Wanita Pilihan Mama

Wanita Pilihan Mama
41. Aisyah Ngambek


__ADS_3

"De..Dewi Ayu Ningrum!!" ujar jin itu


"Apa kabarmu Ki Sabdo?..kau masih mengenaliku?" tanya Ningrum sambil tersenyum sinis


Widya terperanjat kaget kalau Bram juga mempunyai jin pendamping seperti dirinya


Ternyata jin pendampingnya mengenali Ningrum


"Apa yang kau lakukan disini Dewi?..bukankah kau harusnya berada di istanamu..di Pasundan Atas?" tanya Ki Sabdo sambil memegangi dadanya yang dirasa nyeri..lalu dia bangkit dan berdiri di samping Widya


"Apa hubunganmu dengan anak muda itu?" tanyanya


"Anak muda ini sekarang menjadi tanggung jawabku Ki Sabdo..jangan sekali-kali kau berani menyentuhnya.." jawab Ningrum


"Aku tidak peduli..karena dia tidak mau menuruti kemauan Widya..anak yang aku dampingi.."


"Hahaha..masih punya nyali kau ternyata Ki..seharusnya pukulan di dadamu itu menjadi peringatan buat dirimu agar kau urungkan niatmu itu kepada Bram.."


"Aku minta..kau jangan ikut campur masalah ini Dewi..atau aku tidak akan segan-segan meladenimu" ancam Ki Sabdo sambil memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang kembali


"Oooh..kau sudah lupa yaah?..dengan siapa kau berhadapan sekarang ini?" kata Ningrum sambil tersenyum


"Baiklah..kalau itu maumu Dewi..aku tak akan segan-segan menyerangmu"


"Silahkan Ki..kalau kau ingin menjajal ilmu ku" kata Ningrum sambil memegang kedua ujung selendang emasnya


Mata Ki Sabdo terbelalak kaget melihat selendang emas yang berada di tangan Ningrum


"Selendang Khayangan!" ujar Ki Sabdo lirih


"Dari mana kau dapatkan Selendang Khayangan itu Dewi?" tanya Ki Sabdo yang sepertinya mengenal selendang emas kepunyaan Ningrum


"Kau mengenalnya Ki?..kalau kau ingin menjajal selendangku ini..majulah!!" tantang Ningrum


Ki Sabdo tiba-tiba melompat tinggi ke udara sambil melancarkan serangan berupa sinar hitam yang berasal dari kerisnya ke arah Ningrum dan Bram


Bram yang melihat empat buah sinar meluncur kearahnya..beringsut ke belakang..tapi semua serangan Ki Sabdo dengan mudah ditangkis oleh sabetan selendang emas kepunyaan Ningrum


"Masku tenang saja..serangan dia tidak akan bisa menyentuh masku" kata Ningrum yang berusaha menenangkan Bram


Setiap serangan sinar dari keris Ki Sabdo..dengan mudah dimentahkan oleh sabetan selendang emas Ningrum


Hingga di suatu kesempatan..Ningrum melancarkan serangan balasan lewat selendangnya yang tahu-tahu memanjang dan menghajar dada Ki Sabdo dengan telak sebanyak tiga kali


Ki Sabdo yang menerima serangan cepat dari Ningrum kembali terpental dan terjatuh ke tanah dengan cukup keras


Ki Sabdo bangun dan terbatuk-batuk memuntahkan darah hitam dari mulutnya


Uhuuk..uhuuk


Hoeek..


Widya terlihat pucat pasi wajahnya..karena jin pendampingnya dihajar dengan mudah oleh Ningrum


"Bangun Ki!!..lawan perempuan sundal itu!!" bentak Widya


"Jaga mulutmu cah ayu!!..pantas saja masku enggan dengan dirimu..ternyata rupamu tidak sepadan dengan sifatmu" pinta Ningrum dengan tatapan dingin ke Widya


"Sudahlah Wid..hentikan semua ini" kata Bram


"Diem lu Bram!!..sebelum lu jadi milik gua..gua nggak akan berhenti" teriak Widya


"Bangun Ki!!" teriak Widya pada Ki Sabdo yang masih terduduk merasakan sakit didadanya


Uhuuuk..uhuuuk..


Hoeeek..


