
Setelah menyetujui permintaan Andi, semua perencanaan di susun ulang kembali, yang lebih membuat Agung dan Ronald kesal adalah semua yang mereka lakukan menjadi sia-sia, bagaimana bisa Rido dan Arnel menjadi lemah di depan orang yang bernama Andi? padahal mereka memiliki 60% saham di dalam, sedangkan mereka cuma 40%.
Rapat akhirnya berakhir, Andi dan Alex kembali bersalaman dan menuju keluar dari ruangan rapat, Arnel telah mengajaknya makan agar bisa berbincang-bincang, karena telah lama tak bersua, tapi Andi menolak. Raut wajah Arnel berubah saat Andi menolak ajakan makan nya, dan lebih memilih segera pergi yang di antar sekretaris Hendrik.
Tidak di sangka, sekian lama tidak berjumpa, dia semakin dingin terhadap ku. Apakah dia begitu membenciku? hingga berniat menarik semua yang kami rencanakan? dan bagaimana bisa dia menjadi saudara Yuhen? batin Arnel.
Semua orang telah keluar dari ruangan rapat, yang tersisa sekarang hanya Arnel seorang duduk bertopang menutup wajah dengan kedua tangan nya.
Ia menghela nafas kasar beberapa kali, mengusap wajah nya, dan entah berapa kali ia mengacak rambut nya. Sedangkan Agung dan Ronald bermuka masam di ruangan masing-masing, membuat sekretaris mereka bergidik ngeri melihat ketegangan saat ini.
Bagaimana tidak, di ruangan rapat tadi Presdir utama Arnel Harviz Damrah orang nomor satu di tolak saat ia menawarkan makan bersama, bahkan orang itu berani menantang dan meminta sesuatu yang sulit, yang membuat hampir semua pimpinan perusahaan kecewa dengan keputusan itu.
Walaupun sebagian ada yang berpihak kepada Andi dan Alex, tapi lebih banyak yang berpihak kepada Arnel dan kecewa keputusan nya, apalagi dua pemuda yang baru saja menyelesaikan kuliahnya dari luar negri dan ini adalah pekerjaan pertama mereka, itu harus di pindah tangankan kepada yang lain, padahal mereka mampu, sungguh egois bukan?.
Agung duduk memutar kursi kerjanya menghadap kaca, melihat ke bawah gedung perusahaan.
Kenapa papa begitu tega sama kami? ini adalah pekerjaan kami? kami telah bekerja dengan sungguh-sungguh, apakah tidak bisa menghargai jerih payah kami? siapa mereka? apa begitu penting?
Agung sungguh tidak habis pikir dengan semua nya, ia duduk melamun sambil memencet-mencet pena yang ia pegang sambil menerawang dalam pikirannya.
Begitu pula dengan Ronald, wajah nya mengeras, pandangan mata nya menjadi tajam, ia mengambil anak panah lalu melemparnya ke arah dart board, ia terus melemparnya sampai anak panah itu habis.
Sekretaris nya hanya bisa berdiri dari jauh, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mengerti atasannya sekarang sangat marah. Ronald duduk terkulai di kursi nya setelah anak panah itu habis, mengusap wajah nya berkali-kali dan menghembus nafas kasar.
'Aaaah' ucap nya untuk kesekian kali nya sambil mengusap wajah nya, lalu meremas kertas kosong di depannya, lalu melemparnya kesembarang arah.
Aku tidak habis pikir, kenapa dad bisa-bisanya kasih proyek pertama ku sama bocah? tidak pernah selama ini dad memberikan apapun yang menjadi milikku, bahkan selalu mewujudkan dan membantu yang aku inginkan. Seberapa penting nya mereka? sehingga Dad seperti itu?
"Sekretaris Ma," panggil nya.
__ADS_1
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu."
"Buatkan saya minuman jeruk dingin dengan gelas besar, beserta beberapa berkas yang telah kita kerjakan kemarin."
"Baik pak."
