
Siang itu..Bram mengendarai mobil Kijang Innova putih kepunyaan Eyangnya untuk menemui pak Sutomo di Restoran Cindelaras..kepunyaan Eyangnya
"Halo pak.." jawab Bram disambungan teleponnya
"Iya pak..Cindelaras..saya sudah reservasi mejanya pak..iya pak..atas nama saya..kira-kira 5 menit lagi saya sampai..baik pak..bapak kalau mau pesan dulu..pesan saja pak..iya pak..siang"
Bram lalu menaruh handphonenya di jok sebelahnya..didepan tampak tugu Monjali..berarti tak lama lagi dirinya akan tiba di restoran Cindelaras
Setelah sampai..Bram langsung masuk kedalam restoran dan disambut oleh seorang wanita pegawai restoran..seperti manager restoran kepunyaan Eyangnya
"Mas Bram yaah?" tanyanya
"Iya mbak..mbak Giatmi?" tanya Bram balik
"Iya mas..silahkan..tamunya mas sudah datang..mari saya antarkan.."
Bram lalu mengikuti mbak Giatmi menuju ke meja pesanannya
Di meja..tampak pak Sutomo sudah menunggu kedatangannya
"Silahkan mas.."
"Iya mbak..terima kasih"
Bram lalu menghampiri pak Sutomo
"Selamat siang pak.." sapa Bram
"Siang pak Bram.." jawab pak Sutomo sambil menjabat tangan Bram
"Silahkan pak.." ujar Bram sambil duduk di kursi
Lalu pak Sutomo duduk di kursi yang berada dihadapan Bram
"Pak Bram ke Jogja dalam rangka apa?..liburan?" tanya pak Sutomo
"Iya pak..kerumah Eyang saya"
"Oooh..Eyang pak Bram asli Jogja?"
"Iya pak.." jawab Bram sambil tersenyum
"Orang tua dua-duanya..juga asli Jogja?" tanya pak Sutomo lagi
"Nggak pak..hanya ayah saya yang dari Jogja..kalau ibu saya dari Bandung.." jawab Bram sambil tersenyum
Tak lama kemudian seorang pegawai menghampiri meja sambil membawa menu dan menyerahkan kepada Bram dan pak Sutomo
"Ayo pak..silahkan pesan" kata Bram sambil melihat menu
Setelah mencatatkan pesanannya..pegawai itu segera beranjak dari meja Bram
"Bapak ke Jogja sendiri?" tanya Bram
"Nggak..sama keluarga..kebetulan istri saya sama anak saya lagi belanja dulu di Malioboro..nanti mereka nyusul kemari" ujar pak Sutomo
"Ooh..begitu pak.." ucap Bram
"Pak Bram..begini..maksud saya datang kesini..kemarin saya dapat info dari anak buah saya..kalau pak Bram menyediakan matting board yaah?..kebetulan kami sedang membutuhkan untuk projeck di Cepu" kata pak Sutomo membuka obrolan
"Iya pak..merknya Durabest"
"Ada berapa unit?"
"Kami saat ini ada kira-kira 5.000 unit matting board pak..dan kami simpan di yard kami yang berada di Cikande.." jelas Bram
"Kami bisa melihat barangnya?"
"Bisa pak..kapan bapak ada waktu..saya antarkan bapak kesana"
Tak lama pesanan makanan tiba
"Silahkan pak.." ajak Bram
Lalu Bram dan pak Sutomo menyantap hidangan yang tersedia di meja
Tak lama kemudian..masuklah dua orang wanita kedalam restoran..dan menuju ke arah meja yang ditempati oleh Bram dan pak Sutomo
"Paaah..." panggil seorang wanita dari belakang Bram
"Aaah..pak Bram..itu mereka sudah datang..istri sama putri saya.." kata pak Sutomo sambil melihat ke arah belakang Bram
Terperanjat kagetlah Bram..begitu putri dari pak Sutomo tiba di mejanya
"Widyaaaa??" kaget Bram sambil melihat ke arah Widya
"Halo Braaaam..kaget yaah?" sapa Widya sambil tersenyum dan duduk disebelah Bram
"Kalian sudah kenal?" tanya pak Sutomo
"Sudah paah..ini teman Widya yang kemaren Widya ceritain ke papah" jawab Widya sambil tersenyum senang
Bram jadi salah tingkah..karena Widya memeluk lengannya di depan kedua orangtuanya
Pak Sutomo pun tertawa setelah mendengar penjelasan Widya
"Kok bisa kebetulan gini ya pak..nggak tahunya pak Bram sudah kenal sama putri saya"
"Iya pak.." ucap Bram yang merasa canggung didepan orangtua Widya
"Jangan gangguin orang lagi makan dong Wid..nggak sopan kamu tuh" kata mamahnya Widya yang melihat Widya melendot di lengan Bram
"Nggak apa-apa maah..Bram juga seneng kalau di giniin..ya kan Bram?" tanya Widya sambil menoleh kearah Bram
Mamahnya Widya hanya tersenyum melihat kelakuan Widya
"Maafin Widya ya pak..memang anaknya kolokan gitu" ujar mamahnya Widya
"Ii..iiya bu.." jawab Bram canggung
"Paah..nanti malam Widya mau jalan sama Bram boleh yaaah?"
