
Sepeninggal Eyang putri yang sudah kembali ke rumah utama..Aisyah lalu masuk ke dalam kamar yang diikuti oleh Bram dibelakangnya
"Besok kamu mau diajak Eyang kemana sih Syaah?" tanya Bram sambil duduk di sofa
"Besok Eyang mau ngajak Aisyah ke Tawang Mangu mas.." jawab Aisyah sambil mengambil jaketnya dari dalam kopernya
"Memangnya disana ada apa sih mas?" tanya Aisyah sambil menghampiri Bram dan duduk disebelahnya
"Kayaknya kamu mau diajak Eyang ke pabrik batiknya deh..soalnya Eyang punya pabrik batik disana.." jawab Bram sambil meminum kopinya
"Hwooh..Eyang punya pabrik batik mas?" takjub Aisyah
"He'eh" jawab Bram singkat
"Tadi kamu ngapain aja pas di pendopo depan tadi?" tanya Bram
"Aisyah kayak dikenalin sama saudara-saudara Eyang putri mas"
"Dikenalin?..dikenalin bagaimana?" tanya Bram heran
"Aisyah nggak ngerti mas..soalnya MC nya ngomongnya pake bahasa Jawa..kalau kata tante Titik..pake bahasa Jawa Kromo Inggil..memangnya Kromo Inggil itu apaan sih mas?"
"Bahasa Jawa halus..soalnya orang Jawa kalau ngomong ke orang-orang tua atau yang dihormatin..biasanya pake bahasa Jawa halus..beda kalau ngomong sama teman-teman sebaya"
"Sama kayak bahasa Sunda ya mas..ada yang halus sama yang kasar"
Bram menganggukan kepalanya
"Kalau artinya Nduk apa mas?..soalnya Eyang sering manggil Aisyah Nduk.." tanya Aisyah
Bram tersenyum geli
"Nduk itu kepanjangan Genduk..panggilan kesayangan buat anak perempuan..kenapa memangnya?"
"Enggak...Aisyah pengen tahu ajah.."
"Eyang jarang loh Syaah manggil cucunya genduk..malahan nggak pernah..berarti kamu udah jadi cucu kesayangan Eyang nih.."
"Memang iya mas.." ujar Aisyah sambil tersenyum
Bram heran dengan jawaban Aisyah barusan
"Kok kamu ngomong gitu?" tanya Bram
"Mas nggak tahu yaah?"
Bram menggelengkan kepalanya
"Aisyah tadi dikasih warisan sama Eyang.."
"Warisan?...warisan apa maksud kamu Syaah?" tanya Bram heran
"Aisyah dikasih warisan koleksi kain batik Eyang..sama koleksi perhiasan Eyang" ucap Aisyah sambil memakai jaketnya
Bram terperanjat kaget
"Haaaah??..yang bener kamu Syaah?"
"Iya mas...Aisyah nggak bohong!"
Pertanyaan besar makin bertumpuk dipikiran Bram..akan jati diri Aisyah di keluarganya...setelah mendengar Aisyah mendapat warisan dari Eyang putri..yang notabene..Aisyah bukan bagian dari keluarga besar Eyang putri
Bram memandangi Aisyah dengan tatapan penuh selidik
"Mas..mas kenapa?" tanya Aisyah
"Mas curiga sama kamu nih?"
"Curiga apaan?" tanya Aisyah sambil meminum kopinya
"Kamu kayak nyimpen rahasia sama mas nih.."
"Mas mah bawaanya curigaaaa mulu sama Aisyah..Aisyah nggak nyimpen rahasia apa-apa mas.."
