Wanita Pilihan Mama

Wanita Pilihan Mama
54.Bertemu Dengan Eyang Panembahan


__ADS_3

Kakek Ndaru melihat Bram yang cemas dan was-was tentang keadaan Aisyah


"Oh iya!!..tanya Ningrum ajah.." batin Bram


Bram lalu memanggil Ningrum melalui batinnya..tak lama kemudian Bram mencium aroma bunga melati


"Ada apa masku?" tanya Ningrum begitu muncul di depan Bram


"Ningrum?..kamu tolong cari Aisyah yaah?..Aisyah hilang" pinta Bram


"Haaah??..teteh hilang?" kaget Ningrum


"Iyaa..kamu tolong cari dia yaah?.."


Ningrum lalu menutup matanya..dia tampak seperti berkomunikasi dengan seseorang


"Kurang ajaaar!!" geram Ningrum sambil mengepal kedua tangannya


"Teteh diculik masku!!" kata Ningrum sambil melihat ke arah Bram


"Haaah??..diculik?..sama siapa??" tanya Bram kaget


Kakek Ndaru mendekat ke arah Bram


"Aisyah kenapa Bram?" tanya kakek Ndaru


"Aisyah diculik kek.." jawab Bram


"Kamu tahu?..siapa yang menculik cucuku?" tanya kakek Ndaru kepada Ningrum


"Iya kek..kata Sekar..teteh lagi berada di sebuah bangunan kek..lebih baik kita segera kesana masku.."


"Sekar?..Sekar itu siapa Ningrum?" tanya Bram


"Nanti saja Ningrum ceritanya masku..lebih baik kita segera kesana..kakek bisa pejamkan matanya..Ningrum mau membawa kakek beserta masku ke tempat teteh.." pinta Ningrum yang terlihat raut ketidak sabaran di mukanya


Kakek Ndaru mengikuti permintaan Ningrum untuk memejamkan matanya..setelah melihat kakek Ndaru dan Bram memejamkan matanya..Ningrum menyentuh pundak kakek Ndaru dan Bram


"Masku dan kakek..bisa buka matanya" kata Ningrum


Bram menelisik heran..ketika matanya melihat ke sekelilingnya


"Ini dimana Ningrum?" tanya Bram


"Pabrik teh Bram.." sahut kakek Ndaru..setelah menyadari daerah tempat Ningrum membawa dirinya dan Bram


"Ikuti Ningrum masku.." pinta Ningrum


Bram dan kakek Ndaru mengikuti Ningrum yang melayang ke arah sebuah bangunan yang terletak di depan mereka. Begitu sampai didepan bangunan yang menyerupai gudang itu..Bram mendengar seperti suara orang berkelahi dari arah dalam bangunan..Bram segera masuk ke dalam..dan di dalam dia melihat Aisyah sedang berkelahi berhadapan dengan empat orang laki-laki..dua di antaranya sudah terkapar di tanah. Aisyah kini meladeni dua orang lagi..yang salah satunya memegang senjata tajam berupa golok..dan Bram mengenal pemuda yang memegang golok di tangannya


"Itu kayak si Ronald kek..anaknya pak Tatang" kata Bram


"Iya Bram.." jawab kakek Ndaru yang mukanya menahan amarah


"Masku sama kakek disini saja" cegah Ningrum yang melihat Bram dan kakek Ndaru seperti ingin maju membantu Aisyah yang sedang berkelahi


"Biar Sekar yang memberesi mereka" kata Ningrum


"Sekar?" tanya Bram dalam hati..saat Ningrum kembali menyebut nama Sekar


Tiba-tiba..Ronald berteriak kesakitan ketika badanya terlempar ke belakang dan membentur sebuah peti..hingga peti itu hancur berantakan tertimpa badan Ronald..Ronald pun diam tidak bergerak..sedangkan temannya yang satu lagi..melihat Ronald terkapar di tanah..langsung berusaha melarikan diri..tapi..Aisyah tak kalah sigap..dia ambil sepotong kayu berbentuk balok yang ada di dekatnya dengan hentakan kakinya..setelah dia tangkap dia lempar ke arah pemuda itu yang berusaha lari. Pemuda itu pun tersungkur..tak kala lemparan kayu Aisyah tepat mengenai punggung pemuda itu. Senyuman puas tersungging di bibir Aisyah..setelah melihat ke empat lawannya tersungkur di tanah


"Yaaang!!" panggil Bram


Aisyah menoleh kearah Bram..Bram heran melihat Aisyah yang seperti tidak mengenali dirinya. Dia lalu menghampiri Aisyah..tapi dia kaget..karena Aisyah langsung memasang kuda-kuda..bersiap menyerang..karena dia pikir Bram masih satu komplotan dengan Ronald


"Sekar?..cukup cah ayu?..dia masku..jangan kau teruskan" pinta Ningrum yang melayang di samping Bram