"Mau kemana kamu?" tanya pak Sutomo sambil menyendok makanannya
"Widya mau jalan-jalan ke Malioboro..Widya bosen paah..dirumah mbah nggak ada yang menarik.." kata Widya yang masih saja memeluk lengan Bram
"Pak Bram..saya mohon maaf loh sebelumnya..putri saya memang begitu sifatnya.." ucap pak Sutomo sambil tersenyum
"Ii..iya pak..nggak apa-apa.."
"Papah..Bram masih muda begini kok di panggil bapak siih?..nggak pantes paah.."
"Papah harus manggil apa?"
"Mas..kalau nggak dek..ya kan Bram?" ucap Widya sambil menoleh kearah Bram
Bram hanya tersenyum hambar kearah pak Sutomo
"Oke pak Bram.."
"Papaaaah!!..lupa yaaah?" potong Widya
"Oh iya..papah lupa" kata pak Sutomo sambil terkekeh
"Oke dek Bram..kapan dek Bram mau mengajukan proposal matting board tersebut ke kantor?" tanya pak Sutomo
"Mungkin senin pak..saya di sini sampai hari sabtu.."
"Baiklah..kalau bisa secepatnya yaah.."
"Baik pak.."
Bram lalu berdiri
"Sebentar ya pak..bu..saya mau bicara sebentar dengan Widya..ayuk Wid.." ajak Bram
Bram lalu menggandeng tangan Widya untuk menjauh dari meja
Setelah agak jauh dan tidak terlihat oleh orang tua Widya
"Maksud lu apaan sih Wid?" tanya Bram seraya melepaskan tangan Widya
"Maksud apaan sih Bram?..gua nggak ngerti.." jawab Widya bingung
"Lu jangan mentang-mentang gua ada urusan sama bokap lu..lu nya manfaatin banget urusan gua yaaah.." sewot Bram
"Tenang ajah Braam..urusan lu ama bokap gua..gua nggak bakalan ikut campur..kan gua dah dari bilang kemaren..temenin gua ke Malioboro..nggak susah kan?" ujar Widya sambil tersenyum
Bram menahan geramnya setelah mendengar jawaban Widya..dia membalikan badannya sambil mengatur nafasnya yang mulai memburu
Widya lalu memeluk perut Bram dari belakang..Bram yang kaget mendapat pelukan dari Widya..langsung melepaskan pelukan Widya dan membalikan badannya
"Lu apa-apan sih Wid!..nanti kalau dilihat sama orang gimana?" kesal Bram
"Nggak apa-apa..palingan orang ngira..kita pacaran..hihihi" jawab Widya
"Eeeh nih bocah..asal lu tahu ya Wid..kemaren pas lu meluk gua ajah..nyokap gua marah sama gua.."
"Sekarang kan nggak ada nyokap lu Bram.."
Bram hanya menahan geramnya melihat tingkah Widya kepada dirinya
Hingga mbak Giatmi tampak menghampiri tempat Bram dan Widya
"Mas Bram?..maaf..Eyang putri mau bicara" kata mbak Giatmi sambil memberikan handphonenya
Setelah menerima handphone dari tangan mbak Giatmi..Bram beranjak meninggalkan mbak Giatmi dan Widya
"Mbak kenal sama Bram?" tanya Widya pada mbak Giatmi
"Kenal mbak..mas Bram cucunya bu Padmi..pemilik restoran ini" terang mbak Giatmi
"Oooh...gitu.." kata Widya sambil memperhatikan Bram yang tengah menelpon dengan tersenyum
Setelah selesai..Bram kembali menghampiri mbak Giatmi
"Nih mbak.." kata Bram sambil memberikan kembali handphone mbak Giatmi
"Iya mas..saya tinggal dulu ya mas..mbak.." pamit mbak Giatmi
"Eh Bram..siang ini lu ada acara nggak?"