Aisyah lalu bangkit menuju ke ranjangnya
"Kamu dah mau tidur?" tanya Bram pada Aisyah yang sudah merebahkan badannya diatas ranjang
"Iya mas..Aisyah ngantuk" jawab Aisyah sambil menarik selimutnya
Bram lalu menyalakan rokoknya
"Mas nanti tidur dimana?" tanya Aisyah yang memiringkan badannya menghadap Bram
"Tidur di kamar depan.." jawab Bram sambil menghisap rokoknya
"Laaah..nanti Aisyah sama siapa disini?" tanya Aisyah sambil bangun dari tidurnya
Bram hanya diam dan tersenyum geli
Aisyah lalu turun dan menghampiri Bram yang masih duduk disofa
"Aisyah ikut mas dah..Aisyah takut sendirian disini mas.." pinta Aisyah
"Hahahaha..lagian kamu ada-ada ajah..udah tahu kamu minta ditemenin sama mas..masih pake nanya mas tidur dimana?..ya sudah pasti mas tidur disini laah.." kata Bram sambil memencet hidung Aisyah
Aisyah cemberut yang merasa di ledek oleh Bram..dia lalu kembali naik ke ranjang
"Aisyah jangan ditinggal ya mas.." pinta Aisyah sambil menarik selimutnya
"Iya nyonyaaaah..." jawab Bram sambil menjentikan abu rokoknya diasbak
Tak lama kemudian hujan turun lagi..tapi tidak selebat tadi
Bram lalu beranjak menuju ke kamar mandi..tak lama kemudian Bram kembali dengan badan yang mengigil karena terkena air
Bram yang merasa dingin lalu mengambil jaketnya dari dalam tasnya
"Tumben nih..kok dingin banget yaah?" tanya Bram
"Mas juga kedinginan?..kirain Aisyah doang.."
Bram melihat Aisyah seperti mengigil kedinginan di balik selimutnya
"AC nya matiin ya Syaah.." kata Bram sambil memakai jaketnya
"Udah Aisyah matiin dari tadi mas..brrrrr" ujar Aisyah yang mengigil kedinginan
Bram lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya di samping Aisyah
"Sini..peluk mas.." pinta Bram sambil membuka tangannya
Aisyah lalu menggeser tubuhnya ke pelukan Bram
"Dingin banget maaaassss.." kata Aisyah yang giginya bergemeretak menahan dingin sambil memeluk Bram
Bram lalu merapatkan pelukannya dan menarik selimut untuk menutupi dirinya dan Aisyah
Bram merasakan badan Aisyah yang menggigil..dia lalu mengusap-usap punggung Aisyah untuk menghangatkan tubuhnya
Bram heran..nggak biasanya suhu di rumah Eyangnya sampai turun drastis seperti ini
"Kamu masih kedinginan nggak?" tanya Bram
"Udah mendingan mas..nggak kayak tadi" jawab Aisyah sambil merapatkan pelukannya
Bram pandangi wajah Aisyah yang berada di dadanya
"Kamu kok sekarang beda ya Syaah.." ujar Bram sambil tersenyum
"Beda gimana mas?" tanya Aisyah heran
"Beda..sekarang kalau mas peluk..kamunya diem ajah nggak nolak" ujar Bram sambil tersenyum
"Selama mas nggak keterusan ajah" kata Aisyah sambil menekuk mukanya
Bram tertawa geli
"Mas.." panggil Aisyah
"Hmmm" jawab Bram sambil memandang Aisyah
"Nanti kalau sudah di Jakarta..mas ngomong ke ibu yaaah.." pinta Aisyah
"Ngomong apa?"
"Ngomong ke ibu...kalau kita sudah pacaran"
Bram terdiam sesaat
"Mas.." kata Aisyah sambil menggoyangkan badan Bram
"Mas nanti ngomong yaah..Aisyah nggak enak sama ibu..kayaknya Aisyah bohong sama ibu dan bapak.."
"Iya..nanti mas ngomong.."
"Janji yaah.." pinta Aisyah
"Iya..mas janji..tapi mas minta upah dong.."
"Upah apaan mas?"
"Upah buat mas yang udah nemenin kamu kesini..sama nganterin kamu ke Dago kemaren"
"Iih..mas mah nggak mau rugi banget siih.." ketus Aisyah
"Iya dong..nanti mas nggak jadi ngomong ke mamah nih.." kata Bram sambil tersenyum
"Mas minta berapa?" tanya Bram
"Mas nggak minta duit.."
"Laah..terus..mas minta upahnya apaan?" tanya Aisyah
Bram lalu meletakan jarinya di bibir Aisyah
__ADS_1
"Mas mintanya cium ini.."