Aisyah pun langsung tersenyum dan berdiri kembali normal..begitu melihat Ningrum melayang disamping Bram. Tiba-tiba..tubuh Aisyah melorot lemas..begitu sesosok jin perempuan keluar dari tubuh Aisyah. Bram dengan sigap menyambut tubuh Aisyah agar tidak jatuh ke tanah


"Yaang?..kamu nggak apa-apa?" tanya Bram


"Mas Bram?..ada apa mas?..aaah!!.." Aisyah menjerit kesakitan..ketika tangan Bram memegang lengan kirinya


Bram lihat..lengan Aisyah berdarah..seperti terkena sabetan golok kepunyaan Ronald


"Tangan kamu berdarah nih Yaang.." cemas Bram


"Aisyah kenapa mas?" tanya Aisyah heran sambil melihat lengannya


"Masku..lebih baik kita pulang kerumah kakek..biar disana teteh bisa istirahat" kata Ningrum


"Iya Ningrum"


Bram lalu bangkit sambil membopong Aisyah..Ningrum lalu memegang pundak Bram dan kakek Ndaru. Begitu tiba kembali di halaman rumah kakek Ndaru..Bram segera membawa Aisyah ke dalam kamar. Dia letakan Aisyah di ranjang


"Ningrum lihat lukanya teh.." pinta Ningrum sambil melayang mendekati Aisyah


Ningrum lalu meletakan telapak tangannya di atas luka Aisyah..sinar biru langsung menyelimuti luka di lengan Aisyah. Aisyah hanya melihat lukanya yang sedang di obati oleh Ningrum


"Sudah teh.." kata Ningrum sambil menarik kembali tangannya


"Terima kasih Ningrum" ucap Aisyah yang takjub melihat lengannya sudah normal lagi..seperti tidak terdapat bekas luka sabetan benda tajam


Tiba-tiba..nenek Yati masuk ke dalam kamar..Ningrum segera melayang kesamping sehingga nenek Yati tidak menembus badannya


"Aisyah kenapa Bram?" tanya nenek Yati sambil duduk disebelah Aisyah dan memegang pundaknya


"Aisyah nggak kenapa-napa nek.." jawab Aisyah sambil tersenyum


"Kata kakek..kamu tadi katanya diculik?" tanya nenek Yati


"Iya nek..sama Ronald..anaknya pak Tatang" jawab Aisyah


Nenek Yati memeluk Aisyah sambil terisak haru


"Ningrum..kita ke depan yuk.." ajak Bram dalam hati


Bram lalu keluar dari kamar yang diikuti oleh Ningrum. Diteras..Bram melihat wanita muda berpenampilan seperti Ningrum..melayang membelakangi dirinya memperhatikan halaman rumah kakek Ndaru. Hanya saja dia mengenakan kebaya berwarna hijua pupus dan selendang putih melingkar di pinggangnya


"Masku..kenalkan..ini Sekar Ayu..adik Ningrum" kata Ningrum


Sekar langsung menoleh ke arah Bram sambil tersenyum manis. Wajah Sekar sama cantiknya seperti Ningrum..hanya saja wajah Sekar membulat..tidak tirus seperti Ningrum


"Kangmas..kenalkan..saya Sekar.." kata Sekar sambil menjulurkan tangannya


"Salam kenal..gua Bram.." kata Bram sambil menyambut uluran tangan Sekar


Sekar lalu melayang mengelilingi Bram..sambil dia mengamati setiap lekuk tubuh Bram..dari ujung rambut..sampai ujung kaki


"Pantas saja mbakyuku sampai rela meninggalkan istananya..ternyata kau memang elok cah bagus.." kata Sekar sambil mengedipkan matanya kearah Bram dan menjawil dagu Bram


"Jaga sikapmu Sekar..kamu disini bukan untuk menggoda masku.." pinta Ningrum dengan nada sedikit kesal


"Kenapa sih mbakyu?..Sekar jarang bisa ketemu manusia seperti cah bagus ini.."


"Sekar Ayu!!" bentak Ningrum


"Kamu cemburu ya Ningrum??.." tanya Bram dalam hatinya sambil melirik ke arah Ningrum


Cekuuuutt....


"Aaaaaaaah!!"


Bram berteriak karena pinggangnya sudah mendapatkan cubitan dari Ningrum


"Masku jangan kegenitan!!" bentak Ningrum lewat batinnya sambil melotot ke arah Bram


"Kalau mbakyu Ningrum marah..sama Sekar saja kangmas??..gimana??" goda Sekar


Bram menjadi salah tingkah..karena terus Sekar menggodanya di depan Ningrum dan Ningrum menatap dirinya dengan pandangan yang tak berkedip. Sekar hanya tertawa..melihat Bram yang salah tingkah karena digodanya


"Ningrum yang menyuruh Sekar agar menjaga teteh..selama Ningrum menghadap Eyang Panembahan masku.." ujar Ningrum dingin sambil menoleh ke Sekar


