(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Menghina


__ADS_3

"Aku sudah bilang kan sama kalian semua dari kemarin-kemarin nya, kalau cewek kutu buku itu gak mungkin bisa memiliki hubungan dekat sama cowok-cowok keren disekolah ini. Lebih layak dan cantikan aku kemana-mana," ujar Eva ketua kelompok yang berjalan menuju gerbang sekolah.


"Ahahah iya, cowok-cowok itu cuma memanfaatkan dia aja, memanfaatkan kepintaran nya dalam belajar, dan memanfaatkan kebodohannya dalam menuruti semua keinginan orang, bodoh!" ucap salah satu cewek dikelompok itu.


"Ya iyalah, heheheh. Karena dia pembantu, jadinya penurut begitu. Kalau dasarnya bebek, tetap aja bebek, gak akan berubah jadi angsa, sama kayak dia, kalo dasar pembantu tetap aja pembantu," ucap Eva terkekeh.


Bukan hanya kelompok Eva yang mulai bergosip, tapi juga beberapa kelompok mulai bergosip seperti kelompok cewek yang berjalan dipinggir jalan itu.


"Aku kira dulu dia adalah cewek beruntung, pergi dan pulang sekolah naik mobil, rupanya dia cuma numpang mobil majikan," ucap Yesi yang duduk dibelakang bangku Aira saat belajar dikelas.


"Aku juga kira begitu, aku kira tiga cowok keren jatuh cinta sama dia. Apalagi Tuan Muda Yangki dari awal masuk sekolah perhatian banget sama dia, terus dia juga sering dibela sama Tuan Muda Arnel kalau dijahili Tuan Muda Rido, eeeeeehh rupanya cuma pembantu, gak nyangka banget."


"Sama aku juga guys, aku kira dia cewek beruntung dari keluarga kaya yang pintar, walau dandanan nya seperti itu. Rupanya, sama persis dengan dandanan nya yang udik mencerminkan ia pembantu," sambung salah seorang cewek dikelompok itu.


Di kantor Tuan Muda Arnel, Tuan Muda Rido, dan Tuan Muda Yangki membereskan kantor yang diawasi oleh penjaga sekolah dan seorang guru yang memberi mereka hukuman, sedangkan Aira tidak diberi hukuman karena tidak terlibat perkelahian menurut guru itu sehingga dia menunggu duduk dikursi dihalaman sekolah.


Mereka bertiga dibagi tugas masing-masing untuk membereskan dan membersihkan meja para guru, mereka anak manja yang tidak pernah membersihkan kamar tidur sendiri itu, memang tidak rapi saat disuruh membereskan kantor.


Dari cara mengelap meja, menyusun buku dan menyapu lantai, setiap sudut tidak disapu. Tapi, itu cukup sebagai hukuman mereka anak manja yang tidak bisa bekerja itu, tapi jago berantem dikelas.


Tuan Muda Yangki terlebih dahulu selesai, dan ia segera pergi keluar menemui Aira yang duduk di bangku halaman. Tuan Muda Arnel bertambah kesal saat melihat Yangki keluar dan menuju ke tempat Aira duduk sekarang.


Ia bergegas menyelesaikan tugasnya, begitu pula Tuan Muda Rido sudah tidak sabar ingin keluar dari ruangan kantor ini, pekerjaan yang sangat menjengkelkan baginya.


"Jelas-jelas ini pekerjaan pembantu dirumahku, malah suruh aku. Huh!" ketus Rido dalam hati.


Yangki berjalan mendekati Aira, duduk disampingnya dan tersenyum manis kearahnya.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik aja? maaf ya tadi aku emosi gak sengaja, kamu jadi terdorong deh, karena pukulan kami."


"Gak apa-apa kok, aku baik-baik aja. Gimana dengan kamu? lihatlah mukamu memar! masih aja jadi jagoan!" ucap Aira sambil memanyunkan bibirnya.


"Lucu nya dia seperti itu, pengen aku cubit pipinya," gumam Yangki dalam hati.


"Maaf ya, bukan mau sok jagoan. Aku merasa kesal sama Rido dan Arnel, apa musti harus membahas pembantu ataupun memerintahmu kasar seperti itu?"


"Aku gak apa-apa kok, aku menganggap mereka masih bocah aja sih, hehehe," jawab Aira cekikan.