"Nggak mau!!" ucap Aisyah sambil menyembunyikan wajahnya ke dada Bram
"Ya udah kalau gitu..mas nggak mau ngomong sama mamah" ancam Bram sambil melepaskan pelukannya dan merebahkan badannya disamping Aisyah sambil menatap langit-langit kamar
"Mas curaaaangg!!" kesal Aisyah sambil memukul dada Bram
"Lho kok curang?..mas kan cuman minta cium bibir kamu ajah" kata Bram sambil melihat ke Aisyah yang ada diatas dadanya
Sejenak Aisyah bimbang dengan permintaan Bram
"Sekali ajah yaaah.." ucap Aisyah
"Iyaaa..sekali ini ajah.."
Aisyah lalu mulai memejamkan matanya..Bram yang melihat Aisyah sepertinya memperbolehkan dia mencium bibirnya..langsung memeluk kembali Aisyah hingga dia berada di atas badan Aisyah
Bram lalu secara perlahan memajukan mukanya untuk mencium bibir Aisyah
"Tapi nanti mas jangan keterusan yaah!!" ucap Aisyah tiba-tiba sambil menatap tajam Bram yang sudah dekat sekali dengan wajahnya
"Iyaa..percaya deh sama mas Syaah.." ucap Bram sambil tersenyum
Aisyah kembali memejamkan matanya
Bram kembali memajukan mukanya untuk mencium bibir Aisyah
Aisyah tersentak kaget..begitu bibirnya beradu dengan bibir Bram..perasaan aneh langsung memasuki hatinya..perasaan yang baru pertama kali dia rasakan..hingga secara tidak sadar matanya terbuka dan menatap mata Bram yang tengah mencium bibirnya
Tanpa disadari oleh Aisyah..dia membalas ciuman Bram dengan membuka sedikit bibirnya
Bram terkejut dengan respon yang diberikan Aisyah dibibirnya..Aisyah membalas ciumannya dan dia merasakan tangan Aisyah mengusap-usap punggungnya secara lembut
Kemudian..bibir keduanya terpisah..Bram merasakan dengusan nafas Aisyah di mulutnya
Matanya memandang mata Aisyah yang sayu
"Masss..." ujar Aisyah lirih
"Ya Syaaah.." balas Bram
Lama mata mereka saling beradu pandang..hanya suara nafas mereka saja yang terdengar
"Mas..jadi orang pertama..yang mencium..bibir Aisyah" kata Aisyah dengan bibirnya yang bergetar
Bram tersenyum sambil membelai pipi Aisyah..dan jarinya berhenti di bibir Aisyah yang masih bergetar
"Terima kasih yaah Syaah..karena udah ngijinin mas untuk nyium bibir kamu" ujar Bram lirih
"Aa..Aisyah..sayang mas" ujar Aisyah sambil memeluk Bram
"Mas juga sayang sama kamu Syaah" ucap Bram sambil membalas pelukan Aisyah
"Dah yuuk..kita tidur..besok kan kamu mau jalan sama Eyang.." kata Bram setelah melepas pelukannya
Bram berusaha meredam hawa nafsunya yang sudah mulai merasuki dirinya
Bram lalu merebahkan badannya dan Aisyah langsung menaiki dada Bram dan memeluknya dengan erat
"Met bobo ya masss.." ucap Aisyah sambil memejamkan matanya
"Ya sayaaaang...met bobo juga..mimpi yang indah yaaah" bisik Bram sambil mengecup lembut kepala Aisyah yang tertutup oleh pasminanya
Aisyah yang merebahkan kepalanya didada Bram..merasakan detak jantung Bram berdetak dengan kencang dan nafas yang tidak beraturan
"Mas..mas kenapa?" tanya Aisyah sambil menatap Bram
"Suara detak jantung mas kenceng bener..sampai Aisyah bisa ngerasain"
Bram tersenyum
"Daah..nggak apa-apa..kamunya merem yaah...udah malem nih.." pinta Bram
Aisyah hanya tersenyum dan merebahkan kepalanya lagi di dada Bram
Aisyah tidak tahu..kalau Bram sekarang ini sedang berseteru dengan hawa nafsunya
Dia berusaha menekan ***** birahi yang sempat memasuki dirinya ketika dia mencium bibir Aisyah..ditambah lagi didadanya sekarang ada seorang wanita cantik tertidur manis memeluk dirinya..yang dia pikir..Aisyah pasti tidak menolak kalau diajak ke fase selanjutnya
Hujan diluar masih turun dengan intensnya..menambah suasana syahdu di peraduan malam ini