Ki Sabdo kembali memuntahkan darah hitamnya


"Ningrum..lu bisa nggak nolongin Widya..supaya melupakan semua ini?" pinta Bram pada Ningrum


"Bisa masku..tapi selama jin itu masih berada disampingnya..dia akan tetap seperti itu"


"Jadi?" tanya Bram


"Jin itu musti dilenyapkan terlebih dahulu masku..baru Ningrum akan menolong Widya" jawab Ningrum sambil menoleh kearah Bram


Bram pun menganggukan kepalanya


Tampak tangannya Ningrum berselimut sinar biru dan menjalar ke selendang emasnya


"Ki Sabdo..untuk terakhir kalinya..jangan kau turuti kemauan anak itu..atau terpaksa aku akan turun tangan menghadapimu.." kata Ningrum sambil melayang ke udara di hadapan Bram


"Maaf Dewi Ayu..uhuuk...uhuuk..aku terpaksa menolak permintaanmu..pantang bagiku menarik ucapanku..karena aku sudah berjanji akan menolong dia untuk mendapatkan anak muda itu" sahut Ki Sabdo sambil berusaha bangkit dan memasang kuda-kudanya


"Baiklah Ki..kalau itu maumu..sekalian kau keluarkan seluruh ajian pamungkasmu..biar aku tidak lama-lama meladenimu" kata Ningrum yang kini badannya sudah terselubung sinar biru yang berbentuk lingkaran seperti bola yang mengelilinginya


"Jangan sombong kau Dewi..aku tahu kesaktianmu memang mumpuni..tapi kau belum merasakan ajian pamungkasku"


Tiba-tiba..Ki Sabdo mengeram sambil membungkukan badannya..asap hitam mulai menyelimuti dirinya..tak lama kemudian..Ki Sabdo menampakan wujudnya yang asli..sesosok Genderuwo yang tinggi besar..matanya merah seperti nyala api yang membara dengan gigi taring yang menyelip di kedua bibirnya


"Aaarrrggghh..bersiaplah kau Dewi..terimalah ajian pamungkasku ini!!.." teriak Ki Sabdo dengan suara yang menggelegar


Ki Sabdo mencabut bulu di badannya lalu melemparnya ke arah Ningrum dan bulu itu langsung berubah menjadi tombak hitam yang jumlahnya cukup banyak dan meluncur ke arah Ningrum yang masih diam menerima serangan Ki Sabdo


Ki Sabdo menyambung serangannya dengan sinar hitam yang berasal dari kedua kukunya


Tapi..serangan Ki Sabdo sepertinya tidak berpengaruh terhadap Ningrum..semua serangannya terpental begitu menyentuh selubung sinar biru yang menyelubungi tubuh Ningrum


Ki Sabdo tertegun kaget..karena serangan pamungkasnya tidak berarti ke Ningrum


"Ajian apa yang kau gunakan Dewi?" tanya Ki Sabdo


Ningrum tersenyum dingin


"Cuma itu saja kemampuanmu Ki?" ejek Ningrum


Ki Sabdo yang merasa tersulut emosinya oleh ledekan Ningrum..segera melesat ke arah Ningrum..sambil mengeluarkan kuku di kedua tangannya yang sudah berwarna merah membara


Begitu kuku Ki Sabdo menyentuh selubung sinar birunya Ningrum..Ki Sabdo berteriak kesakitan..karena tubuhnya seperti dialiri listrik ribuan Voltase dan menempel di selubung sinar biru


Ningrum tersenyum melihat Ki Sabdo yang masih meraung kesakitan menempel di selubung sinar biru


"Giliranku Ki.." ucap Ningrum


Lalu dengan cepat Ningrum melancarkan serangan kombinasi dengan menggunakan selendang emasnya ke badan Ki Sabdo..Ki Sabdo hanya bisa meraung kesakitan dan pasrah menerima serangan mematikan Ningrum..darah hitam terlihat memuncrat dari bibir Ki Sabdo setiap serangan selendang Ningrum mendarat di tubuhnya


Bram bergidik ngeri dan kagum melihat serangan kombinasi Ningrum terhadap Ki Sabdo yang tampak pasrah


"Anjriiit..Ningrum dilatih apaan yaah sama Eyang Panembahan?" ujar Bram dalam hati


Setiap jengkal badan Ki Sabdo tidak luput dari serangan ujung selendang emas kepunyaan Ningrum


Mungkin sudah puluhan kali Ki Sabdo menerima serangan ujung selendang emas kepunyaan Ningrum


Hingga diujung serangan pamungkasnya..Ningrum menggunakan cakar hitamnya di kedua tangannya untuk disabetkan secara menyilang di tubuh Ki Sabdo hingga Ki Sabdo melolong kesakitan dan hancur menjadi abu


Ningrum menarik selendang emasnya sambil meluncur turun di samping Bram..perlahan selubung sinar biru memudar..seiring mendaratnya Ningrum di tanah


"Kurang ajar kau perempuan sundaaaalll!!..kau apakan Ki Sabdo!!" teriak Widya sambil berlari ke arah Bram dan Ningrum


Sreeeeet....meluncur ujung selendang emas Ningrum dan langsung membungkus tubuh Widya hingga seperti kepompong


Widya yang tubuhnya terbungkus selendang emas Ningrum..hanya bisa berteriak sambil berusaha melepaskan diri dari balutan selendang emas Ningrum


