
Disalah satu saung di dalam restoran Telaga Sampierun..keluarga Handoyo tengah menikmati makan malam yang bernuansakan masakan Sunda
Bram melihat sepertinya Aisyah sudah terlihat normal lagi..dia tengah berbicara dengan nenek Yati yang diselingi oleh tawa keduanya
Datanglah seorang pelayan membawakan pesanan kopi untuk mereka
"Yul..kamu tahu nggak?..nggak tahunya kakeknya Aisyah itu ternyata temannya bapak lhoo.." kata kakek Ndaru sambil menerima kopi dari bu Yuli
"Haaah?..yang bener pak?" tanya bu Yuli heran
Kakek Ndaru menganggukan kepalanya
"Iya teh?" tanya bu Yuli pada Aisyah
Aisyah menganggukan kepalanya
Lalu kakek Ndaru menceritakan semua mengenai kakek Nandar yang mempunyai kebun dan pabrik teh di Lembang..yang saat ini di jalankan oleh orang kepercayaan dari kakek Nandar..tapi semua hasil dari perkebunan dan pabrik teh tidak diberikan kepada ahli waris dari kakek Nandar..yaitu Aisyah
Pak Agung tampak kaget dan heran setelah mendengar penjelasan kakek Ndaru
"Pak Mahmud pernah cerita ke papah nggak?..mengenai kakek Nandar?" tanya bu Yuli
"Nggak pernah mah..pernah sekali dulu papah tanya soal kakek Nandar..dia selalu mengelak untuk menceritakannya..ayahmu pernah cerita ke kamu teh?..soal kakekmu?" tanya pak Agung kepada Aisyah
Aisyah menggelengkan kepalanya
"Ayah nggak pernah cerita pak..memangnya ada masalah apa ya pak?..antara ayah sama kakek?" tanya Aisyah
"Bapak kurang jelas teh..tapi..pernah dulu waktu kuliah..pas hari libur..ayahmu pulang ke Lembang..pas kembali ke kostsan dalam keadaan kesal dan marah..bapak tanya ada apa..ayahmu tidak mau bicara.." kata pak Agung sambil meminum kopinya
"Tapi..kayaknya dulu..bapak pernah ketemu sama kakekmu sekali deh teh..kalau nggak salah..kakekmu dulu pernah datang ke kostsan..tapi beliau bertengkar sama ayahmu..samar-samar yang bapak denger..mereka ribut soal hubungan ayahmu dengan ibumu teh.."
Aisyah terperanjat kaget..karena ibunya sampai terlibat dalam masalah ini
Dia memandang pak Agung..seperti tidak percaya apa yang dia dengar barusan
"Kamu bantu bapak ya Gung..bapak mau menuntut haknya Aisyah sama si Tatang.." pinta kakek Ndaru pada pak Agung
"Baik pak..bila nanti bapak butuh pengacara..bapak tinggal telpon saya..nanti biar saya suruh si Adith buat bantu bapak" kata pak Agung
"Baik..kamu tenang ajah ya teh..biar kakek yang urus semuanya.." ujar kakek Ndaru
"Iya kek..terima kasih.."
"Kakek merasa berdosa..kalau ahli waris dari si Nandar tidak sampai mendapatkan haknya"
Bram lalu menggenggam tangan Aisyah..Aisyah pun menoleh ke Bram dan tersenyum yang terkesan dipaksakan
Setelah selesai dengan makan malam..rombongan keluarga Handoyo keluar dari dalam restoran Telaga Sampierun
Dan tak lama kemudian dua mobil Mercedez meninggalkan area parkiran PIK menuju ke arah Pondok Indah
"Teh?..kata mamahmu..kamu itu anak tunggal yah?" tanya nenek Yati dari belakang tempat Aisyah duduk
"Iya nek.." jawab Aisyah sambil menengok ke belakang
"Sama kayak Bram yaah?" lanjut nenek Yati
Aisyah menganggukan kepalanya
"Kalau bisa..nanti kalau kalian sudah menikah..kalian punya anak jangan satu yaaah?..yang banyak.." pinta nenek Yati
Aisyah pun tertawa geli..begitu juga dengan Bram
"Jangan kayak kami yaah..nenek punya anak cuma dua..Eyang Padmi tiga..cucu nenek?..cuma dua teh..Bram sama Bima..jadi..kalau bisa kalian punya anak tiga atau empat yaah?" pinta nenek
"Iya nek..Insya Alloh" jawab Aisyah sambil tersenyum
"Nenek takut..kalau anak kalian hanya satu..dia nggak kuat menerima semua harta warisan dari kami teh.." kata nenek Yati
"Anak-anak jaman sekarang memang begitu nek..punya anak pada irit.." ujar kakek Ndaru
"Ayahmu juga anak tunggal kan teh?" tanya nenek Yati
"Iya nek.."