Lalu Bram merapatkan selimutnya untuk menutupi badannya dan badan Aisyah guna mengusir udara dingin di lingkungan rumah Eyangnya yang terletak di kaki gunung Merapi
Tapi..Bram yang sudah berusaha memejamkan matanya..tapi entah kenapa..matanya sulit sekali dipejamkan
Perasaannya masih berkutat tentang ciumannya dengan Aisyah barusan
Walaupun dia sering berciuman dengan wanita..tapi ciuman dia dengan Aisyah barusan meninggalkan kesan yang mendalam bagi Bram
Dia pandangi Aisyah yang sepertinya sudah terlelap di dadanya
"Ya Alloh..kuatkan iman hambaMu ini"
"Kamu akan mas jaga Syaah..mas sudah janji sama mamah dan tante Rini" ujar Bram lirih sambil mengusap rambut Aisyah yang tertutup pasminanya
Dengan hati-hati..Bram menaruh kepala Aisyah di bahunya dan dia tarik selimutnya agar dirinya dan Aisyah merasakan hangat
"Hmmmm...masss.." gumam Aisyah lirih sambil merapatkan pelukannya
_________________
Keesokan paginya..tampak Tarmi berjalan ke arah paviliun menenteng nampan berisi sarapan nasi goreng dan 2 gelas kopi
Setelah menaruh nampannya di meja ruang tamu..Tarmi lalu beranjak ke depan pintu kamar
"Mbaak..mbak Aisyah sudah bangun belum?..Tarmi bawain sarapan nih" panggil Tarmi sambil mengetuk pintu kamar
"Yaa mbaaak..sebentar" jawab Aisyah
Tak lama kemudian..pintu kamar terbuka dan munculah Aisyah yang sudah rapi
"Monggo mbak..sarapan dulu..nanti keburu dingin nasi gorengnya" kata Tarmi
"Waah..terima kasih loh mbak..ngerepotin nih.." kata Aisyah sambil duduk di kursi yang ada nasi goreng di hadapannya
"Den Bram mana mbak?...belum bangun?" tanya Tarmi
"Sudah..lagi make baju"
Tak lama..munculah Bram dari dalam kamar
"Ada apa nanyain saya mbak?" tanya Bram sambil tersenyum
"Eeh..mboten den..monggo didahar sego goreng'e..sela adem (Enggak den..silahkan dimakan nasi gorengnya..keburu dingin)" ujar Tarmi sambil tetsenyum
Bram lalu duduk di seberang meja Aisyah
"Looh..buat mbak Tarmi mana?..mosok cuma 2 piring saja?" tanya Aisyah
"Sudah mbak..tadi saya sudah sarapan duluan..bareng sama yang lainnya" jawab Tarmi sambil menuangkan air putih ke gelas Bram dan Aisyah
"Oooh..iya mbak..tadi Ndoro putri pesen..nanti jam 8..mbak ditunggu sama Ndoro putri di teras depan ya mbak" kata Tarmi
"Oh..iya..terima kasih mbak.." ucap Aisyah sambil menyuap nasi gorengnya
Setelah itu..Tarmi lalu masuk ke dalam kamar untuk memberesi kamar yang ditempati oleh Bram dan Aisyah
"Baju kotor mbak di taruh dimana?" tanya Tarmi dari dalam kamar
"Eeh..kenapa memangnya mbak?" jawab Aisyah
"Mau saya cuci sekalian.."
Aisyah memandang Bram..Bram yang tengah menyuap nasi gorengnya menganggukan kepalanya
"Di dalam ransel hitam mbak..kalo yang biru punyanya mas Bram"
Tarmi keluar dari dalam kamar sambil membawa pakaian kotor kepunyaan Bram dan Aisyah
"Saya cuci dulu ya mbak.." kata Tarmi sambil keluar dari paviliun
Setelah selesai dengan sarapannya..keduanya lalu beranjak ke teras paviliun sambil menenteng gelas berisikan kopi hitam
Aisyah melihat pagi itu..banyak orang yang berangkat aktivitas ke ladang
Orang-orang yang lewat di samping pagar paviliun rata-rata pada menunduk hormat pada Aisyah yang melihat mereka pada melintas hendak ke ladang
"Pareng deeen.." sapa salah seorang bapak-bapak yang memikul pacul di pundaknya
Aisyah membalasnya dengan anggukan kepalanya dan senyumannya..karena dia tidak tahu harus membalasnya dengan kata apa
"Mas.." panggil Aisyah pada Bram yang tengah asik menghisap rokoknya
"Hmmm.." jawab Bram
"Kalo pareng tuh artinya apa sih mas?"