"Ada..gua mau jalan sama Aisyah ke Tawang mangu.." jawab Bram sekenanya
"Gua ikut yaah?"
"Lu ngapain siih?..ganggu privaci orang ajah.."
"Gua bete nih Bram..gua ikut yaah.."
"Aaaarrggghhh!!" kesal Bram sambil mengepalkan kedua tangannya
"Gua musti ngomong apa lagi ke elu Wid?..gua mau jalan sama cewek gua..lu harusnya tahu diri doong!!" ujar Bram yang mulai tampak marah
"Okeeh..siang ini lu jalan sama cewek lu..tapi nanti malam..lu jalan sama gua!!"
"Kagak bisa!!..lu emangnya siapa pake ngatur-ngatur gua??" kata Bram yang sudah mulai terpancing emosinya
"Heei...tenang Bram..child out..jangan emosi gitu dong lu.."
"Elu nya nggak bisa dibilangin siih..gua kasih tahu ke elu ya Wid..tolong jangan ganggu gua..gua udah punya tunangan..please..tolong hargain gua"
"Gua tahu kok Bram..kalau elu dah punya tunangan..gua rela kok jadi yang kedua buat elu.." kata Widya sambil tersenyum
"Jangankan tunangan Bram..lu dah punya istri pun..gua tetep rela jadi yang kedua buat lu" sambung Widya
"God dam***!!!" umpat Bram sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya
"Dah ah..kita balik lagi ke meja..bokap gua dah kelamaan nungguin kita" kata Widya sambil menggandeng tangan Bram untuk menuju ke meja kembali
Bram berusaha mengatur emosinya..dia tidak mau pak Sutomo tahu masalah dia dengan Widya
"Dek Bram..saya pamit duluan yaah..saya ada urusan dulu" pamit pak Sutomo begitu Bram tiba di meja
"Ooh..iya pak..kok buru-buru sih pak?"
"Iya nih..soalnya mamahnya mau minta dianterin ke tempat adeknya..senin saya tunggu di kantor yaah.." ucap pak Sutomo sambil menjabat tangan Bram..Bram juga menjabat tangan bu Sutomo
"Nanti malam lu gua jemput ya Bram.." kata Widya
Bram heran pada Widya yang akan menjemputnya nanti malam..dia hanya diam mendengar perkataan Widya barusan
Lalu Bram mengantar pak Sutomo dan keluarga menuju ke tempat parkir restoran Cindelaras
__ADS_1
"Mari dek Bram.." pamit pak Sutomo setelah didalam mobilnya
"Mari pak.." jawab Bram
"Daaaah Braaam.." pamit Widya sambil melambaikan tangannya
Bram mau tak mau membalas lambaian tangan Widya
Setelah mobil pak Sutomo melaju di jalan raya..Bram masuk kembali ke dalam restoran..guna membayar biaya makan siangnya
"Berapa semuanya mbak?" tanya Bram
"Maaf pak..kata bu Giatmi..nggak usah bayar.." jawab petugas kasir
"Iya mas..tadi Eyang putri pesannya begitu sama mbak.." ucap mbak Giatmi yang muncul dari dalam kantor
"Ooh..begitu..terima kasih ya mbak..saya pamit dulu.."
"Iya mas..hati-hati"
Tak lama kemudian mobil Bram sudah meluncur menuju rumah Eyang kakungnya
Selagi dia menyetir..Bram melihat handphone menerima panggilan telpon..dia lihat nomor Widya
"Mau ngapa lagi nih bocah.." ujar Bram sambil mengambil handphonenya
"Halo!!" sapa Bram ketus
"Ada apa sih?..terserah elu..emangnya lu tahu rumah Eyang gua?..haaah?..jangan ngarang lu.."
Wajah Bram tampak kesal
"Ya udah..terserah elu Wid...bye!" kesal Bram
Bram lalu menaruh handphonenya di jok kiri
Dia menoleh..karena ada pesan WA masuk..ternyata Widya mengirim pesan gambar..Bram terperanjat kaget..karena Widya mengirim foto gapura depan rumah Eyangnya
"Itu kan rumah Eyang lu Bram?"
