
Suara lantunan ayat-ayat suci Alquran berkumandang dari speaker masjid Al-Muhajirin..guna membangunkan umat muslim untuk bersiap-siap menunaikan ibadah Sholat Subuh
Diatas ranjang Bram..Aisyah menggeliat bangun dan membuka matanya perlahan..dia terkesiap kaget dan lalu menoleh kesamping..ternyata Bram tidak ada disampingnya
"Masss??" panggil Aisyah sambil bangun dan langsung tersenyum ketika melihat Bram tengah tertidur di sofa
Aisyah lalu turun dari ranjang dan menghampiri sofa tempat dimana Bram tertidur
Dia lalu berjongkok disisi sofa
"Masss..bangun..kita sholat Subuh yuuk.." panggil Aisyah sambil mentowel hidung Bram
Bram pun menggeliat bangun..dan membuka matanya
"Hmmmm...ada apa Yaang?" tanya Bram dengan suara serak khas orang bangun tidur
"Sholat Subuh dulu yuuk.." ajak Aisyah
Bram lalu bangun dan duduk disofa sambil menggerakan badannya yang dirasakan kaku
"Jam berapa ini?" tanya Bram sambil menguap
"Jam 4.00 mas..ayuuk..kita sholat berjemaah lagi" jawab Aisyah sambil bangun
Dengan malas..Bram bangun dari sofa dan beranjak ke kamar mandi
"Aisyah ambil mukena dulu ya mas.." kata Aisyah sambil keluar dari kamar Bram
Pagi itu..Aisyah berencana mengajak Bram untuk sholat di masjid Al-Muhajirin..tampak mereka berdua berjalan menuruni tangga yang sudah mengenakan baju koko dan mukena
Pak Trisno membuka gerbang kecil setelah melihat Bram dan Aisyah keluar dari dalam
"Pergi dulu ya pak.." pamit Bram
"Iya mas.." jawab pak Trisno
Lalu mereka segera berjalan menuju ke masjid Al-Muhajirin
"Mas.." panggil Aisyah
"Hmmm.." sahut Bram
"Kok tadi mas tidur di sofa siih?..nggak di ranjang..sama Aisyah?" tanya Aisyah
"Hehehe..nggak aah..mas masih normal Yaang..mas takut kalau lama-lama kelonan sama kamu..mas bisa khilaf" kata Bram sambil tersenyum
Aisyah pun tersipu malu mendengar jawaban Bram barusan
"Aisyah kan takut mas..kalau tidur sendirian di kamar atas" kata Aisyah sambil tersenyum malu-malu
"Ya udaaah..nggak apa-apa..kamu boleh tidur sama mas kok" ujar Bram
Tak lama kemudian..sampailah mereka di masjid Al-Muhajirin..Aisyah lalu berpisah dengan Bram dan menuju ke shaff khusus wanita..ada ibu-ibu yang mengenal Aisyah dan menyapanya..Aisyah pun membalas sapaannya
"Looh..bu Yuli mana Syaah?" tanyanya pada Aisyah
"Lagi dapet halangan bu.." jawab Aisyah sambil tersenyum
"Sama siapa kamu kemari?"