"Pareng tuh artinya mari..sama kayak monggo..cuman kalo pareng bahasa Jawa halus"
"Ooh..kalau di Sunda mangga.." ujar Aisyah sambil meminum kopinya
"Pada dasarnya bahasa Sunda sama bahasa Jawa nggak beda jauh sih Syaah..cuman kalo Sunda kebanyakan pake huruf A..kalau di bahasa Jawa diganti pake O" kata Bram sambil menghampiri Aisyah untuk melihat-lihat suasana di luar pagar rumah Eyangnya
Bram lalu melirik ke Aisyah yang juga melihat suasana di luar pagar
"Syaah.." panggil Bram sambil memegang tangan Aisyah yang sedang memegang pagar teras paviliun
"Ya mas.." jawab Aisyah sambil menoleh kearah Bram
"Soal yang semalam..terima kasih yaak..udah ngasih kepercayaan buat mas.." ujar Bram
"Iya mas.." kata Aisyah sambil tersenyum manis
"Kalau mas denger dari cerita kamu semalem..yang kamu dikasih warisan sama Eyang putri..berarti kamu orang yang sangat beruntung Syaah..soalnya barang-barang koleksi kepunyaan Eyang itu nggak ternilai harganya lho..apalagi kain batiknya..ada kain batik kepunyaan Eyang pernah ditawar sama seorang kolektor sampai 150 juta.." kata Bram sambil duduk bersandar di pagar teras paviliun
__ADS_1
"Haaah?..yang bener mas?" heran Aisyah
"Iyaa..tapi sama Eyang nggak dikasih..soalnya Eyang bilang bakal jadi warisan untuk cucunya.." ujar Bram
"Ooh..gitu ya mas?..Aisyah juga heran..kenapa Eyang putri sampai ikhlas menyerahkan semua koleksinya ke Aisyah..padahal Aisyah kan bukan cucunya Eyang putri" ucap Aisyah sambil meminum kopinya dan memandang pemandangan persawahan yang ada di luar pagar paviliun
Lamunan Aisyah terputus oleh suara dering handphonenya yang dia taruh di meja ruang tamu..Aisyah lalu segera mengambilnya
"Ibu nelpon mas..assalamuallaikum bu..sudah bu..ni lagi ngopi sama Aisyah..sudah..baru selesai sarapan..semalem?..hmmm"
Bram heran melihat Aisyah yang tersenyum sambil melirik kearahnya ketika menelpon mamahnya
"Mas..ibu mau ngomong.." ucap Aisyah sambil menyerahkan handphonenya ke Bram
"Halo mah?...semalem..eeh..semalem Bram tidur diii...di kamar depan maah.." bohong Bram
Bram melihat Aisyah menahan tawanya saat Bram berbohong dengan mamahnya
"Beneeer maah...Bram nggak bohong!" ucap Bram sambil mencolek pundak Aisyah..Aisyah hanya mengangkat pundaknya sambil tersenyum
"Iya maaaah...iyaa...hari ini Bram nggak kemana-mana..kalau Aisyah katanya mau diajak sama Eyang putri ke Tawang Mangu..iya mah..waalaikumsallam"
"Kamu tadi ngomong apa sama mamah Syaah?" tanya Bram sambil menyerahkan kembali handphone Aisyah
"Nggak..Aisyah nggak ngomong apa-apa..kan tadi mas denger sendiri..Aisyah ngomong apa sama ibu.." ledek Aisyah sambil menjulurkan lidahnya
"Coba kalau ada Ningrum..mas akan nyuruh dia untuk baca pikiran kamu" ketus Bram
"Masku ada apa?" tanya Ningrum yang tiba-tiba terdengar di telinganya
"Naaah...kamu dimana Ningrum?" tanya Bram
Aisyah kaget begitu Bram menanyakan keberadaan Ningrum..dan dia langsung mencium aroma bunga melati..pertanda kemunculan Ningrum
Tak lama..Ningrum muncul di hadapan mereka
"Ada apa masku?" tanya Ningrum
"Kamu bisa tolongin gua nggak?" tanya Bram
"Nolongin apaan masku?" tanya Ningrum lagi
"Coba kamu baca pikiran Aisyah..kayaknya dia nyimpen rahasia sama gua" kata Bram sambil menujuk ke arah Aisyah
"Jangan mau Ningrum..kamu jangan turutin permintaan mas Bram" kata Aisyah sambil menggoyangkan telapak tangannya ke arah Ningrum
Ningrum yang tidak mengerti duduk permasalahannya..hanya bingung
"Berarti bener kan?..kamu nyimpen rahasia sama mas.." kata Bram sambil berusaha meraih tangan Aisyah..tapi Aisyah dengan cepat berkelit sambil berlari keluar dari paviliun
"Nggak kenaaaa!!...weeeek!!" ledek Aisyah sambil menjulurkan lidahnya
"Aisyah tinggal dulu ya mas..daaaaa" pamit Aisyah sambil berlari ke arah teras depan
Bram hanya menghela nafasnya melihat Aisyah berlari ke depan
"Ini dimana masku?" tanya Ningrum
"Di rumah Eyang gua Ningrum.."
