
Terdapat beberapa hal yang Joanne pikirkan terkait Luca Kasha belakangan ini. Salah satunya adalah tentang bagaimana sikap wanita itu yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Dalam ingatan Joanne, Luca tidak pernah tertarik untuk turun ke medan perang. Dia masih centil seperti sebelumnya, tapi tidak pernah sekalipun Luca menggoda pria terlebih dari pihak musuh.
Menurut Joanne, ada kemungkinan ini hanya akal-akalan gadis itu saja. Bagaimanapun perubahan sikap Luca yang tiba-tiba terlalu mencurigakan. Entah apa yang terjadi jika dia dan anggotanya tertipu oleh Luca.
Sayangnya, Joanne menyadari bahwa Sean dan yang lain mulai terpengaruh. Dia tidak mengharapkan Brian yang agak naif, tapi sungguh tidak disangka orang yang seharusnya pandai menilai orang seperti Alicia dan Sean tidak terlalu peduli dengan kemunculan Luca di markas Super Rangers. Terlebih Sean, yang sangat dia percaya, justru membebaskan Luca dengan melepaskan barrier anti sihir di penjara mereka.
"Aku tidak akan lengah, meskipun yang lain telah tertipu oleh gadis gila itu." ikrar Joanne dalam hati.
Dilihatnya perempuan bercula satu yang sedari tadi tidak melunturkan senyumnya padanya. Bagaimana Joanne tidak sulit percaya, jika perempuan itu terlihat seperti main-main?
“Kalau aku jawab jujur, apa kau akan percaya?”
Joanne mendengus untuk menahan rasa kesalnya pada Luca. Dia belum bisa percaya pada Luca, tetapi daripada Luca berbuat hal-hal yang mengancam, pikirnya akan lebih baik jika dia mengawasi perempuan itu.
“Terserah kau saja. Aku akan membawamu ke tempat Sean dan yang lain.” ujar Joanne menjawab.
“Oh, jadi kamu udah percaya walaupun aku gak jelasin apa-apa?”
‘Dugh!’
Tidak bisa menahan kejengkelannya, Joanne memukul bagian atas kepala Laura. Tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat Laura mengaduh.
“Aku sedang menangkapmu dan akan mengurungmu lagi.”
Entah bagaimana ceritanya, Joanne yakin bahwa Luca telah salah sangka. Perempuan itu berkata, “Ih… gak usah gini, aku juga udah masuk ke kurungan cintamu.”
Kali ini Joanne semakin serius. Dia todongkan kembali Thunder Sword di leher Luca sehingga membuat Luca menutup mulutnya yang selalu berkicau sembarangan.
“Diam, kalau tidak ingin mati di tanganku.” ancam Joanne.
__ADS_1
Laura yang sekarang sebenarnya jauh lebih kuat daripada Joanne, tetapi dia tetap menganggukkan kepalanya. Tidak baik menurutnya jika membuat Joanne marah lebih dari ini. Yang ada, rencananya untuk pindah kubu akan gagal.
Setelah Luca setuju untuk diam, Joanne pun menarik pedangnya lagi dan menaruhnya ke dalam sarung pedang yang dia cantolkan di pinggang. Kemudian, diambilnya borgol yang selalu dia bawa saat bertugas sebagai polisi dan dia pasangkan di tangan Luca di salah satu sisinya dan di tangannya sendiri pada sisi yang lain. Borgol itu sudah dilengkapi dengan teknologi anti sihir dari Kaminaria yang diinstal oleh Sean. Dengan begini, Luca tidak akan bisa kabur darinya.
Sayangnya, Joanne tidak tahu betapa senangnya Laura dengan situasi ini. Rasanya jantung Laura akan meledak saat tangan Joanne menyentuh tangannya. Ingin rasanya Laura berteriak sekencang-kencangnya, memberitahukan pada dunia betapa bahagiannya dia saat ini. Namun, kesadarannya masih kuat saat ini, sehingga dia sanggup untuk menahan keinginannya. Terlebih, Joanne bisa saja akan menganggapnya sebagai orang gila jika melakukannya. Well, Joanne memang sudah menganggap Laura gila.
.
.
.