"Kamu dipanggil Eyang Panembahan?" tanya Bram sambil duduk di kursi


"Iya masku..Eyang Panembahan memanggil Ningrum karena persoalan teteh.." jawab Ningrum


"Aisyah?..ada apa dengan Aisyah Ningrum?" tanya Bram


"Eyang Panembahan kuatir terhadap aura teteh yang makin kencang masku..Beliau ingin mengurangi pancaran aura teteh..agar aura teteh tidak memancar lebih kencang lagi" jawab Ningrum


"Memangnya bahaya ya Ningrum?..kalau aura Aisyah makin kencang keluarnya?" tanya Bram


"Iya masku..teteh akan menjadi incaran orang-orang yang paham dan yang tidak paham masalah aura teteh"


Bram bingung dengan jawaban Ningrum


"Orang awam kalau melihat teteh sekarang..maaf masku..akan menimbulkan rangsangan nafsu birahi.." kata Ningrum


Bram terkesiap kaget


"Sama seperti masku..masku juga merasakan efek dari aura teteh kan?" tanya Ningrum


"Iya Ningrum..ini kali yaah?..kenapa kok gua kalau deket-deket Aisyah..maunya nggusel-nggusel terus" jawab Bram


Ningrum pun tersenyum geli


"Eyang Panembahan bisanya kapan Ningrum?..untuk mengurangi auranya Aisyah?"


"Eyang Panembahan meminta segera mungkin masku..lebih cepat lebih baik.."


"Ya sudah..malam ini yaah.."


"Baik masku.."


"Oh iya Sekar..terima kasih yaah..kamu sudah menolong Aisyah" kata Bram sambil melihat Sekar


"Iya kangmas..Sekar hanya menjalani permintaan mbakyu..agar menjaga teteh selama mbakyu menghadap Eyang Panembahan.."


"Kamu bisa cerita nggak?..kok bisa Aisyah tadi diculik sama Ronald?"


"Bisa kangmas..tadi sewaktu teteh berjalan pulang dari arah mess..tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di dekat teteh..dan langsung meringkus teteh dan dimasukan ke dalam mobil.." kata Sekar sambil duduk di tembok teras


"Sekar yang merasa teteh dalam ancaman..langsung merasuki tubuh teteh begitu mereka tiba di gudang tadi kangmas.."


"Sekar minta maaf kangmas..karena Sekar lengah waktu meladeni mereka tadi..hingga membuat tangan teteh terkena sabetan golok.." lanjut Sekar


"Iya Sekar..tidak apa-apa..kamu sudah lakuin yang terbaik..dalam melindungi Aisyah"


Sekar pun menganggukan kepalanya


"Iya kangmas.."


Bram lalu bangkit dan berjalan ke dalam kamar. Di dalam kamar..ternyata ada kakek Ndaru yang berdiri di samping ranjang dan nenek Yati masih duduk di samping Aisyah


"Bram..mulai sekarang..kamu jagain Aisyah bener-bener yaah!!..nenek nggak mau terulang kejadian seperti ini lagi.." pinta nenek Yati pada Bram


"Iya nek"


"Pokoknya mulai sekarang..kalau kamu mau kemana-mana..harus ditemenin sama Bram ya teh..jangan pergi sendiri.." pinta nenek Yati


"Iya nek" jawab Aisyah


"Besok kita ke polisi Bram..perbuatan Ronald tidak bisa dibiarkan" pinta kakek Ndaru


"Tidak perlu kek..toh Ronald sudah mendapat pelajaran tadi" ucap Aisyah

__ADS_1


"Ya sudah..kalau itu mau kamu" kata kakek Ndaru


"Karena ini sudah malam..kamu sekarang istirahat yaah.." kata nenek Yati sambil membelai lembut kepala Aisyah


Aisyah menganggukan kepalanya. Nenek Yati dan kakek Ndaru keluar dari kamar. Sepeninggal nenek Yati..Bram lalu duduk di sebelah Aisyah


"Kamu nggak apa-apa kan Yaang?" tanya Bram


"Nggak mas..Aisyah nggak kenapa-napa" jawab Aisyah


Aisyah melihat Sekar berdiri di sisi Ningrum


"Itu siapa Ningrum?" tanya Aisyah ke Sekar


"Ini Sekar teh..adik Ningrum"


Sekar pun mendekati Aisyah


"Teteh..salam kenal..saya Sekar" ujar Sekar sambil mengulurkan tangannya


"Saya Aisyah" kata Aisyah sambil menyambut uluran tangan Sekar


"Kamu punya adik ya Ningrum?" tanya Aisyah


"Iya teh..Sekar adik Ningrum satu-satunya" jawab Ningrum


"Kamu tadi yaah?..yang masuk ke dalam badan saya?" tanya Aisyah


"Iya teh..Sekar minta maaf..karena Sekar merasuki badan teteh..tanpa minta persetujuan teteh terlebih dahulu..Sekar disuruh oleh mbakyu Ningrum..agar menjaga teteh selama mbakyu menghadap Eyang Panembahan" jawab Sekar