"Sama mas Bram bu"
"Haaah?..sama Bram?..tumben.." ucapnya sambil tersenyum
Aisyah hanya menjawab dengan anggukan kepalanya
Setelah selesai dengan dzikirnya..Bram lalu bangkit dan menuju ke depan..dia menyalami jemaah lainnya yang berpapasan dengan dirinya
Di teras masjid..Bram melihat Aisyah tengah berbicara dengan 2 orang pria jemaah masjid..tapi dari raut mukanya..Aisyah terlihat tidak nyaman dengan kedua pria tersebut
"Ehheeem...ada apa ya mas?" tanya Bram pada kedua pria tersebut
Aisyah yang melihat Bram datang..langsung menghampiri dan berdiri disampingnya sambil memeluk lengannya Bram
"Eeh..ee..nggak mas..saya mau ngajak mbak ini untuk ikut pengajian di sini.." jawab salah satu pria
"Kamu nggak apa-apa Syaah?" tanya Bram
"Nggak apa-apa mas" jawab Aisyah sambil memegang lengan Bram dan menatapnya
"Mas ini siapa?..saya kok nggak kenal sama mas-mas ini?" tanya Bram
"Kenalin mas..saya Jamal..dan ini teman saya Abdul..kami dari Majelis Al Furqon..kami sengaja singgah disini dalam rangka syiar mas.." ujar Jamal
"Dah minta ijin pejabat setempat belom?" tanya Bram lagi
"Oooh..ndak perlu mas..karena dalam syiar kami..kami mengajak para ikhwan dan akhwat untuk mengkaji Alquran bersama kami..dan kebetulan..saya lihat..mbak ini mengajar pengajian disini juga" kata Jamal
"Mari mbak..ikut bersama kami.." ajak Abdul seraya ingin meraih tangan Aisyah..tapi segera ditampik oleh Bram
"Situ jangan kurang ajar yaah!!" bentak Bram sambil menyembunyikan Aisyah di balik punggungnya
"Looh..kenapa mas?" tanya Abdul
"Pacar saya nggak mau ikut-ikutan pengajian nggak jelas kayak gitu.."
"Ooh..mbaknya pacar mas?..kebetulan..mas juga bisa ikut pengajian sama kita sekalian.." ucap Jamal
Bram menghela nafasnya menahan geramnya
"Kalau gua nolak?..lu mau apa???" bentak Bram sekali lagi
Bentakan Bram diteras masjid mengundang perhatian para jemaah lainnya yang hendak pulang..hingga ada diantara mereka yang menghampiri Bram
"Ada apa mas Bram?" tanya seorang bapak-bapak sambil menghampiri Bram
"Eh..pak Imam..ini pak..dua orang ini maksa-maksa saya sama Aisyah untuk ikut pengajian disini..memangnya mereka sudah ijin sama bapak?"
Pak Imam lalu melihat ke arah dua pria tersebut
"Looh..bukanya kalian sudah saya suruh pergi?..kenapa masih ada disini?" gusar pak Imam
"Bapak tidak bisa melarang kami dalam menyiarkan agama Alloh..kalau bapak melarang..berarti bapak sudah melakukan dosa besar!!" kata Abdul dengan nada tinggi
Pak Imam lalu beranjak dari situ
"Waaah..dah streess lu yaak!!" kata Bram sambil menyilangkan jari di dahinya
"Mass..kita pulang aja yuuk.." ajak Aisyah dari balik punggung Bram
"Ayuuk..jangan kita ladenin orang kayak gini Syaah..bisa ikutan gila kitanya" ujar Bram sambil menggandeng Aisyah untuk keluar dari teras masjid
"Mbak..mbak ikutlah ngaji sama kami..mbak pasti dijamin menjadi ahli Surga!!" kata Jamal yang masih berusaha membujuk Aisyah
Bram dan Aisyah tidak menghiraukan..mereka terus menuju ke gerbang masjid
Pak Imam kembali dengan dua orang marbot
"Pak Slamet..pak Sukir..tolong usir dua orang ini dari masjid kita..dan jangan kasih mereka untuk masuk ke masjid kita lagi" pinta pak Imam
"Baik pak.." jawab pak Slamet dan pak Sukir berbarengan
Lalu pak Sukir menyeret Jamal untuk menghampiri Abdul yang masih berdiri di teras
"Mas Bram..atas nama DKM masjid..saya mohon maaf atas ketidak nyamanan ini..saya merasa kecolongan dengan kehadiran mereka" ujar pak Imam pada Bram
"Iya pak..jangan sampai orang-orang yang nggak jelas seperti mereka..mengotori masjid ini pak.."
