
Oktasia yang kelelahan tak lagi berteriak-teriak. Sarenos yang sedari tadi menunggu pun berkata,
“Yang Mulia, saya ada ide. Bagaimana kalau kita mengambil anak-anak saja? Saya yakin mereka akan membuat Yang Mulia lebih awet muda.”
Seperti melihat orang bodoh, Oktasia mencibir Sarenos.
“Kau benar-benar bodoh, yang kita culik selama ini itu kan anak-anak. Buktinya mereka tidak memiliki banyak bulu, tanduk, apalagi sisik seperti kita. Kau mau aku melahap bayi yang tidak ada daginya itu?”
Mendengar alasan Oktasia, secara spontan Laura menepuk jidatnya. Agaknya Oktasia tidak mengetahui sistem pertumbuhan dan perkembangan manusia Bumi. Dia mengira orang-orang Bumi sama seperti orang-orang di Planet Porcar yang baru tumbuh bulu, tanduk, dan sisik di usia 10 tahun.
“Bukan begitu, Yang Mulia… yang kita culik selama ini sebetulnya sudah remaja.” Sarenos berusaha menjelaskan.
Karena penjelasan tersebut, Oktasia membulatkan matanya tak percaya. Seumur hidupnya, dia sangat sering berkunjung ke planet-planet asing. Setahunya, hanya orang-orang Planet Kaminaria lah berciri fisik demikian. Jadi, baginya ucapan Sarenos sangat mustahil.
“Kau ingin membantah Ibuku!? Rupanya kau sudah bosan hidup.” Sador mengancam.
Sarenos seketika bergidig. Dalam hati, dia meratapi nasibnya yang begitu sial memiliki atasan sekolot Oktasia dan mommy’s boy seperti Sador. Jika dia bisa memilih, ingin rasanya dia resign sekarang juga.
“Bukan begitu, Yang Mulia. Saya hanya memberi tahu apa yang saya ketahui. Mereka bilang usia mereka sudah lebih dari 13 tahun.”
Kali ini, Sarenos malah ditertawakan oleh keduanya.
“Hahahahaha! Lalu, kau percaya pada anak-anak itu? Mereka itu berbohong supaya bisa dilepaskan. Benar kan, Mommy?”
Oktasia menepuk-nepuk kepala puteranya dengan lembut seraya berkata, “Kau benar. Betapa pandainya puteraku. Tidak seperti si bodoh ini!”
__ADS_1
Lama-lama Laura semakin gemas mendengar neneknya Luca berbicara ngawur. Merasa tidak tahan, Laura pun pergi dari sana. Dia merasa, kalau terlalu lama di sana, nanti dia jadi semakin kasihan pada Sarenos.
Yang terpenting, dia sudah memasang sihir penyadap level tinggi yang sulit dideteksi. Jadi, kapan saja Laura bisa melihat lokasi penyekapan itu.
“Mendingan kasih tahu Joanne aja, deh.” putusnya.
.
.
.
Laura menemui Joanne langsung di kantornya. Tentu dia mengubah wujudnya terlebih dahulu agar tidak menyebabkan kegaduhan di sana.
Laura menggembungkan mulutnya, karena Joanne terdengar begitu dingin padanya.
“Aku cuma mau ngasih tahu, kalau tidak ada lagi remaja yang disekap Sarenos.” kata Laura.
Joanne hanya menanggapinya dengan, “Oh.”
Hampir saja kesabaran Laura yang setebal tisu yang dicelupkan ke air itu habis. Seandainya yang ada di hadapannya ini benar-benar Joanne yang dia puja, mungkin dia masih bisa tahan. Tetapi, sekarang dia tahu bahwa Joanne bukanlah Joanne yang ada di televisi. Perasaan posesifnya kini telah hilang hampir tak berbekas.
“Sebentar.”
Tiba-tiba Joanne mengulurkan lengannya ke atas kepala Laura. Matanya yang menyipit seperti melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada pada gadis itu.
__ADS_1
Deg
Jantung Laura berdebar begitu kencang, karena kedekatan mereka yang tak dia duga. Tangan besar itu kini telah menyentuh rambut biru yang sengaja tidak dia ubah.
Tidak hanya satu detik. Dua detik, tiga, empat, sepuluh detik telah berlalu, tetapi Joanne tak kunjung menarik kembali tangannya.
“Ke… kenapa?” Laura bertanya untuk menutupi rasa canggung.
Setelah itu, barulah Joanne menarik tangannya dari kepala Laura.
“Bulu-bulu ini… darimana?”
Tangan Joanne memegang beberapa helai bulu berwarna keemasan yang diambilnya dari rambut Laura.
“Eh? Itu di kepalaku?”
Laura tidak menyadarinya, karena bulu-bulu itu sangat tipis. Selain itu berbeda dengannya, Joanne memiliki mata yang begitu tajam.
Dia lalu meraba kepalanya sendiri, barang kali masih ada bulu yang sama di sana. Dan benar saja, masih ada bulu-bulu berwarna keemasan yang menempel di rambutnya.
Diperhatikannya bulu-bulu itu dengan seksama untuk memastikan dugaannya.
“Ini… punya Tiger Warrior bukan, sih?”
Notes: Tebakan kalian kali ini bener gaes. gapapa, sesekali jadi sangat predictable.
__ADS_1