Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Bagaimana Kau Tahu Part 1


__ADS_3

Tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan saat semua keinginan terkabul. Apalagi jika ada bonus yang menyertainya. Itulah yang tengah Laura rasakan saat ini. Seharian ini, senyuman tak bisa lepas dari wajahnya saking senangnya, setelah menyingkirkan Sazaare.


Lalu, karena kekalahannya lagi, Dabakiras juga disentak habis-habisan oleh Rador. Alien berambut gimbal itu sempat membela diri dengan mengatakan bahwa itu bukan kesalahannya, melainkan kesalahan Luca. Tetapi, tidak ada bukti yang bisa dia berikan. Justru dari monitor satelit Rador bisa melihat bahwa Luca mengerjakan porsi pekerjaannya dengan baik. Akibatnya, Dabakiras mendapatkan skors lagi. Selain itu, hubungan kerja sama antara Dabakiras dan Gondazel juga semakin renggang. Malah sepertinya Gondazel tak mau lagi berurusan dengan Dabakiras.


“Hohohoho!” begitu tawa Laura setiap kali mengingat kemenangannya hari ini.


Sayangnya, dia tidak bisa dengan bebas tertawa seperti itu. Bagaimanapun pihaknya, Radolard tengah mengalami kekalahan telak. Jika dia sembarangan tertawa seperti itu di hadapan Rador maupun orang-orang Radolard yang lain, habislah riwayatnya. Pernah dia membaca di salah satu buku milik Luca, semengerikan apa hukuman yang diberikan kepada penghianat Radolard begitu rencana mereka ketahuan. Jadi, demi kebebasannya untuk tertawa, Laura lagi-lagi kabur ke Bumi.


“Silakan dimakan, Bestie-ku yang baik hati~” kata Alicia sambil memberikan sepiring churros dengan colekan saus coklat manis.


“Asyiiiik! Bestie-ku memang yang terbaik, deh!” sahut Laura yang langsung mengambil sebatang churros dan dicolekkannya ke saus coklatnya.


“Gimana rasanya?” Alicia nampak menunggu-nunggu tanggapan Laura.


“Enak. Selama bukan buatan Brian, kayaknya semua makanan itu enak.”


Bukannya merasa senang, tanggapan Laura itu justru membuat Alicia menurunkan bahunya karena kecewa.


“Heh! Masa kue buatanku disandingkan dengan dark matter buatannya Brian. Sialan, kau! Persahabatan kita putus!” omelnya.


Sambil nyengir kuda, Laura berkata, “Bukan begitu maksudku. Tentu saja aku suka kue buatanmu. Maafkan aku, karena telah memberikan pembanding yang salah. Aku tidak akan lagi-lagi membandingkan masakanmu dengan pupuk kompos yang bahkan tanamanpun tak mau mengkonsumsinya.”


“Ya ampun, bestie. Kamu romantis juga ya kata-katanya. Xixixixi.”

__ADS_1


Mendengar obrolan dua perempuan itu, rasanya anak panah menghujam tubuh Brian secara bertubi-tubi.


“Kalian berdua kejam sekali padaku. Memangnya apa yang telah aku lakukan?” keluh Brian.


“Pikir saja sendiri!” ujar Alicia ketus.


Usut punya usut, Brian lah yang memberi ide pada Sean untuk menyebut kata gendut pada Alicia di tengah pertarungan kemarin. Padahal Laura hanya memberi instruksi untuk mengatakan hinaan-hinaan biasa saja tanpa kata-kata yang sensitif untuk dibicarakan. Jadi, bukannya pada Sean, sampai sekarang Alicia masih memendam amarah pada Brian.


Di saat seperti ini, Laura merasa bersyukur tidak menceritakan bagaimana dia menjebak Dabakiras dan Sazaare untuk turun ke Bumi.


“Omong-omong Kang Mas-ku sama Sean ke mana ya?” tanya Laura.


“Kalau Sean, mungkin di laboratoriumnya. Terus kalau Joanne, tuh!” Alicia menunjuk ke arah datangnya pria berkucir kuda itu.


“Ckckckck! Tiap kali si kutub dateng, pasti bestie-nya terlupakan.” gerutu Alicia yang tidak Laura perhatikan, karena terlalu terpesona pada Joanne.


Pria berjaket biru itu kemudian berhenti sejauh dua meter dari hadapan Laura dan berkata, “Penyihir, kita perlu bicara.”


Berkat secuil kata-kata itu, dalam hati Laura langsung berpesta pora. Segera dia menyahut, “Oke!”


Sambil melompat-lompat kegirangan, Laura mengikuti Joanne yang telah berjalan mendahuluinya. Tujuan mereka adalah halaman belakang markas Super Rangers.


Begitu sampai di sana, Joanne memastikan tidak ada orang selain Laura yang mengikutinya. Setelah tidak ragu, dia mulai berbicara.

__ADS_1


“Aku langsung saja. Cepat katakan padaku, siapa kau sebenarnya!”


Laura mendadak manyun, karena lagi-lagi Joanne merobek-robek harapannya.


“Kan waktu itu aku udah bilang, kalau bakal aku bilang di waktu yang tepat!” tolak Laura.


Joanne mendengus kasar.


“Anggap saja sekarang aku percaya padamu! Bukankah itu yang kau inginkan? Aku percaya padamu. Cukup bukan?” paksa Joanne.


“Iiih… kok Kang Mas maksa? Kalau maksa hal yang lain sih, aku oke-oke aja. Tapi, jangan yang ini! Aku gak mau!” tolak Laura lagi.


Entah seberapa kesal lagi Joanne dibuatnya. Tapi, bukan Joanne namanya kalau tidak pandai menahan emosi.


“Kau sudah menguji kesabaranku. Aku tahu kau bukan orang dari dunia ini! Jadi, cepat katakan siapa kau sebenarnya!”


Eh?


Sirkuit di otak Laura tidak dapat memproses tuduhan Joanne yang 100% tepat itu. Dia bahkan tidak yakin dengan apa yang didengarnya.


“Bilang apa tadi?” tanya Laura memastikan.


“Aku tahu kau bukan orang dari dunia ini, jadi katakan siapa kau sebenarnya!” Joanne mengulang.

__ADS_1


Kok bisa Joanne tahu, ya?


__ADS_2