"Kalau ibumu?"
"Anak tunggal juga nek"
"Tuh kan..semuanya pada anak tunggal..nenek takut kalau kamu nanti punya anak hanya satu.."
"Insya Alloh nggak nek..doain Aisyah ya nek.." pinta Aisyah sambil menggenggam tangan nenek
Nenek Yati pun menganggukan kepalanya..kakek Ndaru pun tersenyum sambil memandang Aisyah
"Akan kuperjuangkan apa yang jadi hak cucumu Nandar..aku janji.." kata kakek Ndaru dalam hatinya
Sesampainya di rumah..Aisyah menuntun nenek menuju ke dalam rumah
"Nenek mau langsung istirahat?" tanya Aisyah
"Iya teh.." jawab nenek Yati
Lalu Aisyah menggandeng nenek Yati menuju kamar tamu yang ada di depan
"Selamat tidur ya nek.."
"Iya teh"
Setelah mencium tangan nenek Yati..Aisyah lalu menuju ke kamarnya..di teras samping dia melihat kakek Ndaru tengah menelpon seseorang..tapi dari raut muka kakek Ndaru..sepertinya kakek Ndaru tengah marah-marah dengan seseorang disambungan teleponnya
Aisyah lalu meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya
"Yaang?.." panggil Bram
Aisyah yang tengah di tangga menoleh ke arah Bram
"Ada apa mas?" tanya Aisyah
"Ikut mas ke tempat Joni yuuk?" ajak Bram
"Nggak ah mas..Aisyah mau tidur..ngantuk.." jawab Aisyah sambil melanjutkan langkahnya
Bram yang curiga dengan tingkah Aisyah..dia lalu menyusul ke atas
Dia lalu membuka pintu kamar Aisyah..dia lihat Aisyah tengah duduk di kursi balkon kamarnya..Bram lalu menghampirinya
"Kamu kenapa Yaang?" tanya Bram
"Nggak mas..Aisyah nggak kenapa-napa..Aisyah lagi mau sendiri dulu.." jawab Aisyah tanpa menoleh kearah Bram..dia pandangi halaman samping rumah dari atas balkon kamarnya
Bram pun menghela nafasnya..dia pikir..ini semua pasti gara-gara cerita papahnya yang mengenai pak Mahmud dan kakek Nandar
"Mas tinggal yaah?" ujar Bram sambil mengelus kepala Aisyah dengan lembut
Aisyah hanya diam..Bram lalu keluar dari kamar Aisyah..sebelum dia tutup pintu kamar Aisyah..dia pandangi Aisyah yang masih duduk termenung di kursi balkon..kemudian Bram dengan perlahan menutup pintu kamar Aisyah
Bram akhirnya memutuskan untuk tidak jadi pergi ke tempat Joni..dia masuk kedalam kamarnya
Begitu dia membuka pintu kamarnya..dia lihat Ningrum tengah berdiri di balkon memandang ke arah halaman..Bram lalu menuju ke lemarinya..untuk mengganti bajunya
"Masku.." panggil Ningrum dari balkon
"Iya Ningrum.." jawab Bram sambil memakai kaosnya
Ningrum lalu melayang menghampiri Bram
"Teteh kenapa masku?" tanya Ningrum sambil memandang kearah kamar Aisyah
"Heh?..kamu tahu?" tanya Bram sambil menutup pintu lemarinya
Ningrum menganggukan kepalanya
Bram lalu menceritakan awal mula Aisyah mengetahui kalau dirinya mempunyai warisan dari kakeknya hingga permasalahan antara ayahnya dan kakek Nandar
Ningrum memegang dagunya..seperti sedang berpikir mencari jalan keluar dari permasalahan Aisyah
"Kalau teteh mau..Ningrum bisa membantu teteh untuk menerawang ke masa lalu masku.."
"Haaah?..kamu bisa?" tanya Bram kaget
"Bisa masku.." jawab Ningrum
Setelah mendengar Ningrum bisa membantu Aisyah..Bram segera bergegas menuju kekamar Aisyah
"Yaaaang!!..sayaang...mas punya kabar bagus buat kamu.."
Aisyah kaget oleh Bram yang tahu-tahu berdiri didepannya
"Kabar apa mas?"
"Ningrum bisa nolong kamu buat menerawang masa lalu..kamu mau nggak?"
"Ningrum?..memangnya bisa mas?" tanya Aisyah
"Bisa teh.." jawab Ningrum yang tahu-tahu muncul di sebelahnya
"Iiiih..kamu bikin kaget aja Ningrum" kesal Aisyah
Ningrum hanya tersenyum geli
"Kamu kata mas Bram bisa menerawang?" tanya Aisyah
"Bisa teh..teteh mau kan?"
