Wanita Pilihan Mama

Wanita Pilihan Mama
64.Menolong Teguh


__ADS_3

"Kamu nanti ngobatin mas Teguh bagaimana caranya Ningrum?..mbak Dini sama mas Teguh kan nggak bisa ngelihat kamu.." tanya Bram di sela-sela mengemudi mobilnya


Ningrum tersenyum manis


"Ningrum akan mewujud ke raga kasar masku.." jawab Ningrum


"Bisa memangnya?"


Ningrum menganggukan kepalanya. Kemudian Ningrum memejamkan matanya seraya membaca suatu mantra..tak lama..tubuh Ningrum diselimuti asap tipis yang lama kelamaan memudar dan menghilang


"Masku??" panggil Ningrum pada Bram yang konsen menyetir


Bram menoleh


"Sudah?" tanya Bram yang merasa tidak ada perbedaan antara bentuk ghoib dan bentuk kasar dari badan Ningrum


Bram terperanjat kaget..tak kala tangan Ningrum membelai dagu Bram


"Sudah masku.." jawab Ningrum sambil tersenyum


"Heeeh??..beneran kamu Ningrum..wujud kamu sekarang berwujud kayak manusia!!" ujar Bram dengan mata bersinar-sinar


Di persimpangan lampu merah..Bram berkesempatan menghilangkan rasa penasarannya..di belai pipi Ningrum dengan lembut untuk memastikan wujud kasar Ningrum..dia jawil dagu Ningrum


"Masku jangan nakal yaaah?.." gusar Ningrum


"Kamu cantik sekali Ningrum.." puji Bram sambil menjalankan mobilnya kembali


"Kamu kenapa nggak berwujud kayak gini ajah sih?" tanya Bram


"Tidak bisa masku..wujud kasar ini tidak bisa bertahan lama" jawab Ningrum


"Berapa lama bertahannya?"


"Sekitar 2 jam masku..setelah itu..Ningrum akan kembali ke wujud ghoib lagi"


"Nggak apa-apa..cukuplah buat kita untuk ngulangin kayak waktu di mimpi gua dulu itu" kata Bram sambil mengedipkan matanya


"Masku!!" kesal Ningrum


Bram tertawa terbahak-bahak melihat Ningrum yang gusar digoda oleh dirinya


***


Tanpa terasa..sampailah Bram di daerah Prapanca..dia lihat G-mapnya yang dia seting menuju ke rumah Dini. Bram berhenti di depan gerbang Town house Prapanca. Bram membuka kaca jendela mobilnya ketika security menghampiri mobilnya


"Malam pak?.." sapa Bram


"Malam..ada keperluan apa ya pak?" tanya security


"Saya mau kerumah pak Teguh pak..nomor 2B" jawab Bram


"Ooh..pak Teguh Prayitno..silahkan pak"


Bram menjalankan mobilnya setelah security  membuka gerbang. Mobil Bram berhenti di depan sebuah rumah..Bram keluar bersama Ningrum


"Hawanya sudah nggak enak masku.." kata Ningrum sambil melihat ke sekeliling rumah Dini


Mata Ningrum melihat sekelebat bayangan hitam melesat meninggalkan atap rumah Dini. Ningrum merasa kesal karena dirinya tidak awas atas kehadiran mahluk lain di sekitar dirinya. Bram masuk ke teras rumah Teguh dan memencet bel. Dini muncul ketika pintu terbuka


"Alkhamdulillah Bram..akhirnya kamu dateng..ayuk Bram masuk.." ajak Dini


Bram melihat raut muka Dini yang cemas dan khawatir


"Mbak..kenalin..teman Bram..Ningrum" kata Bram sambil memperkenalkan Ningrum


"Dini.."


"Saya Ningrum mbak..salam kenal" jawab Ningrum sambil menjabat uluran tangan Dini


Dini merasa heran yang melihat penampilan Ningrum malam ini yang mengenakan kebaya putih dan kain batik hitam..tidak seperti wanita-wanita muda pada umumnya


"Kita langsung ke kamar ajah ya Bram?..mbak kasihan sama mas Teguh.." ajak Dini


Bram dan Ningrum mengikuti Dini yang menuju ke kamarnya. Bram terperanjat kaget..ketika melihat kondisi Teguh yang tertelungkup di atas kasur


"Allohuakbaaar.." desis Bram sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya


Punggung Teguh tampak bengkak dan menjadi berbentuk seperti punuk Onta..oleh sebab itu dia tidak bisa terlentang di atas kasur


"Mass?...Bram sudah dateng niih.." kata Dini yang berjongkok disebelah Teguh yang merintih kesakitan


"Mbak?..mbak bisa sediain baskom berisi air hangat..perban..handuk kecil dan cutter atau silet.." pinta Ningrum


"Bisa Ningrum..sebentar yaaah"