"Gua juga punya foto lu sama cewek lu lagi disawah.."
Widya mengirim foto Bram bersama Aisyah yang tengah mencari belut disawah kemarin
"Anjriiiit.." umpat Bram dalam hati
Bram menghentikan mobilnya di pinggir..untuk menjawab WA dari Widya
"Mau lu apa sih Wid?" kirim Bram
"Gak ada..gua cuma pengen lu nemenin gua ke Malioboro doang ntar malam..nggak lebih..simple kan?" balas Widya
Bram lalu menjalankan mobilnya kembali..dia lihat Widya mengirim pesannya lagi
"Sampai nanti malam ya Bram..jam 8 gua jemput lu.."
Setelah melempar handphone ke jok samping..Bram meneruskan perjalanannya
Bram menghadapi dilema..Widya terus menerus merongrong dirinya..kalau dia bermain keras ke Widya..dia takut berefek samping ke projeck dia dengan papahnya Widya..pak Sutomo..walaupun tadi Widya sempat bilang..dia nggak akan ikut campur urusan Bram dengan papahnya
________________
Tak berapa lama..sampailah dia dirumah Eyangnya
Setelah memarkir mobilnya..Bram menuju ke teras samping..dia lalu duduk dan termenung sambil melihat kolam ikan yang ada didepannya
Eyang kakung yang sedang memberi makan ikan di kolam..merasa heran..melihat Bram yang datang tiba-tiba langsung duduk termenung di kursi
Eyang kakung lalu menghampiri Bram
"Kowe ono opo ngger? (Kamu ada apa ngger?)" tanya Eyang kakung sambil menaruh bakul pelet ikan di tempatnya
"Nggak apa-apa Kung.." jawab Bram tanpa menoleh ke arah Eyang kakungnya
Eyang kakung tersenyum mendengar jawaban Bram..lalu dia duduk disamping Bram
"Eyang tahu..kalau cucu Eyang lagi ada masalah.." ucap Eyang kakung sambil membelai kepala Bram
"Kung..Ningrum masih lama nggak sih sama Eyang Panembahan?" tanya Bram
"Kenapa memangnya?"
"Nggak..Bram lagi ada perlu sama Ningrum.."
"Ada perlu apa?"
Bram lalu menceritakan pertemuan dia dengan pak Sutomo..termasuk masalah dia dengan Widya
"Soalnya..kemaren Widya pernah pengen melet Bram Kung..untung aja ditolong sama Ningrum" jelas Bram
Eyang kakung hanya terdiam setelah mendengar cerita Bram..Eyang kakung lalu memejamkan matanya
Tak lama Eyang kakung membuka matanya
"Kata Eyang Panembahan..Ningrum sudah selesai dengan latihannya ngger..kamu bisa manggil dia sekarang" kata Eyang kakung
Bram pun tersenyum sumringah..Bram lalu memanggil Ningrum lewat batinnya
Tak lama kemudian Ningrum muncul dihadapan Bram
"Masku..Eyang.." angguk hormat Ningrum pada Eyang kakung
"Bagaimana latihanya Ningrum?" tanya Eyang kakung
"Sudah selesai Eyang..Ningrum diberi selendang emas ini dari Eyang Panembahan.." jawab Ningrum seraya memperlihatkan selendang emasnya yang tengah melingkar dipinggangnya
Lalu Ningrum mengalihkan pandangannya ke arah Bram
"Masku ada perlu apa?" tanya Ningrum sambil tersenyum
Bram lalu menceritakan permasalahannya ke Ningrum..masalah Widya yang terus merongrong dirinya
"Teman masku yang kemaren itu kan?..yang berusaha ngasih pengasihan ke masku?" tanya Ningrum
Bram menganggukan kepalanya
"Kamu nanti malam ikut cucuku ya Ningrum..Eyang kuatir..kalau Widya sampai gelap mata terhadap cucuku" pinta Eyang kakung
"Bram sebetulnya malas Kung nemenin dia ke Malioboro.."
Eyang kakung hanya tersenyum mendengar perkataan Bram barusan
"Aisyah belum pulang Kung?" tanya Bram
"Belum..kata Eyang Ti..mau mampir sekalian ke Magelang..nengokin butik baru punyanya bulikmu" jawab Eyang kakung
Dari gapura depan..tampak mobil Nissan Serena putih memasuki halaman rumah Eyang kakung
"Papahmu wis teko ke ngger.." kata Eyang kakung
Dari pintu belakang..keluar pak Agung bersama Dini
"Lho..ada mbak Dini tooh?" kata Bram
Lalu dia berdiri menghampiri papahnya
"Halo Bram.." sapa Dini sambil mengampiri Bram dan memeluknya
"Halo juga mbak..mbak kesini juga?" jawab Bram sambil membalas pelukan Dini
"Iya..bapak yang nyuruh mbak ke kesini..tadi pagi mbak datengnya.."