Aisyah menganggukan kepalanya
"Masku kalau mau..bisa ikut juga.." ujar Nigrum sambil melihat ke arah Bram
Bram menganggukan kepalanya
"Masku sama teteh duduk di kursi ini..pikiran teteh sama masku dibikin sesantai mungkin yaah?..jangan memikirkan yang lain..bikin kosong saja pikiran masku sama teteh.." pinta Ningrum
Bram dan Aisyah menganggukan kepalanya
"Kalau mikirin kamu?..boleh nggak?" tanya Bram sambil mengedipkan matanya ke Ningrum
NYUUUT..
"Aaaaaah.." teriak Bram..karena tahu-tahu pipinya ditarik oleh Ningrum yang kesal..Aisyah tersenyum geli melihat Bram kesakitan mengelus-elus pipinya
"Masku jangan kegenitan!!.." hardik Ningrum
"Sukuriiinn!!" ledek Aisyah
"Tangan kamu kok kalau nyubit enteng banget sih Ningrum..kayak Aisyah.." gerutu Bram sambil memegang pipinya
"Mau dilanjutin nggak masku??" kesal Ningrum sambil melotot
"Iyaa..iyaa.."
"Sebelumnya..Ningrum pesan sama teteh dan masku..apa yang masku sama teteh lihat nanti..itu hanya kilas balik apa yang sudah terjadi dimasa lalu..masku dan teteh tidak bisa menyentuh atau merubahnya..paham masku?..teteh?" tanya Ningrum
Bram dan Aisyah kembali menganggukan kepalanya
"Tarik nafas tiga kali..selanjutnya pejamkan mata yaah?"
Setelah melihat Bram dan Aisyah memejamkan matanya..Ningrum lalu menyentuh kedua kepala Bram dan Aisyah dengan tangannya
Mereka berdua merasa ringan..seringan kapas
"Masku sama teteh bisa buka matanya sekarang.."
Secara perlahan..mereka membuka matanya..mereka terkejut setelah mendapati mereka berada di sebuah rumah..seperti kost-kostan
__ADS_1
"Ini dimana Ningrum?" tanya Bram
Ningrum tidak menjawab..hanya menunjukan jarinya ke arah sebuah pintu kamar yang terbuka dan munculah seorang pemuda sepantaran dengan dirinya dari dalam kamar..Bram berkerut dahinya
"Itu siapa Ningrum?" tanya Bram
"A..ayaah?" ucap Aisyah yang melongo tak percaya..tiba-tiba muka Aisyah berubah menjadi tangis haru.
"AYAAAAH!!" panggil Aisyah sambil menangis dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya
Aisyah merasa tak percaya..kalau didepannya..berdiri ayahnya
Dia lalu berlari menyongsong ayahnya yang masih berpenampilan mahasiswa..tapi ketika Aisyah ingin memeluknya..dia hanya mendapatkan angin di dalam pelukannya..pemuda itu berlalu..seperti tidak mengetahui kalau Aisyah berusaha memeluknya. Tinggalah Aisyah yang melongo heran..karena dia tidak bisa memeluk ayahnya
"A..ayaah...kenapa?" tanya Aisyah sambil melihat ayahnya melangkah menuju ke tangga
Ningrum lalu menghampiri Aisyah
"Teteh..kan tadi sudah Ningrum bilang..teteh nggak bisa megang atau merubah semua yang ada di depan teteh..jadi teteh hanya bisa melihatnya saja"
Bran lalu memeluk pundak Aisyah berusaha untuk menenangkannya
"Sabar ya Yaang..kamu kesini pengen tahu masalah ayah kamu dengan kakek Nandar kan?" bujuk Bram
"Iya mas.." ujar Aisyah sambil mengelap air matanya yang mengalir di pipinya
Tiba-tiba..pak Mahmud kembali dengan tergesa-gesa..disusul dibelakangnya seorang bapak-bapak kisaran berumur 60 tahunan
"Mahmuuud!!..denger dulu omongan abah!!" panggilnya..ternyata beliau adalah kakek Nandar
Pak Mahmud berhenti dan menoleh ke abahnya
"Abah kalau masih memaksa saya untuk menikah dengan wanita itu..lebih baik abah pulang saja..saya masih tetap dengan keputusan saya!" kata pak Mahmud sedikit keras
"Apa yang kamu harapkan dari Entin Mahmud??..orangtuanya saja tidak jelas!!"