Sekretaris Ma membawa beberapa berkas, lalu menunggu minuman yang di pesan oleh atasannya itu, tidak berapa lama pesanan pun sampai dan ia memberikannya kepada Ronald.
Ronald melihat berkas itu sebentar, lalu menyimpannya dalam lemari di samping kanan dinding tempat duduk nya, ia meminum jeruk dingin itu beberapa tegukan yang hampir menghabiskan setengah gelas.
Toktok...toktok... suara ketukan pintu di luar ruangan.
Sekretaris Ma membuka pintu, dan mempersilahkan Arnel masuk. Ia langsung masuk dan duduk di sofa yang berada di tengah ruangan itu, Sekretaris Ma menuangkan air mineral dalam gelas untuk nya.
"Sebentar lagi kita pulang, Ayo kita siap-siap pulang, mungkin kita harus pergi ke sesuatu tempat untuk menenangkan pikiran," ajak Agung.
"Kita bisa ke club nanti malam atau berenang sore ini?" sambung Agung.
"Ngapain ke club sama kamu? aku gak mau repot, bikin aku tambah pusing aja!"
"Kalau begitu kita renang aja langsung, kita ke kolam xxx di sana banyak cewek-cewek seksi gosip nya."
"Ah, gue lagi males Gung, gue lagi pengen istirahat aja, mungkin pulang makan, mandi lalu tidur, gue merasa letih banget."
"Ya sudah kalo begitu, gue keluar dulu," ucap agung sambil berdiri dan keluar dari ruangan itu.
Saat Arnel masuk ke ruangannya, di sana ia sudah melihat papanya Arnel sedang berdiri membelakangi nya menghadap kekuar kaca gedung itu, sedangkan Sekretaris Hendrik asik mengerjakan pekerjaannya.
Agung mengetuk pelan pintu, lalu duduk di sofa menuangkan air mineral di dalam gelas kecil yang selalu di siapkan Sekretaris Hendrik untuknya setiap hari.
__ADS_1
Arnel menoleh kebelakang, berjalan mendekati Agung, duduk di sofa yang menghadap ke arah Agung. beberapa saat di ruangan itu begitu sepi tanpa suara dan hanya terdengar suara helaan nafas dan beberapa kali suara air mengalir kedalam gelas kecil yang di ambil Agung untuknya dan Arnel.
"Apakah kau tidak ingin mengatakan sesuatu kepada papa?" tanya Arnel memulai pembicaraan.
"Tidak ada, bukankah semua sudah di sepakati tadi?"
"Kamu tidak marah?"
"Buat apa marah, menurutku semua sudah diputuskan, walaupun aku kecewa tapi harus bagaimana lagi. Kadang aku cuma berpikir, apakah aku terlalu buruk di mata papa, sehingga pekerjaan pertamaku pun harus diserahkan kepada orang lain, apa aku tidak bisa dipercaya sama sekali?"
Arnel terdiam, ia sangat mengerti perasaan Agung dan Ronald sekarang, ia juga tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Maaf kan papa," ucap nya lirih.
"Papa sangat percaya kepada kalian berdua, hanya untuk saat ini lebih baik seperti ini dulu," sambung nya.
Tidak terlalu banyak yang dibicarakan lagi, lebih banyak diam, mungkin Agung yang sedang marah dan kecewa sedangkan Arnel begitu banyak pikiran, sehingga lebih banyak diam. Tidak lama akhirnya Arnel memutuskan keluar dari ruangan dan bersiap-siap pulang.
Begitu pula dengan Agung dan Ronald, mereka pulang bersama duduk di belakang tanpa suara, masih larut dalam pikiran masing-masing.
•••
"Begitulah kek ceritanya," ucap Agung kepada kakek Ari.
"Oh berarti Andi menjadi bagian keluarga Admaja sekarang? dan ia mengambil alih proyek pertama kalian?"
Agung dan Ronald mengangguk bersamaan.
"Baiklah kalau begitu, kakek akan berbicara dengan Arnel, semoga ada solusi lebih baik ya," ucap kakek Ari sambil memukul bahu kedua pemuda itu
__ADS_1