Ningrum mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman belakang rumah Eyang
Tiba-tiba..Ningrum terlihat menunduk hormat ke arah rumah utama Eyang
Bram heran melihat tingkah Ningrum
"Ada apa Ningrum?" tanya Bram heran
"Ada Eyang Panembahan Sinuwun di dalam rumah Eyang masku..beliau tanya ke Ningrum..ada keperluan apa Ningrum sampai datang kemari..Ningrum jawab Ningrum ikut sama masku" jawab Ningrum
"Eyang Panembahan Sinuwun?..siapa itu Ningrum?" tanya Bram
Ningrum tidak menjawab pertanyaan Bram..dia melihat ke arah rumah Eyang Kakung..seperti sedang berkomunikasi dengan seseorang yang kasat mata
"Beliau mengijinkan Ningrum ikut masku.." kata Ningrum sambil tersenyum
"Kamu tadi belum jawab pertanyaan gua.."
"Oooh..maaf masku..Eyang Panembahan Sinuwun itu salah satu jin aliran putih yang sangat sakti masku..beliau dulu pernah menjadi penasihat di kerajaan Mataram..sekarang beliau bersemayam di dalam salah satu pusaka kepunyaan Eyang masku.." terang Ningrum
Bram hanya melongo mendengar penjelasan Ningrum
"Masku..Ningrum tinggal sebentar yaah..Ningrum di panggil sama Eyang Panembahan untuk menghadap beliau.." ucap Ningrum sambil melayang menuju ke rumah utama Eyang
Bram yang ditinggal sendiri oleh Ningrum dan Aisyah di paviliun..melanjutkan merokoknya di bangku teras paviliun sambil menikmati segarnya udara pagi di pedesaan
Hingga lamunannya terputus oleh panggilan seorang pria yang sudah berdiri di depan paviliun
"Den..den Bram di parengi Ndoro Bei..(Den..den Bram dipanggil Ndoro Bei)" ucapanya pada Bram
Bram lalu mengikuti pria itu yang menuju ke rumah utama
Didepan Bram melihat Eyang putri siap-siap untuk pergi sama Aisyah
Tak lama kemudian...mobil Toyota Alphard putih kepunyaan Eyang putri sudah meninggalkan carport rumah Eyang menuju ke Tawang Mangu yang diiringi lambaian tangan Aisyah ke arah dirinya
Bram melihat Eyang kakungnya sedang berdiri di teras samping sambil menghisap cangklongnya
Bram lalu menghampiri Eyang kakungnya
"Eyang manggil Bram?" tanyanya
"Iyo ngger..lungguh'o Bram...(Iya ngger..duduk Bram)" pinta Eyang kakung
Bram lalu duduk di bale yang ada dihadapannya..Eyang kakung lalu duduk dihadapan Bram
"Tooo!!..gawak no kopi loro yoo! (Tooo!!..buatin kopi dua yaa!)" pinta Eyang
"Injjih Ndoro.." jawab seseorang dari arah dapur yang letaknya di samping rumah Eyang
Eyang kakung menghisap cangklongnya dan memandang ke arah Bram..Bram bingung melihat sikap Eyang kakungnya
"Ada apaan sih Eyang?" tanya Bram
Eyang kakung tidak menjawab pertanyaan Bram..dia hanya tersenyum
"Sejak kapan kamu diikutin sama sesosok jin ngger?" tanya Eyang kakung
Bram kaget karena Eyangnya tahu keberadaan Ningrum yang mengikuti dirinya
"Kok Eyang tahu?" tanya Bram
Eyang hanya tersenyum
"Eyang Panembahan yang memberitahu Eyang..kalau kamu diikutin oleh sesosok jin perempuan.."