Dini segera keluar dari kamar untuk mengambil barang-barang yang di sebutkan oleh Ningrum


"Kuraaang ajaaar!!" kesal Ningrum lirih yang melihat Teguh begitu menderita akibat kiriman santet dari seseorang


Bram menghampiri Teguh yang tertelungkup di ranjang


"Mas?..yang sabar ya mas..ini Bram bawa temen Bram nih..yang mau nolongin mas" kata Bram sambil memegang tangan Teguh


"Ii..iya Braaam...aaaah...panas banget Braaam.." erang Teguh


Dini kembali sambil membawa baskom berisi air hangat. Ningrum menerima baskom dari Dini dan dia taruh di sisi badan Teguh. Ningrum ambil sebuah kursi dan dia duduk di tepi ranjang. Ningrum mengeluarkan sebuah kantong kain putih dari dalam saku kebayanya


"Mbak kalau nggak kuat..mbak bisa nunggu diluar..soalnya Ningrum akan mengambil kiriman orang itu dari dalam tubuh mas Teguh" kata Ningrum sambil melihat Dini


"Nggak apa-apa Ningrum..Insya Alloh saya kuat"


Dini pindah ke sebelah Teguh untuk menenangkan suaminya yang masih merintih kesakitan..Bram pindah ke sebelah Ningrum


"Maaf ya mas.." kata Ningrum sambil merobek baju Teguh


Bram bergidik ngeri melihat kondisi punggung Teguh yang bengkak dan melepuh berwarna merah. Ningrum meletakan tangannya di atas punggung Teguh sambil membaca doa atau mantra..sinar biru mulai berpendar diatas punggung Teguh

__ADS_1


"Tahan ya mas..agak sakit ini soalnya" pinta Ningrum sambil menoleh ke arah Teguh


"Tahan ya mas.." kata Dini sambil mencium tangan Teguh


Teguh hanya mengerang kesakitan


"Masku mau disini?..apa diluar?" tanya Ningrum di batinnya


"Disini ajah..gua mau lihat" jawab Bram


Ningrum mengambil cutter dan dia akan sayat punggung Teguh yang bengkak. Sebetulnya Ningrum akan menggunakan cakar kukunya yang tajam untuk menyayat punggungnya Teguh..dia gunakan cutter hanya sebagai dalih ke Dini agar tidak terlalu curiga


"Bismillahhirohmannirohim.." ucap Ningrum sebelum dia sayat punggung Teguh secara perlahan


"Aaaaaarrrrghhhh...." erang Teguh tak kala kuku Ningrum menyayat kulit punggungnya


Dini mencium tangan suaminya sambil menenangkan Teguh yang kesakitan..air mata Dini sudah mengalir di pipinya


"Massss!!!" isak Dini yang tidak tega melihat penderitaan suaminya


"Ma..eh..Bram..ambil handuknya" pinta Ningrum


Ningrum hampir keceplosan dalam memanggil Bram..Bram memberikan handuk kecil ke Ningrum. Ningrum celupkan handuk ke dalam baskom dan dia pakai sebagai penutup di sekitar luka yang dibuat oleh Ningrum. Bram lihat..jari Ningrum mulai masuk ke dalam luka di punggung Teguh..seperti mengambil sesuatu dari dalam sana. Dan dia melihat Teguh..Teguh seperti tidak merasakan sakit sama sekali saat sayatan di punggungnya di buka oleh Ningrum dan jari Ningrum masuk ke dalam luka itu


Bram merinding melihat benda-benda aneh yang Ningrum ambil dan dia taruh di dalam baskom. Ada paku berkarat..potongan silet..potongan kecil bambu kuning dan segumpal rambut. Dan yang terakhir..keris kecil berkarat dan sepotong kain putih yang berisikan rajahan huruf-huruf Arab gundul


Darah hitam dan berbau amis dan busuk langsung mengalir keluar dari lubang luka yang dibuat Ningrum dan turun ke baskom setelah benda-benda mistis itu berhasil di keluarkan dari dalam punggung Teguh. Ningrum pijit-pijit dengan lembut punggung Teguh..agar darah hitam keluar sampai habis. Bengkak di punggung Teguh berangsur-angsur mengecil dan kembali ke bentuk semula. Setelah dirasa darah hitam berhenti mengalir..Ningrum ambil kantong putih kecil yang dia ambil dari dalam saku kebaya putihnya..dan dia taburi semacam serbuk putih diatas luka di punggung Teguh. Teguh mengerang sesaat..Dini segera mencium tangan suaminya


Sebelum menutup luka di punggung Teguh..Ningrum meletakan kembali tangannya di atas luka..dan sinar biru kembali berpendar. Setelah selesai menutup luka dengan perban di punggung Teguh..Ningrum membaca doa dan meletakan kedua tangannya di atas baskom