Lalu mereka bertiga menuju ke dalam rumah utama
"Aisyah mana Bram?" tanya Dini begitu duduk di kursi
"Aisyah lagi jalan sama mamah dan Eyang putri mbak..eh..mbak mau minum apa nih?"
"Aah..jangan repot-repot Bram..tadi mbak sudah minum sama bapak"
"Itu kan tadi..kopi yaah?" ujar Bram
"Ya sudah kalau gitu.."
"Papah mau kopi juga?" tanya Bram pada papahnya
"Iya Bram" kata pak Agung yang terlihat memeriksa dokument yang ada ditangannya
Bram lalu beranjak menuju ke dapur..Bram melihat Ningrum masih mengobrol dengan Eyang kakungnya..mungkin kalau orang biasa melihatnya..Eyang kakung seperti berbicara sendiri
_________________
Di meja makan..tampak Bram,pak Agung,Eyang kakung dan Dini sedang makan malam
"Nanti mbak tidur dimana?" tanya Bram
"Di Novotel Bram.." jawab Dini sambil menyuap makanannya
"Nggak disini aja Din?..kamar depan masih kosong tuh kayaknya" tawar pak Agung
"Nggak pak..nggak usah repot-repot.." jawab Dini yang sungkan terhadap tawaran pak Agung
"Kamu belum check in kan?" tanya pak Agung
"Belum pak.."
"Ya sudah kamu tidur disini ajah..kalau nggak kamu tidur berdua sama Aisyah di paviliun kalau kamu takut..biar Bram tukeran sama kamu..tidur dikamar depan" kata pak Agung
"Iya pak" jawab Dini
Dini pun tersenyum ke arah Bram yang duduk disampingnya
"Kamu di paviliun tidur sekamar ya Bram..sama Aisyah?" bisik Dini di telinga Bram
Bram sontak merona merah mukanya yang mendengar pertanyaan Dini
"Aaaaaaahh..asal kamu jangan khilaf yaah?.." goda Dini
"Iiih..mbak apaan siiih?" kilah Bram
"Apaaa?..jangan-jangan kamu udah khilaf?" goda Dini sambil menyenggol pundak Bram dengan pundaknya
Pak Agung dan Eyang kakung tertawa melihat Bram yang digoda sama Dini
Bram berusaha menyembunyikan mukanya yang merah merona
Setelah selesai makan malam..mereka meneruskan cengkramanya di pendopo depan ditemani oleh kopi dan jadah goreng
Dini tampak menggotong kopernya dari dalam mobil
"Ayuk mbak..saya anterin ke paviliun" ujar Bram
"Saya naruh tas dulu ya pak" pamit Dini pada pak Agung
Pak Agung menganggukan kepalanya
"Sini mbak..Bram bawain kopernya" tawar Bram
"Nggak usah Bram..enteng gini kok" jawab Dini
Bram lalu merogoh kantongnya..untuk mengambil handphonenya
"Halo..assalamuallaikum..kamu dimana Syaah?..eh..nanti malam kamu tidurnya sama mbak Dini yaah?..iyaa..mbak Dini..ada disini sekarang...mbak..Aisyah mau ngomong.." kata Bram sambil memberikan handphonenya ke Dini
"Halo Syaah..nanti malam mbak tidur sama kamu yaah?..okeeeh..nggak usah Syaah..nggak usah repot-repot..barusan mbak makan malam sama Bram dan bapak..aahh..kamu mah..ya sudah..terserah kamu Syaah..yaa..masih mau ngomong sama Bram lagi?..ooh..yaaa..waalaikumsallam.."