"Iya mas Bram..terima kasih atas perhatiannya"
"Okelah pak..saya pamit dulu..Assalamuallaikum" pamit Bram
"Waallaikumsallam.." jawab pak Imam sambil melihat Bram dan Aisyah keluar dari halaman masjid
Di perjalanan pulang..suasana minggu pagi sudah terlihat agak ramai akan orang-orang yang akan berolahraga..banyak orang-orang yang berpapasan dengan mereka menegur Bram dan Aisyah
"Kamu nggak senam di lapangan Yaang?" tanya Bram
"Nggak mas..si Dinda lagi sakit..terus si Nita sekarang lagi mau pergi ke Bogor..jadinya Aisyah gak ada temennya" jawab Aisyah
"Eh..ngomong-ngomong..dua orang tadi yang waktu itu gangguin kamu yaak?" tanya Bram sambil menjawab sapaan dari seseorang yang lewat
"Iya mas..Aisyah takut..pas tadi Aisyah selesai sholat..terus nungguin mas diteras..mereka tahu-tahu langsung nyamperin Aisyah..langsung maksa ikutan pengajian sama mereka"
"Ya sudaah..pokoknya kamu kalau mau sholat di masjid harus sama mamah kalau nggak sama mas yaah..jangan sendirian.."
"Iya mas" jawab Aisyah
"Kamu laper nggak?" tanya Bram
"Kenapa mas?"
"Kita nyarap bubur yuk?.."
__ADS_1
Aisyah menganggukan kepalanya
Bram dan Aisyah menuju ke tukang bubur ayam yang mangkal di taman
"Buburnya dua ya pak.." pinta Bram
"Iya mas.."
Selagi mereka menunggu pesanan bubur ayam..berhenti sebuah motor matic di depan tukang bubur
Turunlah dua orang wanita dari atas motor
"Buburnya dua dibungkus ya pak.."
"Iya neng.."
"Aisyah?.." panggilnya yang melihat Aisyah duduk di meja tukang bubur bersama Bram
"Eh..Indri..beli bubur juga?" sahut Aisyah
Indri lalu duduk di sebelah Bram
"Lu dari mana Bram?..tumben lu pake baju koko.."
"Dari macul..ya sholat laaah!!..memangnya lu kira dari mana?" sewot Bram
Indri dan Aisyah tertawa geli
"Kagak..tumben-tumbenan luh sholat di masjid..hahahaha..lagi bolong lu yaak?" ledek Indri
"Nih anak..kalau ngomong.."
"Bener Syaah..kamu harus sering-sering ajakin Bram sholat di masjid..biar tobat dia"
Aisyah tersenyum geli melihat Bram yang sewot di goda Indri
"Lu jangan buka rahasia dapur orang dooong.." sewot Bram sambil mencubit pundak Indri
"Hahahaha..nggak dikasih tahu..Aisyah juga udah tahu duluan Bram.."
Bram melihat Aisyah yang menganggukan kepalanya sambil tersenyum
"Ryan mana?" tanya Bram sambil mengaduk bubur ayamnya yang sudah tersaji
"Masih molor Bram..tadi dia baru balik jam 4.."
"Dari mana?"
"Tau..kata Yopi sih dari Kemang.."
"Bilangin abang lu tuh..jangan keseringan minum..nggak baek buat badan" kata Bram
"Ampe capek Bram..gua sama bokap gua sampe berbusa bilangin dia..tapi dianya tetep bebal" jawab Indri
Tukang bubur memberikan dua bungkus bubur ayam ke Indri
"Sekalian ama gua ajah nanti Ndri.." kata Bram yang melihat Indri ingin membayar buburnya
"Ooh..thankyou ya Bram..Syaah..gua balik yaak"
"Iya Ndri.." jawab Aisyah
Indri lalu meninggalkan Bram dan Aisyah yang tengah menyantap bubur ayam
______________________
Bu Yuli pagi itu tampak menaiki tangga dan berjalan ke arah kamar Aisyah
"Teeeeh?...teteeeeh?.." panggil bu Yuli sambil mengetuk pintu kamar Aisyah
"Iya bu.." jawab Aisyah
Terbukalah pintu kamar Aisyah
"Ada apa bu?"
"Ikut ibu yuk.." ajak bu Yuli
"Kemana bu?" tanya Aisyah
"Ibu mau kenalin kamu sama orangtua ibu..ayuuk.."
