
Tanpa harus dipaksa pun Laura mengakui sendiri bahwa dia memang menurunkan kekuatan sihirnya saat memperbesar tubuh Chujelaking. Rador yang ingin selalu memenangkan pertarungan jelas sangat marah dengan tindakan Laura ini. Bisa-bisanya dia membuat rekannya sendiri terbunuh.
“Luca Kasha… kau…”
Rador masih dapat menahan amarahnya. Seandainya saja Luca bukan puteri dari kakaknya, mungkin sudah tak ada lagi Luca Kasha maupun Laura di dunia ini.
Untuk menenangkan diri, Rador mengambil napas dalam-dalam.
“Apa maksudmu Chujelaking lebih membuat kita rugi?” tanya Rador kemudian.
Fyuuh…
Tidak jadi diamuk, Laura bersyukur dalam hati. Lalu, jawabnya, “Paman, telur finiks itu tidak boleh diganggu. Bahkan dipegang juga gak boleh. BE-RA-CUN!
Makanya Super Rangers tidak mau dekat-dekat. Tapi, Chujelaking, Gondazel, bahkan Dabakiras malah mengamuk di wilayahnya. Bagaimana kalau dia tidak mau dengan kita nanti?”
“Kita bisa membunuhnya.” Rador menanggapi.
__ADS_1
“Ckckckc. Paman, Thunder Phoenix tidak bisa mati. Dia akan jadi telur lagi, lalu respawn. Jadi, lebih baik kalau dia dibawa ke pihak kita saja.”
Rador mulai berpikir bahwa apa yang Laura katakan ada benarnya. Tapi, satu ada satu hal lagi yang mengganjal baginya.
“Telur finiks itu beracun? Dari mana kau tahu?” tanyanya.
Laura terdiam sejenak. Dari pertanyaan Rador itu, dia baru tahu bahwa tidak semua orang tahu tentang legenda finiks ini. Diingat-ingat lagi, di cerita aslinya pun pihak Radolard sangat sembrono dalam mencari lokasi Thunder Phoenix.
“Nnng… aku tahu… dari bukunya Gondazel. Iya! Bukunya Gondazel!” dusta Laura.
“Buku yang mana maksudmu?”
‘Ctak!’
Saklar mode tukang mengompori di kepala Laura telah menyala. Dengan penuh hati-hati dia mulai mengarang cerita.
“Gondazel itu kan sukaaa sekali belajar. Buku apapun dia baca. Nah, aku nemuin buku tentang sejarah-sejarah Kaminaria gitu pas main di ruang kerjanya. Ada tulisan lengkap tentang Thunder Beasts juga. Aku baca, deh. Terus… aku lihat ada tulisan bahwa buku itu diambil dari perpustakaan agung Planet Kaminaria yang saaangat rahasia.”
__ADS_1
Tentu saja tidak ada buku seperti itu di Kaminaria. Perpustakaan agung yang dimaksud juga tidak ada. Semua cerita tentang Thunder Beast hanya dituturkan melalui lisan secara turun temurun kepada orang-orang terpilih. Kalau ada pun, lebih mirip dongeng saja.
“Kayaknya, buku itu yang bantuin dia buat nangkep Thunder Fox. Emang Paman gak tahu? Padahal Paman itu kan atasannya. Kok gak menghargai banget?” Laura meluncurkan serangan pamungkasnya.
Karenanya, Rador menggeram. Seluruh wajahnya memerah dengan lekukan-lekukan dahi dan mulut yang begitu kentara.
“Gondazel!!!” bentaknya seraya berlari keluar dari ruangannya secepat kilat.
Betapa kagetnya Laura dengan kecepatan yang Rador miliki. Dia sampai jatuh terjungkal, karena hampir ditabrak oleh pamannya itu.
“Aduuuh…” rintih Laura sambil berusaha berdiri.
Pantatnya sangat sakit, karena jatuhnya cukup keras tadi. Tetapi, ini bukan masalah besar. Setidaknya Rador tak lagi curiga padanya seperti tadi. Malah sekarang dia mengalihkan amarahnya pada anak buah kesayangannya.
Melihat itu, Laura terkekeh lirih. Kata Laura dalam hati, “Salah siapa punya bawahan mulutnya ember, heh? Makanya, gak usah sok curiga. Bikin repot aja. Gue bales, lo!”
Rasanya Laura telah sangat menjiwai perannya sebagai antagonis. Dia begitu puas setelah melakukan hal jahat pada orang-orang jahat. Akan lebih baik lagi kalau setelah ini ada konflik internal di dalam Radolard. Setelah ini, tinggal bagaimana caranya dia pindah sepenuhnya ke pihak Super Rangers.
__ADS_1