Bram lalu menceritakan Ningrum yang di panggil oleh Eyang Panembahan karena persoalan auranya


"Eyang Panembahan itu siapa sih mas?" tanya Aisyah


"Sesosok jin yang menghuni salah satu pusaka Eyang di Jogja Yaang..Beliau minta kamu menghadapnya..agar aura kamu tidak semakin memancar keluar.." jawab Bram


"Aura Aisyah?..memangnya Aisyah kenapa sih mas?" tanya Aisyah lagi bingung


"Teteh mempunyai Aura Prameswari..aura seorang Ratu..yang menyebabkan teteh menjadi incaran orang-orang yang mengetahui khasiat Aura Prameswari..yang dimana kalau seseorang berhasil mendapatkan wanita yang mempunyai Aura Prameswari..dia akan menggunakan teteh sebagai sarana perjanjian ghoib.." jelas Ningrum


"Masss.." ucap Aisyah yang sedikit kuatir setelah mendengar penjelasan Ningrum


Bram pun menggenggam tangan Aisyah untuk menenangkannya


"Teteh mau kan..kalau sekarang menghadap Eyang Panembahan?" tanya Ningrum


Aisyah menganggukan kepalanya


"Bagaimana caranya Ningrum?" tanya Aisyah


Ningrum hanya tersenyum


"Kita akan meraga sukma teh..untuk menghadap Eyang Panembahan..Sekar?..kau bisa tinggal disini dulu sebentar..tolong jaga raga kasar masku dan teteh dulu?..selama mereka meraga sukma" pinta Ningrum ke Sekar


"Baik mbakyu" jawab Sekar


"Baiklah..sekarang teteh sama masku pejamkan matanya..kita akan meraga sukma" pinta Ningrum


Setelah membetulkan posisi duduknya..Bram dan Aisyah segera memejamkan matanya..seperti permintaan Ningrum


Ningrum lalu menyentuh kepala Bram dan Aisyah dengan telapak tangannya


Tak berapa lama


"Masku sama teteh bisa buka matanya sekarang"


Bram dan Aisyah membuka matanya perlahan..mereka langsung melihat ke sekeliling ruangan..mereka berdua berada seperti di dalam sebuah pendopo


"Selamat datang cucuku.."


Bram dan Aisyah langsung menoleh ke arah sumber suara. Di samping mereka..tampak kakek-kakek memakai gamis putih sedang duduk bersila..memakai sorban putih sebagai penutup kepalanya..serta jenggot panjang yang juga berwarna putih..dari wajahnya yang teduh terpancar sinar putih keemasan..yang menandakan kharomah nya yang sangat luar biasa


"Kemarilah kalian berdua.." pintanya sambil tersenyum


Bram dan Aisyah lalu mendekati kakek tersebut..mereka memberikan salam hormat begitu tiba dihadapannya


"Duduk kalian.." pintanya


Mereka berdua lalu duduk bersila di lantai..dihadapannya


"Mohon maaf..kakek siapa?" tanya Bram


Kakek tersebut hanya tersenyum


"Aku adalah Eyang Panembahan..kau bisa memanggilku Eyang ngger..kau adalah salah satu keturunanku yang istimewa.." jawab Eyang Panembahan


Bram hanya membulatkan bibirnya mendengar jawaban Eyang Panembahan


"Aisyah cucuku..kemarilah nduk..aku akan mengurangi sedikit aura mu yang istimewa itu" pintanya ke Aisyah


Aisyah lalu berjalan dengan lututnya..beringsut mendekati Eyang Panembahan. Setelah berada di depan Eyang Panembahan..Aisyah bisa merasakan aura kharomah Eyang Panembahan yang sangat kuat..sampai dia merasa badannya sesak seperti di himpit oleh tembok di kanan kirinya. Tapi tiba-tiba..perasaan nyaman dan tentram langsung merasuki dirinya..mengganti rasa sesak yang sempat tadi Aisyah rasakan


"Hmmm..kamu memang mirip sekali nduk.." ucap Eyang Panembahan sambil tersenyum sesaat melihat Aisyah


Aisyah tertegun heran mendengar Eyang Panembahan mengatakan kalau dirinya mirip dengan seseorang


"Pejamkan matamu.." pinta Eyang Panembahan


Aisyah lalu memejamkan matanya. Tangan Eyang Panembahan segera menyentuh kepala Aisyah..Eyang Panembahan tampak seperti membaca doa..seiring tangan Eyang turun ke wajah Aisyah dan di depan dadanya


"Sudah nduk..kau bisa buka lagi matamu.." pinta Eyang Panembahan


Aisyah membuka matanya kembali..dia lihat Eyang Panembahan tersenyum kearah dirinya


"Aura mu sekarang sudah kembali normal..tidak memancar keluar lagi seperti tadi.."


