(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Akir Cerita Yangki


__ADS_3

Aku akirnya memutuskan diam-diam mendaftar disekolah dimana Aira dan Arnel sekolah. Aku memperhatikan dari jauh, aku ingin membuktikan, kalau aku akan menjadi pria sukses kedepannya, akan ku lamar gadisku suatu hari nanti.


Biarlah, aku jauh darinya sekarang. Demi kebersamaan yang lama suatu hari nanti. Aku memperhatikan dari jauh, aku lihat Arnel dan Aira semakin dekat, banyak yang bilang mereka cocok. Aku tidak peduli, karena kenyataannya dari mata Aira terlihat ketakutan, bukan kebahagiaan bersama Arnel.


"Hai." sapa Aira padaku yang membelakanginya. "Hai," jawabku berbalik badan.


"Yangki?" seru Aira bahagia. "Siang Aira," jawabku tersenyum manis. "Bukankah kamu mau ke sekolah menengah XXX?" tanyanya padaku. "Hm... gak jadi, aku males, aku pikir-pikir balik, bagusan sekolah disini."


"Oh gitu, Aku senang deh akhirnya kita satu sekolah," Aira berkata dengan senang hati sambil menggenggam tanganku.


"Aku juga senang Aira," jawabku lembut.


Dia memegang tanganku? Aira apakah kamu tau tentang perasaanku? aku bukan hanya senang satu sekolah bersamamu? tapi aku tidak mampu jauh dan berpisah sekolah denganmu, aku berkata dalam hatiku.


"Apa kamu sudah makan? ayo kita belanja di kantin?" tanyaku. "Belum sih, a...." Ia membalas sedikit ragu. "Aa..apa? apa kamu masih bawa bekal?" Aku bertanya kembali padanya.


Aira tersenyum malu. "Enggak, aku gak bawa bekal lagi sih, ayo kita ke kantin."


"Kenapa gak bawa lagi? malu ya?" Aku bertanya padanya. "Dikit, tapi di larang Tuan Muda Arnel sih lebih tepatnya."


Lagi-lagi Arnel, batinku. "Oh begitu, iya sih gak usah bawa bekal lagi, takutnya nanti di bully teman-teman di bilangin anak sekolah dasar, heheheh." Aira memukul pelan bahuku sambil tersenyum malu.


"Ayo kita kekantin," ajakku sambil menarik tangan Aira lembut. Aira menyambut tanganku dengan penuh semangat, berjalan sambil tersenyum melihat ke arahku, begitu pula aku tersenyum bahagia.

__ADS_1


Aira aku sangat senang, apakah kau tau? sekarang jantungku berdetak lebih cepat, aku sungguh bahagia bersamamu, kau genggam tanganku seperti ini, aku berkata dalam hati sambil tersenyum hangat ke arah Aira.


Saat kami sampai di kantin, kantin cukup ramai sehingga aku menyuruh Aira duduk duluan, dan aku segera memesan makanan untuk kami.


Aira segera mencari tempat duduk kosong, dan memegang satu kursi kosong untukku, tidak beberapa lama aku telah membawa dua mangkuk mie goreng pedas, setelah meletakkan nya di meja aku kembali kedepan dan membawa 2 gelas es jeruk dingin.


Kami segera memulai makan makanan yang kami pesan, di tambah lagi aku juga memesan 1 piring kecil nasi putih dan beberapa kerupuk. Aku membuka kerupuk dan menyuapi Aira kerupuk.


"Coba deh Ra kerupuk ini, enak loh dimakan pake mie," ucapku sambil menyuapi Aira kerupuk. "Gimana rasanya enak gak?" aku bertanya kembali. "Iya enak, rasa kulit sapi ya?"


"Iya lah, kan emang kerupuk kulit," jawabku terkekeh. Aira tersenyum malu, bahkan sekarang mukanya memerah. Aku tersenyum melihat Aira dan semakin terpukau melihat wajah malu Aira, membuat ia tambah imut di mataku.


Kenapa ya, makin hari kamu terlihat semakin cantik? apa ini efek dari jatuh cinta? Aira aku suka sama kamu, suka banget, aku berkata dalam hati sambil kembali menyuapi mi goreng kearah Aira dengan tersenyum.


"Malu dilihat orang, disni ramai. Aku suap sendiri aja ya," cegahnya. "Ya udah deh kalau begitu," jawabku kembali tersenyum. Setelah makan, kami kembali ke kelompok masing-masing, hari-hari terus berjalan, aku memutuskan menjauh dari kelas semua orang yang berhubungan dengan Arnel dan Rido.