Dini lalu mengembalikan handphonenya kepada Bram
"Rumah Eyang gede juga ya Bram..halamannya luas begini" ujar Dini yang mengikuti Bram sambil melihat ke sekitarnya
"Iya mbak..paling gede di sini..eh..mbak ada acara apa siih?..kok sampai disuruh papah datang kemari?" tanya Bram
"Bapak mau teleconferens nanti malam Bram..sama orang dari Houston" jawab Dini
Tak lama kemudian sampailah mereka di depan paviliun
Dini terkesima dengan rupa paviliun yang antik
"Antik bener ya Bram paviliun punya Eyang.." kagum Dini
"Ayo mbak..kita masuk" ajak Bram sambil membuka pintu paviliun
Lalu Bram membuka pintu kamar paviliun
__ADS_1
"Ooh..disini Bram..kamu tidurnya?" ucap Dini sambil menaruh kopernya dan melihat sekeliling kamar
"Iya mbak"
"Berdua?..sama Aisyah?" tanya Dini sambil tersenyum
"Aah..mbak..jadi malu saya" kata Bram sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
"Saya nggak ngapa-ngapain kok mbak..cuma nemenin Aisyah tidur doang..dia kan orangnya penakut" kilah Bram
"Hahaha..nggak apa-apa Bram..mbak paham kok..kamu sudah gede ini kan?" goda Dini sambil tersenyum
Setelah menaruh kopernya..Dini lalu kembali menuju ke pendopo depan bersama Bram
"Mbak memangnya tahu status Aisyah?" tanya Bram
"Tahu dong Bram..bapak kan yang ngasih tahu ke mbak..kalau Aisyah itu calon istri kamu"
"Mbak tahunya dari kapan?"
"Dari pertama kali Aisyah audit di kantor.."
"Berarti yang kemarin waktu Bram main kesana..mbak udah tahu?"
"Udah dooong.." jawab Dini sambil tersenyum
"Pantesan mbak bilang begitu ke Bram"
"Mangkanya..kamu tuh beruntung banget Bram..bisa dapetin Aisyah..udah cakep..pinter..solehkah lagi" kata Dini
"Dikantor..banyak lho Bram yang godain Aisyah..sampai pak Gatot..projeck manager di Balikpapan..kesengsem sama Aisyah..hampir tiap hari dia ngajakin Aisyah keluar makan..tapi setelah mbak kasih tahu siapa itu Aisyah..dia langsung mundur teratur Bram" kata Dini sambil tersenyum
"Yang tahu status Aisyah selain mbak siapa ajah?" tanya Bram
"Hanya level Manager dan Direksi Bram..kecuali pak Gatot..dia kan stay di Balikpapan..jadinya nggak tahu..pas dia ke Jakarta..pas kebetulan Aisyah lagi audit dikantor" jawab Dini
"Bram lihat si Ryo juga seneng sama Aisyah ya mbak?"
"Iya..mbak pengen bilangin si Ryo..keburu ketemu kamu dikantor.."
Bram melihat Dini tersenyum geli sendiri
"Kenapa mbak?" tanya Bram heran
"Kamunya juga iseng sih Bram..coba waktu itu kamu langsung ngomong ke Ryo..kalau kamu itu anaknya bapak.."
Bram hanya tersenyum menjawab pertanyaan Dini
"Bram paling males mbak..ngeladenin orang kayak Ryo..ngomong-ngomong.. si Ryo nasibnya gimana tuh mbak?..setelah ketahuan maenin dana tender?" tanya Bram
"Dipecat secara tidak terhormat Bram..pantesan..mbak lihat tuh anak kayaknya lagi royal banget.." jawab Dini
"Royal gimana mbak?" tanya Bram
"Dia beli I Phone baru..sama suka neraktir anak-anak di kantor" jawab Dini
Tak lama..sampailah mereka di pendopo depan..mereka berdua segera bergabung dengan pak Agung dan Eyang kakung yang tengah menikmati hiburan karawitan yang diadakan di tengah-tengah pendopo
Ditengah acara karawitan itu..masuklah sebuah mobil Honda Jazz hitam ke halaman rumah Eyang dan langsung parkir di carport
Semua yang ada di pendopo..mengalihkan pandanganya ke arah mobil itu..dan tak lama kemudian..keluarlah seorang wanita sambil tersenyum manis ke arah pendopo
"Malam Braaam.." sapa Widya
Bram antara takjub dan heran atas kenekatan Widya yang menjemput dia sampai ke halaman rumah Eyangnya
"Siapa Bram?" tanya pak Agung
"Teman Bram paah.." jawab Bram sambil menghampiri Widya
Pak Agung melihat Bram berbicara agak gusar kepada Widya..Widya tampak memandang kearah pak Agung..lalu Widya menghampiri pak Agung yang dari tadi memperhatikan dirinya
"Maleeeem oomm..kenalin saya Widya om..temannya Bram" sapa Widya sambil memperkenalkan dirinya ke pak Agung
"Maleem.." jawab pak Agung sambil memperhatikan Widya
"Ini pasti Eyangnya Bram yaah..kenalkan Eyang..saya Widya"
Eyang kakung menyambut uluran tangan Widya
"Kalo mbak siapa?" tanya Widya pada Dini
"Saya Dini..sekretarisnya bapak.." jawab Dini heran melihat Widya yang sepertinya urat malunya sudah putus
"Om..saya mau ngajak Bram jalan-jalan ke Malioboro malam ini..boleh yaaah?" tanya Widya sambil tersenyum
Bram yang merasa canggung..segera menyeret Widya untuk keluar dari pendopo
"Lu tuh nggak punya malu ya Wid?..maen nyelonong ajah kerumah orang.." kesal Bram
"Laah?..gua kan udah ngenalin diri Bram..ke bokap lu..emangnya salah?"