"Mohon maaf Eyang..aura Aisyah kenapa bisa keluar dengan sendirinya?" tanya Bram


"Iya ngger..semua ini bermula karena ketidak sengajaan Ningrum.." kata Eyang Panembahan sambil mengalihkan pandangannya ke Ningrum


Bram dan Aisyah mengalihkan pandangannya ke Ningrum..Ningrum hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum


"Apa kau lupa nduk?..waktu Ningrum meminjam ragamu untuk memberi pelajaran pada sekelompok pemuda yang mengganggumu ketika kau sedang berada di sebuah toko?" ujar Eyang Panembahan


Aisyah seperti teringat sesuatu


"Iya Eyang..Aisyah ingat..waktu di Cihampelas..Ningrum masuk ke badan Aisyah untuk berkelahi dengan orang yang mengganggu Aisyah" jawab Aisyah


"Karena Ningrum meminjam ragamu itulah..secara tidak sengaja..dia membuka aura mu yang asli" kata Eyang Panembahan sambil tersenyum


"Maafin Ningrum ya teh..karena ulah Ningrum..teteh jadi kerepotan.."


"Nggak apa-apa Ningrum" jawab Aisyah sambil tersenyum


"Ya sudah kalau begitu..kalian bisa kembali ke tempat kalian lagi..karena urusan Eyang dengan kalian sudah selesai" kata Eyang Panembahan


"Eh..mohon maaf Eyang..kalau Eyang nggak keberatan..saya mau menanyakan suatu masalah ke Eyang..masalah auranya Aisyah Eyang " pinta Bram


"Kamu pasti bingung..kenapa Aisyah bisa mempunyai aura Prameswari?" tanya Eyang Panembahan yang sepertinya tahu isi hati Bram


"Iya Eyang.." jawab Bram


Sesaat Eyang Panembahan menyunggingkan senyumannya sambil membelai janggutnya yang berwarna putih


"Cucuku Aisyah.." Eyang Panembahan mengalihkan pandangannya ke Aisyah


"Saya Eyang.." jawab Aisyah sambil mengangguk hormat


"Kamu adalah salah satu keturunan yang istimewa dari seorang putri bangsawan yang berasal dari kerajaan Padjajaran..dan dia adalah yang bernama Raden Ayu Diah Pitaloka.." ujar Eyang Panembahan sambil tersenyum


Kagetlah Bram dan Aisyah..kalau ternyata Aisyah adalah keturunan dari salah seorang putri kerajaan Padjajaran


"Tapi Eyang..mohon maaf..bukannya putri Diah Pitaloka telah gugur di perang Bubad?" tanya Bram


Eyang Panembahan tersenyum


"Bram..cucuku..cerita perang Bubad itu hanyalah sebuah karangan belaka yang sengaja dibuat oleh penjajah Belanda..agar rakyat kita bisa diadu domba dengan mereka..mereka sengaja menyebarkan cerita itu agar masyarakat suku Sunda dan masyarakat suku Jawa saling membenci satu sama lain..agar terjadi perpecahan diantara kita.." terang Eyang Panembahan


Bram dan Aisyah saling adu pandang..setelah mendengar cerita Eyang Panembahan


"Mengenai Putri Ayu Diah Pitaloka sendiri..dia akhirnya menikah dengan seorang pangeran dari kerajaan Pajang dan hidup bahagia sampai akhir hayatnya.." sambung Eyang Panembahan


"Ooh..begitu ceritanya Eyang..berarti cerita perang Bubad itu hanyalah karangan Belanda belaka.."


Eyang Panembahan tersenyum sambil menganggukan kepalanya


"Cucuku Aisyah..bisa dibilang merupakan reinkarnasi dari sang putri itu sendiri ngger.."


Aisyah terkejut mendengar perkataan Eyang Panembahan barusan


"Waaah..berarti putri Ayu Diah Pitaloka mirip dengan Aisyah dong Eyang?" tanya Bram


"Mirip ngger..mirip sekali.." jawab Eyang Panembahan


"Mangkanya tadi Eyang bilang sama kamu..kalau kamu itu mirip sekali dengan putri Ayu Diah Pitaloka.." sambung Eyang Panembahan ke Aisyah


Aisyah menganggukan kepalanya..dia pun menoleh ke samping..begitu Bram menyentuh tangannya dan memberikan senyumannya


"Maaf Eyang..kalau boleh saya tahu..dari siapa garis keturunan putri Ayu Diah Pitaloka bisa sampai ke diri saya Eyang?" tanya Aisyah


"Dari garis keturunan ibumu nduk.." jawab Eyang Panembahan


Aisyah tersenyum haru mendengar jawaban Eyang Panembahan


"Ada lagi ngger?..yang mau kau tanyakan ke Eyang?" tanya Eyang Panembahan


"Tidak ada lagi Eyang" jawab Bram


"Ya sudah kalau begitu..Ningrum?.. kamu bawa kembali kedua cucuku ini yaaah.." pinta Eyang Panembahan


"Baik Eyang.."