Aisyah lalu mengikuti bu Yuli untuk turun ke ruang tamu
Mereka adalah kakek Handaru dan nenek Dimyati..orang tua dari bu Yuli yang tinggal di Lembang, Bandung
"Cucu kakek dah besar ya nek..mana ganteng lagi.." ujar kakek Ndaru sambil memegang kedua pundak Bram
"Nek..apa kabar?" tanya Bram sambil mencium tangan neneknya dan memeluknya
"Nenek sehat Braaam.." jawab nenek Yati sambil mencium kedua pipi Bram
"Kamu kok waktu ke Dago nggak mampir ke tempat nenek siih?" tanya nenek Yati sambil menarik dengan gemas kedua pipi Bram
"Bram lupa neek..hehehe..habisan Bram buru-buru sih..maafin Bram yaak?.." kata Bram sambil mencium tangan neneknya
"Bu..pak..punten..ieu sing naminya Aisyah (Bu ..pak..maaf..ini yang namanya Aisyah)" kata bu Yuli sambil memperkenalkan Aisyah
Aisyah lalu menghampiri nenek Yati dan mencium tangannya
"Ieu Aisyah?..heleh..heleh..geulis pisan ya Kek? (Ini Aisyah..heleh..heleh..cantik banget ya Kek?)" ujar nenek Yati sambil memperhatikan Aisyah..Aisyah hanya tersenyum malu-malu mendengar sanjungan nenek Yati terhadap dirinya
Aisyah mengangguk hormat pada kakek Ndaru dan mencium tangannya
"Saur ibu..anjeun ti Dago nyak? (Kata ibu..kamu dari Dago yaa?)" tanya nenek Yati pada Aisyah
"Muhun nek..(Iya nek)" jawab Aisyah sambil tersenyum
"Nek!!..jangan ngomong Sunda kenapa sih?..Bram kan nggak ngerti" rajuk Bram dengan muka ditekuk cemberut
"Ieu murangkalih..ngagaduhan basa Sunda..gaduh kakek nenek urang Sunda..tapi henteu tiasa nyarios Sunda..(Ini anak..punya ibu orang Sunda..punya kakek nenek orang Sunda..tapi nggak bisa bahasa Sunda)" kata nenek Yati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
Bu Yuli dan Aisyah tertawa geli melihat nenek Yati yang mengomel sendiri
Dari dalam muncul pak Agung untuk bergabung dengan mereka
"Bram..Aisyah..ada yang mau kami sampaikan sama kalian.." kata pak Agung sambil duduk di sofa
Bram dan Aisyah yang sedang berbicara dengan nenek Yati..menengok ke arah pak Agung lalu mengajak nenek Yati untuk duduk di sofa dan memperhatikan pak Agung
"Papah sama mamah sudah berembuk dengan kakek nenek serta eyang kakung dan eyang putri waktu di Jogja kemarin..tentang kedepannya hubungan kalian sekarang ini..kami telah sepakat dan telah menentukan hari H untuk melangsungkan hari pernikahan kalian..yaitu..bulan Juni..tahun depan.." kata pak Agung sambil memperhatikan Aisyah dan Bram secara bergantian
Aisyah tertegun kaget sambil memandang bu Yuli yang berada disampingnya..bu Yuli hanya membalasnya dengan senyuman dan genggaman erat di tangan Aisyah
Beda halnya dengan Bram..dia tersenyum ceria setelah mendengar papahnya sudah menentukan hari pernikahannya dengan Aisyah
"Kamu terserah teh..mau menentukan akad nikahnya dimana?..disini..di Jakarta..apa di Dago?..di rumah ayahmu..terserah teteh.." ucap bu Yuli
"Eeer..kalau boleh bu..Aisyah mau akad nikahnya di rumah ayah Aisyah.." kata Aisyah sambil menatap bu Yuli
"Nggak apa-apa..terserah teteh..tapi rumah ayahmu musti direhab dulu yaah?..soalnya mas Bram bilang ke ibu..kalau rumah peninggalan ayahmu sudah berantakan dan tidak terawat.."