Ku habiskan waktu membuat lukisan, menanam bunga-bunga, membuat rumah kaca. Walaupun sebenarnya aku ingin memberikan rumah impianku itu untuk gadis pujaanku.


"Yangki." Aira memanggilku saat waktu perpisahan di Sekolah Menengah Atas. Aku berhenti dan memutar badanku melihat Aira, lantas memberikan senyuman hambar. "Mau kemana? jangan pulang dulu deh, kita belanja dulu yuk, sambil ngobrol-ngobrol." ajak Aira padaku.


Aku terdiam sejenak, melihat pria yang baru datang di belakang Aira, siapa lagi kalau bukan Arnel, aku tidak marah padanya, aku hanya sedang iri padanya, dia menang. Ia akan memiliki banyak waktu dengan gadisku.


"Lain kali aja lah Ra, aku sibuk ada keperluan," balasku dengan senyum pahit sembari membalikan badan dan berlalu pergi.

__ADS_1


Hari-hari ku terasa semakin sepi, aku terus menghindari Aira sampai saudara laki-laki ku memberikan aku semangat. Ia menyuruhku menyatakan cinta pada Aira.


Aku mengatakan cinta pada Aira, ia tidak menerima cintaku juga tidak menolakku. Tapi, ia memberikanku kenangan yang sangat indah, kami berciuman. Walaupun ia tidak menjawab, aku bisa tau jawabannya dari ciuman itu. Esoknya kakak laki-laki ku, Yuhen mengusulkan kembali aku makan malam diluar dengan Aira.


Aku mengajak gadisku ketempat yang sangat aku sukai, bahkan aku telah membuat duplikat ala buatanku dirumah juga. Kami makan disana, setelah itu berjalan-jalan ditaman kota.


Mungkin karena bahagia, aku sampai lupa. Saat aku mengantar Aira, dua pemuda itu marah dan memukulku. Siapalagi pemuda itu kalau bukan Tuan Muda Arnel dan Rido, Pemuda Egois dan Pemuda Sombong. Aku tidak peduli dipukuli oleh mereka, aku menganggap semua adalah kenangan.


Aku merasa menang dari mereka semua, aku hanya kalah karena kesehatanku. Aku terkekeh dan membuat mereka semakin marah padaku.


•••Flashback On•••


"Apakah aku salah jatuh cinta padanya Bang?" tanya Yangki pada Yuhen.


"Tidak! Cinta datang sendiri, tanpa diminta." Yuhen menjawab dengan cepat. "Aku tau Abang menyukai seorang gadis, tapi hingga hari ini Abang belum pernah mengatakannya. Aku berharap kedepannya Abang perjuangkan ya! Jangan sampai diambil laki-laki lain." Yangki berucap sambil terkekeh dan batuk-batuk.


Yuhen tertunduk. "Sudah, jangan pikir macam-macam, yang mana yang sakit? biar Abang pijit ya!"


"Mi, Pi, Bang. Lihatlah boneka itu! itu boneka yang telah aku cuci, boneka itulah yang dibuang Rido kedalam parit saat itu." Mereka melihat arah tunjuk Yangki yang menunjuk kotak kaca yang berisi boneka kelinci. "Disana ada beberapa surat untuk Aira, yang tidak pernah berani aku berikan padanya.


"Dan beberapa hadiah yang tidak berani ku berikan juga untuknya." Ia lalu mengambil kunci dikantong celananya, dan memberikannya pada Yuhen. "Bang, ini adalah kunci rumah kaca yang ku buat di halaman belakang, dan kunci kecil ini untuk kotak kecil, didalamnya ada beberapa surat. Tolong berikan kepada mereka nanti, jika aku telah tiada ya!"


"Kamu jangan ngomong sembarangan!" Yuhen marah dan menangis, ia memeluk Yangki. "Sudah lama kita tidak berjumpa, beraninya kau berkata seperti itu. Aku akan memukulmu." Yuhen berkata terisak sambil mengelap ingus dan air matanya yang meleleh tanpa disuruh keluar.

__ADS_1


"Aku ngantuk sekali, tolong peluk aku," pinta Yangki tersenyum hangat. Orangtuanya dan Yuhen memeluknya secara bersamaan. Tidak satupun mereka yang menyadari, Yangki telah pergi untuk selamanya meninggalkan mereka.


Mereka tersadar saat Yuhen mengajak Yangki bicara, ia hanya diam dan terkulai lemas. Yuhen segera menyuruh dokter kembali, dan memeriksa Yangki. Tangisan di seluruh rumah keluarga besar Admaja pecah saat itu.


__ADS_2