Hingga dengan satu hentakan tangan Ningrum di selendangnya..Widya berteriak dan langsung terdiam


Setelah Widya terdiam..Ningrum menarik selendangnya agar tubuh Widya yang masih terbungkus mendekati dirinya..dan merebahkan Widya di pelataran parkir


Kemudian..Ningrum mulai membuka selendangnya..Bram segera menghampiri Widya dan mengangkat badan Widya di pahanya


"Widya kenapa Ningrum?" tanya Bram


"Teman masku Ningrum hapus semua ingatan dia tentang masku..nanti setelah dia bangun..dia tidak akan ingat lagi soal kejadian barusan dan melupakan semua kejadian tentang masku.." jawab Ningrum


Bram lalu berdiri sambil membopong Widya yang tidak sadarkan diri


"Terus ini gimana?..nggak enak dilihat orang..kalau gua gotong-gotong Widya yang pingsan gini" tanya Bram lagi


Ningrum tersenyum geli


"Masku pejamkan matanya yaah.." pinta Ningrum


Bram pun lalu memejamkan matanya


"Kalau selama Ningrum belum boleh menyuruh masku membuka matanya..masku tetap memejamkan mata yaaah" ujar Ningrum sambil menyentuh pundak Bram


Bram menganggukan kepalanya..Bram langsung merasakan badannya ringan..seringan kapas


"Sudah masku..masku sekarang boleh membuka mata masku.." ucap Ningrum


Bram terkejut..karena Ningrum membawa dirinya masuk kedalam mobil Widya yang tengah parkir


Bram lalu menaruh Widya di joknya


"Maafin gua ya Wid..ini semua buat kebaikan lu juga.." kata Bram sambil memegang kepala Widya


"Sudah masku?" tanya Ningrum yang duduk di jok belakang


Bram menganggukan kepalanya


"Pejamkan lagi matamu masku.."


Bram pun menuruti perintah Ningrum..kembali setelah pundaknya disentuh oleh Ningrum..Bram merasakan badannya ringan


"Sudah masku..buka kembali matanya" kata Ningrum


Bram kembali terkejut..karena sekarang Ningrum membawa dirinya kedepan gerbang rumah Eyang kakungnya


"Kamu hebat Ningrum..kamu bisa teleport dengan cepat.." puji Bram


"Iya masku.." ujar Ningrum sambil tersenyum


Sejenak Bram melihat ke arah halaman rumah Eyangnya


Bram lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ningrum


"Terus tadi kamu yang melawan jinnya Widya juga hebat Ningrum..kereen..itu tadi semua..hasil dari latihan dengan Eyang Panembahan?" tanya Bram


"Iya masku.." jawab Ningrum sambil tersenyum


"Eyang Panembahan juga berkenan memberikan salah satu senjata pusakanya buat Ningrum" kata Ningrum sambil menimang selendang emasnya


"Selendang Khayangan..jangan-jangan kepunyaan bidadari ya Ningrum?" tanya Bram


Ningrum hanya memberikan senyumannya atas pertanyaan Bram barusan


Bram lalu menuju ke sebuah batu besar yang berada di samping gerbang..dia lalu duduk diatasnya..kemudian dia mengeluarkan rokoknya dan mulai menghisapnya


Ningrum lalu melayang menghampiri Bram dan berdiri disampingnya


Bram mengeluarkan handphonenya..dan melihat riwayat panggilannya..dia lihat mamahnya beberapa kali menelponya..tapi tidak dia angkat


Ningrum yang melihat raut muka Bram cemas..berusaha menelisik kedalam pikiran Bram


"Masku kenapa" tanya Ningrum


Bram hanya tersenyum getir menjawab pertanyaa Ningrum barusan


"Masku takut yaah?..dengan ibunda?..soal Widya?" tanya Ningrum


"Iya Ningrum" jawab Bram tanpa menoleh ke arah Ningrum


"Masku bicara saja pada ibunda apa adanya..mungkin beliau akan mengerti"


Bram pun hanya kembali tersenyum hambar


Lalu setelah mematikan rokoknya..Bram lalu melangkah masuk ke dalam halaman rumah Eyangnya yang diikuti oleh Ningrum dibelakangnya


"Teteh dimana Ningrum?" tanya Bram


"Teteh ada di pendopo depan masku..bersama ayahanda dan seorang wanita masku.." jawab Ningrum


"Mbak Dini Ningrum..namanya mbak Dini..sekretaris papah" jelas Bram


"Sekretaris?..sekretaris itu apa masku?" tanya Ningrum


Ingin rasanya Bram tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Ningrum


"Hmm..apa yaah?..sekretaris tuh kayak..hmm..tugasnya mencatat semua jadwal papah..kayak asisten pribadi.." jelas Bram


"Oooh..seperti Carik ya masku?"