Aisyah menganggukan kepalanya
"Dan satu minggu sebelum akad nikah..teteh harus tinggal di rumah tante Rini dulu..nggak boleh nyampur lagi sama mas Bram..pamali"
"Oh iya teh..mengenai wali hakim..sebagai pengganti orang tuamu..kamu mau memilih siapa?" tanya pak Agung
"Kalau boleh..Aisyah mau memilih pak Johan pak..sebagai wali hakim buat Aisyah"
"Ya sudah..nanti bapak yang bicara sama om Johan..dan karena orang tua teteh sudah tidak ada..jadi bapak anggap ini sebagai lamaran buat teteh yaah?..bagaimana?..teteh setuju kan dengan usulan bapak?" tanya pak Agung
Aisyah bingung untuk menjawabnya..dia perhatikan Bram dan bu Yuli secara bergantian..seperti meminta pendapat tentang usulan pak Agung..bu Yuli menggengam tangan Aisyah dan tersenyum
"Kalau teteh tidak setuju..tidak apa-apa.."
"Nggak bu..Aisyah setuju dengan usulan bapak..cuma..cuma Aisyah.."
Aisyah tidak melanjutkan perkataannya..dia hanya menundukan wajahnya sambil meremas jari-jemarinya sendiri
"Cuma kenapa teh?" tanya bu Yuli sambil menyentuh pundak Aisyah
Aisyah menegakan kepalanya..dan terlihat airmatanya telah menggenang di pelupuk matanya
"A..Aisyah..kangen ayah sama ibu..seharusnya..mereka ada disini.." isak Aisyah
Bu Yuli langsung memeluk Aisyah dan mengusap-usap punggung Aisyah untuk menenangkannya
"Kan ibu sudah bilang..anggap kami ini sebagai orangtua kamu teeh..yaah?" ucap bu Yuli setelah melepaskan pelukannya
"Ibu nggak mau kamu sedih lagi..ikhlasin kepergian mereka..yaah?" pinta bu Yuli
Aisyah pun menganggukan kepalanya..bu Yuli lalu mencium kening Aisyah dengan lembut
__ADS_1
Pak Agung lalu berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya..tak lama kemudian kembali dengan membawa dua kotak kecil di tangannya
"Ini..papah ada hadiah buat kalian..cincin pertunangan ini papah hadiahkan untuk kalian berdua" kata pak Agung sambil memberikan kotak kecil itu kepada Bram dan Aisyah
Mereka berdua berdiri dan menerima kotak cincin dari pak Agung
"Ayoo..dibuka" pinta pak Agung sambil tersenyun
Mata Aisyah berbinar tak percaya..begitu melihat cincin pemberian pak Agung..berlapis emas 24 karat dengan berlian sebagai mata cincinnya..dia alihkan pandangannya ke pak Agung..yang dibalas dengan anggukan kepala pak Agung
"Bram..ambil punya Aisyah..pakaikan di jari manisnya..teteh juga..ambil punya mas Bram" kata bu Yuli
Dengan kikuk..Bram mengambil cincin kepunyaan Aisyah dan memakainya di jari manis Aisyah..Aisyah spontan merona merah mukanya..karena baru pertama kalinya..ada seorang pria mengenakan cincin pertunangan di jari manisnya
Dengan jari gemetar..Aisyah pakaikan cincin Bram di jari manisnya
"Teteh..Bram..lihat sini.." pinta bu Yuli sambil memfoto Bram dan Aisyah dengan kamera handphonenya
Mereka berdua memperlihatkan jari manis mereka masing-masing yang telah menggunakan cincin pertunangan ke arah kamera
Tampak senyuman bahagia tersungging di wajah Aisyah..bu Yuli yang memfoto akhirnya tersenyum lega
"Maafin bapak ya teh..kalau acara lamaran ini mendadak dan secara sederhana.."
"Nggak apa-apa pak..ini buat Aisyah sudah lebih dari cukup..terima kasih ya pak..bu.." kata Aisyah sambil tersenyum senang
Tiba-tiba..dari samping..Bram memeluk Aisyah
"Yeeei!!..akhirnya kita resmi tunangan Yaang.." girang Bram sambil mengangkat Aisyah di pelukannya
"Maass..malu mass.." kata Aisyah yang tersipu-sipu malu
Pak Agung dan bu Yuli hanya tertawa geli yang diikuti oleh kakek dan nenek yang tersenyum bahagia
________________________
Sore itu Aisyah mengajak kakek Ndaru dan nenek Yati berkeliling komplek dengan berjalan santai
"Kamu bukannya dulu tinggal di rumahnya Rini ya teh?" tanya nenek Yati
"Iya nek..setelah lulus SMA..Aisyah diajak ibu Yuli tinggal di Jakarta.." jawab Aisyah
"Kamu Dago nya sebelah mana teh?" tanya kakek Ndaru
"Kampung Cisauk kek.." jawab Aisyah
"Kampung Cisauk?" kata kakek Ndaru yang keningnya berkerut heran
"Kalau dari kantor kelurahan? sebelah mananya?" tanya kakek lagi
"Di atasnya lagi kek..kakek tahu daerah Dago?"