"ABAAAH!!..abah nggak pantas bicara seperti itu!!..Entin teh yatim piatu abah..jangan abah hina dirinya!!..kalau abah tidak suka dengan Entin..cukup saja abah tidak suka..jangan sekali-kali abah menghinanya!!" kesal pak Mahmud terhadap abahnya yang telah menghina kekasihnya
Aisyah terisak haru mendengar ayahnya membela ibunya..ternyata dia baru tahu..kalau ibunya dulu juga yatim piatu sewaktu masih gadis..sama seperti dirinya saat ini
"Kamu masih tetap keukeuh dengan keputusan kamu itu Mahmud?" tanya kakek Nandar
"Iya abah..kalau selama ini..saya selalu menuruti semua kemauan abah..tapi untuk saat ini..biarlah saya mengikuti kemauan kata hati saya abah..jadi biarlah saya memilih Entin untuk saya jadikan pendamping hidup saya.." jawab pak Mahmud
"Walau karena keputusanmu itu.. kamu abah hapus dari daftar ahli waris abah?" tanya kakek Nandar sambil menatap tajam ke arah pak Mahmud
Pak Mahmud terkejut dengan perkataan abahnya barusan
"Ka..kalau itu menjadi keputusan abah..baik..saya tetap memilih Entin abah..abah silahkan hapus nama saya dari daftar ahli waris abah.." kata pak Mahmud sambil berjalan menuju ke arah abah
"Permisi abah..saya mau kuliah..nanti saya terlambat" pinta pak Mahmud pada kakek Nandar yang menghalangi jalannya menuju tangga
Kakek Nandar lalu menyingkir ke samping..memberikan jalan untuk pak Mahmud lewat. Pak Mahmud lalu berjalan menuju ke tangga..tapi begitu tiba diujung anak tangga..dia berhenti
"Mulai saat ini..abah jangan temui saya lagi..karena mulai saat ini..saya bukan anak abah lagi.." ujar pak Mahmud yang tidak melihat ke arah abahnya
Setelah berkata pada abahnya..pak Mahmud menuruni tangga kost-kostan dengan airmata mengalir di pipinya
Aisyah mulai menangis melihat adegan didepan matanya..ternyata keputusan ayahnya memilih ibunya berbuntut dihapusnya nama ayahnya dari daftar ahli waris kakek Nandar
Tapi Aisyah melihat kakek Nandar menangis sesugukan sepeninggal pak Mahmud
"Ningrum bikin teteh sama masku bisa mendengar kata hati kakek Nandar.." kata Ningrum sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah kakek Nandar
"Ya Alloh..ya Gusti..apa yang sudah kuperbuat?.." batin kakek Nandar..tangis kakek Nandar pecah sambil menutup mukanya
Bram dan Aisyah saling pandang..karena bisa mendengar kata hati kakek Nandar
"Galuh..apa yang musti aku perbuat?..aku telah membuat kesalahan besar..anak kita marah..maafkan aku Galuh..karena kesombonganku..anak kita jadi meninggalkan aku..ya Allooooh!!" tangis kakek Nandar
"Seandainya kamu masih ada disini..kamu pasti punya jalan keluarnya Galuh.." isak kakek Nandar
Lalu dengan gontai kakek Nandar melangkahkan kakinya menuju ke tangga
"Paaaak!!" panggil seseorang dari arah dalam kamar kost
Spontan Aisyah dan Bram mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara..mata Bram melotot tak percaya..apa yang dia lihat didepannya
"Papaaaah??" ucap Bram tak percaya
"Ini papah Ningrum?" tanya Bram
Ningrum menganggukan kepalanya
Bram tertawa tak percaya..kalau dia bisa ketemu papahnya sewaktu masih menjadi mahasiswa
"Tunggu pak.." panggil pak Agung sambil menghampiri kakek Nandar
Kakek Nandar berhenti dan menoleh kearah pak Agung
"Bapak mau kemana?" tanya pak Agung
Kakek Nandar bingung sambil memperhatikan pak Agung
"Ooh..maaf pak..kenalin saya Agung..teman satu kostnya Mahmud" kata pak Agung sambil memperkenalkan dirinya
Kakek Nandar menyambut uluran tangan pak Agung
"Mari kita masuk dulu pak.." ajak pak Agung sambil mengajak kakek Nandar menuju ke kamarnya
Lalu kakek Nandar mengikuti pak Agung menuju ke kamar kostnya
"Mari masuk pak..maaf ya pak..agak berantakan..maklum..anak kostsan..hehehe" kata pak Agung sambil memberesi lantai kamar kostnya yang berantakan
Bram tersenyum malu melihat keadaan kamar kost papahnya
"Iiiih..mas jangan-jangan kayak gini yaak?..waktu kuliah diluar dulu?" tanya Aisyah
"Enak ajaaah!!..kamar mas mah selalu rapi.." elak Bram
Bram lalu mengeluarkan handphonenya dan memfoto suasana kamar kost papahnya
Kakek nandar tidak menjawab tawaran pak Agung..mata dia terpaku oleh foto yang terpampang di dinding yang berada di atas ranjang tempat pak Mahmud biasa tidur..foto dirinya dan istrinya yang tengah memangku pak Mahmud kecil
Pak Agung lalu berdiri dan mengambil air mineral dan dia taruh di meja belajar
"Kalian tinggal sekamar?" tanya kakek Nandar
"Iya pak.." jawab pak Agung
Kakek Nandar lalu duduk di kursi yang disediakan oleh pak Agung
"Sebelumnya..saya mohon maaf ya pak..kalau saya tadi mendengar apa yang bapak sama Mahmud bicarakan di luar.." ucap pak Agung membuka obrolan
"Iya nak..bapak sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup bapak..bapak terlalu menuruti ego bapak..jadinya anak bapak satu-satunya meninggalkan bapak" sedih kakek Nandar
"Saya yakin Mahmud hanya sesaat marahnya pak..nanti dia pasti akan baik seperti sedia kala lagi.."