"Eyang minta tolong sama kamu..kamu tolong jaga mereka berdua yaaah.." pinta Eyang Panembahan lagi


"Baik Eyang.." jawab Ningrum


"Terutama cucuku Aisyah ini.." sambung Eyang Panembahan


"Baik Eyang.."


Ningrum lalu memegang kepala Bram dan Aisyah dengan lembut


"Kami pamit Eyang..assalamuallaikum" pamit Bram


"Waallaikumsallam.." jawab Eyang Panembahan


Tak lama kemudian..Aisyah dan Bram secara perlahan menghilang dari hadapan Eyang Panembahan


Setelah mendengar suara Ningrum agar membuka matanya..Bram mendapati dirinya sudah berada di kamar lagi


"Ningrum..tadi pas saya di depan Eyang Panembahan..kok badan saya terasa sesak..seperti di jepit oleh tembok di kiri kanan yaah?" tanya Aisyah


"Iya teh..itu karena efek dari kharomah Eyang Panembahan yang sangat kuat" jawab Ningrum


"Bagi manusia awam yang tidak mempunyai ilmu simpanan..seperti teteh..dia akan seperti tertekan..stres dan takut kalau berhadapan dengan Eyang Panembahan..bahkan bisa pingsan teh..tadi Ningrum lihat..Eyang berusaha menekan kharomahnya saat teteh berada didepan beliau..agar teteh tidak terlalu tertekan..tapi tiba-tiba..aura teteh keluar secara spontan melindungi teteh..begitu teteh merasa tertekan oleh karomah Eyang Panembahan" lanjut Ningrum


Aisyah pun terkesima mendengar jawaban Ningrum

__ADS_1


"Masku sama teteh bisa istirahat sekarang..Ningrum pamit ya masku.." pamit Ningrum sambil menghilang dari hadapan Bram dan Aisyah


"Sekar pamit juga kangmas..teteh" ucap Sekar yang ikut menghilang dari hadapan Aisyah dan Bram


Tinggalah mereka berdua di kamar..sesaat mereka saling pandang


"Ada apa sih mas?" tanya Aisyah sambil tersenyum


"Pantesan..kemaren-kemaren..mas kalau deket kamu..bawaannya horny terus.." kata Bram sambil menjawil hidung Aisyah


"Mas nya ajah..yang pikirannya kotor kalau deket Aisyah" dengus Aisyah


Bram pun tertawa. Aisyah lalu turun dari ranjang


"Temenin Aisyah ke belakang yuk mas..Aisyah mau bersih-bersih dulu..sebelum tidur" kata Aisyah sambil mengambil perlatannya dan baju ganti


"Baik tuan putri.." jawab Bram


Aisyah sontak menoleh sambil menekuk mukanya..Bram pun tertawa terbahak-bahak. Lalu mereka berdua menuju ke belakang


Bram menunggu Aisyah yang tengah bersih-bersih di kamar mandi dengan duduk di kursi meja makan di dapur. Dia lihat handphonenya ternyata mamahnya mengirimkan WA sewaktu dirinya meraga sukma menenemui Eyang Panembahan. Bram lalu membalas pesan mamahnya. Tak lama kemudian..dari dalam kamar mandi keluarlah Aisyah


"Mas mau kopi nggak?" tanya Aisyah yang berdiri di sebelah Bram


"Boleh deh Yaang.." jawab Bram yang sedang mengetik balasan pesan mamahnya


Aisyah lalu menuju ke lemari yang ada di dekatnya..dia segera menyiapkan kopi hitam


"Mamah nanyain nih Yaang..kita disini masih lama nggak?"


"Kenapa memangnya mas?"


"Kalau masih lama..kita disuruh mamah sekalian ngelihat pemugaran rumah ayah kamu di Dago Yaang"


"Ya udah..sekalian jalan pulang ya mas.."


Setelah kopinya jadi..Aisyah membawanya ke meja yang ada di hadapan Bram


"Kopinya mas.."


"Iya..terima kasih Yaang.."


"Mas nggak cerita ke ibu kan?..soal kejadian barusan?" tanya Aisyah sambil menyeruput kopinya


"Yang mana?"


"Yang Ronald nyulik Aisyah?"


"Ya nggaklah!..kalau mamah sampai tahu..bisa-bisa nanti ngomelnya tujuh hari tujuh malam.." jawab Bram


Aisyah pun tertawa geli


"Kayak nggak tahu mamah ajah kamu"


Bram meletakan handphonenya dan dia ambil gelas kopinya..untuk dia minum


"Iya mas..nggak enak sama nenek nanti..kalau ibu sampai tahu"


Bram lalu menyalakan rokoknya..dia lihat Aisyah termenung..seperti memikirkan sesuatu


"Ada apa Yaang?" tanya Bram


"Nggak mas..Aisyah masih kepikiran omongan Eyang Panembahan tadi..kalau Aisyah mirip sama putri Ayu Diah Pitaloka"


Bram hanya tersenyum melihat Aisyah termenung


"Eh iya..kamu belum cerita..kok si Ronald bisa nyulik kamu?.."