Perjalanan menuju persembunyian Super Rangers rupanya cukup rumit. Mereka ternyata berada di puncak salah satu bukit tertinggi yang berada di area Gunung Lacos. Di sana telah terpasang berbagai alat untuk mengecek sesuatu dari jarak jauh, seperti teleskop bahkan monitor yang tersambung dengan drone kamera dari berbagai tempat. Ada pula seperangkat alat penyadap di sana.
Laura dengan perasaan senang menengok ke berbagai arah untuk mencari orang-orang yang dikenalnya. Kemudian, saat menemukan mereka, Laura malah disambut dengan ekspresi tapak muka (facepalm) dan dengusan kesal dari mereka.
“Apa, sih? Gitu amat mukanya!” hardik Laura pada Sean dan Thunder Fox.
“Aku out! Menyerah!” ujar Sean sambil mengangkat kedua tangannya dan pergi ke dalam tenda.
“Aku juga. Sedari tadi aku lelah melihat ke layar monitor. Biarkan aku menyatu dengan alam.” Alicia ikut pergi dari sana menuju ke bawah bukit.
“Kebetulan aku akan ada rapat bisnis. Kuserahkan semua di sini pada kalian. Sampai jumpa!” ujar Brian yang kemudian pergi menuju helicopter yang sedari tadi terparkir di sekitar sana.
Dan tinggallah Laura dan Joanne di sana dengan tangan yang saling terborgol. Tidak dipungkiri Laura sangat senang dengan situasi ini. Tapi, dia juga menderita karena tidak bisa mengungkapkannya.
.
.
__ADS_1
.
Suasana tegang begitu terasa di kapal luar angkasa milik Radolard. Satu hal, karena Thunder Phoenix yang tak kunjung ditemukan dan hal lainnya, karena salah satu panglima perang mereka pulang dengan kondisi terluka parah. Sialnya bagi Gondazel adalah tidak adanya Luca Kasha yang bisa menyembuhkannya dengan cepat. Alhasil, dia harus bersabar dengan pengobatan dari dokter yang berada di pesawat mereka.
Selain kurang cepat, rasa sakit yang Gondazel rasakan juga begitu hebat karena obat-obatan yang dokter berikan.
“Di saat seperti ini penyihir itu malah tidak ada di kapal. Sebenarnya ke mana dia?” gumam Gondazel geram.
Pengobatan untuk Gondazel telah selesai. Dengan sisa kekuatan dalam tubuhnya yang penuh perbab, dia berusaha untuk bangun.
“Tuan! Sebaiknya jangan…”
Gondazel mencegat ucapan dokter itu.
“Diamlah, kalau tidak mau kupulangkan ke Radolard!” ancam Gondazel.
Dengan terpaksa dokter alien itu membiarkan Gondazel untuk pergi. Alien berwujud kucing itu tertatih-tatih menuju ruangan pengawas satelit dibantu oleh dua orang piripiri di kiri dan kanannya. Sebelumnya dia sudah meminta petugas pengawas satelit untuk memberitahukannya bila ada tanda-tanda tentang Thunder Phoenix yang tertangkap satelitnya.
“Apa kalian menemukan sesuatu?” tanya Gondazel pada petugas yang ada di sana.
Petugas berkepala kucing hitam itu menggelengkan kepalanya dan berkata, “Kami tidak menemukan apa-apa terkait. Tetapi…”
Sambil menunjuk ke sebuah monitor dia lanjut menjelaskan, “Kami menemukan keberadaan Super Rangers. Saya yakin kita akan mendapatkan klu jika terus mengawasi mereka.”
Gondazel yang ikut memperhatikan monitor itu menanggapi, “Rupanya di sana kalian…”
Teringat betapa lelahnya dia mencari persembunyian Super Rangers saat berada di hutan. Sesuai prediksinya, mereka menggunakan entah alat apa untuk mengecoh lokasi. Dan nampaknya sekarang mereka telah lengah.
“Huh? Tunggu! Bisa kau perbesar gambarnya?” perintah Gondazel tiba-tiba saat melihat sesuatu yang tidak wajar di sana.
__ADS_1
Menuruti perintah Gondazel, petugas pun melaksanakan perintah itu. Meskipun tidak terlalu jelas, sekarang Gondazel bisa melihat keadaan di sana dengan lebih baik termasuk satu entitas yang seharusnya tidak ada di sana.
“Penyihir itu kenapa ada di sana?”