"Iya.." jawab Bram singkat


Begitu sampai di pendopo depan..Bram melihat papahnya sedang melakukan teleconferens didampingi oleh Dini dan Aisyah


Aisyah yang melihat Bram menuju ke teras rumah..segera bangkit dan menyusul Bram


"Mas dari mana?" tanya Aisyah pada Bram yang duduk di kursi


"Ceritanya panjang Yaang.." jawab Bram sambil mengeluarkan rokoknya


Aisyah heran mendengar jawaban Bram..dia menoleh ke Ningrum yang berdiri di depannya


"Mas Bram kenapa Ningrum?" tanya Aisyah


Lalu Ningrum menceritakan kejadian di Malioboro pada Aisyah


"Terus?..mas pulangnya tadi naek apa?..taksi?" tanya Aisyah lagi


Bram menganggukan kepalanya..Ningrum tersenyum melihat Bram berbohong pada Aisyah


"Mamah mana?" tanya Bram

__ADS_1


"Ibu sudah tidur mas..mas mau kopi?"


Bram menganggukan kepalanya


Aisyah lalu bangun dan beranjak ke dapur


"Masku..Ningrum pamit dulu yaah.."


"Iya Ningrum..terima kasih yaah" jawab Bram


"Iya masku.." ujar Ningrum sambil menghilang dari pandangan Bram


Bram yang merokok melihat ke arah pendopo..disana papahnya dan Dini masih melakukan teleconference


"Mas..kopinya" kata Aisyah sambil meletakan segelas kopi di meja


"Iya..terima kasih ya Yaang" ujar Bram sambil mematikan rokoknya di asbak


"Papah teleconference sama siapa sih?" tanya Bram sambil mengambil kopinya


"Sama orang Hexaco mas..dari Houston" jawab Aisyah sambil meminum kopinya


"Mau ngapain?"


"Kayaknya..bapak mau beli perusahaan itu deh mas..soalnya tadi yang disana pada kumpul..para pemegang saham mas"


"Waah..nanti kalau jadi..kamu bakal kesana dong?..buat audit"


"Iya mas..kok mas tahu?"


"Tahulaah..nanti kalau kamu kesana..mas sendirian dong dirumah"


"Terus?" tanya Aisyah heran


"Mas nanti kalau kangen sama kamu gimana?" rajuk Bram


"Huuuuh!!..mas mah pinter banget gombal yaah!!" ujar Aisyah sambil mencubit lengan Bram


"Aaaah..sakit tahu Yaang.." teriak Bram sambil memegang lengannya yang habis dicubit Aisyah


Setelah melihat jam di handphonenya..Bram lalu beranjak bangun


"Mas mau kemana?" tanya Aisyah


"Tidur..ngantuk" jawab Bram


"Mas mau tidur dimana?"


"Kamar depan..kenapa memangnya?"


"Laah..nanti Aisyah tidur sama siapa?" tanya Aisyah


"Kan sama mbak Dini" jawab Bram sambil beranjak menuju kamar depan


Aisyah yang tampak ragu-ragu..akhirnya mengikuti Bram dari belakang yang menuju ke kamar depan


"Kamu mau ngapain?" tanya Bram begitu melihat Aisyah sudah ada dibelakangnya


"Aisyah takut mas.." rajuk Aisyah sambil menautkan jari-jarinya


"Teruss?..mas disuruh ngapain?"


"Temenin Aisyah tidur dulu ya mas..mbak Dini kayaknya masih lama selesainya"


"Hadeeeh..." ujar Bram sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Ya udah..ayuk"


Lalu Bram mengikuti Aisyah menuju ke paviliun


Sesampainya disana..mereka langsung masuk kedalam kamar


"Aisyah ganti baju dulu ya mas..jangan ditinggal!!" pinta Aisyah sambil mengambil bajunya di koper


"Iyaa" kata Bram sambil duduk di sofa


Lalu Aisyah menuju ke kamar mandi


Sebelum menutup kamar mandi..Aisyah memastikan Bram ada ditempatnya


"Tungguin ya mas!!" pinta Aisyah


"Iya sayangkuuuuu.." kesal Bram


Aisyah pun menjulurkan lidahnya..lalu dia tutup pintu kamar mandi


Selagi menunggu Aisyah yang ganti baju..Bram mempunyai niat usil untuk mengerjai Aisyah


Dia lalu bangkit dan berjalan ke teras paviliun


"Masss!!" panggil Aisyah dari dalam kamar mandi


Bram sengaja tidak menyahut panggilan Aisyah..dia nyalakan rokoknya sambil duduk di kursi teras paviliun


"Masss??...MAS BRAAAMM!!" teriak Aisyah karena Bram tidak menyahut panggilannya


Karena panik Aisyah buru-buru keluar dari dalam kamar mandi..dia lihat Bram tidak ada di sofa