"Kakek juga dari Dago.." kata kakek
"Yang bener kek?.." tanya Aisyah kaget setelah mendengar kalau kakek juga berasal dari Dago
"Iyaa.." jawab kakek sambil tersenyum
"Cuma setelah Yuli lahir..kakek sama nenek pindah ke Lembang.." kata kakek sambil menghisap lisongnya
"Jangan-jangan..kakek kenal lagi sama kakek kamu teh?..nama kakeknya teteh siapa?" tanya nenek
"Aisyah nggak begitu kenal sama kakek Aisyah nek..soalnya kakek meninggal waktu Aisyah umur 2 tahun..tapi ayah pernah bilang..kalau nama kakek itu..kalau nggak salah..Nan..Nandar.." ucap Aisyah yang seperti mengingat-ingat nama kakeknya
"Nandar Wisesa!" potong kakek
Aisyah terkejut..karena kakek tahu nama lengkap kakeknya
"Iya kek..kakek kenal?" tanya Aisyah
Kakek Ndaru berhenti..dia lalu memegang kedua pundak Aisyah dan menatapnya haru
"Kamu ternyata cucunya Nandar teh..ya Alloh!!..kok bisa kebetulan gini yaah?.." kata kakek Ndaru sambil memeluk Aisyah
Nenek Yati pun tersenyum haru..ternyata Aisyah adalah cucu dari kakek Nandar Wisesa..sahabat dari kakek Handaru
"Kakek kamu dulu teman satu sekolah sama kakek teh..kami dulu sama-sama membuka kebun teh di Lembang" ujar kakek sambil tersenyum haru mengingat masa lalu
"Kakek dengar..kalau kakekmu itu mempunyai seorang putra..tapi..kakekmu tidak pernah cerita sedikit pun tentang ayahmu sama kakek.."
Aisyah lalu mengajak kakek dan nenek untuk duduk di bangku yang ada di taman..dia ingin mendengarkan cerita tentang kakeknya dari kakek Ndaru
"Heeh..dunia ini memang sempit ya kek?..nggak tahunya kakeknya Aisyah teman kakek dulu.." kata nenek Yati sambil mengusap-ngusap kepala Aisyah dengan lembut
"Kamu bisanya kapan teh?..maen ke rumah nenek..nenek ada titipan sesuatu dari nenek Galuh buat kamu" kata Nenek Yati
"Titipan nek?..nenek Galuh nitipin apaan ke Aisyah?" tanya Aisyah heran
"Nenek nggak tahu teh..soalnya itu amanat nenek Galuh sama nenek untuk memberikan titipannya ke cucunya..yaitu kamu"
"Iya nek..nanti Aisyah minta anterin sama mas Bram ke Lembang..ke rumah nenek.." ujar Aisyah
"Kakekmu dulu itu..orangnya ulet teh..rajin..pekerja keras..selama keinginannya belum tercapai..dia masih terus berusaha..dan hasilnya..dia berhasil mempunyai kebun teh di Lembang selebar 10 hektar.." terang kakek Ndaru
"Kakek Nandar punya kebun teh?" tanya Aisyah heran
Kakek Handaru keningnya berkerut heran..karena Aisyah sepertinya tidak mengetahui kalau kakek Nandar mempunyai kebun teh di Lembang
"Kamu nggak tahu?..kalau kakekmu itu mempunyai kebun teh di Lembang?" tanya kakek Ndaru
Aisyah menggelengkan kepalanya
"Ayah nggak pernah cerita ke Aisyah kek..kalau kakek Nandar punya kebun teh.." kata Aisyah
"Kurang ajar si Tatang borokokok!!..KEH*D SIA!!" umpat kakek Ndaru
Aisyah bingung melihat kakek Ndaru yang tiba-tiba marah sendiri
"Tatang itu siapa kek?" tanya Aisyah
"Tatang..orang yang di serahin sama kakekmu untuk mengurusi kebun tehnya..dan dia bilang ke kakek..kalau selama ini hasil dari pabrik dan kebun teh dikirim ke keluarganya Nandar" geram kakek Ndaru
