
Selama beberapa saat, Laura memang pergi ke tempat Green Turtle untuk membantunya. Tapi, ternyata kedatangannya hanyalah percuma. Karena, barrier sudah dibuat oleh Green Turtle secara sempurna. Yang perlu dilakukan hanya membereskan isi barrier saja dan itu tidak bisa Laura lakukan seenaknya.
Keberadaannya bersama Super Rangers saat ini masih dalam pengawasan Rador. Laura berkata bahwa berkat Thunder Fox, dia berhasil mengelabui Super Ranger dan masuk ke dalam lingkup mereka. Jika dia berbuat lebih dari ini, bisa-bisa Laura dicurigai lagi.
“Anak muda, pergilah. Aku bisa mengurus bagianku sendiri.” ujar Green Turtle melalui telepati.
“Yaaah…”
Laura kecewa, karena di sini pun dia diusir.
“Sebegitunya kalian membenciku.”
Green Turtle menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Bukan begitu. Daripada di sini, kau akan lebih bermanfaat bila pergi ke tempat Thunder Phoenix berada.”
“Tadi aku baru dari sana, terus diusir sama bebeb Jo.”
Green Turtle mendengus.
“Anak itu… dia hanya tidak tahu saja. Percayalah padaku. Sebaiknya kau ikuti Thunder Phoenix. Bukankah kau ingin memperlihatkan kebolehanmu pada pria yang kau sukai?”
Merasa mendapatkan lampu hijau dari Green Turtle, Laura pun kembali bersemangat. Dari kata-kata itu, Laura merasa bahwa dia telah direstui untuk mengejar cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
“Green Turtle, kau lah yang paling bijaksana. Aku percaya padamu, walau masih sebel! Aku pergi dulu, ya!” seru Laura yang langsung beranjak pergi.
Semudah itu mempengaruhi seorang Laura Frederica. Melihat tingkah gadis itu, entahkenapa Green Turtle yang berumur panjang jadi merasa umurnya semakin pendek.
.
.
__ADS_1
.
Dan itulah yang membuat Laura akhirnya kembali ke tempat Super Rangers. Dia juga menonton medan pertarungan tanpa ikut di dalamnya. Lalu, saat Dabakiras akhirnya mundur, dia juga mengikuti di belakang Joanne.
“Penyihir, keluarlah dari persembunyianmu!”
Joanne hanya sedikit menengok ke tempat persembunyian Laura. Sejak akhir pertarungan, dia sudah merasakan hawa keberadaan gadis itu di belakangnya. Tapi, selama Laura tidak ikut turun ke medan perang, dia biarkan saja.
“Oke. Aku ke situ, ya~” sahut Laura berbisik, sambil mengendap-endap mendekat ke tempat Joanne.
Kemampuan Joanne dalam mendeteksi keberadaannya sudah tak mengejutkan lagi bagi Laura. Gadis itu sendiri tidak ada maksud untuk bersembunyi sama sekali dari super hero berkostum biru itu. Tapi, karena di dekat mereka masih ada Dabakiras dan pasukannya, Laura masih harus memelankan suaranya.
“Aaaaarrghhh!” teriakan Dabakiras itu membuat keduanya kembali fokus ke tujuan utama mereka.
Terlihat Dabakiras yang masih merintih kesakitan di bawah pohon sembari memegangi salah satu tanduknya yang baru saja dipatahkan. Pasukan piripiri di sekitarnya nampak begitu panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian, yang paling parah justru adalah Thunder Phoenix yang melayang tak berdaya di atas Dabakiras.
“Mau dilihat gimanapun itu finiks kayak gak ikhlas ada di sana. Malah kayak menderita gitu.”
“Telepati, kau tidak mencobanya?” tanya Joanne.
Sambil melengkungkan bibirnya, Laura menjawab, “Alicia aja gak bisa, apalagi aku. Tapi, kalau Kang Mas yang nyuruh, aku coba, deh.”
Tanpa mempedulikan reaksi jengah dari Joanne, Laura mulai berkonsentrasi untuk mengirimkan telepati pada burung api itu.
“Thunder Phoenix, apa kau mendengarku? Memekiklah jika kau bisa.” kata Laura dalam telepatinya.
Selama beberapa menit gadis berambut biru itu mencoba memanggil Thunder Phoenix, namun hasilnya sama dengan Alicia. Jangankan menyahut, telepati itu sepertinya tidak pernah sampai pada Thunder Phoenix.
“Haaa… sekali lagi. Sabar ya, Mas. Bentar.”
__ADS_1
Joanne sama sekali tidak mendesaknya, tapi berhubung ini adalah permintaan pertama sang idola, Laura ingin melakukan yang terbaik. Sayangnya, dicoba berkali-kalipun tetap saja tidak berhasil. Hingga Laura yang kesal pun akhirnya menyerah.
“Susah banget, sih! Ikh!” seru Laura, tak sengaja meninggikan suaranya.
Rupanya seorang piripiri mendengar dan segera mencari sumber suara itu.
“Hei! Kau mau kita ketahuan?” Joanne menghardik lirih sambil menyembunyikan dirinya. Laura juga kemudian segera menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.
“Maaf…” bisik Laura yang juga ikut bersembunyi.
“Sudahlah. Kalau sulit, hentikan saja.” kata Joanne saat melihat Laura kembali mencoba melakukan telepati.
“Gapapa, nih?” tanya Laura meyakinkan.
Beberapa butir keringat menetes di dahi penyihir itu dan napasnya juga sedikit tersengal-sengal. Menandakan bahwa Laura memang tidak berbohong pada Joanne. Karena itu, Joanne pikir sebaiknya telepati atau semacamnya tidak perlu dilakukan lagi. Toh paling-paling hasilnya akan sama saja gagalnya.
“Percuma.” ujar Joanne singkat.
Merasa diremehkan, Laura menggembungkan mulutnya kesal. Pikirnya, walaupun Joanne adalah cinta sehidup sematinya, pria itu masih harus diberi pembalasan setimpal. Dan menurut Laura, ini adalah saat yang paling tepat. Akan dia tunjukkan bahwa dirinya tidak semudah itu dibujuk.
“Yaaah, kalau komunikasi jarak jauh tidak bisa, aku masih bisa melakukan dari jarak dekat, sih.”
Laura kemudian keluar dari persembunyiannya. Dia juga mencabut sihir yang menyamarkan hawa keberadaannya, sehingga siapapun dapat melihatnya dengan jelas.
“Hey! Kenapa kau…”
Tanpa mendengar pertanyaan Joanne sampai selesai, Laura menjawab, “Mungkin Kang Mas lupa. Adinda ini sebenernya dari Radolard, lho. Lihat aja dulu, nanti Adinda balik lagi. See you!”
Belum juga Joanne paham apa maksud tindakan Laura alias Luca Kasha, sekarang apa perlu dia memikirkan siapa itu ‘Adinda’?
__ADS_1
Namun, agaknya Joanne tidak sempat memahami satupun dari dua hal tersebut. Karena, makhluk yang memiliki jawabannya terlanjur melenggang ke tengah pasukan Dabakiras.