebagian planet yang ada di bawah pengawasan kami pada Tuan. Bagaimana?”


“Kau yakin?” Dabakiras mulai tertarik.


“Bahkan kami bisa memberikan lebih. Itu jika Tuan mau bekerja sama.”


Sambil melipat tangan di depan dada, Dabakiras berkata, “Aku mau Planet Gui dan Hui. Yang lainnya aku tidak peduli.”


Planet Gui dan Hui adalah planet kembar di galaksi Royas yang jaraknya beribu-ribu triliunan tahun cahaya dari Bumi. Keduanya adalah planet besar yang begitu kaya dengan sumber daya alam. Siapapun yang memilikinya sudah pasti kaya raya.


Setelah sejenak berpikir, Mataral membalas, “Baiklah. Aku yakin Tuan Gondazel bersedia memberikannya pada Anda.”


“Hahahahaha!” tawa Dabakiras.

__ADS_1


Setidaknya tawaran tersebut bisa membuatnya sedikit terhibur. Siapa pula yang tidak mau planet sebesar Gui dan Hui. Sudah terbayang di kepalanya betapa kayanya dia setelah ini. Bahkan mungkin dia bisa meminta pensiun dini.


__ADS_2