"Dasar ya," ucap Yangki sambil mengelus rambut Aira.


Yangki tersadar saat ia mengelus kepala Aira, ia segera menurunkan tangannya. Begitu pula Aira sekarang wajahnya merah seperti jambu masak, kepanasan karena malu. Jantung Aira berdetak lebih cepat, entah malu atau perasaan lainnya.


"Kamu pulang nunggu Arnel ya? apa aku antar kamu pulang aja?" tanya Yangki.


"Ya udah deh kalo gitu, aku temani kamu disini sampai Arnel datang ya,"


"Iya, terimakasih ya Yangki. Kamu selalu baik sama aku, apa kamu gak takut nanti teman-teman jelekin kamu karena berteman sama pembantu?,"


"Ssssstttt" Yangki meletakkan telunjuknya dibibir Aira, membuat jantung Aira semakin berdetak lebih cepat, ia terpana melihat wajah tampan Yangki yang selama ini tidak pernah ia sadari kalau tampan.


Yangki tersadar karena ia menyentuh bibir Aira dengan telunjuknya, ia tersenyum malu dan menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal karena canggung.


"Kamu jangan bilang begitu lagi ya, aku dari awal jumpa kamu sudah menganggap kamu temanku, aku tidak pernah memandang kamu pembantu ataupun apalah itu, jadi jangan bilang gitu lagi ya," ucap Yangki menatap wajah wanita tercantik di dunia baginya, walaupun yang lain berkata dia adalah cewek jelek sikutu buku.


"Dan aku heran sih, kenapa kamu mau aja disuruh sama Rido?"

__ADS_1


"Ya karena itu, karena aku pembantu. Beberapa minggu yang lalu ia berkunjung kerumah paman Ari Damrah, disana ia melihatku dan juga waktu itu ia juga melihatku mencuci banyak sepatu Tuan Muda Arnel, jadi dia mengancam akan mengatakan kepada semua teman-teman kalau aku tinggal serumah dengan Tuan Muda Arnel."


"Aku takut, karena selama ini Tuan Muda Arnel selalu melarangku agar tidak boleh satu orang pun tau aku tinggal dirumahnya dia, makanya selama ini aku lebih duluan keluar dari mobilnya saat masuk kedalam kelas, dan terakhir masuk dari mobilnya saat pulang sekolah."


"Sebenarnya aku lebih ingin tidak semobil dengannya, dia pun juga tidak senang aku semobil dengannya, tapi paman dari dulu meminta kami semobil agar bisa berteman."


"Benar perkiraan ku, semua ini hanya karena keegoisan papanya Arnel, mereka tidak pernah saling suka, mulai sekarang aku akan selalu disampingmu Aira," ucap Yangki dalam hati sambil menatap Aira.


"Oh begitu ya, lain kali gak usah kerjakan lagi ya apa yang diperintahkan Rido."


"Iya, lagian semua juga udah tau aku pembantu. Tuan Muda Arnel sendiri yang mengatakannya," jawab Aira sambil tersenyum kecut.


Dari kejauhan, Arnel yang melihat Yangki menempelkan telunjuknya dibibir Aira, membuat darahnya mendidih naik ke ubun-ubun, ingin memukul wajah laki-laki itu sampai babak belur dan mematahkan jari telunjuknya.


"Berani sekali cowok sampah itu menyentuh bibirnya, dan cewek desa itu membiarkan nya saja. Dasar cewek desa bodoh!"


Begitu pula dengan Rido yang melihat tidak jauh dari Arnel.


"Ahahaha sepertinya menarik nih," gumam Rido dalam hati.


Arnel berjalan bergegas mendekati Aira dan Yangki duduk, ia segera menarik tangan Aira membawanya pergi dari sana.


"Hei! kamu bisa pelan gak sih!, jangan menarik tangannya seperti itu, dia itu cewek! itu menyakiti tangannya!."


"Huh! bukan urusanmu! dia pelayanku, kau tidak punya hak!" jawab Arnel sambil membawa Aira menuju parkiran mobil.


Rido berjalan mendekat sambil menertawakan Yangki.

__ADS_1


"Hahaha kasihan sekali dirimu, menyukai seorang pembantu. Tapi sayangnya, pembantu itu telah dijodohkan dengan Tuan nya." ucap Rido sembari tertawa menghina.


__ADS_2