"MAS BRAAMMM!!" panggil Aisyah yang panik


Lalu dia segera berlari kedepan teras..dan di teras dia lihat Bram tersenyum melihat dirinya yang ketakutan


"Hiks..mas Bram mah..huhuhu.." isak Aisyah


Bram yang merasa bersalah segera menghampiri Aisyah yang menangis


"Hehehehe..maafin mas yaaak.." kata Bram sambil memeluk kepala Aisyah dan menciumnya dengan lembut


"Huhuhu..mas mah seneng banget sih..hiks..ngerjain Aisyah..huhuhu" tangis Aisyah pecah dipelukan Bram


"Hei..udah jangan nagis lagi..mas kan udah minta maaf" kata Bram sambil membelai kepala Aisyah


"Huhuhu..Aisyah kan takut masss..huhuhu"


"Udaaah..ceeep..jangan nangis lagi aah..kamu cengeng banget sih?..aaaaah!!" jerit Bram sambil tertawa karena Aisyah yang kesal menggigit dadanya


Aisyah makin kesal..dia pukuli dada Bram


"Ampuunn..mas minta ampun..hahahaha" ujar Bram sambil memegang tangan Aisyah


Aisyah lalu memandang Bram dengan mata sembab dan hidung memerah..dia mengelap dengan cepat airmatanya yang menetes di pipinya


"Aisyah marah sama mas!!"


"Kan mas udah minta maaf.."


"Nggak!!..mas sering banget ngerjain Aisyah!!" ketus Aisyah disela-sela tangisnya


"Ya udaaah..kalau kamu nggak mau maafin mas..mas tinggal niih?.." goda Bram sambil melepas pelukannya


"Mas tinggal yaah?" pancing Bram


"Ya udaah..kenapa mas masih disini?"


"Memangnya kamu berani tidur sendirian?" goda Bram


Aisyah hanya diam..lalu dia segera masuk kedalam kamar dan membanting pintu kamar dan segera menguncinya


Bram kaget dengan respon Aisyah yang marah terhadap dirinya


Dia lalu mengetuk pintu kamar


"Yaang?..maafin mas dooong..mas nggak lagi-lagi deh..ngerjain kamu" bujuk Bram


Bram mendengar sayup-sayup suara Aisyah yang menangis di dalam kamar


"Aisyaaah?..kamu jangan nangis dooong..mas kan udah minta maaf.." kata Bram sambil mengetuk pintu kamar


"MAS JAHAAAT!!...huhuhu" teriak Aisyah disela tangisnya


"Nanti kalau mbak Dini mau masuk gimana?..buka pintunya dong sayaaang.."


"Huhuhu..ibuuu..mas Bram jahat sama Aisyah buuuu..huhuhu.."


Bram makin merasa bersalah..yang mendengar Aisyah menangis pilu


"Sayaaaang..bukain pintunya dooong..mas mau ambil jaket mas di tas.."


"Bohoooong!!" kata Aisyah


"Beneraaaan..mas kedinginan niih!!"


Dari belakang..Bram mendengar ada suara orang berdehem


"Eehhemmm!!"


"Eh..mbak Dini.." ujar Bram sambil melihat ke belakang


"Ada apa Bram?" tanya Dini sambil tersenyum..tapi begitu mendengar suara orang menangis dari dalam kamar..muka Dini langsung berubah menjadi heran


"Yang nangis di dalam siapa Bram?..Aisyah?" tanya Dini


Bram menganggukan kepalanya


"Kenapa?" tanya Dini lagi


Bram hanya menjawab pertanyaan Dini dengam senyuman hambarnya


"Hmmm..persoalan anak muda yaaah?" tanya Dini sambil tersenyum


Lalu dia mengetuk pintu kamar


"Aisyaah?..mbak nih..mbak mau masuk..bukain pintunya doong?" pinta Dini


Tak lama terdengar suara kunci dibuka


"Mas nggak boleh masuk!!" cegat Aisyah yang terlihat matanya sembab


"Mas mau ambil jaket mas Yaang.."


"Aisyah ambilin!!"


Aisyah lalu mengambil jaket Bram dan melemparnya ke arah mukanya


Dini yang melihatnya hanya tersenyum geli


"Maafin mas dong Yaang.." bujuk Bram


Aisyah tidak menjawab..dia lalu naik ke atas ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut


Dini lalu memberi kode ke Bram..agar meninggalkan Aisyah sendiri yang lagi marah


"Udaaah..nanti mbak yang beresin..sanaaah..kamunya pergi dulu.." ujar Dini


Dengan gontai Bram meninggalkan paviliun untuk menuju ke kamar depan..dia lalu mengirim pesan WA ke Aisyah


"Maafin mas ya Yaang..😥😥😥"


