Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Luca Kasha yang Pemalas


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Rador beberapa jam yang lalu, Laura sama sekali tidak ada pekerjaan. Dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dia kerjakan di sana, karena hampir semuanya sudah dipegang oleh piripiri. Bahkan pekerjaan yang berhubungan dokumen dikerjakan oleh piripiri.


Saat Laura berkata ingin mencoba membaca dokumen-dokumen itu, semua piripiri terperanjat karenanya. Bukan karena takjub, justru mereka melihat atasan mereka dengan penuh kekhawatiran, takut dengan kesehatan mental Laura yang mungkin saja bermasalah.


Seingat mereka, sang atasan sama sekali tidak suka bekerja. Jangankan pekerjaan kantoran, pekerjaan fisik seperti memimpin serangan yang seharusnya menjadi keahliannya saja Luca enggan. Jika perubahannya sedrastis ini, bagaimana ceritanya para piripiri itu tidak khawatir?


“Sebagai pimpinan kalian, aku lagi kasih perintah, loh! Turutin ngapah!?” paksa Laura.


“Apa maksud perkataan Anda, Nona? Lebih baik saya mati dari pada harus menuruti perintah ini.” seorang piripiri berusaha mengelak. Di belakangnya, sekelompok piripiri lain seakan memberinya dukungan doa dan semangat.


Melihatnya saja sudah membuat Laura kesal. Dia paham bahwa mereka sangat meremehkan kinerja Luca Kasha yang suka malas-malasan dan buang-buang uang. Karena itu, Laura bermaksud untuk memperbaiki image itu dengan membantu mereka mengerjakan apa yang dia bisa. Atau setidaknya memperhatikan pekerjaan mereka, supaya dia lebih paham. Barang kali dengan begitu dia bisa mendapatkan celah untuk sepenuhnya lepas dari Radolard.


“Yaah… boleh, ya. Baca-baca aja juga gak masalah, kok.” bujuk Laura lagi.


Sebetulnya piripiri yang tengah diajak bicara oleh Laura itu sudah mulai mencapai batasnya. Dia mulai berpikir, kalau akan membiarkan Luca melakukan yang dia mau. Namun, begitu melihat wajah memelas para koleganya, dia urungkan kembali niatnya itu.


Tentu dia tidak lupa kejadian tahun lalu, saat Luca tiba-tiba mencoba membaca laporan perencanaan keuangan divisi sihir. Saat itu, masih mending jika Luca tak menghasilkan apapun. Masalahnya, buku tersebut kemudian hilang selama berhari-hari, kemudian saat ditemukan kembali, ada beberapa perubahan yang anehnya sudah ditandatangani oleh Sang Raja. Dan karena perubahan laporan itu, uang jajan Luca Kasha pun semakin bertambah sementara biaya kebutuhan divisi sihir justru menurun drastis.


Para bawahan Luca Kasha jelas tidak ingin ini kembali terjadi. Jadi,sekuat tenaga mereka harus mencegahnya.


“Maaf, kami tetap tidak bisa, Nona.”


Laura menggembungkan mulutnya. Sekali lagi dia ingin membujuk piripiri itu, tetapi tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar.


‘Tok! Tok!’


Dari sana, nampak seorang piripiri lain yang Laura yakini dari cakarnya adalah bawahan Gondazel, si alien kucing yang paling Laura tidak suka di dunia ini.


“Mohon maaf, Nona. Kami ingin menyampaikan bahwa kami menginginkan bantuan Nona untuk memulihkan dan meningkatkan kekuatan Tuan Chujelaking.” ujar prajurit piripiri itu tegas.


Dari laporan itu Laura mengetahui bahwa Chujelaking sudah hampir dibereskan. Mendengarnya, Laura pun sedikit merasa lega, namun segera dia sembunyikan. Dia tidak boleh menunjukkannya, karena masih di depan para warga Radolard ini.


“Haaa… bikin malas saja.”

__ADS_1


Mendengar gerutu Luca, semua piripiri yang ada di ruangan itu hanya geleng-geleng kepala saking herannya. Padahal, tadi perempuan itulah yang menginginkan pekerjaan. Sekarang setelah ada pekerjaan yang benar-benar cocok untuknya, dia malah enggan.


Laura yang ogah-ogahan kemudian memaksakan diri untuk keluar dari ruangan. Diambilnya tongkat baru yang sebelumnya diberikan oleh Rador untuknya di kamar, lalu berteleportasi menuju Bumi.


.


.


.


Kini sampailah Laura di Bumi. Sebelum memulai aksinya, dia perhatikan ke sekitar medan peperangan terlebih dahulu.


“Waaah… kacau juga.” batin Laura saat melihat area perkemahan yang sempat dia tempati begitu berantakan.