Kakek Nandar menghela nafasnya sebentar
"Bapak bisa tidak minta tolong sama kamu?" tanya kakek Nandar
"Bisa pak.." jawab pak Agung
"Kamu nanti tolong bilang sama Mahmud..dia bebas mau memilih siapa saja untuk dijadikan istrinya..dan tolong sampaikan permintaan maaf bapak sama dia..bapak tarik lagi..semua omongan bapak tadi" pinta kakek Nandar yang berusaha menekan sedihnya
"Iya pak..nanti saya sampaikan.."
"Dan bilang sama Mahmud..kalau dia memang serius sama Entin..tolong kenalkan dia sama bapak..ajak dia ke Lembang..kerumah bapak"
"Iya pak.."
"Nak Agung kenal sama si Entin?" tanya kakek Nandar
"Kenal pak.."
"Kamu bisa jelasin sama bapak?..seperti apa orangnya?"
Pak Agung tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
"Eeerr..gimana ya pak?..Entin tuh orangnya baik pak..cantik..solehkah.."
"Dia kuliah dimana?" potong kakek Nandar
"Dia nggak kuliah pak..tapi dia sekarang ngajar dan tinggal di panti asuhan tempat dia dulu ditampung..sambil bantu-bantu disana pak.."
"Kamu tahu tempatnya?" tanya kakek Nandar
"Tahu pak..kalau bapak mau..saya bisa antar kesana sekarang.."
"Bisa tolong saya nak Agung?..untuk antar saya ke sana?" pinta kakek Nandar
"Bisa pak..sebentar..saya ganti baju dulu.." kata pak Agung sambil berdiri dari ranjangnya
"Nak Agung nggak kuliah?" tanya kakek Nandar
"Hehehe..lagi males pak..dosen yang ngajar sekarang nggak asyik.." jawab pak Agung tersenyum malu-malu
"Papaaaaah...bikin malu ajaaah!!" ucap Bram sambil menutup mukanya dengan tangan kanannya
Aisyah dan Ningrum tertawa geli melihat Bram malu melihat kelakuan papahnya
Setelah itu..pak Agung berjalan keluar menuju halaman kostnya bersama kakek Nandar..yang diikuti oleh Bram,Aisyah dan Ningrum dari belakang
"Pakai mobil saya saja nak Agung..nak Agung bisa bawa mobil kan?" tanya kakek Nandar
"Bisa pak.."
Kakek Nandar lalu memberikan kunci mobilnya ke pak Agung
Di halaman kostan ada sebuah mobil Range Rover Defender warna putih gading terparkir
"Itu mobilnya pak?" tanya pak Agung
"Iya" jawab kakek Nandar
"Wiiih..keren banget mobilnya pak.." kagum pak Agung
"Iya nak Agung..di Lembang kan kontur tanahnya berbukit-bukit..kalau pake sedan nggak pantas laah.." kata kakek Nandar sambil tersenyum
"Bapak saya dirumah juga punya pak..tapi yang open top..sama Jeep Willys.." kata pak Agung sambil menyalakan mobil
"Oh yaaa?..berarti bapaknya nak Agung suka koleksi mobil juga yaah?"
"Iya pak.."