"Iya mas..ini semua gara-gara pak Tatang menyerahkan pabrik dan kebun teh ke Aisyah"


"Kok kamu tahu?"


"Iya..tadi pas di mobil..Ronald mengancam Aisyah..agar Aisyah membatalkan serah terima warisan kakek Nandar"


"Kamu di apa-apain nggak sama si Ronald?" tanya Bram


"Aisyah sempet dijambak sama di tampar mas.." kata Aisyah sambil meraba pipi sebelah kirinya


Bram lalu bangkit dari kursinya..dia lalu memeluk kepala Aisyah dan mencium rambutnya dengan lembut


"Maafin mas yaak..mas tadi nggak ikut kamu waktu ke mess.." kata Bram yang masih memeluk kepala Aisyah


"Iya mas..nggak apa-apa..untung ajah tadi ada Sekar..yang nolongin Aisyah"


Bram menggeser bangkunya ke sebelah Aisyah


"Mana tadi..pipi kamu yang kena tampar Ronald?" tanya Bram


"Yang ini mas.." kata Aisyah sambil menunjuk pipi kirinya


Bram mengusap dengan lembut pipi kiri Aisyah..kemudian dia kecup pipi Aisyah


"Daah..sudah mas obatin tuh.."


Aisyah menghela nafasnya perlahan


"Mas kalau modus bisa ajah yaak..bilang ajah mau nyium pipi Aisyah..pake alasan mau ngobatin..hiiiih!!" kesal Aisyah


Bram menjerit sambil tertawa setelah pinggangnya terkena cubitan Aisyah


________________


Keesokan paginya..di dapur Aisyah membantu nenek Yati untuk menyiapkan sarapan pagi


"Kamu nanti mau berangkat jam berapa teh?" tanya nenek Yati sambil menaburkan suwiran ayam goreng diatas wajan nasi goreng yang tengah di aduk oleh Lilis


"Habis sarapan kayaknya nek.." jawab Aisyah yang tengah menyiapkan kopi dan teh manis


"Nanti nenek titip oleh-oleh buat mamahmu yah.."


"Iya nek"


Setelah dirasa semua sudah siap..nenek Yati keluar menuju teras


"Braaam..sarapan dulu.." ajak nenek Yati pada Bram yang tengah mengelap mobilnya


"Iya nek..nanti Bram ke dalam..tanggung nek..dikit lagi selesai"


Dari atas kebun teh..kakek Ndaru berjalan bersama dua orang mandor kebun teh..setelah berbincang sebentar di pinggir jalan..kakek Ndaru masuk ke dalam halaman


"Kamu mau pulang sekarang Bram?" tanya kakek Ndaru


"Iya kek..soalnya nanti Bram disuruh mampir ke Dago sama mamah..untuk ngelihatin renovasi rumah ayahnya Aisyah kek.." jawab Bram


Setelah selesai mengelap mobilnya..Bram bersama kakek Ndaru masuk ke dalam rumah untuk sarapan


"Nek..mengenai perhiasan peninggalan nenek Galuh..Aisyah mau memberikan sebagian dari peninggalan nenek Galuh untuk anak-anak yatim piatu nek..disini ada nggak nek?..rumah penampungan anak-anak yatim piatu?" tanya Aisyah


"Ada teh..kamu mau ngasih perhiasan nenek Galuh?"


"Iya nek..Aisyah mau sodakohin sebagian perhiasan peninggalan nenek Galuh atas nama nenek Galuh sama kakek Nandar"


Nenek Yati pun tersenyum haru..setelah mendengar rencana Aisyah yang mau memberikan sebagian warisan nenek Galuh untuk anak-anak yatim dan piatu


"Niat kamu bagus sekali teh..semoga amalnya diterima oleh Alloh SWT.." ucap nenek Yati


"Amin nek.."


Sekitar jam 9..Bram dan Aisyah pamit pada kakek Ndaru dan nenek Yati untuk kembali ke Jakarta


"Aisyah pamit ya nek.." kata Aisyah sambil mencium tangan nenek Yati


"Iya teh..jangan kapok nginep disini yaah?" jawab nenek Yati sambil memeluk Aisyah dan mencium kedua pipi Aisyah


"Kek..Aisyah pamit..terima kasih..atas bantuan kakek.."