Bram melihat pesannya baru dua centang hitam..belum dibaca


Sesampainya dikamar..Bram langsung merebahkan badannya


Dia tersenyum sendiri..baru kali ini dia melihat Aisyah marah ke dirinya..dan herannya..dia tidak meladeni kemarahan Aisyah..malahan dia bersabar ke Aisyah


"Masku belom sholat Isya yaah?" tanya Ningrum di batinnya


"Oh iyaaa..lupa!!" jawab Bram sambil bangun dari ranjang


Lalu dia keluar menuju ke mushola untuk menunaikan sholat Isya


Sesampainya didalam mushola..dia melihat dirinya hanya memakai celana panjang dan kaos saja..dia teringat akan perkataan Aisyah..kalau sholat harus rapi


"Eee..Ningrum!" panggil Bram


"Iya masku.."jawab Ningrum seraya muncul di hadapan Bram


"Kamu bisa nggak?..nolongin gua?" pinta Bram


"Nolongin apa masku?" tanya Ningrum


"Kamu bisa nggak..ambilin baju koko sama sarung yang ada dikamar gua dirumah..yang di Jakarta?"


"Bisa masku..sebentar yaah.."


Lalu Ningrum menghilang..tak lama kemudian dia muncul kembali dengan membawa baju koko dan sarung kepunyaan Bram


"Yang ini masku?" tanya Ningrum


"Iyaa..terima kasih ya Ningrum" jawab Bram sambil menerima baju kokonya dari tangan Ningrum


"Iya masku..sama-sama" ujar Ningrum sambil tersenyum


Setelah mengganti kaosnya dengan baju koko dan sarung..Bram mulai menunaikan sholat Isya


Setelah selesai Bram kembali menuju ke kamarnya


"Nanti gua bangunin pas Subuh ya!" pinta Bram pada Ningrum


"Iya masku"


Lalu tak lama kemudian Bram mulai memejamkan matanya


Ningrum lalu naik ke atas ranjang..dan bersimpuh di sisi Bram


_____________________

__ADS_1


Adzan Subuh berkumandang dari mushola yang tak jauh dari rumah Eyang


Dari dalam kamar depan..Bram keluar yang sudah rapi bersarung dan berbaju koko..dia lalu berjalan ke arah musholah


Dia menjumpai para emban yang sudah bangun sedang bersih-bersih di dalam rumah Eyang


"Sugeng Enjing den.." sapa Ani yang sedang menyapu teras


"Pagi mbak.." jawab Bram


Sesampainya di musholah..Bram lalu mengambil wudhu terlebih dahulu


Ketika Bram selesai wudhu..dia berpapasan dengan Aisyah yang juga akan mengambil wudhu..Aisyah terperanjat kaget berpapasan dengan Bram..tapi dia segera menunduk sambil berlalu ke tempat wudhu..Bram tersenyum melihatnya..sepertinya Aisyah masih marah dengan dirinya..Bram pun menuju ke dalam mushola


Didalam musholah..Bram sengaja tidak memulai sholatnya..karena dia menunggu Aisyah untuk diajak sholat berjemaah


"Ayo Yaang..kita sholat berjemaah lagi" ajak Bram begitu melihat Aisyah masuk ke dalam musholah


Aisyah tidak menjawab ajakan Bram..dia hanya memakai mukenanya dan menggelar sajadahnya di belakang Bram


"Sudah?" tanya Bram sambil melihat ke belakang


Aisyah sekali lagi tidak menjawab pertanyaan Bram..dia hanya menundukan wajahnya melihat ke arah sajadah


Bram hanya tersenyum dan menghela nafasnya


"Allohuakbaaar.." takbir Bram begitu dia memulai sholat


"Assalamuallaikumwarrohwatllohiwabrrokatuuh..Assalamuallaikumwarrohwatllohiwabrrokatuuh" salam Bram yang selesai menunaikan sholat Subuh


Bram lalu memutar badannya..dia lihat Aisyah buru-buru bangun


"Sayaaang..lupa yaah?.." tanya Bram


Aisyah keningnya berkenyit heran melihat Bram menjulurkan tangannya


Aisyah lalu menghampiri Bram dan mencium tangan Bram..tapi Aisyah kaget..karena saat dia hendak pergi tangannya di tahan oleh Bram


"Mas belum cium kening kamu.." kata Bram sambil tersenyum


Mau tak mau..Aisyah menjorokan wajahnya ke arah Bram..Bram lalu mencium kening Aisyah dengan lembut


Setelah itu..Aisyah buru-buru bangkit tanpa merapikan mukenanya dan bergegas keluar dari musholah


"Sajadahnya belum kamu rapiin nih Yaaang.." kata Bram sambil tersenyum


Aisyah berhenti sebentar..lalu dia masuk kembali untuk merapikan sajadahnya..setelah menaruh sajadah di tempatnya..Aisyah langsung keluar tanpa menoleh ke arah Bram