Pak Agung dan kakek Nandar segera masuk ke dalam mobil
"Sebenarnya ini mobil bapak beli buat Mahmud kuliah nak Agung..tapi entah kenapa..dia tidak mau memakainya" kata kakek Nandar
Bram kagum melihat mobil kakek Nandar..jaman itu..mobil Range Rover Defender termasuk golongan mobil mewah..karena orang jarang yang mempunyai..Bram merasa status sosial kakek Nandar termasuk tinggi
Tak lama kemudian..mobil kakek Nandar sudah keluar dari halaman kostsan..menuju ke yayasan panti asuhan..tempat bu Entin mengajar
"Ningrum..kamu bisa ikutin mereka?" tanya Aisyah
"Bisa teh..teteh sama masku pejamkan matanya.."
Lalu mereka berdua segera memejamkan matanya masing-masing..setelah itu Ningrum memegang pundak Bram dan Aisyah
Tak lama kemudian..
"Masku sama teteh bisa buka matanya sekarang.." pinta Ningrum
Mereka membuka matanya..dan kembali mereka heran..mereka tiba di suatu halaman rumah yang ada plang nama "Yayasan Yatim Piatu Cempaka" terpampang di depan pagar
__ADS_1
"Ini tempat yayasan..dimana ibunda teteh dulu ditampung dan ngajar.." ujar Ningrum
"Ibu dimana Ningrum?" tanya Aisyah yang sepertinya tidak sabaran ingin segera menjumpai ibunya
"Ada disana teh..di salah satu ruangan kelas..lagi mengajar" tunjuk Ningrum ke salah satu ruangan
Aisyah segera berlari ke salah satu ruangan yang ditunjuk oleh Ningrum
Bram melihat ke sekeliling halaman yayasan..sepertinya papahnya dan kakek Nandar belum tiba
Bram lalu menyusul Aisyah yang berlari ke suatu ruangan..disana dia melihat Aisyah berdiri terpaku di depan pintu..dengan mata yang tidak berkedip
"Yaang.." panggil Bran
"Masss..ibu mas..ibu ada disini.." kata Aisyah dengan raut muka bahagianya
"Itu ibu Yaang?" tanya Bram pada seorang wanita cantik dengan rambut sepundaknya yang tampak tengah mengajar di depan kelas
"Iya mas!!..ya Alloh..terima kasih atas ijinMu..hamba bisa melihat ibu hamba kembali." ujar Aisyah yang kembali terisak sedih
Aisyah ingin sekali memeluk ibunya..tapi dia pendam hasrat itu dalam-dalam..karena dia tahu..dia tidak akan bisa menyentuh dan memeluk ibunya
Bram kembali mengeluarkan handphonenya untuk memfoto bu Entin yang sedang mengajar
Bram menoleh mukanya ke arah halaman depan yayasan..tampaknya papahnya dan kakek Nandar telah tiba
"Yaang..papah sama kakek Nandar dah dateng tuh.." kata Bram
Aisyah pun menoleh ke arah halaman depan..pak Agung dan kakek Nandar yang keluar dari dalam mobil
Tapi mereka berdua menuju ke sebuah ruangan yang tampaknya seperti ruangan ketua yayasan
Setelah meminta ijin dengan ketua yayasan..pak Agung lalu mengajak kakek Nandar menuju ke ruangan tempat bu Entin mengajar
"Assalamuallaikum.." sapa pak Agung sambil mengetuk pintu ruang kelas
"Waallaikumsallam..eh..Agung..aya naon?" jawab bu Entin sambil menghampiri pak Agung
"Tin..ada yang mau ketemu sama kamu.." kata pak Agung
Bu Entin mengalihkan pandangannya ke arah lelaki yang ditunjuk oleh pak Agung..bu Entin mengangguk hormat ke arah kakek Nandar
"Iya pak?..saya Entin..bapak ada perlu sama saya?" tanya bu Entin dengan logat Sundanya
Kakek Nandar tidak menjawab..di pelupuk matanya..ada airmata yang mulai menggenang
"Tin..kenalin..ini pak Nandar..bapaknya Mahmud.." kata pak Agung memperkenalkan kakek Nandar kepada bu Entin
Kagetlah bu Entin seketika..karena laki-laki dihadapannya adalah ayah dari pak Mahmud..bu Entin segera mencium tangan kakek Nandar
"Maafin Entin ya pak..Entin teh nggak tahu..soalnya A'A belom pernah ngenalin Entin ke bapak.." kata bu Entin
"Sebelumnya..bapak minta maaf sama kamu ya teh.." ujar kakek Nandar yang berusaha menekan sedihnya
"Minta maaf apa ya pak?" tanya bu Entin heran
"Eh iya..mari silahkan duduk pak.." ajak bu Entin ke sebuah ruang tunggu yang ada disitu
Setelah duduk..kakek Nandar menghela nafasnya yang terasa sesak didada
"Bapak minta..apa yang kita bicarakan ini..jangan sampai Mahmud tahu..bisa kan ya teh?"