"Sudah mbak..biarkan mas Teguh istirahat dulu" kata Ningrum sambil bangun dari kursi


Dini melihat suaminya seperti tertidur dengan damai..tidak seperti tadi yang kesakitan. Dini bangun dan langsung memeluk Ningrum sambil terisak haru


"Terima kasih Ningrum..terima kasih!!" kata Dini yang terisak


"Iya mbak..sama-sama..Ningrum hanya diberikan cara oleh Alloh SWT" ujar Ningrum yang membalas pelukan Dini


"Ini di apain Ningrum?" tanya Bram sambil menunjuk ke arah baskom


"Dibuang saja mas..eh..Bram..itu semua sudah gua netralisir kok" jawab Ningrum


Bram ingin tertawa berguling-guling..ketika Ningrum menyebut kata GUA..pengganti namanya


"Biar nanti mbak yang buang Bram..kamu sama Ningrum tunggu di depan yaaah.."


Dini mengambil baskom yang ada di kasur dan dia bawa ke belakang. Sebelum Ningrum keluar dari kamar..dia selimuti tubuh Teguh yang tengah tertidur


Bram mengikuti Ningrum yang keluar dari dalam rumah..Ningrum berhenti di sebelah mobil Bram. Ningrum mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya dan dia pejamkan matanya sambil membaca mantra untuk pemagaran rumah Dini dengan pagar ghoib buatannya


Bram yang tengah menunggu di sebelah Ningrum..dia lihat..mamahnya menelpon


"Halo mah..assallamuallaikum..sudah mah..baru saja selesai..iya mah..iya waallaikumsallam"


"Sudah Ningrum?" tanya Bram yang melihat sepertinya Ningrum sudah selesai dalam proses pemagaran rumah Dini


"Sudah masku" jawab Ningrum


"Bram?..Ningrum?..pada mau minum apa?" tanya Dini dari dapur


"Nggak usah mbak..nggak usah repot-repot" jawab Bram


"Kamu ini..kayak sama siapa aja sih?" kata Dini yang menghampiri ke ruang tamu


"Kopi yaah?" tanya Dini


"Ya udah deh mbak.."


"Kamu mau kopi juga Ningrum?" tanya Dini


"Iya mbak..pahit ya mbak..nggak pake gula"


"Oke..tunggu yaah?"


Dini kembali masuk ke dapur. Bram yang duduk di sebelah Ningrum..memperhatikan Ningrum


"Masku..jangan macam-macam yaah!!" gusar Ningrum lirih ketika pipinya dibelai oleh Bram


"Kamu cakep banget Ningrum.." goda Bram sambil menjawil dagu Ningrum


"Nggak enak sama mbak Dini masku.."


Bram tersenyum geli melihat muka Ningrum merah merona. Dini datang dengan membawa kopi hitam dan sepiring kue


"Terima kasih lho Bram..kamu mau datang nganterin Ningrum kemari" kata Dini sambil menyajikan kopi di meja


"Iya mbak..kejadiannya gimana mbak?" tanya Bram


"Tadi sore pas baru pulang dari showroom..tiba-tiba..mas Teguh punggungnya kerasa gatel Bram..mas Teguh minta tolong sama mbak untuk garukin..tapi kok lama-lama..punggung mas Teguh jadi lecet dan bengkak Bram..bengkaknya nggak wajar..terus mas Teguh nyuruh mbak nelponin kamu..ayuk dong Bram..diminum kopinya..Ningrum.." jawab Dini yang menceritakan kronologis kejadian Teguh yang menerima kiriman santet


"Iya mbak.." kata Bram sambil menyeruput kopinya


"Kamu memang sukanya kopi pahit ya Ningrum?" tanya Dini pada Ningrum yang meminum kopinya dengan nikmat


"Iya mbak.." jawab Ningrum


"Kayak aki-aki ajah kamu..sukanya kopi pahit" kata Dini sambil tersenyum


"Jarang lho..cewek suka sama kopi pahit..mana kopi hitam lagi.." lanjut Dini


Bram tertawa geli..seandainya Dini tahu siapa Ningrum sebenarnya


"Rumah mbak sudah Ningrum pagari dengan pagar ghoib..Insya Alloh..orang itu tidak bisa menyerang mas Teguh lagi" kata Ningrum


"Iya Ningrum..terima kasih..kira-kira..siapa yah?..yang sampai tega mengirimkan santet ke mas Teguh?" tanya Dini


Ningrum hanya tersenyum

__ADS_1


"Sudahlah mbak..lupakan masalah itu..yang penting mas Teguh sekarang sudah sehat lagi kan?" jawab Ningrum


Dini menganggukan kepalanya. Bram melihat handphonenya bergetar..dia lihat Aisyah menelponnya


"Halo Yaang?..mas lagi di rumah mbak Dini..sudah bangun kamu?" tanya Bram sambil tersenyum


"Nggak..mas nggak lama kok..nih sebentar lagi pulang..iya..sebentar yaah.."