"Belum lama Eyang..kira-kira 2 minggu yang lalu..dia minta ikut sama Bram waktu Bram ke Dago..kenapa Eyang?..Eyang nggak suka?" tanya Bram lagi
"Eyang nggak ada masalah dengan itu..malahan Eyang dari dulu pengen ngasih kamu itu jin pendamping buat jagain kamu..tapi sama papahmu nggak diijinin kalau kamu didampingi oleh sesosok jin.." terang Eyang kakung
Bram hanya termangu mendengar perkataan Eyangnya barusan
"Tapi karena kamu sudah ada yang mendampingi..ya sudah...Eyang urungkan niat Eyang untuk memberikan jin pendamping buat kamu..dan lagi pula..sepertinya jin yang mengikuti kamu ini termasuk golongan jin kuat ngger.." kata Eyang sambil menghisap cangklongnya
Tak lama..dari samping teras..muncul seorang pria yang membawa nampan berisi 2 gelas kopi dan semangkuk kue
"Monggo Ndoro.." katanya setelah menaruh kopi dan kue di atas bale dan segera berlalu kembali ke arah dapur
"Eyang lihat..dia termasuk golongan jin aliran putih ngger..coba kamu panggil dia.."
Bram lalu memanggil Ningrum di dalam hatinya
Tak lama munculah Ningrum dihadapan Bram dan Eyang kakung
"Masku..Eyang" sapa hormat Ningrum pada Eyang kakung
"Kamu sudah ketemu dengan Eyang Panembahan?" tanya Eyang pada Ningrum
"Sudah Eyang..beliau mengijinkan Ningrum untuk ikut dengan masku.." jawab Ningrum
Bram baru tahu..kalau Eyang kakungnya juga bisa melihat sosok astral..seperti golongan Ningrum
"Eyang Panembahan juga meminta Ningrum untuk tinggal sementara dulu disini..buat dilatih ilmu kanuragan sama Eyang Panembahan.." ujar Ningrum
"Ooh..bagus kalau begitu.." kata Eyang
Ningrum menganggukan kepalanya
"Eyang mau tanya sama kamu Ningrum..kamu kenapa sampai mau ikut dengan cucuku ini?" tanya Eyang
Ningrum terhenyak dengan pertanyaan Eyang barusan
"Ningrum suka sama masku Eyang..karena masku mempunyai aura yang istimewa" jawab Ningrum
"Selain itu?" tanya Eyang lagi
Ningrum kaget dengan pertanyaan Eyang yang membuat Ningrum bingung untuk menjawabnya
"Ayoo..nggak apa-apa Ningrum..Eyang nggak marah kalau kamu jawab dengan jujur"
"Hmmm...masku mengingatkan Ningrum akan mendiang suami Ningrum Eyang..masku mirip dengan sosok mendiang suami Ningrum.." jawab Ningrum
Bram terperanjat kaget dengan jawaban Ningrum
"Jadinya..kamu menculik dia waktu kecil dulu?" tanya Eyang
"Iya Eyang..maafin Ningrum.." ujar Ningrum sambil menundukan kepalanya dan mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya
Eyang kakung menganggukan kepalanya
"Ya sudah..tidak apa-apa..Eyang titip cucu Eyang sama kamu yaah..jagain dia baik-baik.." pinta Eyang sambil menghisap cangklongnya
"Iya Eyang..terima kasih sudah mempercayai Ningrum" kata Ningrum sambil tersenyum
Bram takjub dengan Eyang kakungnya..sepertinya Ningrum dibuat segan dihadapan Eyang kakungnya
__ADS_1