Di sana banyak sekali mayat pasukan piripiri bergelimpangan. Berliter-liter darah berceceran dan menyebarkan bau anyir yang menyeramkan. Inilah gambaran perang yang sebenarnya. Pemandangan tersebut sangat jauh berbeda dengan penggambaran di cerita aslinya yang sama sekali tidak memperlihatkan mayat musuh maupun darah berlebihan.


“Semoga arwah kalian, amal dan ibadah kalian diterima oleh Yang Maha Kuasa. Aamiin…”


Tidak semua piripiri adalah orang jahat. Mereka juga makhluk hidup yang memiliki kisah masing-masing. Karena itu, Laura tidak tega melihat mayat-mayat mereka.


Suara mereka tidak lantang. Namun dengan jumlah mereka yang banyak, ujaran itu terdengar pula di telinga Thunder Blue meskipun dia tidak tahu apa yang mereka katakan. Pria yang tengah memegang bazooka jelmaan Thunder Fox itu pun menengok ke arah yang sama dengan pasukan piripiri.


“Luca Kasha…” gumam Blue saat melihat gadis bercula satu itu.


Karena mata mereka bertemu, secara spontan Laura memberikan senyum dan lambaian tangannya pada Joanne.


“Aaaagh… Nonaaah… tolong sayah…”


Suara rintihan Chujelaking lah yang menyadarkan Laura untuk memperbaiki tingkahnya. Segera dia turunkan tangannya dan dia hapus senyum di wajahnya. Jika dia melakukannya lebih lama lagi, bisa gawat nyawanya nanti.


“Ng… sabar, ya.” sahut Laura.


Seperti sebelum-sebelumnya, Laura membayangkan sihir di kepalanya untuk membuat Chujelaking menjadi raksasa. Dari tangannya, dia mengalirkan energi sihir sesedikit mungkin agar tidak terlalu banyak energi yang diberikan pada alien berwujud tikus itu. Dengan begitu, Super Rangers tidak perlu repot-repot dalam menghabisinya.

__ADS_1


“Hiya!” seru Laura sambil menudingkan tongkatnya pada Chujelaking dari jauh.


Kemudian, secara perlahan Chujelaking berubah menjadi raksasa. Kakinya yang tadi terluka dan badannya yang penuh lebam juga membaik.


“Terima kasih, Nona Luca!” ujar tikus raksasa itu.


“Hahaha santai aja, Pak.” kekeh Laura garing.


Dengan berubahnya Chujelaking menjadi raksasa, artinya sudah saatnya Super Rangers untuk memanggil Thunder Beasts Robo. Namun, Red masih terluka parah. Thunder Beast yang lain juga masih bertugas menjaga Thunder Phoenix. Jika mereka muncul sekarang, Blue khawatir keberadaan telur finiks akan diketahui oleh Radolard.


“Thunder Fox, terpaksa kau harus bertarung sendirian.”


Thunder Fox lalu mengubah wujudnya kembali menjadi rubah berekor sembilan. Kemudian, dia perbesar tubuhnya ke ukuran aslinya. Masih tidak sebesar Chujelaking sekarang, tetapi dengan kemampuannya, Thunder Fox yakin akan dapat mengalahkan Chujelaking.


“Waoooooooooooooong!” lolongan terdengar bersamaan dengan derap lari Thunder Fox yang begitu menggebu-gebu.


Melihat serangan akan segera datang, Chujelaking pun segera menggali dan bersembunyi di bawah tanah. Namun, dalam sekali hentakkan kaki sang rubah, Chujelaking kembali terpental keluar.


“Tidaaaak!” teriak Chujelaking.


“Wooooong!” lolongan kali ini menandakan bahwa Thunder Fox tengah mengumpulkan kekuatan untuk mengeluarkan bola api dari mulutnya.


Menyadari serangan selanjutnya, Chujelaking segera berdiri dan berancang-ancang untuk menangkis. Bulu-bulu dan kukunya sangat kuat. Seperti halnya tadi, serangan Thunder Fox kali ini pun pasti bisa dia tangkis.


‘DUGH!’


Chujelaking memang berhasil menahan bola api milik Thunder Fox, namun bola api itu terus mendorongnya mundur.


“Apa-apaan ini? Kenapa susah sekali ditangkis? Bagaimana bisa kekuatan rubah itu bisa meningkat sedrastis ini? Tidak… jangan-jangan…”


Chujelaking melirik ke arah Laura. Kecurigaannya pada penyihir itu muncul dalam benaknya.


“Apa dia sengaja tidak melakukan tugasnya yang seharusnya?” batin Chujelaking.

__ADS_1


Namun, gara-gara pikirannya ini dia pun menjadi lengah. Thunder Fox sekali lagi menembakkan bola apinya, sehingga semakin mendorong Chujelaking untuk mundur dan akhirnya menerima api itu hingga membakarnya hidup-hidup.


__ADS_2