Bu Entin makin bingung dengan perkataan kakek Nandar..dia mengalihkan pandangannya ke arah pak Agung..untuk mencari jawaban
"Jadi teteh ini yang jadi pacarnya Mahmud?" tanya kakek Nandar
"Ii..iya pak" jawab bu Entin
"Bapak minta tolong sama kamu..tolong jaga Mahmud..dampingi dia..karena hanya dia yang bapak punyai di dunia ini..semenjak kepergian ibunya..bapak tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini"
Bu Entin tertegun mendengar perkataan kakek Nandar
"Tadi pagi..bapak sama Mahmud bertengkar..mengenai masalah dengan kamu..jadi..untuk menebus kesalahan bapak.."
Kakek Nandar membuka tas kecilnya yang dibawanya..dan memberikan amplop coklat ke arah bu Entin dan dia taruh di meja
"Bapak mohon kamu terima amplop ini..jangan kamu lihat isinya..tapi lihatlah sebagai bentuk penebusan kesalahan bapak sama kamu dan Mahmud..karena bapak telah meremehkan kamu di depan Mahmud" kata kakek Nandar
Bu Entin makin bingung
"Ee..Entin nggak mengerti apa yang bapak katakan..bapak nggak punya salah sama Entin..ketemu sama Entin saja baru..Entin nggak merasa di sakiti oleh bapak..jadi..kenapa bapak minta maaf sama Entin?" tanya bu Entin heran
"Bapak merasa bersalah sama kamu teh..karena bapak memaksa Mahmud untuk menikah dengan perempuan pilihan bapak..tapi setelah melihat kamu..bapak yakin..kalau keputusan bapak selama ini salah.." jelas kakek Nandar
"Jadi..bapak mohon kamu terima amplop ini yaaah?..kalau kurang..kamu bisa telpon bapak..ini nomor hp bapak.." ujar kakek Nandar seraya memberikan secarik kertas ke arah bu Entin..dengan ragu-ragu bu Entin menerima kertas pemberian kakek Nandar
"Bapak juga akan membiayai semua biaya operasional yayasan ini teh..kamu bisa berikan no rekening kamu?..biar bisa bapak transfer ke rekening kamu"
Bu Entin sontak matanya berbinar tak percaya..kalau kakek Nandar akan membantu biaya operasional yayasan
"Alkhamdulillah ya Alloh..sebentar pak.." kata bu Entin sambil berdiri dan berlalu ke arah kantor pimpinan yayasan
"Benar katamu nak Agung..Entin orangnya cantik..sopan..dan baik" kata kakek Nandar sepeninggal bu Entin
"Iya pak.." jawab pak Agung sambil tersenyum
Tak lama kemudian..bu Entin kembali dengan seorang ibu-ibu paruh baya..sepertinya ketua yayasan
"Ini bu..pak Nandar yang berencana mau menjadi donatur di yayasan ini.."
"Salam kenal pak..saya Kurnia..pengurus yayasan ini.." kata bu Kurnia sambil mengulurkan tangannya
"Saya Nandar bu.." jawab kakek Nandar sambil menerima uluran tangan bu Kurnia
"Terima kasih ya pak..karena bapak mau menjadi donatur di yayasan kami.." ujar ibu Kurnia
"Iya bu..kalau bisa nanti saya transfernya ke rekeningnya Entin..biar lewat si Entin yang mengatur semuanya.."
"Bisa pak..terima kasih saya ucapkan sebelumnya"
"Ini pak..nomor rekening Entin..BRI ya pak.." kata bu Entin sambil memberikan secarik kertas ke kakek Nandar
"Baiklah..kalau begitu..saya mohon diri dulu.." pamit kakek Nandar
Lalu bu Entin mengantar pak Agung dan kakek Nandar menuju ke mobil mereka
"Bapak mohon..apa yang kita bicarakan ini..jangan kamu sampaikan ke Mahmud ya teh.." pinta kakek Nandar
"Iya pak..Insya Alloh"
"Bapak juga minta tolong sama kamu ya teh..bapak titip uang kuliah buat Mahmud..biar nanti kamu yang berikan ke Mahmud"
"Iya pak.." jawab bu Entin
"Bapak pamit dulu yaah.."
"Iya pak.." jawab bu Entin sambil mencium tangan kakek Nandar
"Daadaa Titiiin.." pamit pak Agung sambil memberikan kissbye dengan tangannya dan mengedipkan matanya ke arah bu Entin..bu Entin hanya tersenyum geli melihat pak Agung menggoda dirinya
"YA ALLOOH PAPAAAAH!!..genit amat sih!!" gerutu Bram yang malu melihat kelakuan papahnya
"Hiiiih.." kesal Aisyah sambil memukul lengan Bram
"Bapak sama anak sama ajah ternyata..genit dua-duanya!!" kesal Aisyah
"Mosok ibu digodain sama bapak sih mas?"
