(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Damrah


__ADS_3

Setiap orang pasti memiliki kenangan. Masa lalu yang berisi ingatan, kerinduan tentang hal-hal yang sudah di lalui. Terkadang bisa membangkitkan beberapa perasaan, entah bahagia, kesal, marah atau pun kesedihan yang mendalam.


*Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan ini akan menjadi guru.


Rindu, rindu pada seseorang akan menjadi tamu di dalam relung hati*.


Rintik hujan, terkadang menjelma menjadi kenangan. Bahkan, rasanya bukan lagi air yang jatuh, namun rindu yang berguguran. Terkadang, keheningan mengapungkan semua kenangan, mengembalikan tentang kenangan cinta yang hilang, menerbangkan segala amarah, mencoba mengulangi kembali manis keberhasilan dari sebuah kegagalan.


Hening ini, menjadi cermin untuk berkaca diri. Apakah suka atau tidak sukanya dengan kenangan itu sendiri.


Setiap malam aku disadarkan, bahwa ujian terbesar dari cinta itu bukan hanya sebuah kehilangan. Tapi, rasa rindu. Rindu yang tak akan pernah ada obatnya. Rindu yang hanya bisa menjadi kenangan yang tak pernah bisa terulang kembali, apalagi untuk memperbaiki kenangan itu menjadi lebih indah.


Aku... Aku tak mampu menghilangkan memori tentang kenangan itu, selamanya tersimpan di dalam relung hatiku yang terdalam.


Kenangan,


Kau kenangan terindahku,


Kau yang sangat aku cintai....


^^^Ari Damrah^^^

__ADS_1


_____


Sepasang manusia sedang bermain ranjang, suara desahan meresahkan telinga seorang anak yang sedang menutup telinganya.


Ia mencoba pergi keluar rumah, saat membuka pintu ia melihat Ayahnya pulang.


‘Jangan pernah mengatakan apapun pada Ayahmu!’ ancaman Ibunya.


Ia terkejut dan takut. Tak ingin ada perkelahian lagi antara Ayah dan Ibunya.


Damrah mengernyit melihat putranya, ia masuk ke dalam, mendengar suara yang menggelikan. Ia membuka pintu kamar dan melihat Istrinya sedang bermain ranjang dengan pria lain.


Bukannya minta maaf, wanita itu malah memaki dan menyalahkannya karena miskin. Bahkan wanita itu memilih pergi dari rumah. Putra semata wayangnya mengejar dan menggenggam tangan Ibunya, meminta sang Ibu untuk tinggal dan jangan pergi.


Damrah memeluk putranya yang menangis. Tak ia sangka hatinya yang resah selama ini adalah karena istrinya berselingkuh darinya.


Hari-hari terus berlalu,


Ari Damrah, putra semata wayangnya sering menangis dan termenung. Ia bahkan sering membawa putranya ketempat kerja. Di sebuah kedai kopi yang ternama.


Damrah bekerja dengan rajin dan tekun, mendalami usaha itu, sehingga ia membuka usaha kopi sendiri miliknya. Usaha yang dijalankannya berjalan baik, ia mampu membeli rumah sendiri yang cukup mewah, lalu tanah yang sangat luas disekitar rumah itu.

__ADS_1


Usahanya semakin berkembang, bahkan ia memiliki beberapa karyawan.


Sore hari, ia berjalan santai dengan putranya Ari Damrah. Ia melihat sepasang anak dengan pakaian kumuh, kotor dan terlihat sangat kelaparan.


Damrah memberikan uang dan makan pada mereka. “Dimana kalian tinggal?” tanya Damrah.


Kedua anak kecil itu menunduk, “Aku akan mengantar kalian, aku ingin bertemu dengan orangtua kalian.” lanjutnya lagi.


“Terimakasih Paman, kami tidak memiliki orangtua lagi. Mereka telah lama meninggal. Kami hanya berdua, tidak punya rumah.”


Damrah langsung memeluk kedua anak itu. “Apakah kalian bersedia tinggal bersamaku?” tanya Damrah penuh harap.


“Dia adalah Ari, putraku. Siapa nama kalian berdua?”


“Aku Hasan, adikku namanya Viza, Paman.”


“Nama yang bagus. Ayo, salaman, Nak.”


“Sayang, ayo salaman dengan mereka.” pinta Damrah pada putranya.


Ari mendengus, tak suka. Hasan dan Viza terdiam.

__ADS_1


“Tidak boleh seperti itu. Ayo, mari ikut Paman.” Damrah membawa dua anak kecil itu pergi bersamanya.


***


__ADS_2