"Jadi selama ini..dia telah berbohong sama kakek..dia makan sendiri semua hasil dari kebun teh itu
..tidak dia berikan ke kamu..sebagai ahli warisnya kakek Nandar" kesal kakek Ndaru
Tiba-tiba..handphone Aisyah berdering..dia lihat Bram menelponnya
"Assallamuallaikum mas..Aisyah di taman mas..ooh..iya ditaman yang dipakai buat senam..ya udah..Aisyah tunggu ya mas..Waallaikumsallam" ujar Aisyah sambil menaruh handphonenya
"Kek..nek..mas Bram mau jemput kita disini..bapak sama ibu mau ajak kita makan di PIK" kata Aisyah
Aisyah melihat wajah kakek Ndaru masih menyimpan kekesalan perihal si Tatang
Tak lama kemudian..mobil Bram tiba di taman..Aisyah lalu mengajak kakek dan nenek untuk menghampiri mobil Bram..Bram pun turun dan membukakan pintu belakang untuk kakeknya..sedangkan Aisyah menuntun nenek Yati ke pintu sebelahnya..setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil
"Ini nggak boleh dibiarin nek..si Tatang harus diberi pelajaran..iih..mana handphone kakek pake ketinggalan di tas lagi!!" kesal kakek Ndaru sambil meraba kantong celananya
Bram yang bingung dengan kakeknya..yang tahu-tahu marah-marah di mobil
"Kakek kenapa sih Yaang?" tanya Bram pada Aisyah
Aisyah lalu menceritakan kalau kakek Ndaru ternyata sahabat kakeknya..dan persoalan yang sampai membikin kakek kesal
"Kamu punya warisan kebon teh?" tanya Bram
"Iya mas..kata kakek Ndaru..kakek Aisyah punya 10 hektar kebon teh di Lembang.." jawab Aisyah
"Sama ada 1 pabrik teh Bram.." sambung kakek Ndaru dari jok belakang
"Haaah?..yang bener kek?" tanya Bram sambil melihat kakeknya melalui spion tengah
"Waaaaw..kamu kok nggak ngomong ke mas sih?..kalau kamu punya warisan kebon sama pabrik teh?" tanya Bram lagi
"Aisyah juga baru tahunya sekarang mas..kalau kakek Ndaru nggak ngasih tahu Aisyah..mana Aisyah tahu?" jawab Aisyah
"Biar nanti kakek yang ngurus semuanya teh..kamu tenang ajah" kata kakek Ndaru
"Iya kek.." ujar Aisyah sambil menengok ke belakang
Lalu Aisyah membalikan badannya kedepan..dia lalu memandang ke samping jendela mobil..dia baru tahu kalau dirinya selama ini mempunyai warisan kebun dan pabrik teh dari kakeknya
Yang membikin dia bingung..kenapa ayahnya selama waktu masih hidup sama sekali tidak menceritakan perihal kebun dan pabrik teh kepunyaan kakek Nandar kepada dirinya..ada masalah apa..antara ayahnya dan kakek Nandar
Bram tersenyum melihat Aisyah yang tengah termenung memandang keluar..dia lalu membelai dengan lembut kepala Aisyah..Aisyah pun menoleh kearahnya dengan senyuman yang dipaksakan
"Kamu kenapa sih?" tanya Bram
"Nggak mas...Aisyah nggak apa-apa" jawab Aisyah sambil berusaha bersikap normal
Tak lama kemudian..mereka telah sampai di PIK..Bram menelpon papahnya untuk menanyakan tempat makannya
"..Telaga Sampierun?..oke pah.."
__ADS_1
Bram lalu mengarahkan mobilnya ke restoran Telaga Sampierun