"Mas ajah malu Yaang.." kata Bram sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
Ningrum hanya tertawa geli
Setelah melihat mobil kakek Nandar menghilang di belokan..bu Entin lalu kembali menuju ke arah ruang kelasnya yang diikuti oleh pandangan Aisyah
"Sudah cukup teh?" tanya Ningrum
"Iya Ningrum.." kata Aisyah yang melihat ibunya masuk ke dalam kelas..lalu dia mengalihkan pandangan ke Bram..Bram pun tersenyum sambil memeluk pundak Aisyah
"Kita pulang ya masku.." kata Ningrum
Bram lalu tanpa diminta..dia memejamkan matanya..yang diikuti oleh Aisyah
Lalu dengan lembut..Ningrum menyentuh kepala Bram dan Aisyah
"Sudah masku.."
Bram membuka matanya..dia mendapati dirinya sudah kembali ke balkon kamar Aisyah
"Ningrum..terima kasih yaah..sudah menolong saya.." kata Aisyah
"Iya teh..sama-sama..Ningrum harap..rasa penasaran teteh bisa terjawab semuanya.."
"Iya Ningrum..terima kasih..berkat kamu..saya bisa ketemu dengan orangtua saya lagi..walau tidak bisa saya peluk..tapi itu sudah menghilangkan rasa rindu saya"
"Iya teh..itu semua berkat ijin Alloh semata..Ningrum hanya diberi cara olehNya.."
Aisyah menganggukan kepalanya
"Mas sudah kirim foto ibu ke hp kamu yaah.." ujar Bram sambil memegang handphonenya
"Yang bener mas?..memangnya mas bisa moto ibu tadi?" kata Aisyah sambil bangun untuk mengambil handphonennya yang dia taruh di kamar
Aisyah kembali ke balkon sambil melihat foto ibunya sewaktu mengajar di kelas..dia pandangi foto ibunya dengan tatapan haru
"Ibu cantik ya Yaang?" kata Bram yang melihat foto bu Entin di handphonennya
"Iya mas" ujar Aisyah sambil duduk di kursi sebelah Bram
"Mirip kamu.."
Aisyah menoleh kearah Bram sambil tersenyum manis
"Masku..teteh..Ningrum pamit dulu yaah.."
"Iya Ningrum..sekali lagi terima kasih yaah.." kata Aisyah
"Iya teh. " jawab Ningrum yang memudar dan menghilang dari pandangan Aisyah dan Bram
Aisyah hanya tersenyum sambil melihat foto ibunya di handphonenya
Bram lalu bangun dan menggerakan tangannya ke atas sambil menguap
"Hoaaaam...mas mau tidur aah.." kata Bram sambil masuk kedalam kamar Aisyah
"Kamu mau tidur sama mas lagi?" tanya Bram yang berhenti di pintu balkon
"Boleh mas?" tanya Aisyah
Bram menganggukan kepalanya..Aisyah langsung sumringah sambil bangun dan mengikuti Bram keluar dari kamarnya
Sesampainya dikamar Bram..Aisyah langsung naik ke atas ranjang Bram dan melepaskan pasminanya..Bram melihat Aisyah melepas pasmina tersenyum senang..dia lalu naik dan merebahkan badannya disebelah Aisyah..Bram lalu membuka tangannya agar Aisyah memeluk dirinya..Aisyah segera memeluk Bram dan menaruh kepalanya di pundak Bram
"Yaang.." panggil Bram
"Iya mas.." jawab Aisyah sambil menatap Bram
"Seandainya nanti kakek Ndaru berhasil dapetin hak kamu atas warisan kakek Nandar..mas minta sama kamu jangan berubah yaah.."
"Berubah apanya mas?" tanya Aisyah heran
"Kamu jangan berubah..dalam mencintai mas.." ujar Bram sambil membelai rambut Aisyah
"Nggak mas...Aisyah akan tetap seperti apa yang mas kenal selama ini.." kata Aisyah sambil menjawil hidung Bram
Bram pun tersenyum..lalu dia mengecup bibir Aisyah dengan lembut..setelah itu..Aisyah merapatkan pelukannya dan menaruh kepalanya di bahu Bram lagi
__ADS_1
"Met bobo mas.." ujar Aisyah lirih
"Iya sayaaaang..met bobo juga" jawab Bram sambil mengecup lembut rambut Aisyah