Bram lalu meletakan handphonenya


"Oh iya Bram..Aisyah mana?..kok nggak ikut?" tanya Dini


"Tadi pas berangkat..dianya lagi tidur mbak" jawab Bram


"Ngomong-ngomong..Ningrum tinggal dimana?" tanya Dini ke Ningrum


"Eeh..ee..di Dago mbak.." jawab Ningrum sambil melirik ke Bram


"Dago?..Dago Bandung?" tanya Dini lagi


"Ii..iya mbak..saya lagi main ke rumah saudara saya..kebetulan rumahnya dekat sama rumahnya Bram.." jawab Ningrum


Bram tertawa di dalam hatinya..melihat akting Ningrum yang menjawab pertanyaan Dini


"Masku..kita pamit yuuk..waktu Ningrum sudah hampir habis.." pinta Ningrum di batinnya


Bram melirik ke Ningrum sambil mengedipkan matanya


"Mbak..kita pamit yaah?..sudah malam nih.." kata Bram sambil bangun


"Ooh..kamu mau pulang?..sebentar Bram.."


Dini masuk ke dalam kamarnya..tak lama dia kembali


"Ningrum..saya ucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuan kamu.." kata Dini sambil menyerahkan amplop putih di jabatan tangannya ke Ningrum


"Eh..nggak usah mbak..saya ikhlas dalam membantu mbak sama mas Teguh" ucap Ningrum sambil menampik dengan halus amplop putih pemberian Dini


"Ningrumm..tolong kamu terima ini..saya nggak tahu..harus membalas dengan apa atas bantuan kamu ke suami mbak.." pinta Dini


"Sekali lagi..terima kasih..saya mohon maaf mbak..saya tidak bisa menerima pemberian mbak..soalnya itu sudah menjadi pantangan bagi saya..mbak bisa memberikan itu kepada yang lebih berhak.."


Dini pun menganggukan kepalanya


"Mbak kalau butuh bantuan saya..mbak bisa menghubungi Bram..nanti Insya Alloh saya akan datang.."


Dini memeluk Ningrum dengan eratnya


"Terima kasih Ningrum.." isak Dini


"Iya mbak..sama-sama" kata Ningrum sambil membalas pelukan Dini


"Mbak berhutang budi sama kamu.."


Ningrum hanya menyunggingkan senyumannya. Setelah memeluk Ningrum..Dini ganti memeluk Bram


"Terima kasih ya Bram"


"Iya mbak..sama-sama"


Mereka berdua keluar menuju ke teras rumah Dini


"Saya pamit ya mbak..assalamuallaikum" pamit Bram


"Waallaikumsallam..hati-hati ya Bram..salam buat bapak sama ibu"


"Iya mbak.."


Kemudian mobil Bram bergerak meningglkan rumah Dini yang diiringi lambaian tangan Dini


"Sebetulnya yang ngirimin santet ke mas Teguh siapa sih Ningrum?" tanya Bram


"Masih kerabatnya mas Teguh masku..sepupunya" jawab Ningrum


Bram kaget mendengar jawaban Ningrum


"Haaah!!..kok bisa?"


"Iya masku..sebetulnya ini adalah dendam lama masku..antara sepupunya mas Teguh dan mas Teguh..dan dendam ini melibatkan mbak Dini masku.."


Bram makin terkejut..kalau Dini sampai terlibat di persoalan Teguh dan sepupunya


"Kok mbak Dini kebawa juga?"


"Iya masku..soalnya sepupunya mas Teguh juga menyukai mbak Dini"


Bram terperanjat kaget


"Ningrum sudah tahu..siapa orang yang telah membantunya untuk mencelakai mas Teguh"


"Siapa Ningrum?" tanya Bram


"Ningrum paling benci sama orang seperti ini masku..dia bergelar Ustad..dan juga sudah bergelar Haji..tapi kelakuan dia berbeda sama sekali dengan penampilan dia sehari-hari"


"Maksud kamu?"


"Dia bersedia membantu segala macam hal keburukan..asalkan dia mendapatkan bayaran"


Bram buka sedikit jendela mobilnya..dan dia nyalakan rokoknya


"Kok nggak kamu kasih pelajaran ke orang itu?" tanya Bram sambil menyebulkan asap rokoknya


"Tidak perlu masku..sebetulnya ketika Ningrum mengeluarkan kiriman orang itu dari badan mas Teguh..dia sudah mendapat serangan balasan dari Ningrum..dan dia pasti paham..dengan siapa dia berhadapan sekarang.."


"Wuuuuiiiih...hebat kamu Ningrum" puji Bram


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2