Bram tersenyum geli melihat Aisyah yang masih marah


Sepeninggal Aisyah..Bram kembali menghadap kiblat..untuk berdzikir


Setelah selesai berdzikir..Bram lalu bangkit dan merapikan sajadahnya


Selagi berjalan menuju ke rumah Eyang..Bram melihat ke arah paviliun yang lampu kamarnya masih menyala..dan dia melihat dari jendela kamar..Aisyah tengah merapikan pasminanya didepan cermin..Bram berhenti sejenak untuk melihatnya


Tapi..begitu tahu Bram sedang memperhatikannya..Aisyah buru-buru menutup gorden yang ada di jendela..Bram hanya menghela nafasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


Dia lalu melanjutkan menuju ke kamar depan


"Kamu habis sholat Bram?" tanya mamahnya yang sudah bangun


"Iya mah.." jawab Bram sambil duduk di sofa


"Semalam kamu kemana?..mamah telpon nggak kamu jawab" tanya bu Yuli


Bram lalu menceritakan kejadian semalam antara dirinya dan Widya..termasuk Widya yang merongrong dirinya


"Widya anak mana sih Bram?" tanya bu Yuli


"Bram juga nggak jelas mah..dia tinggalnya dimana"


Dari arah dapur..munculah Ratih yang membawakan teh hijau hangat buat bu Yuli


"Teh nya bu.."


"Iya..terima kasih ya Tih" jawab bu Yuli


"Den Bram mau kopi?" tanya Ratih


"Boleh deh mbak.."


Lalu Ratih kembali ke dapur


"Bram ganti baju dulu ya mah.." ujar Bram sambil beranjak ke kamarnya


Sesampainya dikamar..Bram meraih handphonenya yang dia taruh di meja..dia lihat Aisyah mengirim WA


Bram tersenyum..Aisyah mengirim banyak pesan WA tapi dengan pesan yang sama


"MAS JAHAAAAT!!"


Pesan Aisyah di WA Bram..Bram lihat Aisyah mengirimnya sebelum sholat subuh


"Tapi kamu suka kan?" balas Bram


Bram lalu melempar handphonenya ke ranjang..dia lalu mengganti baju kokonya dengan kaos


Bram menoleh ke ranjang..ada notif pesan WA..dia lalu segera mengambil handphonenya..dia lihat Aisyah membalas WAnya


"Diiih...siapa??"


"Mas ajah yang kege'eran"


Bram tertawa..ternyata Aisyah merespon pesannya


"Mas mau nyari sarapan di depan..mau ikut nggak?" kirim Bram


"Nggak!!" balas Aisyah


Bram lalu menghubungi Aisyah melalui video call


Bram menunggu video callnya tersambung


"Hallo..assallamuallaikum.." sapa Bram begitu tersambung


Aisyah tidak memperlihatkan wajahnya di kamera handphonenya dan tidak menjawab salam Bram


Di layar hanya terlihat visual langit-langit kamar..sepertinya Aisyah menggeletakan begitu saja handphonenya di ranjang


Dia mendengar Dini menanyakan ke Aisyah..kenapa tidak menjawab salam darinya


"Syaah..assallamuallaikum.." sapa Bram lagi


"Kok nggak jawab salam mas sih?..dosa lho Syaah.." goda Bram


"Waallaikumsallam!!.." jawab Aisyah tapi tetap tidak menunjukan wajahnya di layar handphonenya


"Mau ikut mas nggak?..nyari sarapan di depan?"


"Nggak!!" ketus Aisyah


"Kamu tuh kalo lagi ngambek kan butuh energi Syaah..mangkanya kamu sarapan dulu..ntar habis itu ngambeknya diterusin lagi" goda Bram


Tiba-tiba layar handphone bergoyang..sepertinya Aisyah mengambil handphonenya


"Orang dibilang nggak..ya nggak..mas sarapan ajah sendiri..nggak usah ngajak-ngajak Aisyah"


Sewot Aisyah yang kini menunjukan wajah kesalnya di kameranya


"Beneraaan nih?..kamu nggak mau ikut mas nyari sarapan?"


"Huuuuhhh!!..mas nggak denger yaaak?..NGGGAAAAKKKK!!!" kesal Aisyah


Lalu Aisyah melempar handphonenya ke ranjang


Bram tertawa..berarti Aisyah sudah tidak marah lagi


Setelah memutuskan sambungan video callnya..Bram lalu memanggil Ningrum


"Ada apa masku?" jawab Ningrum yang muncul di hadapan Bram


"Gua minta tolong lagi yaah.." kata Bram sambil menunjukan gambar di layar handphonenya


"Kamu bisa cariin gak?..daging burung puyuh goreng..kayak di gambar ini?" tanya Bram


Ningrum memperhatikan gambar yang ada di layar handphonenya Bram


"Seperti itu masku?" tanya Ningrum


Bram menganggukan kepalanya


"Bisa masku..sebentar yaah.." ujar Ningrum seraya menghilang dari hadapan Bram


Tak lama kemudian..Ningrum muncul dengan bungkusan di tangannya


"Ini masku.."