"Yaaa..tapi caranya nggak gitu juga keleuss!!..ada tata kramanya..lu kan orang Jawa..mosok nggak tahu tata krama kalau namu ke rumah orang?" kata Bram
"Udaaah aaah..ayo kita jalan..lu yang bawa mobil ya Bram.." kata Widya sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah Bram..Bram yang kaget..langsung menangkap kunci mobil Widya
Widya lalu masuk ke dalam mobilnya
Bram hanya bisa menghela nafasnya..menahan sabar melihat kelakuan Widya
"Sebentar..gua pamit dulu sama bokap gua.." ucap Bram sambil meninggalkan Widya
Widya lalu melongok dari dalam mobil kearah pendopo..melihat Bram pamit dengan papahnya dan Eyang kakungnya
Bram lalu menghampiri mobil Widya
"Masku..ternyata teman masku mempunyai jin pendamping juga" kata Ningrum dibatin Bram
"Haaah??..yang bener Ningrum?" kaget Bram
Dia lalu berhenti dan mencari Ningrum yang belum menampakan wujudnya
"Iya masku..tapi jin itu tidak bisa masuk kemari..karena terhalang oleh pagar gaib buatan Eyang Panembahan masku.." jawab Ningrum
"Ooh..gitu..kamu ikut gua yaah..perasaan gua nggak enak nih..sama Widya" pinta Bram
"Baik masku..Ningrum nggak akan menampakan wujud Ningrum di hadapan dia masku..sepertinya mata batin dia sudah terbuka.."
"Oke..kalau itu mau kamu.."
Bram lalu masuk kedalam mobil Widya
"Kita mau kemana nih Wid?" tanya Bram begitu didalam mobil
"Terserah elu Bram..kan elu yang bawa mobil.." jawab Widya sambil memeluk lengan Bram
"Biasa aja dooong aaah!!..gua paling jengah kalau ada yang ngelendotin tangan gua" kata Bram sambil melepaskan tangan Widya yang memeluk lengannya
"Ya elaaah..gitu aja pake ngegas lu.." sahut Widya sambil tersenyum
Lalu Bram mulai menjalankan mobil Widya keluar dari dalam halaman rumah Eyangnya
Di jalan masuk halaman rumah Eyang..Bram berpapasan dengan Alpard putih kepunyaan Eyang putri yang masuk ke dalam halaman rumah
"Waaah..bakal rame nih.." batin Bram
____________________
Suasana Malioboro malam itu sangatlah ramai..mobil-mobil yang melintas tampak merayap di tengah kemacetan di jalan Malioboro
Bram dan Widya tampak berjalan beriringan..Widya memeluk lengan Bram sambil tersenyum senang
Bram yang dipeluk lengannya oleh Widya..hanya bisa pasrah dan menahan sabar
"Mau makan apaan lu Wid?"
"Kita nyobain gudeg yuuk.."
Lalu Widya mengajak Bram ke salah satu gudeg lesehan yang banyak di pelataran jalan Malioboro
"Gudeg'e loro ya mbak..(Gudegnya dua ya mbak)" pesan Widya yang sudah duduk di tikar
"Iya mbak..sedelok yo..ki gudek'e komplit opo ora? (Iya mbak sebentar ya..ini gudeknya komplet apa nggak?)" tanya mbak penjual gudek
"Komplit mbak..ayuk Bram..duduk" ujar Widya
Bram lalu duduk dihadapan Widya
"Lu bisa ngomong Jawa Wid?" tanya Bram
"Bisalaah Braaam..ortu gua kan orang Jawa" jawab Widya
Setelah gudek dihidangkan di meja kecil di hadapan mereka..mereka langsung menyantapnya
Widya tampak menyantap makanannya sambil tersenyum memandang Bram yang seperti tidak ***** akan gudegnya..hanya menghisap rokoknya saja
"Lu kenapa sih Bram?..kayaknya lu nggak ***** makan.."