"Iya teh..sama-sama.." jawab kakek Ndaru sambil tersenyum


"Bram..kamu jagain Aisyah yaah..jangan sampe kejadian kayak kemarin terulang lagi.." pinta nenek Yati sambil memeluk Bram


"Iya nek..Bram pasti jagain Aisyah"


"Soal Aisyah yang diculik sama Ronald..mamahmu jangan sampai tahu yaah..kayak nggak tahu mamahmu aja sih?" kata nenek Yati


"Iya nek..Bram janji"


Diiringi lambaian tangan nenek Yati dan kakek Ndaru..mobil BMW hitam merayap perlahan keluar dari halaman rumah kakek Ndaru


"Mas..minggu depan kan sudah mau puasa..nanti pas di Dago..kita sekalian ziarah ke makam ayah dan ibu ya mas.." kata Aisyah yang duduk di sebelah Bram


"Iya..eh..memangnya..minggu depan tuh sudah mulai puasa yaah?" tanya Bram


"Iya mas.." jawab Aisyah


Kurang lebih..sekitar 1 jam..sampailah mereka di depan rumah pak Mahmud..Bram menghentikan mobilnya di depan pagar yang tampak di bongkar..dan di dalam.. tampak para pekerja sedang merenovasi rumah peninggalan ayah Aisyah. Seorang mandor proyek..tampak mendekat mobil Bram


"Halo mas Bram..apa kabar?" sapanya begitu melihat Bram keluar dari dalam mobil


"Kenalkan..saya Pono mas..yang diserahin sama bapak mas..untuk merenov rumah pak Mahmud" ujar Pono sambil menjabat tangan Bram


"Halo teh?..apa kabar?" sapa Pono pada Aisyah


"Baik pak.." jawab Aisyah


"Mari teh..kita lihat-lihat ke dalam"


"Mas disini aja ya Yaang" kata Bram


Kemudian Pono mengantar Aisyah ke dalam untuk melihat progres renovasi rumah ayahnya. Sepeninggal Aisyah yang ke dalam..Bram kemudian mengeluarkan rokoknya..dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah Aisyah. Dia tersenyum sambil mengenang masa-masa kecilnya dulu..ketika dia bermain bersama Aisyah di bawah pohon jambu air yang tumbuh di halaman rumah Aisyah. Bram lihat ada sekitar 5 truk yang parkir di halaman mengangkut material untuk keperluan renovasi rumah pak Mahmud. Dia lihat Aisyah seperti mengarahkan sesuatu pada Pono..atas apa yang dia inginkan untuk kondisi rumah ayahnya kelak nanti. Tiba-tiba.. handphone Bram bergetar..dia lihat nomor tanpa nama..setelah menimbang-nimbang.. Bram angkat panggilan di handphonenya


"Halooo?..waallaikumsallam ..oooh...mang Harja?..ada apa mang?..iya..saya nanti ke vila..saya sekarang lagi di rumahnya pak Mahmud..iya mang..iya.. Waallaikumsallam.."


Bram lihat..sepertinya Aisyah sudah selesai melihat proses renovasi rumah ayahnya


"Nanti kalau barangnya sudah ready..saya kabarin teteh.." kata Pono


"Iya pak..terima kasih..saya sekalian pamit ya pak.." kata Aisyah sambil menjabat tangan Pono


"Iya teh..hati-hati"


"Saya pamit ya pak.." pamit Bram


"Iya mas..hati-hati"


Pono melambaikan tangannya ke arah mobil Bram yang meninggalkan rumah pak Mahmud. Sebelum menuju vila..Bram berencana untuk mengantarkan Aisyah yang mau ziarah ke makam kedua orang tuanya. Dia parkir mobilnya di depan jalan setapak yang menuju ke arah gerbang makam..mereka berdua melanjutkan dengan berjalan kaki menuju ke makam. Setibanya di depan makam kedua orang tuanya..Aisyah segera bersimpuh di antar makam ayah dan ibunya dan mengirimkan doa untuk mereka berdua. Bram lalu berjongkok di depan nisan bu Entin


"Assalamuallaikum bu Entin..saya Bram nih bu..yang dulu suka bikin Aisyah nangis.."


Aisyah yang tengah berdoa menoleh ke arah Bram dan tersenyum geli


"Terima kasih ya bu..karena ibu sudah membesarkan Aisyah..hingga putri ibu ini sudah menjadi wanita yang cantik..pintar dan juga solehkah.." kata Bram sambil mengusap-usap nisan bu Entin


"Sekarang ibu sama bapak..bisa tenang disana..ibu dan bapak nggak usah kuatir lagi..karena sekarang jadi tugas saya yang menjaga Aisyah..dan saya berjanji sama ibu dan bapak..untuk membuat Aisyah bahagia..dan tidak akan membikin Aisyah nangis lagi..saya janji ibu..bapak.." kata Bram sambil mengusap nisan pak Mahmud


Aisyah pun tersenyum haru mendengar perkataan Bram di depan pusara kedua orang tuanya. Bram pun tersenyum ke arah Aisyah


"Terima kasih mas.." ucap Aisyah yang tidak terasa..air matanya menetes di pipinya

__ADS_1


Begitu melihat Bram membuka kedua tangannya..Aisyah segera menghambur ke pelukan Bram dan menangis sesugukan di sana. Bram mengelus-elus kepala Aisyah sambil di ciumnya dengan lembut


__ADS_2