
"Wani piro?" tanyaku.
Kalau seseorang melakukan atau mengatakan hal yang tidak biasa, hal ini patut dicurigai. Aku yakin Joanne punya alasan di balik permintaannya itu. Tetapi, karena aku masih kesal padanya, kupikir tidak ada salahnya untuk meminta sesuatu darinya sebagai balasan.
"Hah??"
Hm... Kayaknya dia tidak paham. Kenapa wajahnya seperti sedang kebingungan begitu? Apa dia tidak mendengar kata-kataku?
"Aku tidak paham dengan bahasa dari Planet Porcar." katanya.
Demi Tuhan pencipta semesta alam, aku juga tidak bisa bahasa planet itu sebenarnya. Aku saja kaget saat mendengar suara pasukan piri-piri yang sedang mengobrol saat baru sampai di dunia ini. Jadi, kupikir tidak benar-benar ada yang namanya 'tembok bahasa' di dunia ini dan semua orang bisa saling memahami walau memakai bahasa yang berbeda-beda.
“Maksudku, kamu bakal ngasih apa ke aku?”
Sebagai perempuan yang penyabar dan pengertian, aku menjelaskan perkataanku tadi pada Joanne.
"Ck!" Joanne berdecak.
Reaksi seperti tadi sudah bisa ditebak. Tapi, berbeda dengan beberapa bulan lalu, setidaknya Joanne sudah tidak terlihat terlalu kesal setiap kali aku macam-macam dengannya.
"Apa maumu?"
Ouwh! Artinya aku boleh minta apapun dong!
__ADS_1
"Kalau gitu..."
Aku sengaja memperlama jawabanku, karena ingin melihat Joanne panik. Namun, ternyata dia nampak biasa saja.
"Aku mau kencan sehari sama kamu. Tapi, kamu harus pura-pura jadi Joanne beneran." ujarku kemudian.
"Deal!"
Justru sekarang akulah yang dibuat terkejut oleh Joanne. Bisa-bisanya dia dengan mudahnya mengiyakan permintaanku. Jangan-jangan dia ingin aku melakukan hal berbahaya sebagai gantinya.
"J-jadi, kamu mau minta tolong apa?"
Setidaknya aku perlu mendengarkan dulu apa permintaannya.
"Hal yang biasa kamu lakukan. Menguntit."
Menguntit bukanlah hal yang sulit dilakukan. Apa lagi dengan tubuh astral yang ku miliki sekarang. Tidak ada yang akan tahu kalau aku sedang mengikuti mereka. Hanya saja, ini bukan hal yang membanggakan. Karena, yang namanya penguntit selalu memiliki citra buruk di mata orang lain.
"Yah... namanya sudah terlanjur." pikirku.
Orang atau lebih tepatnya makhluk yang akan ku kuntit sekarang tidak lain tidak bukan adalah Kador, kaisar dari Kekaisaran Radolard. Menurut Joanne, akan ada suatu pergerakan dari Kador yang dia yakini\ akan membuatnya hidup kembali setahun setelah hari kematiannya yang seharusnya.
Menurut Joanne lagi, pergerakan rahasia itu ada hubungannya dengan kekuatan baru yang Kador dapatkan pada episode 46 yang merupakan awal dari puncak cerita Super Rangers Thunder Saber.
__ADS_1
Sebagai orang yang sudah menonton seriesnya berkali-kali, mana mungkin aku tidak tahu kekuatan baru apa yang dimaksud. Kekuatan itu berasal dari Thunder Stone raksasa yang dulu tersimpan di inti perut Planet Kaminaria. Jika seseorang ingin menggunakan batu tersebut, orang tersebut harus memiliki kekuatan sihir yang cukup. Karena itu, para penonton maklum saat Kador tidak menggunakannya dari awal.
Masalahnya, selain Kador tidak ada orang Radolard lain yang mengetahui di mana Kador menyimpannyaa. Berdasarkan scene yang muncul, Kador hanya sendirian saat menyerap kekuatan dari batu tersebut. Dia seakan-akan menyembunyikannya dari yang lain. Entah apa alasannya. Bahkan Rador sang putera mahkota sepertinya tidak tahu tentang hal ini.
Lalu, bagi kalian yang bertanya, kenapa aku tidak terpikirkan hal ini sedari awal, aku hanya punya satu jawaban. Yaitu, karena memang belum waktunya dan aku sempat lupa.
Cerita tentang inti perut Planet Kaminaria itu baru muncul di akhir cerita. Kador yang sempat beberapa kali ku temui secara sembunyi-sembunyi juga tidak pergi meniliknya sama sekali. Jadi, aku pikir percuma saja mencarinya dari awal.
Sekarang, karena sudah saatnya, aku pun mengikuti perintah Joanne. Lagi pula aku juga penasaran dengan kekuatan baru itu. Memangnya sehebat apa thunder stone itu, sampai-sampai Kador harus menunggu sekian lama untuk menggunakannya. Selain itu, bukankah thunder stone seharusnya hanya bereaksi pada bangsa Kaminaria? Apa ini artinya Kador juga sama sepertiku yang juga memiliki darah manusia Planet Kaminaria?
Membingungkan bukan?
Dari pada berlama-lama, mendingan aku langsung pergi ke tujuan saja.
Pertarungan baru saja berakhir. Di saat begini, biasanya orang-orang Radolard sedang berkumpul di ruang rapat untuk meratapi kekalahan mereka. Kemungkinan besar Kador juga ada di sana.
"Mohon maafkan kami, Baginda Kaisar." ucap Oktasia dengan lutut yang bersimpuh.
Di belakangnya, Sador juga melakukan hal yang sama. Dia terlihat begitu ketakutan.
Bisa dimaklumi, karena prajurit yang dikirimkan kali ini adalah orangnya sendiri. Dia juga lah yang merencanakan serangan tersebut. Jadi, tidak mengherankan bila Sador setakut itu. Apalagi belum lama ini Rador dan antek-anteknya yang lebih dulu gagal menghilang entah ke mana. Tidak ada lagi orang yang bisa dia kambinghitamkan.
Sementara itu, Kador tidak bereaksi saking jengahnya. Aku tahu, karena di cerita aslinya seperti itu.
__ADS_1
"Haaa..." dengus pria tua itu.
Kalau aku jadi Kador, mungkin aku akan bosan dan langsung pergi dari planet ini. Terlebih dia juga telah kehilangan banyak orang-orang terhebatnya. Lagipula, Radolard masih punya planet jajahan lain yang harus diurus. Untuk apa berjuang terlalu gigih? Apa ada sesuatu yang ingin dia dapatkan?