"Gua dah makan tadi dirumah..buruan makannya Wid..abis ini kita kemana lagi?" gusar Bram
"Lu mau kemana sih?..buru-buru amat..baru juga jam 9"
"Nyokap gua dari tadi nelponin mulu nih.."
"Ya elaaah..nanti kalau nyokap lu nelpon lagi biar gua yang ngomong daah"
"Enak aja luh..dah buruan makannya" gusar Bram
Widya lalu memegang tangan Bram yang ada diatas meja..Bram terperanjat..seperti terkena aliran listrik..Bram tiba-tiba melihat di belakang Widya ada sesosok laki-laki berpenampilan seperti pendekar jaman dulu..berpakaian hitam-hitam dan memakai ikat kepala hitam
"Lu tenang ajah ya Bram..dia nggak bakal ganggu elu..selama lu nurutin apa kata gua.." ancam Widya pada Bram yang sepertinya tahu ada sesosok jin yang berada di belakangnya
"Maksud lu apaan Wid?..pake ngancem gua?" sewot Bram sambil menarik tangannya
Laki-laki yang berada di belakang Widya berdiri dan maju ke arah Bram..tiba-tiba dia terpental dan menghantam pagar rolling door yang ada di belakang Widya dengan cukup keras
Widya terkejut..karena jin pendampingnya dibuat terpental oleh sesuatu yang tidak tampak olehnya
Bram juga kaget..karena sesosok jin laki-laki itu..tahu-tahu sudah terpental ke belakang saja
"Boleh juga pagar gaibmu anak muda..sehingga membuatku terpental ke belakang" ucap laki-laki itu sambil berdiri dan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya
Bram melihat sosok itu mencabut keris yang beraura hitam dari balik pinggangnya..Bram yang takut..beringsut ke belakang
"Masku tenang saja..dia nggak bakal bisa menyentuh masku" ucap Ningrum dibatin Bram
"Lu maunya maen kasar ya Bram?" kata Widya sambil tersenyum dingin
"Lu apa-apaan sih Wid?..mau lu apa?" tanya Bram
"Lu bakal jadi milik gua Bram..apa pun caranya..lu bakal jadi milik gua" ucap Widya sambil melotot ke arah Bram
"Ajak mereka ke belakang gedung ini masku..disini terlalu banyak orang yang melihat"
Bram segera bangkit dari duduknya dan beranjak ke belakang ruko yang emperannya dijadikan tempat jualan gudeg lesehan
"Kita ke belakang aja Wid.." ajak Bram
Setelah membayar gudegnya..Widya lalu mengikuti Bram yang sudah berjalan ke belakang ruko
Ternyata belakang ruko terdapat lapangan kecil yang dijadikan lahan parkir..yang kebetulan malam ini tidak begitu ramai mobil-mobil yang parkir
Widya melihat Bram sudah menunggunya di tengah-tengah lapangan
"Lu belom tahu gua ya Bram?" ucap Widya sambil tersenyum sinis kearah Bram
Bram hanya diam yang melihat Widya berdiri dihadapan dia..dan sesosok jin pendamping Widya berdiri di samping Widya
"Beri dia pelajaran Ki.." perintah Widya ke jin pendampingnya
Bram terkejut begitu melihat jin itu melesat ke arah dirinya sambil menghunuskan kerisnya
DUAAAR..
Lagi-lagi jin itu terpental ke belakang sebelum menyentuh Bram dan mendarat di tanah dengan cukup keras
Widya kembali terkejut melihat jin pendampingnya dengan mudah dibuat terpental kembali oleh Bram
"Kurang ajaaar!!..tunjukan wujudmu!!..hadapi aku kalau kau punya nyali.." ujar jin itu sembari bangun dan menahan sakit didadanya
Tiba-tiba..Ningrum menampakan wujudnya di samping Bram..dan membuat jin itu terkejut begitu melihat penampakan Ningrum
"De..Dewi Ayu Ningrum!!"
__ADS_1