Bram segera menerima bungkusan dari tangan Ningrum..wajahnya langsung sumringah karena Ningrum membawa daging burung puyuh goreng pedas pesanan dia


"Terima kasih ya Ningrum.." ujar Bram sambil keluar dari kamar


"Iya masku..sama-sama"


Bram segera menuju ke paviliun..di tengah perjalananya dia bertemu Dini


"Pagi Bram.." sapa Dini


"Pagi mbak..Aisyah mana mbak?" tanya Bram


"Masih dikamar..mbak ajak sarapan nggak mau..kayaknya masih ngambek sama kamu tuh" kata Dini sambil tersenyum


Bram segera meninggalkan Dini untuk menuju ke paviliun


Sesampainya disana..dia lalu mengetuk pintu kamar


"Sayaaang?..kita sarapan yuuuk.." panggil Bram


"Nggak mau!!..Aisyah nggak laper!!" jawab Aisyah dari dalam


"Eeehh..mas punya nih..waaaaw..apaan inih?..ya Alloh..daging burung puyuh pedas.." kata Bram sambil menuju ke meja tamu..Bram sengaja mengeraskan suaranya


"Hmmmm..enak banget iniiiih!!..mana garing lagi" ujar Bram sambil melihat ke arah pintu kamar yang belum terbuka


Bram terus menggoda Aisyah dengan daging burung puyuh gorengnya..agar Aisyah keluar dari dalam kamar


"Huuuuaaahh...pedes banget Yaaang..kesukaan kamu bener ini!!"


Terdengar handle pintu kamar dibuka perlahan..dan Bram melirik..Aisyah mengintip dari balik pintu kamar


"Huaaah..pedes bener!!..nih yang bikin sambelnya pengen ditabokin yaaak?"


Bram terus menggoda Aisyah..dia jilati daging burung puyuh di tangannya


Terlihat..Aisyah menjilati bibirnya dan menelan ludah..melihat Bram yang asyik menikmati daging burung puyuh


Lalu dengan perlahan..Aisyah keluar dari dalam kamar..dan menghampiri Bram


"Mas beli dimana?" tanya Aisyah malu-malu sambil melihat daging burung puyuh pedas kesukaan dia tersaji di meja


"Udaaah..ayuuk makan..hmmm..enak banget Yaang.."


Aisyah dengan perlahan duduk di kursi..dengan mata yang tidak lepas dari daging burung puyuh pedas yang ada di atas meja


Dengan ragu-ragu..Aisyah mengambil satu daging burung puyuh dan mulai memakannya


Dia melihat Bram memperhatikan dirinya yang sedang menikmati daging burung puyuh sambil tersenyum


"Kenapa sih mas?..ngeliatin Aisyah?" tanya Aisyah


"Nggaaaak..orang kalau ngambek bawaannya laper yaaak?" ledek Bram sambil tersenyum


"Mas curaaang!!" kesal Aisyah sambil memukul tangan Bram


"Laaah..kok sekarang kamu bilang mas curang?"


"Iyaaa..mas baik-baikin Aisyah pake daging burung puyuh..Aisyah kan nggak bisa nolak mass.." rajuk Aisyah sambil mengerucutkan bibirnya


Bram pun tertawa


"Berarti..taktik mas berhasil dooong?..hahahaha" gelak Bram sambil mengambil daging burung puyuhnya


Bram tersenyum senang..karena dia berhasil membuat Aisyah keluar dari dalam kamar dan berhenti marahnya dengan umpan daging burung puyuh pedas..walaupun itu membuatnya kepedasan


Bram segera menuang air putih dan segera menenggaknya hingga habis..untuk meredakan kepedasannya


Disela-sela menikmati daging burung puyuhnya..Aisyah tersenyum geli melihat Bram meringis kepedesan


"Hihihihi..muka mas merah tuh.." geli Aisyah


Bram menggaruk-garuk kepalanya karena kepedesan


"Kok baru kerasa pedas yaak?..tadi kok nggak?" ujar Bram yang kepedesan


Aisyah tertawa geli


"Kamu nggak kepedesan Yaang?" tanya Bram


Aisyah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli


"Huaaaah...bibir mas jontor nih!!" kata Bram sambil meminum air putih lagi


Aisyah tertawa melihat Bram belingsatan kepedesan


Ternyata simple meredakan Aisyah yang lagi ngambek..cukup dengan dibelikan daging burung puyuh pedas..kesukaan Aisyah

__ADS_1


__ADS_2